TENTANG PENGGABUNGAN “YESUS” DAN “KRISTUS” DALAM KPR MENURUT G.E. LADD

Pendapat George Eldon Ladd
Mengikuti Adolf van Harnack, N. Taylor, dan H.J. Cadbury, Ladd berpendapat bahwa penggabungan “Yesus” dan “Kristus” dalam Kisah Para Rasul semata-mata merupakan sebutan formal, bukan sebagai nama. Berikut ini adalah kutipan pendapat Ladd mengenai hal ini:

Sifat awal dari Kristologi Kisah Para Rasul ini dijelaskan oleh kenyataan bahwa “Christos” belum menjadi nama. Di empat belas tempat, “Kristus” hanyalah sebutan (2:31, 36; 3:18, 20, dll.). Kerygma kuno memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias (5:43; 8:5; 9:22). Di sebelas tempat, istilah “Kristus” digabungkan dengan “Yesus”, namun bukan sebagai nama, melainkan sebagai sebutan formal. Petrus menyuruh orang untuk dibaptis dalam nama Yesus Kristus (2:38; lihat juga 3:6; 4:10; 8:12).[1]

 Evaluasi
Mengawali evaluasi ini, saya ingin mengoreksi Ladd bahwa penggabungan “Yesus” dan “Kristus” dalam KPR, bukan hanya pada sebelas bagian melainkan enam belas bagian (2:38; 3:6; 4;10; 8:12, 37; 9:34; 10:36, 48; 11:17; 15:11, 26; 16:18, 31; 20:21; 24:24; 28:31).

Tampaknya Ladd ingin memberi penekanan pada gagasan bahwa Kristologi KPR masih “bersifat awal”. Gagasan ini sebenarnya berasal dari konsensus di antara para ahli bahwa pengakuan Kristologis pada awalnya bersifat evolusi (berkembang dari tahap yang sederhana hingga yang kompleks). Di satu sisi, penekanan Ladd ini bersifat positif. Ladd menerima kedinian tulisan Lukas dalam KPR. Namun sayangnya, sisi positif ini sekaligus menjadi sisi negatifnya. Ladd disetir oleh penekanan ini sehingga ia “menutup mata” terhadap beberapa fakta di bawah ini.

Pertama, mayoritas bagian yang menggabungkan “Yesus” dan “Kristus” menggunakan kata “nama” sebelum penggabungan “Yesus Kristus” (2:38; 3:6; 4:10; 8:12; 10:48; 16:18). Pengertian sederhananya, kata “nama” ini berhubungan langsung dengan “Yesus Krsitus”. Ladd mengabaikan unsur ini karena berpikir bahwa penggabungan “Yesus Kristus” dilakukan dalam konteks kerygma (tindakan formalnya). Tetapi, atas dasar apa Ladd harus membuat pemisahan bahwa kata “nama” hanya dihubungkan dengan “Yesus” sedangkan tindakan formal itu menjadi penanda bahwa “Kristus” bukan digunakan sebagai nama? Bagi saya, maksud Lukas jelas dan sederhana: kata “nama” dihubungkan dengan penggabungan “Yesus Kristus”. Artinya, kata “Kristus” pada bagian-bagian ini digunakan sebagai bagian dari nama Yesus: Yesus Kristus!

Kedua, berkenaan dengan konsensus di atas, saya perlu menyatakan bahwa konsensus itu adalah sebuah generalisasi yang menekankan tentang ciri umum dari Kitab-kitab Injil dan KPR. Generalisasi ini juga digunakan dalam konteks pengakuan akan ketuhanan Yesus. Para ahli biasanya membuat generalisasi bahwa dalam Injil Yohanes mengandung Kristologi Tinggi (pengkuan yang sangat kental mengenai ketuhanan Yesus). Tetapi, itu tidak berarti bahwa dalam Injil Yohanes tidak terdapat bagian-bagian yang berbicara mengenai kemanusiaan Yesus. Ini adalah contoh yang setara dengan generalisasi terhadap kecenderungan ide-ide Kristologis di dalam KPR. Di satu sisi, terdapat banyak bagian yang hanya menggunakan kata “khristos” sebagai gelar – dan ini menyiratkan kedinian KPR. Namun bagian-bagian di atas jelas mendeklarasikan bahwa “Yesus Kristus” digunakan sebagai “nama”: “nama Yesus Kristus”! Dengan kata lain, pendapat Ladd dalam hal ini adalah sebuah generalisasi yang bersifat reduktif.

Ketiga, di dalam surat-surat Paulus yang terawal penggabungan ini tidak pernah dipersoalkan soal penggunaannya sebagai nama atau gelar. Umumnya, diasumsikan bahwa Paulus menggunakan kata “Kristus” sebagai nama, bukan sekadar gelar. Untuk menunjang argumen ini, saya akan mencantumkan beberapa bagian saja dari dua surat Paulus, yaitu Surat Galatia dan Surat 1 Tesalonika. Saya memilih kedua surat ini karena ada perbedaan pendapat tentang surat mana yang merupakan surat terawal dari Paulus. Ada yang menyatakan Galatia sebagai surat terawal; ada yang percaya Surat 1 Tesalonika sebagai surat terawal. Saya ingin menunjukkan bahwa pada kedua surat yang ditulis hampir sezaman dengan KPR pun, kata “Kristus” sudah digunakan sebagai nama. Dalam Surat Galatia, penggabungan ini dapat terlihat dalam: 2:16; 3:1, 14, 22, 26, 28; 4:14; 5:16, 24; 6:14, 18. Bagian-bagian dalam Surat 1 Tesalonika yang menggunakan penggabungan ini: 1:1, 3; 2:14; 5:9, 18, 23:28. Setelah mengulas semua bagian di dalam surat Paulus mengenai penggunaan “khristos”, James D.G. Dunn menyatakan, “Menggambarkan ‘Kristus’ sebagai sebuah ‘nama’ berarti mengakui fakta yang hampir secara universal diakui bahwa ‘Kristus’ telah menjadi kurang lebih sama dengan nama diri dalam surat-surat Paulus.”[2] Meski begitu, Thomas R. Schriener menganggap klaim ini sebagai generalisasi yang perlu mendapat penekanan yang berbeda. Schreiner menerima kesimpulan N.T. Wright dan Larry Hurtado bahwa sesungguhnya “istilah ‘Kristus’ tidak kehilangan kesan gelarnya”[3] dalam surat-surat Paulus.

Kesimpulan saya, kata “khristos” di dalam KPR, sebagaimana dalam surat-surat Paulus, digunakan sebagai gelar dan juga sebagai nama. Dan ini tidak sedikit pun mengimplikasikan bahwa kita harus mengorbankan kedinian Kristologi KPR. Buktinya, surat-surat Paulus pun ditulis pada masa yang dini, namun kata “Kristus” sudah digunakan dalam dua kategori tersebut.


[1] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, Jilid 2, terj. Urbanus Selan (Malang: Gandum Mas, 1999), 39-40.

[2] Jame D.G. Dunn, The Theology of Paul the Apostle (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006), 197.

[3] Thomas R. Schriener, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008), 319 catatan kaki no. 39; bnd. N.T. Wright, The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology (Mineapolis: Fortress, 1992),41-55; dan Larry Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003),98-101.

Tanggapan Profesor Darrell Bock dan Profesor Ben Witherington III terhadap Ehrman

Seorang member CLDC bernama J.P. Jones, memosting klaim dari Bart D. Ehrman. Cuplikan klaim Ehrman yang diposting Jones saya cantumkan di bawah ini:

We don’t have the originals of any of the books of the New Testament. We have copies that are much later, sometimes even centuries later the copies we have all differ from one another – they were changed by scribes
 We have 5000 manuscripts in the original Greek language there are hundreds of thousands of differences
most of the differences don’t matter. Some differences are significant for meaning or doctrine errors are propagated because the next scribe inherits the mistake of their source copy a large gap between the time of writing and the first extant copy means more errors have crept in

Setelah membaca cuplikan klaim Ehrman ini, saya mengirim pesan kepada Profesor Darrell L. Bock (penulis buku: Dethroning Jesus – bersama Profesor Daniel B. Wallace – yang pernah diundang ke Indonesia untuk menanggapi, salah satunya, buku Ehrman yang berjudul: Misquoting Jesus). Pesan senada juga saya kirimkan kepada Profesor Ben Witherington III (beliau juga pernah diundang ke Indonesia untuk memberikan ceramah tentang Injil-injil Ekstra Kanonik).

Berikut ini, saya akan cantumkan balasan pesan dari Profesor Darrell L. Bock dan Profesor Ben Witherington III melalui inbox FB saya:

Profesor Darrell Bock:

The basic answer is we have so many manuscripts that we have a very good idea of what the original text said. Most differences are obvious (Miss spelled words or issues of word order that do not impact meaning). The NT is the best attested ancient text we have. Good Dan Wallace, he has responses to these kinds of claims.

