DOKTRIN INSPIRASI ALKITAB: Sebuah Ulasan Ringkas-Teologis

Sub judul di atas mengindikasikan bahwa ulasan ringkas saya ini bukan berkenaan dengan sejarah perumusan doktrin Inspirasi Alkitab, melainkan apa yang diyakini secara teologis mengenai doktrin Inspirasi Alkitab.

Mengingat ruang yang terbatas ini, saya hanya akan mengulas beberapa pokok fundamental yang berhubungan dengan doktrin Inspirasi Alkitab, yang dapat dijadikan basis untuk menilai setiap klaim dan argumen mengenai kekristena di grup ini (CLDC). Sebagaimana judul di atas, saya perlu menegaskan bahwa pembahasan saya di sini lebih khusus terarah kepada wahyu khusus yang tertulis, yaitu: Alkitab.[1]

Pengertian Dasar
Ulasan tentang pengertian dasar ini berkenaan dengan makna dua ungkapan kunci yang saling berhubungan tetapi berbeda satu sama lain.

Pertama, inspirasi (inspiration). Inspirasi berarti proses di mana Allah mengkomunikasikan (menyingkapkan) Diri dan kehendak-Nya dalam bentuk tulisan. Berikut ini adalah definisi inspirasi yang representatif dari Millard Erickson:

Supernatural influence of the Holy Spirit upon the Scripture writers which rendered their writings an accurate record of the revelation of which resulted in what they actually wrote being the Word of God.[2]

Definisi di atas menunjukkan dua hal, yaitu: a) para penulis Alkitab berada dalam naungan Tuhan ketika Tuhan memakai mereka sebagai alat inspirasi; dan b) Alkitab adalah produk final dari proses inspirasi tersebut. Saya sedikit merevisi definisi ini bahwa proses inspirasi itu bukan hanya melibatkan para penulis, melainkan juga para editor (misalnya: bentuk final dari Pentateukh; Kitab Amsal; Kitab Mazmur; dsb) dan para amanuensis (dalam penulisan surat-surat PB).[3]

Kedua, iluminasi atau pencerahan (Illumination). Untuk memahami apa yang dimaksud dengan iluminasi, perlu ditandaskan bahwa yang diinspirasikan hanya dan sekali lagi hanya Alkitab. Lalu supaya kita bisa memahami Alkitab? Untuk memahami Alkitab, kita memerlukan iluminasi (pencerahan) dari Roh Kudus. Jadi, inspirasi berbicara mengenai Roh Kudus menyingkapkan tentang Allah dan kehendak-Nya dalam bentuk tulisan; sedangkan iluminasi berbicara tentang Roh Kudus menyingkapkan maksud firman yang tertulis itu bagi para pembacanya. Untuk membaca dan memahami Alkitab, kita tidak memerlukan inspirasi karena inspirasi sudah final; kita membutuhkan iluminasi dari Roh Kudus.

Di atas, saya menjelaskan bahwa Roh Kudus menaungi keseluruhan pihak yang terlibat dalam proses penulisan Alkitab. Lalu proses seperti apakah yang dimaksudkan dalam penjelasan tersebut?

Proses Inspirasi
Dalam hubungan dengan proses terjadinya inspirasi, saya harus menandaskan bahwa karena ini terjadi secara supranatural, maka dari aspek ini, proses ini pasti mengandung unsur misterius yang mencegah kita memahaminya secara sempurna. Meski begitu, secara umum kita dapat berkata bahwa berdasarkan natur-Nya yang benar dan suci, maka proses tersebut juga berlangsung secara benar dan suci, sehingga menghasilkan produk inspirasi, yaitu Alkitab, yang adalah benar dan suci pula.

Lalu bagaimana dengan keterlibatan pihak-pihak yang terkait dalam penulisan Alkitab? Teologi Kristen juga mengakui bahwa di satu sisi, Penulis yang Sesungguhnya dari Alkitab adalah Allah sendiri, namun di sisi lain, proses tersebut tidak meniadakan peran para pihak yang terkait dengan penulisan dan pengkomposisian bentuk final dari Alkitab (mis. penulis, editor, dan amanuensis). Para pihak ini dilibatkan dalam proses inspirasi dimana Roh Kudus memakai segenap keahlian, kecakapan, kepandaian, pengalaman-pengalaman di sekitar mereka; ringkasnya, segala potensi yang ada pada mereka dilibatkan dalam pengkomunikasian Diri dan kehendak Allah.

