PERBUATAN DAN KLAIM KETUHANAN YESUS: EKSEGESIS YOHANES 5:1-47

A. Tuduhan: Yesus tidak pernah mengaku sebagai Allah!
Jikalau hari ini, kita bertanya kepada salah seorang yang mengerti dengan baik dan meyakini Iman Kristen yang ortodoks, “Siapakah Yesus menurut saudara?” Tentu dia akan menjawab, “Yesus adalah Allah sejati dan Manusia sejati”. Lain halnya lagi, jika kita bertanya kepada salah seorang yang menganut teologi Liberal, “Apakah saudara percaya bahwa Yesus adalah sosok/pribadi Ilahi?” Dia akan menjawab, “Oh, itu adalah keyakinan fundamentalisme. Saya sudah lama meninggalkan keyakinan itu.”[1]Skeptisisme yang berbuah dalam sikap menolak Yesus sebagai Allah juga menjadi “dogma” utama Muslimers. Di mana-mana, mereka berupaya “mempertobatkan” orang-orang Kristen dari pengakuan akan keallahan Yesus. Mereka bersedia menghormati Yesus sebagai nabi; utusan Allah; kecuali satu hal: Yesus bukan Allah!Isi keberatan yang paling sering dipertontonkan adalah bahwa Yesus tidak pernah berkata secara eksplisit, “Aku adalah Allah”.[2] Jika demikian, apakah kenyataan ini membuat kita harus berkesimpulan bahwa pengakuan akan ketuhanan Yesus adalah kreasi gereja mula-mula? Apakah memang Yesus tidak pernah menganggap atau bahkan meminta pengikut-Nya menyembah Dia sebagai Allah?[3]Apakah benar demikian?Pertanyaan di ataslah yang akan menjadi fokus ulasan-eksegetis saya di bawah ini. Dan saya akan melakukan ini berdasarkan Yohanes 5:16-30. Tentu saja, eksplorasi isi perikop ini dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas bukan merupakan satu-satunya jawaban yang dapat diberikan.[4]
B. Apakah “pengakuan eksplisit” itu?
Sebelum menjelaskan jawaban kita berdasarkan Yohanes 15:16-30, kita perlu “membereskan” satu hal yang bersifat mendasar, terkait dengan keberatan bahwa Yesus tidak pernah mengaku sebagai Allah.Apakah yang dimaksudkan dengan pengakuan yang eksplisitharus ditandai dengan kalimat “Aku adalah Allah”? Apakah tuntutan ini merupakan tuntutan yang juga berlaku pada masa para penulis Alkitab? Atau sebenarnya tuntutan ini merupakan sebuah tuntutan yang anakronis? Benarkah Yesus tidak pernah mengaku diri sebagai Allah?Alkitab memberikan jawaban negatif terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas. Di dalam Alkitab, Yesus acap kali dituduh sebagai penghujat karena dua hal: klaim-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya.[5]

Ketika berada di hadapan Mahkamah Agama, Yesus ditanyai, “Apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” dan Yesus mengiyakan pertanyaan tersebut. Mendengar pengakuan tersebut, Imam Besar itu mengoyakkan pakainnya dan mengatakan bahwa Yesus telah menghujat Allah. Mengapa Yesus dianggap menghujat Allah? Oleh karena Dia mengaku setara dengan Allah! (Mat. 26:57-66). Mengenai Matius 26:57-66, Donald A. Hagner menandaskan demikian:

Jesus’ affirmation of being the Messiah, the Son of God (the background for the two combined titles may have been Ps 2; see Lövestam), may not yet in itself have been sufficient grounds for the high priest to regard him as blaspheming. But when Jesus adds to his answer the quoted material from Dan 7:13 and the allusion to Ps 110:2, identifying himself as that triumphant figure—and thus more than the Messiah as a merely human agent—as the one who is “given dominion and glory and kingship” whom all will serve and whose kingdom will see no end (Dan 7:13–14), the one who sits at the right hand of God (Ps 110:1), the high priest reacts to what he regards as horrifying blasphemy (cf. v. 65). In the face of such a startling claim (Moule, 194), his reaction is understandable.[6]

