TAURAT SEBAGAI SYARAT COVENAN LAMA BAGI ISRAEL

Pendahuluan
Beberapa thread yang diposting CLDC (Center for Logical Defense of Christianity) berkenaan dengan beragam imperatif (perintah-perintah) di dalam PL yang dianggap seharusnya ditaati oleh orang-orang Kristen, namun pada kenyataannya tidak demikian.Oleh karena perintah-perintah tersebut berakar dalam PL, maka saya akan memulai ulasan ringkas ini dari PL. Ulasan mengenai Taurat dalam PL akan menolong kita untuk memiliki perspektif yang tepat mengenai signifikansi Hukum Taurat, sekaligus menolong kita melihat continuity dan discontinuitydengan orang-orang Kristen.Sebelum mengulas mengenai makna dan fungsi Taurat dalam PL dan hubungannya dengan orang Kristen, saya akan memulainya dari definisi Taurat.Pengertian dan Penggunaan Istilah “Torah” dalam Alkitab
Kata “torah” dalam bahasa Ibrani memiliki beberapa arti yang berbeda namun berhubungan erat, yakni: “hukum, arahan, instruksi, didikan, dan pengajaran”. Keberagaman arti leksikal ini langsung memberikan warningkepada kita untuk tidak mereduksi arti “torah” secara sempit: perintah atau hukum!Pengertian-pengertian di atas terlihat dalam penggunaan kata “torah” dalam PL dalam arti yang beragam.

  • Kata “torah” digunakan untuk merujuk kepada hukum-hukum (Kel. 20 – Ul. 33; Mzm. 78:1, 5, 10);
  • Kata “torah” digunakan untuk merujuk kepada seluruh kehendak Allah yang tertulis (bnd. Ul. 4:4dst; 30:10; 31:9);
  • Kata “torah” digunakan dalam arti kelima kitab Musa (Kejadian – Ulangan; lih. Yos. 1:8);
  • Kata “torah” digunakan dalam arti “firman” Tuhan [dalam PL] (lih. Mzm. 1);
  • Kata “torah” digunakan dalam arti nasihat-nasihat hikmat dari seorang ibu (Ams. 1:8; 6:20; bnd. 31:26) dan nasihat seorang ayah (Ams. 4:1dst); pidato dari guru hikmat (Ams. 7:2; 13:14); dari nabi-nabi (Yes. 8:16, 20; 30:9);
  • Kata “torah” digunakan untuk proklamasi profetis-eskatologis dari para nabi (Yes. 2:3; 42:4; Mi. 4:2);
  • Kata “torah” digunakan sebagai istilah teknis untuk arahan-arahan dari para imam kepada umat yang awam (Yer. 18:18; Ez. 7:26);
  • Dalam PB, kata “nomos” (kata bahasa Yunani) digunakan untuk merujuk kepada seluruh PL (Mat. 5:17-18; Luk. 16:17; Tit. 3:9); dan sebagainya.

Sekali lagi, poin yang ingin saya tegaskan dengan menyertakan sejumlah arti penggunaan kata “torah” di atas adalah bahwa kita jangan sampai berpikir bahwa istilah ini semata-mata terkait dengan “hukum” atau “perintah”. Tidak!

Meski begitu, berikut ini saya akan fokus kepada makna dan fungsi Taurat dalam arti “hukum” atau “perintah” dalam PL.

Taurat sebagai Syarat Covenan Lama
Sejak Keluaran 20 – Ulangan 33, kita berhadapan dengan kumpulan hukum-hukum. Hukum-hukum ini, diawali dengan pemberian Dasa Titah di Gunung Sinai, harus dimengerti dalam perspektif covenan (perjanjian atau wasiat). Istilah covenan di sini, sesuai dengan latar belakang historisnya, merujuk kepada perjanjian [belas kasih] yang dibuat oleh seoran Maharaja dengan seorang raja jajahan yang tunduk kepadanya. Sang Maharaja menghendaki ketaatan si raja jajahan. Itulah sebabnya, ditetapkanlah hukum-hukum yang mengatur relasi antara Si Maharaja dengan raja jajahannya. Jika si raja jajahan taat maka ia akan menuai kenyamanan; jika ia tidak taat, maka ia akan menuai malapetaka.

Dalam konteks ini, Allah membuat perjanjian dengan Israel. Dan Taurat berfungsi sebagai tata laku yang mengatur relasi antara Tuhan dan Israel. Bila Israel taat, Israel diberkati; bila tidak taat, Israel dikutuk atau mendapat sanksi (Ul. 28). Inilah yang disebut sebagai Retribusi Covenantal. Artinya berkat dan kutuk perjanjian ditentukan oleh ketaatan terhadap taurat Tuhan.

Hal penting yang perlu ditandaskan di sini adalah bahwa Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk menandai inisiasi Israel menjadi umat Allah. Taurat tidak pernah dimaksudkan supaya dilakukan dengan motivasi agar diterima sebagai umat Allah. Taurat adalah hukum bagi umat Allah. Artinya, Israel sudah disebut sebagai umat Allah sebelum Taurat diberikan (Ingat, sebelum tiba di Sinai, tempat di mana Dasa Titah diberikan, Allah telah mendeklarasikan kepada Musa bahwa Israel adalah umat-Nya yang harus dilepaskan dari jajahan Firaun). Dan sebagai umat Allah, mereka harus dipedomani dengan Taurat sebagai dasar kesetiaan mereka terhadap Tuhan sekaligus dasar penilaian Tuhan atas ketaatan atau ketidaktaatan mereka.