Profesor Ben Witherington III:

Deky, I have already responded many times over to this. You will find critiques of this view on my blog at Beliefnet. Just Search my blog there with the name of Ehrman cross listed. Ehrman is wrong about the implications of text criticism. There are no alterations of doctrinal significance overall. Why not? Because though there may be some question of whether this idea was originally present in text, it is also present in text Y where there is no textual problems. So, Ehrman is simply trying to confuse people on this matter. There are plenty of textual variants, but we do already have manuscripts from the second century A.D. and while we are at it, we have nothing this good when it comes to the text criticism of the Koran.

Sebagai referensi tambahan mengenai tanggapan dari kedua profesor di atas secara lebih luas dan juga tanggapan dari profesor Craig L. Blomberg dan profesor Dan Wallace, lihat link-link di bawah ini:

1)      Profesor Ben Witherington III: http://benwitherington.blogspot.com/search?q=ehrman

2)      Profesor Darrell Bock: http://www.beliefnet.com/Faiths/Christianity/2006/03/Misinformation-About-Misquotingthe-Bible.aspx

3)      Profesor Craig L. Blomberg: “Review of Misquoting Jesus, by Bart D. Ehrman,” dalam: http://www.denverserminary.edu/dj/articles2006/0200/0206

“ABRAM BERTEMU FIRAUN” (KEJ. 12:10-20): SEBUAH REAFIRMASI DAN PEMBELAAN

Pertama-tama, saya merasa perlu membuat review ringkas mengenai isi note terdahulu. Hal ini dimaksudkan sebagai reafirmasi (penegasan kembali) posisi saya yang telah disalahpahami oleh Hai hai Bengcu Sibugil [dan mungkin juga pembaca yang lain]. Dalam review singkat ini, saya tidak akan mengulang semua poin penting dalam note terdahulu, melainkan hanya poin tentang penggunaan kata Firaun sebagai gelar raja Mesir dan implikasinya. Setelah itu saya akan mengajukan pembelaan saya terhadap implikasi dari posisi saya.

Review Singkat
Pertama, Dalam note berjudul: ABRAM BERTEMU FIRAUN: SEBUAH ANAKRONISME? (KEJ. 12:10-20), saya berpendapat bahwa kata Firaun memang sudah digunakan pada jaman Abram (kr. 2000/1900an SM), yakni dalam arti great house (rumah besar); arti yang merujuk kepada istana raja Mesir kuno dan pelayan-pelayannya. Namun kata ini (Firaun) baru digunakan sebagai gelar bagi para raja Mesir, kira-kira pada abad ke-15 SM – Amenhotep II – atau abad ke-12 SM – Ramses II -; mengenai hal ini, lihat: Hill & Walton, Survei PL, 48-49. Hoffmeier menulis demikian: “Thus, the usage of ‘Pharaoh’ in Genesis and Exodus does accord well with the Egyptian practice from the fifteenth through the tenth centuries” [terj. Jadi, penggunaan ‘Firaun’ dalam Kejadian dan Keluaran sangat cocok dengan praktik di Mesir mulai dari abad kelima belas hingga abad kesepuluh] (Lih. Israel in Egypt, 87-88; lihat juga: K. Kitchen, “Egyptian and Hebrews from Ra’amses to Jericho,” dalam Origin of Early Israel, 105-106; juga: Tremper Longman, Ian Provan, & V. Philips Long: A Biblical History of Israel, 124-125).

Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A – L juga tertulis demikian:

Firaun adalah gelar umum dalam Kitab Suci untuk raja-raja Mesir, berasal dari kata Mesir pr-‘’, artinya ‘rumah besar’. Istilah ini mulanya hanyalah nama untuk istana kerajaan dan pelayan-pelayan raja Mesir, dan demikianlah pemakaiannya dalam Kerajaan Kuno dan Kerajaan Zaman Pertengahan (*MESIR, Sejarah) pada millennium 3 dan pada pertengahan millennium 2 sM. Tapi pada pertengahan pemerintahan Wangsa 18 (kr 1450 sM) istilah itu dikenakan kepada diri raja sendiri sebagai padanan dari “Sri Baginda” (hlm. 314).

Jadi sekali lagi, kata Firaun memang sudah digunakan di Mesir pada masa Abram (kr 2000/1900an SM) dalam arti great house, namun baru digunakan dalam arti  gelar bagi raja Mesir pada pertengahan milenium kedua SM, yitu kira-kira Abad ke-15 atau abad ke 12 SM.

Implikasi
Perlu saya ingatkan bahwa J.P. Jones yang menuduh penulis Kitab Kejadian (12:10-20) melakukan anakronisme sejarah, dilakukan atas basis penerimaan pandangan di atas.

Karena saya pun menerima penetapan tahun penggunaan kata Firaun sebagai gelar bagi para raja Mesir seperti di atas, beberapa teman menunjukkan kepada saya bahwa implikasi dari penerimaan saya ini akan memicu tuduhan anakronisme seperti yang dituduhkan oleh Jones di atas.

Reafirmasi dan Pembelaan
Pertanyaan #1 [dalam komentar balasan Jones dan juga beberapa teman]: Jika kata Firaun belum digunakan dalam arti gelar bagi para raja Mesir, maka pada masa Abram, para raja Mesir disebut dengan gelar apa? Tanggapan saya: Saya tidak melihat bahwa pertanyaan ini membahayakan posisi saya. Karena penggunaan kata Firaun sebagai gelar bagi para raja Mesir pada abad ke-15 SM atau 12 SM tidak mengharuskan bahwa sebelumnya para raja tersebut mesti disebut dengan sebuah gelar.

Pertanyaan #2: Apakah penerimaan akan penetapan data di atas mengharuskan implikasi yang ditunjukkan kepada saya di atas? Tanggapan Saya: TIDAK HARUS! [dengan huruf kapital]. Mengapa TIDAK HARUS demikian? Alasan-alasan saya sebenarnya saya sudah cantumkan pada note terdahulu. Namun ada baiknya saya ulang kembali secara ringkas [pembaca yang ingin menyimak argumen saya secara lengkap, silakan liat note terdahulu saya].

Pertama, tuduhan anakronisme adalah tuduhan yang berbasis perspektif penulisan sejarah modern yang didominasi oleh prinsip ketepatan kronologi sejarah. Perspektif penulisan sejarah modern ini kemudian dipakai untuk menilai narasi Kejadian 12:10-20.  Terhadap hal ini, saya katakan dengan TEGAS bahwa tuduhan ini STRAW MAN. Mengapa? Karena narasi-narasi PL tidak ditulis dalam kategori genre sejarah modern. Narasi-narasi PL adalah Theological History (Sejarah yang bersifat Teologis; atau Sejarah yang ditulis dari perspektif teologis). Jadi narasi-narasi ini bukan semata-mata ditulis untuk memaparkan kejadian-kejadian masa lampau, melainkan kejadian-kejadian masa lampau tersebut dikisahkan kembali untuk memperlihatkan signifikansi teologisnya bagi pembacanya. Hal yang patut digarisbawahi dari genre Theological History adalah bahwa unsur ketepatan kronologi sejarah, bukanlah pertimbangan utama. Artinya, membaca narasi-narasi PL lalu menuntut harus adanya ketepatan kejadian atau peristiwa atau apa saja menurut kronologi waktu terjadinya perstiwa tersebut, merupakan tuntutan yang ASING bagi para penulis [sekali lagi: STRAW MAN].

Implikasi dari fitur genre di atas adalah setiap upaya untuk menjawab tantangan atau tuduhan anakronisme dengan semangat HARUS TEPAT SECARA KRONOLOGI SEJARAH, juga merupakan upaya yang tidak tepat. Mengapa? Karena dengan demikian, kita sedang menuruti standar atau aturan penulisan sejarah modern, lalu kita mengupayakan pembelaan terhadap Alkitab berdasarkan standar ini. Jelas salah kaprah! Dan inilah yang dilakukan Hai2Referensi mengenai poin ini sudah saya cantumkan dalam note terdahulu. Selain itu, dua artikel saya berikut ini dapat ikut menegaskan poin ini: 1) Pentingnya Memahami Genre Alkitab dalam Eksegesis; dan 2) Inerransi-Eksegetis-Teologis.

Kedua, argumen lanjutan dari segi bentuk sastranya. Teks Kejadian 12:10-20 disebut sebagai narasi. Artinya pada teks ini, kita harus memperhatikan unsur-unsur naratif dari teks tersebut. Ada banyak unsur, namun unsur yang relevan untuk saya sebutkan di sini ada dua, yaitu: a) Point of View sang narator; dan b) Karakter dan Plot dari narasi tersebut.

Karena saya sudah menjelaskannya panjang lebar di note terdahulu, saya hanya meringkasnya saja di sini. a) Dari segi Point of View sang narator, narasi Kejadian 12:10-20 dikisahkan dari perspektif orang ketiga (yaitu perspektif sang narator). Dari perspektif ini, sebagai narator, ia dapat memberikan komentar dari sudut pandangnya. Dan perhatikan bahwa dalam narasi tersebut, penyebutan bahwa Abram berjumpa dengan Firaun bukan dikisahkan dalam kata-kata dari Abram sebagai pelaku sejarah, melainkan merupakan komentar dari sang narator [yaitu Musa].