Contoh di atas memperlihatkan bahwa keberatan akan eksplisitas pengakuan Yesus tentang ketuhanan-Nya sama sekali tidak berdasar dan anakronis.[7] Yesus dan para penulis tidak harus “bermain” menurut aturan permainan para skeptik tersebut baru Ia dapat disembah sebagai Allah. Sebaliknya, para skeptik tersebut harus belajar berpikir seturut dengan historical context Yesus dan para penulis Alkitab. Klaim yang bagi para skeptik dianggap tidak eksplisit, ternyata bagi mereka yang hidup pada masa itu sangat eksplisit. Bagi para skeptik Yesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan karena tidak pernah mendapati kalimat “Aku adalah Tuhan” keluar dari mulut Yesus. Akan tetapi, sebaliknya bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan-Nya, klaim ketuhanan Yesus begitu eksplisit, sehingga mereka mendakwa Yesus sebagai penghujat.

Selanjutnya, saya akan mengulas secara eksegetis mengenai Yohanes 5:1-47. Perikop ini unik, karena di dalamnya kita akan menemukan klaim sekaligus perbuatan ketuhanan Yesus di dalamnya.

C. Klaim dan Perbuatan Ketuhanan Yesus: Yohanes 5:1-47

1. Konteks pertikaian: Pelanggaran terhadap halakhoth Sabat
Yesus baru saja menyembuhkan seorang lumpuh di dekat kolam Betesda. Dia kemudian menyuruh laki-laki itu untuk mengangkat tilamnya dan berjalan (5:8). Laki-laki yang disembuhkan itu melakukannya, dan pihak otoritas Yahudi menuduhnya melanggar peraturan hari Sabat. Laki-laki itu, kemudian mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesuslah yang menyembuhkannya dan menyuruhnya melakukan demikian (5:11, 15). Patut dipahami bahwa pada waktu itu, para sarjana Yahudi mengembangkan berbagai halakhoth (aturan-aturan tingkah laku), termasuk larangan membawa beban apa pun di luar tempat tinggal, termasuk membawa beban apa pun yang lebih tinggi dari bahu. Halakhoth inilah yang mereka maksudkan dengan tidak boleh bekerja pada hari sabat (bnd. 5:10).

Jadi tuduhan resmi yang ditujukan kepada Yesus[8], adalah karena Dia “melakukan hal-hal itu pada hari Sabat” (5:16). Mengenai “hal-hal itu” secara spesifik merujuk kepada penyembuhan atau kepada nasihat yang telah mendorong laki-laki itu meakukan pekerjaan yang dilarang.[9]

2. Respons yang mengejutkan
Yesus bisa saja menjawab dengan melakukan sebuah perdebatan teologis mengenai halakhoth. Dia bisa saja menunjukkan bahwa hukum Taurat itu tidak begitu spesifik, bahwa Dia sendiri, bukanlah seorang dokter yang mencari upah tambahan dengan bekerja lembur pada hari Sabat dan melakukan prosedur-prosedur medis yang semestinya dapat ditunda sampai esok hari. Demikian pula, laki-laki yang disebuhkan itu bukan seorang pekerja yang sedang mencari uang tambahan dengan membawa sebuah tilam pada hari Sabat. Jawaban apa pun seperti ini pasti akan dibantah dengan perdebatan sengit, tetapi bukan dengan tuduhan penghujatan.

Jawaban Yesus justru mengejutkan. Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (5:17). Mengapa mengejutkan? Paling tidak, terdapat dua latar belakang yang dapat menolong kita memahami implikasi-implikasi dari pernyataan Yesus[10], yaitu:

  • “Keanakan” (Sonship) sangat sering merupakan sebuah kategori fungsional di dalam Alkitab. Oleh karena mayoritas anak laki-laki pada akhirnya melakukan apa yang aya mereka lakukan, maka terdapat asumsi kultural “bapak dan anak sama saja”. Yesus banyak memakainya dalam Ucapan-ucapan Bahagia: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mt. 5:9). Idenya: Allah adalah Sang Pembawa Damai Tertinggi, sehingga setiap orang yang membawa damai dalam hal ini disebut seperti Allah, dan sampai pada taraf tertentu merupakan “anak” Allah. Pemikiran ini juga yang ada di belakang nama-nama seperti: “anak Belial” [kesia-siaan] dan “anak penghiburan”. Asumsi Kulturalnya (implisit) adalah orang yang disebut dengan nama yang demikian tidak berharga atau begitu menghibur sehingga ayahnya pastilah “ketidakberhargaan atau penghiburan”. Jadi ketika Yesus menyatakan bahwa “Bapa”-Nya “bekerja sampai sekarang”, Dia secara implisit mengklaim diri-Nya sebagai Anak Allah, dengan hak untuk mengikuti pola pekerjaan yang Allah sendiri tetapkan.
  • Pihak otoritas Yahudi abad pertama masuk ke dalam perdebatan-perdebatan teologsi yang berkepanjangan mengenai apakah Allah melaksanakan hari Sabat. Pihak yang satu mengiyakannya, sedangkan pihak yang lain menyangkalnya. Pihak yang kedua ini berargumen bahwa jika Allah berhenti dari semua pekerjaan-Nya pada hari Sabat, maka karya pemeliharaan-Nya akan terhenti, dan alam semesta ini akan hancur. Meskipun demikian, pihak yang pertama tampaknya lebih dominan untuk dianut. Mereka berargumen sebaliknya, bahwa karena seluruh alam semesta ini adalah tempat kediaman Allah, dan karena Dia lebih besardaripada apa pun di dalam alam semesta ini, maka tidak pernah dikatakan bahwa Dia mengangkat apa pun melebihi kedua bahu-Nya sendiri. Dia tidak melakukan pekerjaan apa pun pada hari Sabat yang melanggar halakhoth. Jadi Dia melaksanakan hari Sabat (sehingga pemeliharaan-Nya tetap berlangsung), tetapi Dia tidak “bekerja” dengan cara yang melanggar hari Sabat.[11] Perlu ditegaskan bahwa bagi orang-orang Yahudi ini adalah jalan keluar yang hanya berlaku bagi Allah saja.

Berdasarkan latar belakang pemahaman di atas, Yesus mengklaim diri-Nya bekerja pada hari Sabat karena Allah adalah Bapa-Nya, dan secara implisit, Dia adalah Anak yang mengikuti jejak langkah Bapa-Nya dalam hal ini. Poinnya adalah bahwa meskipun seseorang disebut dapat disebut anak Allah karena, misalnya, membawa damai, tetapi tidak ada seorang pun yang boleh disebut anak Allah dalam segala hal, yaitu karena mereka tidak menyerupai Allah dalam segala hal.[12] Orang-orang Yahudi mengakui bahwa “jalan keluar” yang hanya berlaku bagi pekerjaan Allah pada hari Sabat berkaitan dengan transendensi Allah, dan hanya berlaku bagi Allah.

Oleh karena itu, ketika Yesus membenarkan pekerjaan-Nya pada hari Sabat dengan merujuk kepada Allah sebagai Bapa-Nya, pernyataan tersebut begitu mengejutkan. Sekarang, Yesus bukan hanya melanggar hari Sabat, orang-orang Yahudi berpikir, “tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (5:18).

Yesus melakukan apa yang dikategorikan hanya dapat dikerjakan oleh Allah dan bahkan mengklaim Diri-Nya adalah Allah.

3. Apa maksud Yesus?
Jika orang-orang Yahudi menganggap Yesus sebagai penghujat karena menyamakan diri-Nya dengan Allah, apakah memang demikian yang dimaksudkan Yesus?

Dapat dipastikan bahwa memang demikianlah yang dimaksudkan Yesus. Meskipun demikian, di dalam bagian ini kita melihat suatu proklamasi yang seimbang antara aspek keilahian Yesus dan aspek subordinansi-Nya. Menurut Craig L. Blomberg, respons Yesus terhadap keberatan orang-orang Yahudi (5:19-47) dapat dikategorikan menjadi dua topik besar, yaitu:

  • Dalam 5:19-30, Yesus sedang menekankan tentang fungsi subordinansi Yesus;
  • Dalam 5:31-47, Yesus menekankan tentang kesehakikatan-Nya dengan Bapa.