Bila kita mencermati hukum-hukum dalam PL, kita akan menemukan bahwa hukum-hukum itu dapat dikategorikan menjadi dalam tiga dimensi cakupan, yaitu: a) Hukum-hukum moral; b) hukum-hukum serimonial [hukum-hukum yang mengatur mengenai korban-korban dan cara pemberian korban]; dan c) hukum-hukum sipil-kemasyarakatan (hukum-hukum mengenai makanan; tahir atau tidak tahir; bagaimana Israel harus berelasi dengan bangsa-bangsa lain).

Jadi, jelas bahwa Taurat adalah syarat covenan lama, yaitu covenan antara Allah dengan Israel.

Pertanyaan yang sangat penting bagi kita adalah bagaimana kita memahami relevansi hukum-hukum tersebut dengan orang Kristen?

Hukum Taurat PL dan Orang Kristen
Hal yang penting untuk diingat adalah Taurat merupakan syarat covenan lama. Sementara orang Kristen hidup di dalam covenan yang baru (lihat nubuatan mengenai terbentuknya covenan baru dalam Yer. 31:31), di mana kehadiran Kristus merupakan penggenapan dari covenan lama sekaligus menandai dimulainya covenan yang baru (lih. Luk. 22:20; bnd. 1Kor. 11:25; 2Kor. 3:6; Ibr. 8:8, 13; 9:15; 12:24).

Lalu, hukum apakah yang berlaku bagi orang Kristen yang hidup di dalam covenan yang baru? Jawabannya terdapat di dalam Galatia 6:2, yaitu “hukum Kristus”. Istilah “hukum Kristus” di sini digunakan Paulus dengan merujuk kepada segala hukum yang dibarui oleh Kristus dan dijadikan sebagai pedoman imperatif bagi orang-orang Kristen. Dan kita membaca dalam seluruh PB, bahwa yang dibarui untuk ditaati oleh orang Kristen adalah hukum moral yang korpus penerapannya mengacu kepada kesimpulan Yesus mengenai hukum yang terutama: “kasihilah Tuhan Allahmu” dan “kasihilah sesamamu”.

Bagaimana dengan hukum serimonial dan hukum sipil-kemasyarakatan dalam PL? Di dalam PB, kedua kategori hukum ini tidak dibarui kembali. Artinya, kedua kategori hukum ini hanya berlaku bagi Israel [yang hidup dalam covenan lama]. Apakah dengan demikian, kedua kategori hukum ini bukan lagi merupakan firman Allah bagi orang Kristen? Jelas tidak begitu. Semua yang tercatat dalam Alkitab adalah firman Allah. Tetapi tidak semua yang tercatat dalam Alkitab adalah perintah bagi kita [sekarang]. Demikianlah kedudukan kedua jenis hukum ini. Keduanya adalah firman Allah yang bermanfaat sebagai pengajaran tentang relasi Allah dan Israel dalam covenan lama.

Sampai di sini, saya ingin mengomentari tendesi debater muslimers yang sering memamerkan sikap sok tahu mereka mengenai Alkitab. Tidak jarang, bagian yang satu dikontraskan dengan bagian yang lain dalam lingkup hukum-hukum sipil-kemasyarakatan (mis. makanan halal tidak halal; tahir tidak tahir; dsb). Salah satu contoh yang sangat jelas tentang sikap Yesus yang bebas terhadap hukum jenis ini adalah masalah “mencuci tangan sebelum makan”. Bagi orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, meja makan adalah simbol altar di Bait Suci. Itulah sebabnya, seseorang yang hendak makan, ia harus “mentahirkan” dirinya dengan mencuci tangan, sebagaimana Harun dan para imam mencuci tangan mereka sebelum mendekati altar. Tetapi, perhatikan protes dari orang-orang Yahudi terhadap Yesus dan murid-murid-Nya dalam Markus 7:5dst. Kesimpulan sederhananya, Yesus mengabaikan hukum ini dan Ia serta murid-murid-Nya menuai protes.

Problem Penafsiran terhadap Matius 5:18
Sering kali muslimers mengutip Matius 5:18, yang berbunyi demikian: “…Sesungguhnya, sebelum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan dihilangkan dari Hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Mereka mengutip bagian ini dengan maksud bahwa segala hukum dalam PL tetap menjadi “beban” bagi orang Kristen namun telah diabaikan oleh orang Kristen (misalnya makan daging babi).

Mengutip dan memahami maksud Matius 5:18 dengan tujuan di atas merupakan kekeliruan yang fatal. Istilah “taurat” di sana merujuk kepada segala sesuatu yang tertulis dalam PL, yang dipahami Yesus merujuk kepada diri-Nya (lih. Luk. 24:27; bnd. Gal. 3:24). Yesus menegaskan bahwa “taurat” tidak dapat diubah namun relevansinya berakhir sampai pada masa Yohanes Pembaptis sebagai nabi yang terakhir dari covenan lama (Luk. 16:16-17).

About these ads