Memang orang dapat mengajukan keberatan bahwa walaupun dikomentari dari perspektif Musa, tetap penyebutan tersebut anakronis. Saya katakan: TIDAK! Mengapa TIDAK? Karena pada masa Musa (kr. Abad ke-15 M), kata Firaun dalam arti gelar bagi para raja Mesir sudah digunakan. Jadi penyebutan kata Firaun sebagai gelar bagi raja Mesir dalam narasi Kejadian 12:10-20 TIDAK MERUPAKAN SEBUAH ANAKRONISME dari PERSPEKTIF MUSA SEBAGAI PENULIS/NARATOR.

b) Karakter dan Plot. Dari segi ini saya sudah menjelaskan bahwa narasi Kejadian 12:10-20 ditulis dalam bentuk drama khiastik-simetrik. Dan maksud penggunaan bentuk ini adalah menunjukkan paling tidak dua hal, yaitu: 1) menunjukkan paralel antara pengalaman Abram dalam narasi tersebut dengan pengalaman Israel di Mesir – lihat detailnya dalam note terdahulu; dan 2) menunjukkan adanya paralel antara Kejadian pasal 12 – 20. Pasal 12 dimulai dengan tantangan bagi Abram dari seorang raja besar [Firaun] dalam perjalanan menggapai berkat-berkat covenan, sementara pasal 20 juga bicara tentang puncak dari tantangan bagi Abram dalam menggapai janji-janji covenan itu dari seorang raja besar yang lain bernama Abimelek.

Jadi kedua unsur narasi di atas sekali lagi menegaskan dua hal: a) Musa sebagai sang narator tidak melakukan anakronisme karena memang pada jamannya kata Firaun sudah digunakan dalam arti gelar bagi raja Mesir; dan b) Musa sebagai sang narator sengaja menggunakan kata Firaun untuk menunjukkan paralel antara pengalaman Abram dan Israel di Mesir dan untuk membuat unsur inclusio dengan pasal 20. – Sumber-sumber mengenai poin-poin ini juga sudah saya cantumkan dalam note terdahulu.

Pertanyaan 3#: Hai2 dalam menanggapi note saya tentang isu ini menggugat penjelasan saya tentang narasi Kejadian 12:10-20 dari perspektif point of view sang narator dan paralelisme yang saya tarik dari narasi ini kepada pengalaman Israel dan juga pengalaman Abram sendiri yang tercatat dalam Kej. 20. Hai2 bertanya: Apakah Musa membertahukan hal ini kepada saya? Tanggapan saya: Ini adalah pertanyaan yang bodoh dan menunjukkan ketololan Hai2. Hai2 harus mengerti bahwa dalam penafsiran narasi, ada konsep yang disebut dengan Korespondensi sejarah. Dan konsep ini sering digunakan oleh para penulis Alkitab dalam menunjukkan korespondensi antara even yang satu dengan even yang lain. Lagi pula, Hai2 menggugat ide paralelisme di atas, tetapi tidak menggugat kesimpulan saya dalam note mengenai narasi ini bahwa klimaks dari ide yang diusung dalam narasi ini mencapai penggenapannya dalam Kristus yang sebenarnya dilatarbelakangi sejak dari peristiwa kejatuhan, yaitu janji tentang the seed of the woman. Mengapa Hai2 tidak menanyakan pertanyaan yang sama kepada saya? Ini menunjukkan cara membaca dan tingkat pemahaman Hai2 yang parsial. Menarik! (Catatan: Pertanyaan ini dilontarkan Hai2 ketika mampir di note yang saya publish di notes FB saya).

Demikianlah penegasan kembali posisi saya dan implikasnya serta pembelaan saya terhadap implikasi yang dapat muncul dari posisi saya.

ABRAM BERTEMU FIRAUN: SEBUAH ANAKRONISME? (KEJ. 12:10-20)

Pendahuluan
Kejadian 12:10-20 mengisahkan tentang Abram bersama Sarai pergi ke Mesir karena bencana kelaparan. Ketika tiba di Mesir, Abram pura-pura mengaku bahwa Sarai adalah adiknya. Kepura-puraan ini mengakibatkan Sarai dibawa ke istana Firaun untuk dijadikan salah satu selir Firaun. Rupanya Tuhan bertindak meluputkan Sarai dari Firaun. Kemudian, dikatakan bahwa Abram dibawa ke istana untuk bertemu dengan Firaun.Tuduhan Jones atas dasar narasi ini adalah bahwa penyebutan kata “Firaun” sebagai gelar raja Mesir belum berlaku pada masa Abram. Abram hidup sekitar tahun 2000 SM atau 1900an SM (abad ke-20 SM), di mana memang kata “Firaun” sudah digunakan hanya dalam arti “rumah besar” (great house). Penggunaan kata “Firaun” dalam arti ini merujuk kepada istana raja Mesir dan seluruh isinya. Dengan kata lain, ketika penulis Kitab Kejadian menyebutkan bahwa Abram bertemu Firaun, sebenarnya sebutan itu adalah sebuah anakronisme. Karena penggunaan kata “Firaun” sebagai gelar bagi raja Mesir baru berlaku pada abad ke-15 SM.Tuduhan di atas, bila ditinjau dari segi ketepatan kronologi historisnya, memang cukup beralasan. Sumber-sumber Kristen pun tidak sedikit yang mengakui fakta sejarah di atas.Untuk itu, saya akan memulai ulasan ini dengan sebuah telusuran diakronis terhadap penggunaan kata “Firaun” dan setelah itu saya akan mengajukan beberapa pertimbangan eksegetis dari teks dan konteks Kejadian 12:10-20 bahwa penyebutan Abram berjumpa Firaun bukan merupakan sebuah anakronisme.Kata “Firaun”: Telusuran Diakronis
Saya setuju bahwa penyebutan Firaun dalam arti “gelar” bagi para raja Mesir baru dilakukan pada abad ke-15 SM (lih. Wenham, Genesis 1-15 dalam seri Word Biblical Commentary). Meski begitu, saya tidak setuju bahwa penyebutan gelar Firaun dalam narasi tersebut merupakan sebuah anakronisme.

Membaca narasi Kejadian 12:10-20, concern sejarah (historis) tidak mungkin tidak terlihat. Penyebutan tentang Abraham (tokoh historis); “tipuan” Abraham yang mengaku Sarai sebagai saudarinya bukan istrinya (juga merupakan ‘kebiasaan’ yang sesuai dengan jamannya); bahkan penyebutan FIRAUN tanpa menyebutkan nama raja yang digelari demikian, juga menunjukkan konsistensi sejarah [dalam waktunya sang narator tentunya, lihat penjelasan saya di bawah; karena baru pada Abad ke 15 [Amenhotep II] atau 12 SM [Ramses II] gelar FIRAUN digunakan bagi para raja Mesir]. Ini adalah periode di mana Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Penyebutan Firaun + nama raja Mesir baru dilakukan sejak abad 10 SM ke bawah [lih. Tremper Longman, Ian Provan, & V. Philips Long: A Biblical History of Israel, pp. 124-125].

Narasi PL sebagai Literary Device
Kisah yang disinyalir mengandung unsur anakronisme di dalamnya (Kej. 12:10-20) dari segi sastra, disebut narasi. Ada banyak unsur penting dalam narasi yang perlu diperhatikan dalam penafsiran, tetapi dalam hubungan dengan isu ini, saya hanya akan menyebutkan dua unsur saja, yaitu:

Pertama, narator dan point of view. Narasi ini dikisahkan oleh sang narator dari sudut pandang orang ketiga. Dalam pengisahan dari sudut pandang orang ketiga, sang narator bertindak sebagai pengisah yang “omniscience” (mahatahu) dan “omnipresent” (mahahadir).  Dalam peran ini, sang narator dapat mengomentari peristiwa yang dikisahkannya dari sudut pandangnya. Dan perhatikan bahwa penyebutan Abram bertemu dengan Firaun (ay. 18) bukan dikisahkan sebagai KATA-KATA ABRAM SENDIRI (kata ganti orang pertama tunggal), melainkan KOMENTAR DARI SANG NARATOR (kata ganti orang ketiga tunggal). Ingat, sang narator tidak hidup sejaman dengan ABRAM, melainkan hidup pada masa di mana gelar Firaun SUDAH digunakan sebagai gelar bagi para raja Mesir [lihat uraian di atas]. Jadi dari SUDUT PANDANG SANG NARATOR, penyebutan FIRAUN di situ BUKANLAH sebuah anakronisme. Hal ini baru dapat disebut ANAKRONISME bila yang mengatakan itu adalah ABRAM sebagai PELAKU SEJARAH itu sendiri [mengenai hal ini, lihat: Tremper Longman III & Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament, p. 32].