Blomberg melanjutkan bahwa perikop ini merupakan balance antara kesamaan ontologis/hakikat Yesus dengan Bapa dan ketaatan subordinansial-Nya.[13] Garry M. Burge juga menandaskan tentang keunikan sekaligus penekanannya akan relasi unik Yesus dengan Bapa, sebagai berikut:

Jesus Christ makes ultimate claims for himself in Gospels. Nowhere is this more obvious than in John 5. It is not simply that Jesus is doing the Father’s business that makes him unique, it is that Jesus has a relationship with the Father that goes beyond anything humanity has seen before.[14]

Pendapat senada juga diungkapkan Leon Morris, bahwa baik ketaatan Yesus kepada Bapa maupun implikasi tentang keilahiannya dalam bagian ini sedemikian jelasnya sehingga menolak penekanan ini merupakan suatu tindakan pengabaian yang absurd.[15]

Konklusi
Melalui pembahasan di atas, jelas bahwa Yesus pernah memproklamirkan diri-Nya sebagai Allah baik melalui tindakan maupun klaim-Nya. Hal itu berarti, penolakkan terhadap ketuhanan Yesus berdasarkan alasan bahwa Ia tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Allah, tidak benar. Ternyata, Yesus pernah melakukannya dan itu bukan hanya sekali.

Lalu, mengapa proklamasi Yesus tentang identitas keilahian-Nya “kabur” bagi kita saat ini.

Pertama, karena kita asing terhadap setting historis Injil dan olehnya kita perlu belajar. Ingat bahwa mereka (Yesus dan orang-orang se-zaman-Nya) bertutur dalam suatu konteks tertentu. Suatu konteks yang sangat kompleks. Disebut kompleks karena konteks mereka merupakan perpaduan antara kondisi politis, sosial, budaya, ekonomi, dan harapan-harapan religious, yang tidak familiar bagi kita.

kedua, bahwa memang kepada kita tidak dibukakan pengertian yang demikian (bnd. Mt. 13:10-17; 16:17).

ketiga, kita sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat untuk menolak ketuhanan Yesus, tetapi kita menindas kebenaran tentang Yesus yang diberitakan kepada kita. Kita lebih memilih mengusung presuposisi skeptik terhadap Yesus betapa pun lemahnya presuposisi tersebut, ketimbang membuka hati dan menaklukkan diri di bawah kebenaran bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnas: Allah yang menjadi Manusia (Yoh. 1:1-14).

Mengakhiri ulasan ini, saya ingin mencantumkan tantangan C.S. Lewis bagi para skeptik yang menolak Yesus sebagai Allah sekaligus sebagai tantangan untuk mempertimbangkannya secara serius:

Saya di sini sedang mencoba mencegah setiap orang untuk mengatakan hal-hal yang bodoh yang seringkali dilontarkan orang terhadap Dia: “Saya siap menerima Yesus sebagai guru moral yang agung, tapi saya tidak bisa menerima klaim-Nya sebagai Allah.” Kata-kata ini tidak bisa kita katakana. Seorang manusia yang hanya seorang manusia biasa dan mengatakan seperti yang dikatakan Yesus pasti ia bukan seorang guru moral yang agung. Ia kalau bukan orang yang gila – gila pada tingkatan ia mengatakan bahwa dirinya adalah sebuah poached egg [telur yang didadar di air] – atau sesuatu yang lain, seperti ia berakta bahwa ia adalah iblis dari neraka. Anda harus membuat pilihan. Baik Dia sebagai manusia, sebagai Anak Allah atau Dia sebagai orang gila atau yang lebih buruk lagi. Anda bisa menutup mulut-Nya dan membunuh-Nya sebagai seorang monster; atau anda dapat jatuh tersungkur di hadapan kaki-Nya dan memanggil-Nya Tuhan dan Allah.[16]


[1] Lihat posting Iohanes Rakhmat, “Lima Pokok Doktrin Fundamentalisme Protestan: Sebuah Evaluasi Kritis” dalam www.iohanesrakhmat.blogspot.com. Menurut Iohanes Rakhmat, doktrin keilahian Kristus (dan kelahiran melalui anak dara) adalah salah satu dari lima pokok doktrin fundamentalisme Protestan, yang harus dievaluasi kembali secara kritis [selain doktrin: pengilhaman dan ketidakbersalahan Alkitab (infallibility); pendamaian melalui kematian Kristus; kebangkitan jasmaniah Kristus; dan kedatangan Kristus segera].