Itulah sebabnya, Alkitab, secara tepat, dapat dianalogikan seperti Inkarnasi Kristus: Sepenuhnya Allah dan Sepenuhnya Manusia. Demikianlah Alkitab memiliki Dwi Natur ini, yaitu: Sepenuhnya Ilahi dan Sepenuhnya Manusiawi.[4] Dari aspek ilahinya, Alkitab memuat kebenaran-kebenaran proposisional yang timeless; sedangkan dari aspek manusiawinya, Alkitab memuat unsur-unsur kecakapan sastra (kemampuan menulis; gaya bahasa; genre), pengalaman rohani para penulis dan sebagainya (occasional) yang juga terlihat dalam Alkitab (time-bounded truth).[5] Inilah yang dikenal dengan sebuah sebutan teknis dalam teologi Kristen, yaitu: Doktrin Inspirasi Organis.

Dwi sifat Alkitab di atas merupakan konsekuensi logis dari proses inspirasi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dan sekali lagi, saya perlu menegaskan bersama Ian Howard Marshall:

What is being asserted is the activity of God throughout the whole of the process so that the whole of the product ultimately comes from him.[6]

Otoritas Alkitab
Di atas, saya telah mengulas tentang proses terjadinya inspirasi. Sekarang, saya akan mengulas tentang otoritas dari produk final dari proses inspirasi, yaitu Alkitab.

Atas gagasan bahwa sumber inspirasi adalah Allah sendiri, maka tidak sulit untuk mengambil kesimpulan bahwa Alkitab berotoritas mutlak (bnd. 2Tim. 3:16-17). Hanya Alkitab yang merupakan standar tertinggi yang tidak perlu diukur lagi dengan standar mana pun juga. Biasanya Alkitab disebut sebagai Norma Normans (Pengukur yang Mengukur), sedangkan tafsiran atau pengakuan iman atau apa pun juga selain itu merupakan Norma Normata (Pengukur yang Diukur). Hal ini kemudian dirangkum dalam sebuah semboyan oleh para Reformator: Sola Scriptura (Hanya Alkitab Firman Allah).

Beberapa terminologi serta artinya di bawah ini, ikut menopang konsep di atas, yaitu:[7]

Pertama, Infallible: Alkitab tanpa cacat, tanpa cela, mutlak dan mencakup seluruhnya. Alkitab tidak dapat dikontradiksikan, dilanggar, diabaikan, atau dilawan dengan cara apa pun yang membuat orang yang melakukan demikian terhindar dari hukumuna.

Kedua, Innerant: Alkitab mempunyai kualitas yang bebas dari kesalahan. Alkitab bebas dari kemungkinan kesalahan, Alkitab tidak mungkin salah; Alkitab tidak mengatakan yang bertentangan dengan kenyataan, di dalam naskah aslinya (autograph).[8]

Ketiga, Verbal: Setiap kata dalam Alkitab adalah dinafaskan oleh Allah (theopneustos), bersama dengan konstruksi gramatikal kalimatnya (sintaksis), penunjuk waktu dan aspek kata kerja (verb-tenses), dll.

Keempat, Plenary: Seluruh kitab dalam Alkitab (66 Kitab) adalah kitab-kitab yang diinspirasikan, tidak terkecuali, walaupun kegunaan langsung dari setiap kitab bervariasi, sesuai dengan tahap penyingkapan Diri dan kehendak Allah di dalam sejarah secara progresif (Progressive Revelation). Mengenai hal ini, saya perlu mengutip kembali sebuah kalimat anonim:

The Scriptures was written for you, but that does not mean that all of it was written to you.”

Kelima, Konfluen (kesesuaian): Para penulis Alkitab tidak dipakai sebagai boneka-boneka mekanis. Mereka dipakai sebagai pribadi yang utuh namun di dalam kedaulatan-Nya, pada saat yang sama Allah berkuasa menaungi mereka sehingga menghasilkan produk revelasi (Alkitab) yang berotoritas mutlak.

Keenam, Perspicuity (ketajaman): Doktrin ini merujuk kepada kejelasan Alkitab. Setiap orang yang bisa membaca dapat membaca dan memahami Alkitab. Meski begitu, Alkitab juga sempurna maka ada aspek-aspek yang memerlukan ketelitian khusus, di samping jarak hermeneutis yang dihadapi oleh pembaca masa kini.[9]

Pandangan-pandangan yang Salah
Ada banyak teori tentang doktrin inspirasi, namun berikut ini saya akan menyebutkan beberapa di antaranya secara ringkas.[10]

Pertama,  Inspirasi Dinamis: Para penulis digerakkan oleh Roh Kudus pada satu tingkat kehidupan Kristen yang lebih tinggi, sehingga mereka dapat melihat hal-hal yang lebih tinggi dan lebih jelas dari kebanyakan orang percaya (doktrin ini ditolak oleh Galatia 2:11dst).

Kedua, Inspirasi Parsial: Hanya bagian-bagian tertentu Alkitab yang diinspirasikan (doktrin ini ditolak oleh 2 Timotius 3:16-17).