(2) Plot dan Karakter. Komposisi naratif dari Kejadian 12:10-20 ditulis dalam bentuk drama berpola Khiastis-Simetris. Pola dari drama khiastis-simetris ini adalah:

Dengan menggunakan komposisi ini, TIDAK SULIT untuk melihat bahwa sang Narator ingin membuat paralel antara pengalaman Abram dengan pengalaman Israel. Perhatikan paralel antara kedatangan Abram ke Mesir karena bahaya kelaparan, demikian juga Israel. Kebohongan adalah ciri khas Abram di sini, demikian juga sauara-saudara Yusuf yang menjualnya ke Mesir; Abram ke Mesir dengan harapan mendapat kemakmuran namun memudar dengan Sarai sebagai harganya, demikian juga Israel ke Mesir atas alasan yang sama namun berakhir dengan perbudakan. Allah menulahi Firaun dan seisi istananya karena mengambil Sarai, demikian juga yang terjadi ketika Israel akan dibebaskan dari Mesir. Allah memberkati Abram dan mengutuk Firaun, demikian juga yang dialami Israel ketika mereka keluar dengan membawa kekayaan orang-orang Mesir sementara Firaun dan tentaranya mati. Dari perspektif ini, sang Narator memilih menggunakan term FIRAUN [mengenai frasa “memilih menggunakan term” akan saya jelaskan di bawah] untuk menyebut raja Mesir pada masa Abram adalah karena sang Narator ingin menunjukkan paralel ini bagi Israel yang saat itu sedang berada di Padang Gurun pasca keluar dari Mesir (Israel in wilderness) – Ada banyak ahli PL yang percaya bahwa kitab ini awalnya ditulis pada masa Israel keluar dari Mesir dan baru diselesaikan bentuk finalnya pada masa pembuangan.

Dengan menunjukkan paralel di atas, sang narator ingin meyakinkan Israel bahwa penguasa besar yang mendeklarasikan diri sebagai allah di Mesir (raja-raja Mesir mendeklarasikan diri sebagai keturunan ilahi yang immortal) tidak dapat berbuat banyak di hadapan YHWH. YHWH-lah penguasa yang mengendalikan sejarah dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Israel “berada di tangan yang tepat”. Dan adalah bodoh bagi Israel untuk melakukan penyembahan berhala sementara mereka berada langsung di bawah perlindungan dan kontrol YHWH [lih. Richard L. Pratt, Jr., He Gave Us Story, pp. 112-115].

Genre: Narasi-narasi PL sebagai Theological History
Ingat, tidak ada penulisan sejarah (historiography) yang benar-benar objektif. Historiography selalu ditulis dalam perspektif sang sejarawan dengan melakukan seleksi (lihat frasa “memilih….dst” di atas] terhadap materinya, menyusun dan mengcomposenya sesuai dengan “pesan” yang hendak ia sampaikan. Dari aspek ini, pesan telogis dari narasi-historis tentang Abram pergi ke Mesir mesti dipahami dalam konteks Covenant.  Narasi ini mesti dibaca sebagai bagian yang utuh mulai dari Kejadian 12 sampai pasal 22 [latar belakangnya ada pada Kejadian 3:15, yaitu janji tentang “the seed of the woman”], bahkan sampai dengan PB. Ingat, janji yang diberikan Tuhan kepada Abram adalah: a) negeri perjanjian; b) keturunan; c) blessing for the nations. Narasi ini merupakan tahap awal “perjalanan” menggapai ketiga janji ini.

Kejadian 12:10-20 merupakan halangan atau rintangan pertama yang dialami Abram, yaitu Sara terancam menjadi gundik raja Mesir. Jika ini terjadi, bagaimana mungkin Abram mendapat keturunan dari Sarai? Seterusnya, halangan demi halangan menuntun pembacaan kita sampai pada pasal 20 di mana kejadian serupa terjadi lagi yaitu Sarai hampir saja menjadi gundik Abimelekh. Ini adalah klimaks penantian Abram, kemudian diakhiri dengan Ishak, anak perjanjian itu lahir. Jadi ada kesejajaran antara Firaun sebagai halangan pertama dan Abimelekh sebagai halangan terakhir.

Sampai di sini, kelihatannya, janji tentang “keturunan” dalam Kejadian 3:15 mencapai penggenapannya di sini. Tapi ternyata tidak. Kepada Abraham, Allah menyuruh agar Ishak disembelih sebagai korban bakaran (Kej. 22). Dan Abraham taat. Namun, Tuhan tidak membiarkan itu terjadi. Justru pada kisah inilah, Tuhan memberikan unsur janji yang baru yang terlihat dari pemberian nama “Tuhan menyediakan”. Tuhanlah yang akan menyediakan korban bakaran bagi DIRI-NYA. Ini adalah Tipologi tentang Yesus Kristus yang akan menjadi “Anak DOmba Allah yang menghapus dosa dunia”. Dan perhatikan bahwa di dalam Yesus-lah, klimaks dari ketiga janji di atas tergenapi: Yesus adalah keturunan perempuan – lahir dari seorang perawan (the seed of the woman); Yesus mendeklarasikan agar para murid-Nya “menjadikan segala bangsa” menjadi pengikut-Nya [blessing for the nations]; dan Yesus menjanjikan kediaman kekal [negeri perjanjian], yaitu surga bagi para pengikut-Nya. Janji kepada Abraham mencapai penggenapannya HANYA di dalam YESUS KRISTUS.

So, telusuran sejarah-teologis ini menunjukkan kesatuan alur kisah PL dan PB yang klimaks atau puncaknya tergenapi di dalam Yesus. Ini adalah salah satu unsur yang terkandung di dalam redemptive history [sejarah penebusan].

Dan karenanya, saya tidak ragu-ragu untuk mengulangi lagi tantangan saya kepada anda, Jones. Percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda, dan anda akan diselamatkan dari kebinasaan kekal. Di luar Yesus tidak ada keselamatan. Maukah anda?

Tentang Kata “Hemdath” (Hag. 2:8) dan Kata “Parakletos” dalam Injil Yohanes

Pendahuluan
Note ini ditulis untuk mengevaluasi note yang ditulis oleh Hansen. Note evaluatif ini memuat penjelasan eksegetis mengenai Hagai 2:8 (ITB) yang diklaim oleh Hansen bahwa di dalamnya terdapat bukti eksistensi nama Ahmad (Muhammad). Bagian lain, Yohanes 14:16, 26 yang juga dirujuk oleh Hansen, juga akan diulas dalam note ini karena menurut Hansen, kata “parakletos” dalam bagian-bagian ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, maka kata Ibrani yang diguanakan adalah: “hemdath” [sebagaimana yang terdapat dalam Hagai 2:8]. Saya sengaja memberi perhatian khusus kepada bagian-bagian ini, karena Hansen, di dalam notenya memberikan penjelasan yang sangat amburadur tetapi tidak menyadari keamburadurannya sehingga mengklaim bahwa ia telah “berhasil” menunaikan tugasnya “memulung sampah” untuk Muhammad.Saya tidak lagi mengulangi isi note Hansen, kecuali kalau benar-benar perlu diulangi, karena note tersebut dapat dibaca pada link:

Eksegesis Hagai 2:8
Hansen berupaya membuktikan isi QS. 7:157 dan QS. 61:6 yang berisi pernyataan mengenai terdapatnya nama “Ahmad” (Muhammad) sebagai nabi terakhir sesudah Yesus di dalam Alkitab. Menurutnya, kata “hemdath” paralel dengan kata bahasa Arab: “Ahmad”, yang merujuk kepada Muhammad. Jelas bahwa Hamsen SALAH mentrasliterasi kata ini sebagai “himdath”. Karena vowel di bawah konsonan He adalah “Segol” yang harusnya ditransliterasi e pendek, bukan i.

Karena keterbatasan ruang, survai spektrum arti leksikal dari kata hemdath akan ditiadakan. Menurut saya, konteks penggunaan kata ini cukup untuk membuktikan bahwa Hamsen sedang memulung sampah untuk Muhammad. Mengapa? Karena kata itu digunakan dalam konteks. Kontekslah yang menentukan arah penggunaannya. Di bagian akhir note ini saya akan kembali kepada poin ini untuk mengomentari metode yang digunakan Hansen.

Konteks Historis
Hagai 2:8 termasuk di dalam pemberitaan kedua (Kitab Hagai memuat empat pemberitaan), yang dimulai dari Hagai 2:1b-10. Pemberitaan kedua dalam bagian ini ditujukan kepada para petinggi Israel yang (2:3) yang saat itu sedang memimpin umat Israel dalam pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem. Sesuai dengan catatan sejarah yang dilestarikan oleh Epifanius (seorang rahib pertapa di Salmis, sekitar tahun 403-315 SM), pemberitaan kedua ini dapat diberi penanggalan yang pasti, yaitu: 17 Oktober 520 SM.

