Doksologi dalam Roma 11:36

Pendahuluan
Sebuah khotbah yang baik selalu diakhiri dengan kesimpulan yang menstimulasi para pendengarnya untuk berespons dan menetapkan komitmen di dalam hati mereka terhadap pesan khotbah tersebut. Tampaknya “pola” ini juga digunakan oleh Paulus di dalam surat-suratnya. Misalnya, Roma 8:1-38, dapat dianggap sebagai semacam konklusi sekaligus ajakan kepada para pembaca surat ini untuk bersukaria atas fondasi jaminan keamanan status mereka sebagai orang percaya, yang dijelaskan panjang lebar oleh Paulus dalam Roma 5-8. Demikian juga dalam 11:1-36, Paulus mengakhiri rangkaian survainya terhadap progresivitas karya Allah di dalam sejarah keselamatan (Lat. Historia Salutis; Ing. Salvation History) dengan melukiskan betapa mulianya pesona karya Allah yang luar biasa itu.
Pokok-pokok Penting dalam Roma 11:33-36
Sebagaimana dalam Roma 8:31-39 Paulus menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk membangkitkan minat, kepercayaan, serta kegirangan di dalam diri para pembacanya terhadap kekuatan jaminan karya Allah, demikian juga rangkaian doksologi Paulus dalam pasal 11:33-36 (khususnya: ay. 34-35).Alur pikir doksologi Paulus dalam Roma 11:33-36 dapat dibagi menjadi tiga strophes(bait).
  • Ayat 33 berisi tiga seruan yang mendengungkan mengenai betapa tidak terselami rencana Allah bagi dunia ini: pengetahuan, hikmat, dan kaya.
  • Ayat 34-35 berisi tiga pertanyaan retoris yang menegaskan kembali kepada ketiga seruan di atas; dan
  • Ayat 36 mengingatkan pembaca surat ini mengenai alasan mengapa Paulus memuji Allah sedemikian.

“The Ultimacy of God”

Kata-kata Paulus dalam pasal 11:36 merupakan alasan dari doxologi yang dilontarkan Paulus dalam pasal 11:33-35. Hal ini ditandai dengan penggunaan kata hoti secara kausal (bnd. NIV; TNT; KJV; LAI; YLT).

Adapun doksologi kausal ini (ay. 36), jika dicermati, memiliki tiga penekanan teologis yang merujuk kepada relasi antara Allah dengan segala ciptaan-Nya. Hal ini ditandai dengan penggunaan tiga preposisi (kata depan) yang memberikan penekanan kepada setiap gagasan teologis tersebut. Perhatikan penggalan sintaksis ayat 36 di bawah ini:

Jika penggalan sintaksis di atas dijabarkan, maka kita akan mendapat tiga penekanan teologis berikut:

  1. Segala sesuatu “keluar dari” Dia, yang berarti bahwa Allah adalah sumber segala yang telah diciptakan;
  2. Segala sesuatu terjadi “melalui” Dia, yang berarti bahwa Allah adalah agent sekaligus guide dan juga sustainer dari segala sesuatu; dan
  3. Segala sesuatu adalah “kepada” Dia, yang berarti bahwa Allah adalah tujuan akhir dari keberadaan segala sesuatu.

Dalam tulisan Markus Aurelius (seorang filsuf Stoik abad kedua) terdapat kalimat yang hampir sama persis dengan tulisan Paulus (Meditations, 4.23). Hal ini menyebabkan beberapa penafsir menganggap bahwa Paulus mengutip gagasan dari filsafat Stoiksisme. Tampaknya sulit untuk menerima seorang rasul seperti Paulus mengutip secara langsung gagasan Stoiksisme kemudian dijadikannya sebagai dasar doksologi bagi Allah. Itulah sebabnya, beberapa ahli, misalnya: Douglas J. Moo, setelah mengadakan riset mengenai tulisan dari beberapa penulis Yahudi, mendapati bahwa gagasan ini kemungkinan besar dikenal Paulus dari tulisan Philo (lih. Philo, Special Laws,1.208; bnd. 1Kor. 8:6). Hal ini dilakukan Paulus karena “He simply thinks that, at this point, the Stoics have said something about God that is true, understood within the biblical worldview” (Lih. Douglas J. Moo, Romans [NIVAC]).

Atas alasan yang bagaimanapun yang kita gunakan untuk menjelaskan kemiripan ayat ini dengan gagasan para filsuf Stoik di atas, jelas bahwa ayat ini memberikan kepada kita basis serta dorongan yang kuat untuk memuji Allah. Deborah Gill, ketika menutup komentar singkatnya terhadap ayat ini, menulis: “Glory be to God, our Creator, Sustainer, and exalted Lord, the one who is the source, guide, and goals of all things!” (William D. Mounce, Basic of Biblical Greek Grammar, 327). Adakah alasan untuk tidak memuji DIA?

About these ads