Ketiga, Inspirasi Konseptual: Hanya konsep-konsep saja yang diinspirasikan kepada para penulis, bukan kata-kata yang di dalamnya (doktrin ini juga ditolak oleh 2 Timotius 3:16-17).

Keempat, Inspirasi Alamiah: Para penulis Alkitab hanya dianggap sebagai orang-orang yang sangat jenius dan religius saja. Doktrin ini menolak keterlibatan ilahi dalam proses inspirasi (lih. Yer. 1:1, 2, 9).

Kelima, Inspirasi Dapat Salah: Teori yang mengatakan bahwa Alkitab sendiri diinspirasikan, tetapi tidak tanpa kesalahan. Maka menurut pandangan ini, Allah bisa saja menginspirasikan kesalahan (Lihat Yoh. 17:17).

Keenam, Inspirasi Mekanis: Para penulis Alkitab tidak memiliki kebebasan dan kontribusi apa pun dalam menuliskan Alkitab. Mereka hanya semata-mata pena di tangan Allah tanpa kontribusi sama sekali. Doktrin ini sering dihubungkan dengan Doktrin Inspirasi Dikte (Allah mendiktekan firman dan para penulis semata-mata menyalin). Ini pun tidak sesuai dengan kenyataan yang terlihat dalam keseluruhan kitab di dalam Alkitab, khususnya soal diversitas komposisi sastra dan penekanan-penekanan teologisnya.

Penutup
Demikianlah ulasan ringkas saya mengenai doktrin inspirasi Alkitab. Alkitab adalah firman Allah yang mutlak dan berotoritas. Dari segi sifatnya, Alkitab sekaligus ilahi dan sekaligus manusiawi. Karena di dalam proses inspirasi, Tuhan menaungi para pihak yang terlibat di dalamnya dengan melibatkan segenap potensi yang ada pada mereka sepenuhnya.


[1] Teologi Kristen mengakui dua macam wahyu (revelation), yaitu: Wahyu Umum (general revelation) dan Wahyu Khusus (special revelation). Wahyu Umum yakni Allah menyatakan Diri-Nya melalui karya dan hasil karya-Nya (penciptaan dan alam semesta). Wahyu Khusus berarti Allah menyatakan Diri-Nya secara khusus secara Personal, yaitu: Yesus Kristus dan secara tulisan, yaitu: Alkitab. Yang akan dibahas di sini adalah inspirasi Alkitab.

[2] Millard J. Erickson, Christian Theology, one vol. ed. (Grand Rapids, Michigan: Baker, 1985), 199.

[3] Lihat artikel saya yang berjudul: Amanuensis, Inspirasi, dan Otoritas Surat-surat Paulus.

[4] Peter Enns menggunakan DWI NATUR KRISTUS (Allah sejati dan Manusia sejati) sebagai analogi mengenai sifat Firman Tuhan. Alkitab adalah Ilahi sekaligus Manusiawi. Firman Allah diwahyukan dengan memakai para penulis dengan menggunakan segenap potensi yang ada pada mereka serta segala sesuatu yang ada di sekitar mereka pada waktu itu (lih. Inspiration and Incarnation: Evangelicals and the Problem of the Old Testament [Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2005], 7).

[5] Lih. David Dockery, Christian Scripture: An Evangelical Perspective on Inspiration, Authority and Interpretation (Nashville: Broadman and Holman, 1995), 42.

[6] Ian Howard Marshall, Biblical Inspiration (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1982), 42.

[7] Ulasan ringkas dalam sub judul ini disadur dari: W. Gary Crampton, Verbum Dei: Alkitab Firman Allah (Surabaya: Momentum, 2008), 52-55, dengan sedikit revisi dari saya.

[8] Berkenaan dengan hal ini, lihat lontaran Craig L. Blomberg dalam menanggapi tuduhan para ahli Kritik Tekstual Liberal, misalnya: Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why. Selanjutnya, Blomberg juga menandaskan bahwa ukuran untuk menilai apakah yang disebut dengan kesalahan, harus ditempatkan dalam konteks jaman para penulis Alkitab, bukan pada konteks penilaian pembaca kontemporer saat ini. Mengenai hal ini, lihat: Craig L. Blomberg, An Interview with Craig L. Blomberg.

[9] Mengenai jarak-jarak hermeneutis, silakan baca artikel saya yang berjudul: Mengapa Perlu Melakukan Eksegesis?

[10] Ulasan ringkas pada sub judul ini juga diringkas dari Crampton, Verbum Dei, 58.

One thought on “DOKTRIN INSPIRASI ALKITAB: Sebuah Ulasan Ringkas-Teologis

  1. Pingback: Ineransi-Eksegetis-Teologis « MY EXEGETICAL NOTES

Comments are closed.