Sejak pulang dari pembuangan, umat Israel yang kembali itu bertekad untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Kelihatannya, tatkala pembangunan itu sedang berlangsung, timbul kekecewaan karena beberapa orang membandingkan kemegahan Bait Suci pertama [yang dibangun Salomo] dengan Bait Suci kedua yang sedang mereka bangun. Mereka “berkecil hati” karena menurut mereka kemegahannya tidak akan seindah kemegahan Bait Suci pertama (2:4). Kekecewaan ini bisa dimengerti karena Yerusalem, yang walaupun merupakan tanah leluhur mereka, namun telah sekian lama mereka tinggalkan. Mereka harus memulai segala sesuatunya dari nol. Mereka harus mengurus juga kehidupan mereka, dimana tampaknya kewajiban ini membuat mereka lupa akan tanggung jawab mereka terhadap pembangunan Bait Suci (1:1-2:1a). Selain itu, mereka juga harus berhadapan dengan gangguan dari bangsa lain yang berusaha menghambat mereka, misalnya: gangguan dari bangsa Samaria (bnd. Ezr. 4:1-5; sebagai catatan: hal ini menjadi salah satu akar pahit sejarah atau dendam sejarah yang membuat orang Yahudi sangat membenci orang Samaria sampai pada masa Yesus). Alhasil, pembangunan Bait Suci kedua itu tetap berupa fondasi saja selama kurang lebih enam belas tahun, yakni sampai pada masa pemerintahan Raja Darius yang kedua. Dalam occasion inilah Hagai diutus Tuhan untuk menggerakkan kembali umat Israel agar melanjutkan pembangunan Bait Suci kedua.

Ide spesifik dari ulasan ringkas mengenai konteks historis di atas yang berhubungan dengan penggunaan kata hemdath dalam Hagai 2:8 adalah adanya suatu pesimisme bahwa mereka tidak akan mampu membangun Bait Suci kedua itu sama megahnya dengan Bait Suci Salomo. Dari segi ekonomi, mereka harus berusaha dari awal. Di tambah lagi dengan kondisi geografis yang kurang menguntungkan untuk dikelola secara agraris pada waktu itu. Akhirnya mereka lebih memilih mementingkan kehidupan mereka sendiri ketimbang meneruskan pembangunan Bait Suci itu. Secara politis, mereka masih berstatus jajahan. Dari segi stabilitas keamanan, mereka sedang dirongrong oleh bangsa-bangsa lain. Mana mungkin mereka dapat membangun sebuah Bait Suci yang megah? Demikian pikir mereka, dalam parafrase saya.

Penggunaan Kata Hemdath dalam Hagai 2:8
Dalam konteks spesifik di atas, Tuhan, melalui Hagai, memberikan dorongan, penghiburan, dan jaminan bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Itu adalah urusan Tuhan. Dalam Hagai 2:9, Tuhan menandaskan, “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas”. Dan Hagai 2:8 mengikuti persis sebelum ayat ini. Itulah sebabnya, kata hemdath di dalam Hagai 2:8 tidak mungkin merujuk kepada seorang pribadi, sebagaimana yang diklaim oleh Hansen, yaitu: Ahmad (Muhammad). Karena yang dibicarakan mulai dari ayat 7-9 adalah isi dari janji penyertaan Tuhan dalam rangka menjadikan Baitu Suci kedua itu memiliki kemegahan yang melampaui kemegahan Bait Suci pertama (2:10).

Kata hemdath dalam Hagai 2:8 berasal ari kata hamad, yang berarti: “desire”. Arti konotatifnya adalah sesuatu yang sangat diinginkan. Septuaginta (LXX), menangkap arti konotatif ini dalam hubungan dengan konteksnya, sehingga menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa Yunani: eklakta (gender neuter; akusatif jamak), yang secara substatif berarti “barang-barang pilihan [berharga]”. Spektrum arti inilah yang membuat kita mendapati sejumlah versi terjemahan yang berbeda terhadap kata hemdath dalam Hagai 2:8. Ada yang menerjemahkannya secara literal, yaitu: “desire” (KJV; NIV; NIB; DRA; DYB). Tetapi ada yang lebih menekankan arti konotatifnya dengan mempertimbangkan konteksnya, yaitu: “treasure” (ESV; NAB; ITB). Dan ada pula yang menerjemahkannya secara lebih umum dari arti konotatifnya: “wealth” (NAS; NAU).

Perbedaan terjemahan di atas, memang pada akhirnya menuntun kita untuk memutuskan: dalam arti yang manakah kata hemdath digunakan dalam Hagai 2:8? Pertanyaan ini perlu dijawab. Meski begitu, sekali lagi, jelas bahwa kita tidak mendapati ide dimana kata ini boleh diterjemahkan dengan merujuknya kepada seorang pribadi yang bernama Ahmad! Dan berikut ini, secara ringkas saya akan menunjukkan perbedaan penekanan terjemahan kata ini menjadi “desire” dan “treasure” atau “wealth”.

Pertama, jika kata ini diterjemahkan dengan “desire”, maka penekanannya bersifat mesianik. Maksudnya, yang dinubuatkan Hagai di sini adalah akan ada suatu masa di mana bangsa-bangsa lain di luar bangsa Yahudi berkerinduan untuk “mendekat” kepada Allah dan beribadah di Bait Suci itu. Reformator terkenal, Martin Luther menganut pandangan ini. Ia memahami bagian ini secara mesianik, yaitu sebagai sebuah nubuat mengenai masa eskatologis di mana kedatangan Mesias akan melahirkan suatu kerinduan atau keingina yang besar dari bangsa-bangsa lain untuk mendekat kepada Allah.

Kedua, jika kata ini diterjemahkan dengan “treasure” atau “wealth”, maka penekanannya adalah nubuat mengenai kedaulatan Allah atas bangsa-bangsa, di mana Allah dapat memakai bangsa-bangsa untuk berkontribusi dalam pembangunan Bait Allah kedua tersebut. Allah adalah pemilik segala sesuatu, maka Ia dapat mengambil apa yang menjadi milik-Nya untuk membangun Bait Suci-Nya. Umat Israel tidak perlu terpaku pada kondisi mereka kemudian menjadi pesimis.

Terhadap kedua pilihan penekanan di atas, saya, berdasarkan konteks historisnya, percaya bahwa arti penggunaan kata hemdath dalam Hagai 2:8 adalah “treasures” atau bisa juga “wealth”. Karena jelas bahwa yang dirujuk di situ adalah “emas dan perak” (ayat 9).

Persoalan dari arti di atas adalah kapan persisnya nubuat itu digenapi? Kapan pernah terjadi bahwa bangsa-bangsa datang membawa harta mereka untuk memegahkan bangunan Bait Suci kedua itu? Dalam sejarah, kita mengetahui bahwa Bait Suci kedua itu ternyata tidak “tuntas” dibangun pada masa Ezra dan Nehemia. Barulah pada masa Herodes, Bait Suci kedua itu dipugar dengan kemegahan yang luar biasa. Kemegahan itu dapat terasa dalam luapan kekaguman yang tergambar pada kata-kata para murid Yesus ketika memandang bangunan Bait Suci hasil pugaran Herodes itu (Mrk. 13:1). Dan kita tahu bahwa nenek moyang bukanlah orang Yahudi asli, melainkan orang Samaria. Itulah sebabnya, ada penafsir yang menghubungkan nubuat ini dengan Herodes sebagai representasi dari “bangsa-bangsa” lain.

Meski begitu, mayoritas penafsir lebih memilih untuk mengartikan nubuat ini secara simbolik, bukan harafiah. Artinya, kontribusi bangsa-bangsa lain ini merupakan nubuat bahwa orang-orang Yahudi, pada diri mereka sendiri, harus sadar bahwa mereka tidak lagi sanggup untuk memenuhi tujuan dari pemilihan mereka. Mereka kini harus menerima keterlibatan bangsa-bangsa lain. Dan dalam arti ini, nubuat Hagai tergenapi dalam terbentuknya sebuah komunitas iman yang am di seluruh dunia yang mengaku iman yang sama kepada Kristus, di mana tidak ada satu komunitas tertentu yang dapat memuliakan Tuhan tanpa menerima atau memberi kontribusi kepada komunitas lainnya. Dan menarik bahwa PB menyebut orang-orang percaya dari semua latar belakang dengan sebutan “Bait Suci” atau “Bait Roh Kudus”. Bersama-sama, satu kesatuan, bergandengan tangan memuliakan Tuhan (Catatan: bisa jadi bahwa hal ini menjadi salah satu latar belakang motivasi Paulus mengumpulkan uang untuk orang-orang miskin di Yerusalem dari berbagai jemaat non Yahudi).