Sebagai respons, jika pokok-pokok di ataslah yang dikategorikan sebagai fundamentalisme dengan nada mengejek, maka saya bersedia mendapat ejekan itu dengan tidak ragu-ragu menyebut diri sebagai seorang fundamentalis. Saya percaya akan pokok-pokok doktrinal ini dengan segenap hati saya, kecuali poin terakhir tentang kedatangan Yesus segera!

[2] Ahmed Dedaat mendemonstrasikan tantangan ini ketika berdebat dengan Anis Shorosh. Deedat berseru, “Tidak ada satu katapun atau keterangan yang bernada sama di dalam Alkitab, dimana Yesus berkata: ‘Aku adalah Allah’ atau Dia berkata: ‘Sembahlah Aku’. Jika ada, maka kami umat Muslim tidak akan ragu-ragu menerimanya”. Kata-kata Deedat ini dicantumkan dalam buku yang ditulis oleh: Anis A. Shorosh, Kebenaran Diungkapkan: Pandangan Seorang Arab Kristen tentang Islam (Jakarta: Yayasan Pusat Penginjilan Alkitabiah, 1988), 276.

[3] Misalnya, pada permulaan tahun 1700an, Hermann Reimarus (profesor Oriental Language di Hamburg, Jerman), yang buah penanya menjadi cikal bakal  Redaction Criticism, menulis bahwa pengakuan akan kemesiasan Yesus dan keluarbiasaan-Nya (ketuhanan-Nya), merupakan propaganda para murid-murid yang berupaya menutupi kegagalan Yesus (Lihat: Norman Perrin, What is Redaction Criticism? Philadelphia, Fortress Press, 1969], 2)

[4] Lihat misalnya: Buku kecil yang ditulis Josh McDowell, Benarkah Yesus itu Allah? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999).

[5] Lihat tulisan saya yang berjudul: Seri Exegetical Fallacies #1: Anakronisme.

[6] Donald A. Hagner, Matthew 14-28 (Software Version of WBC, Vol. 33b; Dallas, Texas: Word Books Publisher, 1998]).

[7] Dalam Yohanes 18:5-6, Yesus menyingkapkan diri dengan “I am” dan para prajurit yang datang menangkap Dia jatuh ke tanah.

[8] Bahkan mereka berupaya menganiaya Dia (Yun. ediokon).

[9] Dalam The Expositor’s Bible Commentry, dijelaskan bahwa tindakan penyembuhan itulah yang menjadi penyebab langsung oposisi dari pihak otoritas Yahudi.

[10] Lihat: D. A. Carson, Doktrin yang Sulit Mengenai Kasih Allah (Surabaya: Momentum, 2007), 29-35.

[11] Lihat: Midras Rabbah on Genesis atau Genesis Rabba

[12] Misalnya, saya tidak menciptakan alam semesta baru-baru ini, maka saya tentu saja bukanlah anak Allah berkenaan dengan creatio ex nihilo.

[13] Craig L. Blomberg, Jesus and the Gospels (Leicester: Apolos, 1997), 295-296

[14] Gary M. Burge, John (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000), 184-185.

[15] Leon Morris, The Gospel According to John (ICC; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1971), 313

[16] C.S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan, 1960), 55-56. Mengenai kata-kata Lewis di atas, Ronald H. Nash berkomentar demikian, “Argumen Lewis ini telah dikarikaturkan oleh banyak orang yang menentang kesimpulannya; seperti yang kita ketahui, memang lebih mudah menyerang straw men (pribadi imajiner). Argumen Lewis ini bukan merupakan penurunan dari disjungsi “Allah” atau “orang gila” yang diklaim oleh pengritiknya. Lewis secara esensial menyatakan apa yang saya nyatakan: bawalah alternatif-alternatif anda terhadap hipotesa Kristen dan kita akan memikirkannya satu per satu. Bahwa Yesus semata-mata hanyalah orang yang baik merupakan sebuah hipotesa; bahwa ia adalah orang gila juga adalah hipotesa yang lain. Tak satupun alternatif ini sama masuk akalnya dengan alternatif yang mengejutkan ini, yakni, bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar inkarnasi Allah” (Iman dan Akal Budi [Surabaya: Momentum, 2001), 412fn.16.