Jadi, sekali lagi, kata hemdath dalam Hagai 2:8, berdasarkan konteks penggunaannya, jelas TIDAK berbicara tentang seorang bernama: Ahmad (apalagi Muhammad). SAMA SEKALI TIDAK! Kesimpulan Hansen lahir dari khayalannya sendiri untuk mendapatkan legitimasi bagi Muhammad. Tetapi nubuat Hagai dalam bagian ini sama sekali tidak mendukung khayalan itu.

Pertanyaan selanjutnya, berdasarkan note Hamsen, apakah kata parakletos merupakan terjemahan dari kata hemdath? Atau, apakah kata parakletos, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani maka terjemahannya adalah hemdath? Saya akan menjawabnya secara ringkas di bawah ini.

Kata Parakletos dalam Injil Yohanes
Dalam Injil Yohanes, kata parakletos muncul beberapa kali, yaitu dalam: 14:26; 15:26; 16:7. Dan dalam bagian-bagian ini, kata parakletos jelas merujuk kepada Roh Kudus. Rujukan ini begitu jelas, sehingga kita tidak perlu membuang waktu untuk menunjukkan kepada Hansen tentang betapa bodohnya dia menghubungkan kata ini dengan Ahmad (Muhammad). Eksegesis yang sehat pasti taat kepada penggunaan kata di dalam konteks. Hanya orang yang melakukan eisegesis lah yang akan mendukung Hansen [dan juga mayoritas Muslimers] dalam hal ini.

Tetapi, berhubungan dengan isu yang diangkat oleh Hansen bahwa kata parakletos merupakan terjemahan dari hemdath, maka saya perlu menunjukkan sejumlah hal yang menafikan kesimpulan ini. Apakah kata parakletos, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, maka terjemahannya adalah hemdath sebagaimana yang terdapat dalam Hagai 2:8?

Pertama, kata hemdath di dalam Hagai 2:8 tidak diterjemahkan oleh LXX sebagai parakletos, melainkan eklekta (kata sifat, neuter, akusatif jamak dari kata eklektos).

Kedua, kata parakletos dalam beberapa bagian Injil Yohanes itu BUKAN kata terjemahan. Kata itu memang ada di situ sejak semula, karena Injil Yohanes ditulis dalam bahasa Yunani Koine. Hansen menyatakan bahwa jika kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, maka hasilnya adalah sama dengan yang terdapat dalam Hagai 2:8. Ini jelas upaya yang amat lucu. Untuk kepentingan apa kata itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani? Kata parakletos memang digunakan di situ dan hanya orang yang membutuhkan pembuktian seperti yang dilakukan oleh Hansen demi melegitamasi Muhammadlah yang memaksakan diri untuk melakukan itu.

Yang seharusnya dilakukan Hansen adalah meneliti penggunaan kata parakletos dalam Septuaginta, yang mungkin bisa dijadikan “pendukung” teori konyolnya. Maksudnya, dengan meneliti penggunaan kata parakletos dalam LXX, Hamsen bisa melihat sendiri dari kata bahasa Ibrani yang mana kata parakletos dalam LXX diterjemahkan. Tapi sayang, Hansen tidak melakukan ini dan malah mengusulkan bahwa kata parakletos dalam Injil Yohanes mesti diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani untuk mendukung teori jeraminya.

Untuk berbaik hati kepada Hansen, saya akan menunjukkan sebuah survai ringkas mengenai apakah kata parakletos digunakan dalam PL, khususnya berdasarkan LXX?. Di dalam PL, kata parakletos sama sekali tidak digunakan. Meski begitu, ada dua kata yang cognate dengan kata parakletos digunakan, yakni:

  • Kata paraklesis digunakan dalam: Mzm 13:1; 93:19; Ay. 21:2; Yes. 28:29; 30:7; 57:18; 66:11; Yer. 16:7; 38:9; Hos. 13:14. Kata ini digunakan dalam bagian-bagian ini dalam arti “ajakan”; “nasihat”; “dorongan”; “penghiburan”; atau “penghibur”. Dan perhatikan bahwa kata Ibrani yang darinya kata paraklesis diterjemahkan adalah kata: tanehum. Tidak satu pun yang dari bagian-bagian ini yang menerjemahkan kata paraklesis dari kata hemdath ataupun kata-kata yang segolongan dengan hemdath.
  • Kata parakletores digunakan dalam: Ay. 16:2. Dalam bagian ini, kata Ibrani yang darinya LXX menerjemahkan kata parakletores adalah kata: naham. Hal yang sama juga bahwa kita tidak mendapati kemunculan hemdath atau kata-kata lain yang segolongan dengannya.

Jadi, sekalipun saya sudah berbaik hati menunjukkan bagaimana penggunaan kata-kata yang segolongan dengan kata parakletos dalam LXX, ternyata tidak satu pun yang menunjukkan bahwa kata-kata tersebut diterjemahkan dari kata hemdath atau kata-kata yang segolongan dengannya.

Kesimpulan
Setelah meneliti penggunaan kata hemdath dalam Hagai 2:8 dan penggunaan kata parakletos dalam Injil Yohanes dan juga penggunaannya dalam LXX, ternyata tidak satu pun yang “bersahabat” dengan teori Hansen.

Lalu dari mana Hansen mendapatkan teori ini? Saya akan menjawabnya dalam catatan tambahan untuk note ini, yaitu catatan evaluatif terhadap metode yang digunakan Hansen.

Evaluasi Tambahan
Di bawah ini, saya akan mengomentari beberapa hal yang jelas-jelas merupakan khayalan Hansen sendiri [mungkin juga khayalan dari sebagian besar Muslimers].

Pertama, secara metodologis, Hansen melakukan studi etimologis terhadap kata hemdath yang kemudian ia paralelkan denga kata Ahmad. Dalam studi eksegesis Alkitab, penelusuran etimologis itu sebenarnya lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Mengapa? Kontribusi positif dari studi etimologis, semata-mata menunjukkan perkembangan arti dan penggunaan sebuah kata. Studi etimologis tidak dapat diterapkan sebagai basis penetapan arti sebuah kata, karena sebuah kata, biasanya mengalami perubahan makna atau paling tidak perkembangan makna seiring dengan berjalannya waktu. Sebuah kata tidak memiliki arti yang statis, melainkan arti yang bisa dikatakan dinamis, sesuai dengan konteks penggunaannya. Misalnya, kata euanggelion pada periode Yunani klasik berarti upah yang diberikan kepada seorang pembawa kabar baik. Arti kata euanggelion beralih menjadi kabar baik itu sendiri sesudah periode Yunani klasik. Di Palestina, pada masa PB, kata euanggelion sudah umum digunakan dalam arti kabar baik (misalnya kabar tentang sembuh dari penyakit; menikah; memperoleh keuntungan; dsb). Arti umum ini berubah lagi di dalam PB. PB memang menggunakan kata euanggelion dalam arti kabar baik, namun kabar baik yang dimaksud di sini bukan kabar baik yang umum, melainkan kabar baik tentang kehidupan, Pribadi, dan karya Yesus Kristus. Itulah arti euanggelion dalam PB. Jadi kita melihat, kata yang sama, namun seiring berjalannya waktu dan perbedaan konteks penggunaan, tidak dapat diartikan menurut etimologinya lagi. Satu contoh lain yang lebih kontemporer, misalnya kata nice dalam bahasa Inggris. Secara etimologis, berasal dari kata nescius dalam bahasa Latin, yang berarti “tidak tahu”. Hari ini, tidak ada seorang pun yang menggunakan kata nice dalam bahasa Inggris dalam arti etimologisnya, yaitu “tidak tahu”. Jadi percuma saja melakukan studi etimologis untuk mengetahui arti sebuah kata dalam konteks penggunaan yang sekarang.

Kedua, semangat yang memotori Hansen adalah semangat eisegesis. Eisegesis berarti memaksakan sebuah ide asing ke dalam sebuah teks yang sebenarnya tidak dimaksudkan sama sekali oleh teks yang bersangkutan. Inilah yang dilakukan Hansen.

Dua “sampah” eksegetikal ini tampaknya dimanfaatkan Hansen dengan “baik” sehingga ia merasa telah membuktikan kebenaran dua bagaian Alquran di awal notenya. Sayang sekali, sampah, tetaplah sampah. Tapi si pemulung ini telah “berhasil” memanfaatkan sampah itu untuk sebuah maksud sampah yang lainnya.

Hal ketiga, Hansen rupanya tidak mengenal situasi penggunaan bahasa pada masa PB. Hansen menyatakan bahwa bahasa Yesus adalah bahasa Ibrani, maka ia harus diberitahu bahwa pada masa PB, bahasa Ibrani sudah tidak digunakan sebagai bahasa percakapan. Orang-orang Yahudi bercakap sehari-hari dalam bahasa Aram. Bahasa Aram adalah dialek pembuangan yang mulai meluas digunakan sampai pada masa Yesus, selain bahasa Yunani yang adalah lingua franca (bahasa pergaulan; bahasa dunia) pada waktu itu. Bahasa Ibrani memang masih digunakan, tapi terbatas untuk kepentingan liturgikal di sinagoge atau Bait Suci. Di luar itu, orang-orang Yahudi Palestina berbicara atau bercakap-cakap dalam bahasa Aram. Kita juga bisa menambahkan bahasa Latin, sebagai bahasa nasional kekaisaran Romawi yang menjajah Palestina pada waktu itu juga dikenal oleh orang-orang Yahudi, walau harus diberi catatan bahwa penggunaan bahasa Latin di kalangan orang-orang Yahudi pada masa Yesus sebagai bahasa percakapan, sulit ditelusuri.

Keempat, Hansen menyatakan bahwa “bagi siapa yang ahli dalam bahasa Semit akan menyimpulkan hal yang sama”. Ini jelas-jelas khayalan Hansen sendiri. Saya sudah menunjukkan aspek-aspek eksegetikal dari bagian-bagian yang dirujuk Hansen, yang tentunya bersentuhan langsung dengan penyelidikan bahasa Ibrani dan Yunaninya. Tetapi lihatlah, apakah kesimpulan saya sama dengan kesimpulan Hansen yang hanya mengandalkan sumber-sumber yang tidak jelas dalam menulis notenya?

Kelima, Hansen menyatakan bahwa Alkitab bahasa asli yaitu yang berbahasa Ibrani sengaja disembunyikan supaya nama Ahmad tidak muncul di sana. Ini juga jelas teori jin dari gua hantu. Teks Ibrani PL tetap ada di situ dari dulu sampai sekarang. Tidak ada catatan sejarah bahwa teks PL, khususnya Hagai 2:8 itu disembunyikan atau sengaja tidak dinampakkan ke hadapan publik. Kata-kata Hansen ini jelas tipikal Muslimers yang suka melontarkan tuduhan tanpa argumen dan bukti. Jika saya menafsirkan maksud Hansen secara tepat, tampaknya Hansen juga bermaksud bahwa Kitab-kitab Injil awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani. Itulah sebabnya, dia memaksakan supaya kata parakletos dalam Injil Yohanes perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani. Ini jelas-jelas teori dungu. Tidak satu pun sarjana PB yang berkompeten yang menelorkan teori gila seperti ini. Semua manuskrip (salinan) PB yang paling awal tertulis dalam bahasa Yunani. Hansen perlu diingatkan bahwa para penulis PB menulis kitab mereka dalam bahasa Yunani karena bahasa Yunani Koine merupakan lingua franca pada masa itu. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak orang yang dapat membacanya dan memahami pesan dari kitab-kitab tersebut.

Demikianlah hasil pengamatan eksegetis dan komentar-komentar evaluatif saya terhadap note Hansen.

Referensi:

  1. Tremper Longman III & Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2006).
  2. Leon J. Wood, The Prophet of Israel (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House Company, 1979).
  3. W.S. Lasor, et all, Old Testament Survey (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1982)
  4. Bruce K. Waltke & Charles Yu, An Old Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2007)
  5. Andrew E. Hill & John H. Walton, A Survey of the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1991)
  6. Iaian Provan, V. Philips Long, & Tremper Longman III, A Biblical History of Israel (Louisville/London: Westminster/John Knox, 2003)
  7. John H. Walton, Victor H. Matthew, & Mark W. Chavalas, “Hagai”, in The IVP Bible Background Commentary: Old Testament (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2000)
  8. David F. Pennant, “Hagai” in New Bible Commentary, eds. D.A. Carson, et al. (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1994)
  9. Ralph M. Smith, Micah – Malachi (WBC; Dallas, Texas: Word Books Publishers, 1998).
  10. D.A. Carson, Exegetical Fallacies (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 1996)

SIKAP TERHADAP TAURAT PADA PERIODE INTERTESTAMENTAL

Pendahuluan
Dalam artikel tentang “Hukum Taurat sebagai Syarat Covenan Lama bagi Israel” saya menekankan beberapa poin:

  • Hukum Taurat adalah pedoman tata laku umat Allah. Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk diperlakukan sebagai syarat menjadi umat Allah. Israel sudah menjadi umat Allah dan kepada mereka diberikan Taurat sebagai dasar ketaatan mereka terhadap covenan.
  • Dalam konteks ini, ketaatan atau ketidaktaatan Israel akan menentukan berkat atau kutuk perjanjian yang akan mereka terima (retribusi covenantal).

Uraian berikut akan menolong kita untuk memahami bagaimana sikap orang Yahudi terhadap Taurat saat mereka mengalami pembuangan, sampai pada masa Paulus. Saya akan menggunakan pendekatan diakronis untuk menjelaskan hal ini.

Telusuran Diakronis mengenai Taurat dalam Konteks Periode Intertestamental
Setelah Babel menghancurkan Yerusalem, membakar Bait Allah dan menawan banyak orang Israel pada 586 SM, sebagian besar Israel yang hidup di pengasingan tampaknya telah mengadopsi perspektif Yeremia dan Yehezkiel dan dan menganggap bahwa pembuangan merupakan hukuman bagi mereka karena telah melanggar perjanjian Allah dengan mereka di Sinai . Bagi mereka, kutukan Pentateukh mengenai ketidakpatuhan terhadap perjanjian menjadi kenyataan dalam invasi Babilonia dan pengasingan berikutnya (lih. Im 26:14-46; Ul 28:43-52, 64-67; 29:22 -28; 31:14-29). Jadi ketika Persia menyerbu Babel dan kemudian membiarkan Israel kembali ke tanah air mereka, para pemimpin mereka saat itu memutuskan untuk kembali berpegang teguh pada Taurat guna menghindari hukuman di masa depan karena ketidaktaatan. Mereka telah belajar bahwa penyembahan berhala termasuk praktik-praktik hidup yang tidak sinkron dengan Taurat telah membawa mereka mengalami malapetaka. Kini, mereka berkeyakinan bahwa perjanjian dengan Allah harus dipulihkan dalam sebuah tekad yang baru untuk “memagari diri” dari pengaruh bangsa asing serta dengan ketat mematuhi seluruh hukum Taurat.

Kita bisa melihat tekad di atas dengan jelas dalam Kitab Ezra-Nehemia, dimana Ezra dan Nehemia mengungkapkan keprihatinan mereka atas perkawinan campur (intermarriage) Yahudi dengan penduduk non Yahudi sebagai praktik hidup yang bisa membawa Israel kepada kemurtadan nasional dan menuai hukuman Tuhan (Ezra 9:10-15; lih. Neh 10:30). Tekad ini bahkan masih terus terlihat dua setengah abad kemudian , sebagaimana yang terungkap dalam Kitab Tobit. Kitab Tobit menyatakan bahwa kekalahan dan pembuangan yang menimpa Israel terjadi sebagai hukuman karena Israel telah melanggar perjanjian Musa (Tob 3:2-6). Itulah sebabnya, Tobit juga memberikan peringatan terhadap orang-orang Yahudi agar menghindari kawin campur dan dengan ketat memelihara hukum mengenai makanan yang halal dan tidak halal (Tob 1:9-12; lih 4:12-13). Pada periode inilah, Israel mulai meyakini dengan sangat intensif bahwa Taurat tanda yang membedakan Israel sebagai umat pilihan Allah.

Di sisi lain, Israel mulai menghadapi tantangan dari kebudayaan Helenisme bahkan mengalami aniaya yang hebat, terutama pada masa pemerintahan Antiokhus Ephipanes IV. Kitab Makabe menunjukkan bahwa Antiokhus berusaha untuk memaksa Israel mengadopsi kebudayaan Helenisme bahkan melarang orang Yahudi mempraktikkan pola hidup yang seturut dengan Taurat. Dia melarang sunat (1 Makabe 1:48), memaksa mereka memakan makanan yang najis (2 Makabe 6:18-31), dan yang paling mengerikan dari semua, ia memaksa orang-orang Yahudi untuk menyembah dewa-dewa kafir (1 Makabe 2: 15-28).

Pada masa itu, sejumlah orang Yahudi memilih berkompromi bahkan membuat kesepakatan dengan Antiokus demi keselamatan mereka (mis. Bangsa Samaria yang adalah keturunan campuran Yahudi). Tetapi tidak sedikit orang Yahudi yang dengan tegas menolak untuk mengabaikan Hukum Tuhan sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Mereka percaya bahwa jika Israel setia kepada perjanjian Musa, yakni taat kepada Taurat, maka Allah akan melindungi mereka tidak peduli seberapa besar musuh yang mereka hadapi (lih. JDT 5:17-21; 8:18-23; Pr Azar 6-14). Jadi, seperti Daniel (Dan 1:1-21; 3:1-30) mereka memutuskan untuk tidak melanggar Taurat, terutama memperhatikan sunat (Jub. 15:11-34), menghindari makanan yang najis (JDT 10:5; lih. 12:2) dan menjaga Sabat (Jub. 2:17-33). Tiga aspek dari Taurat inilah yang pada waktu itu dianggap sangat penting untuk dipertahankan karena aspek-aspek inilah yang menurut mereka sangat jelas memisahkan mereka dari bangsa-bangsa sekitarnya.

Sejumlah orang Yahudi (mis, kaum Hasmonean dan Zelot) memilih memperjuangkan kemurnian Taurat dengan jalan kekerasan, yakni pemberontakan. Sebagian lagi (mis., Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat) lebih berfokus pada kemurnian interal, yaitu mengembangkan sejumlah tafsiran lisan mengenai Taurat (oral law) untuk dijadikan pedoman menjaga kemurnian dalam kalangan orang-orang Yahudi. Entah dengan jalan kekerasa, atau dengan jalan “aman”, mereka berkeyakinan bahwa satu saat Allah akan mendirikan perjanjian baru dengan umat-Nya (Yeremia 31:31-34; Yehezkiel 36:24-37:28), yakni suatu perjanjian di mana Allah sendiri akan memberi mereka “hati yang baru” dan “semangat baru,” menghapus “hati yang keras” dan memberi mereka “hati yang taat” (Yeh 36:26).  Beberapa kalangan bahkan menganggap bahwa janji ini sedang terealisasi dalam komunitas mereka (Jub. 1:22-25; 1QS 4, 5; 1QH 4, 5, 18; 4QShirShabb 2).

Terhadap orang-orang Yahudi yang telah berkompromi, orang-orang Yahudi yang masih ketat terhadap Taurat tidak segan-segan berlaku keras. Dalam tulisan Yosefus (The Antiquity of the Jews), dikisahkan bahwa Yohanes Hirkanus I dipaksa untuk tunduk pada sunat dan persyaratan hukum lainnya (Yosefus Ant § 13.9.1. § 257-58), dan penggantinya Hirkanus ‘, Aristobulus I, memaksa Itureans untuk melakukan hal yang sama (Ant Yosefus. 13.11 .3 § 318). Langkah-langkah ini diambil karena mereka menganggap semua orang Israel adalah milik Allah dan tindakan pemakasaan ini merupakan bagian dari upaya membersihkan Israel, baik dengan memaksa mereka keluar atau dengan memaksa mereka untuk menjadi orang-orang Yahudi [dengan jalan disunat, memelihara sabat, dan pantang terhadap makanan najis). Mereka bahkan memaksa agar semua orang yang hidup di Yerusalem harus hidup sesuai dengan Taurat (lihat, misalnya, Josephus JW 2.17.10 § 454).

Meski begitu, tidak semua orang Yahudi selama lima abad dari Ezra ke zaman Paulus, menggunakan pendekatan ini radikal. Ada banyak usaha untuk menggunakan pendekatan kompromi dengan dunia non-Yahudi di sekitar mereka. Dalam tulisan-tulisan seperti Kitab Kebijaksanaan Salomo, Barukh Ben Sira dan, misalnya, Taurat itu diidentifikasi dengan “hikmat”. Dalam kitab Kebijaksanaan Salomo, Taurat dikatakan diberikan juga kepada kaum non Yahudi melalui Israel (18:4). Dalam kitab Sirakh dan Barukh, ditekankan bahwa Israel perlu mengajarkan Taurat itu berulang-ulang [termasuk juga kepada bangsa non Yahudi] agar mereka menaati perintah-perintahnya (Sir 1:26; 6 : 37; 9:15; 15:01, 16:04, 19:20; 21:11, 23:27-24:1, 24:23-29, 33:2-3, 34:8; 39:1 -5; Bar 3:12; 3:36-4:01, 12). Jadi ada upaya untuk “memasukkan” orang-orang non Yahudi dalam ketaatan terhadap Taurat. Meski begitu, jika pilihan harus dibuat, maka orang-orang Yahudi harus memprioritaskan konsep Taurat sebagai milik eksklusif Yahudi daripada konsep Taurat sebagai “hikmat” yang di dalamnya melibatkan orang-orang non Yahudi (lih. Sir 19:20 dengan 19:24). Kitab Sirakh juga membeberkan tentang rasa duka yang mendalam karena Israel telah melanggar hukum Taurat (Sir 49:4-7; Bar 2:27-3:13; 4:12-13) .

Singkatnya, pada periode pembuangan Intertestamental, sebagian besar orang Yahudi menyadari bahwa perihal mereka ditaklukkan oleh kekuatan asing merupakan akibat langsung dari pelanggaran mereka terhadap hukum Taurat yang diberikan di Sinai. Banyak orang Yahudi percaya, bahwa jalan keluar satu-satunya adalah dengan memperbarui komitmen untuk memisahkan diri dari bangsa-bangsa di sekitar mereka dengan menaati Taurat seketat mungkin, terutama pada aspek-aspek Taurat yang menandai Israel sebagai bangsa yang terpisah bangsa lain, yaitu: Sunat, Sabat, dan pantang terhadap makanan-makanan najis.

Lebih lanjut, ada sejumlah orang Yahudi yang bukan hanya mengharuskan Taurat (dalam hal ini: sunat, sabath, dan pantang terhadap makan-makan najis) untuk ditaati orang-orang non Yahudi (proselit), melainkan juga mulai memberikan penekanan yang lebih “tajam” terhadap fungsi Taurat. Dalam PL, Taurat dianggap sebagai syarat covenan. Namun bagi mereka kini, Taurat adalah syarat keselamatan. Konsep Taurat sebagai syarat keselamatan inilah yang dikenal dengan legalisme, yaitu: konsep bahwa penerimaan Allah atas seseorang, ditentukan oleh ketaatannya terhadap Taurat. Jadi orang yang legalistik berarti orang yang menaati Taurat dengan tujuan agar diselamatkan.

Dalam salah satu dokumen yang ditulis oleh komunitas Qumran, seseorang dibenarkan Allah atas upayanya menghidupi Taurat Tuhan dengan benar (4QMMT). Paulus sendiri pernah menyinggung mengenai sikap legalistik ini dalam surat-suratnya. Paulus menentang orang-orang Yahudi yang menganggap bahwa keselamatan: berasal dari Taurat (Rm. 10:5; Gal. 3;21; Flp. 3:9); terdapat dalam Taurat (en nomo; Flp. 3:6); dan melalui Taurat (dia nomou; Gal. 3:21). Selain itu, perhatikan juga lontaran-lontaran Paulus mengenai legalisme tersebut dalam: Rm. 3:20, 28; 4:2, 6; 9:12, 32; 11:6; Gal. 2:16; dll).

Konsep mengenai Taurat sebagai sarana keselamatan, berhubungan dengan konsep antropologi orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang Yahudi, sejak diciptakan, manusia memiliki dua tendensi (Ibr. Yeser) di dalam dirinya, yaitu: Yeser untuk berbuat baik dan yeser untuk berbuat jahat. Dalam Kitab Petunjuk Disiplin dari Komuntias Qumran, doktrin ini muncul dalam konsep dua roh, yaitu roh terang dan roh kegelapan, yang keduanya diciptakan oleh Allah. Manusia ditempatkan di antara keduannya dan diharuskan untuk memilih. Dikatakan juga bahwa akar segala kejahatan harus diatasi dengan Taurat (1QS III, 13dst; bnd. Kitab IV Ezra). Dalam konteks ini, bagi orang-orang Yahudi, seseorang dapat diselamatkan kalau ia dapat mengalahkan yeser untuk berbuat jahat; dan untuk mengalahkannya, satu-satunya cara adalah melalui Taurat. Taurat adalah jalan keluar satu-satunya dari kejahatan dosa. Keselamatan adalah pahala dari ketaatan terhadap Taurat.

Kesimpulan
Jadi sampai pada masa Paulus, secara umum kita dapat melihat bahwa sikap orang-orang Yahudi terhadap Taurat dapat dikategorikan dalam beberapa poin di bawah ini:

  • Oral law yang merupakan tafsiran dari ahli-ahli Taurat dan para rabi, juga dikenakan sebagai “keharusan” untuk ditaati, karena diyakini juga sebagai bagian dari Taurat.
  • Bagi mereka Taurat itu adalah milik eksklusif yang bersifat nasionalistik (Identity Marker) yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa non Yahudi.
  • Bangsa-bangsa non Yahudi dapat diterima sebagai umat Allah sejauh mereka “ditandai” dengan: Sunat, memelihara Sabath, dan pantang terhadap makanan-makanan tertentu.
  • Sebagian orang Yahudi menjadi legalistik, yakni menganggap bahwa Taurat merupakan sarana keselamatan.

Beberapa poin di atas menuntun kita untuk memahami bahwa istilah Taurat pada masa Paulus, tidak lagi semata-mata berarti Taurat dalam PL, tetapi juga sudah terkontaminasi dengan “oral law” dan anggapan bahwa Taurat adalah identity marker (sunat; sabath; dan pantang terhadap makanan tertentu); serta anggapan bahwa Taurat adalah satu-satunya sarana keselamatan.

TUHAN BERSUMPAH DEMI KEBANGGAAN YAKUB? (AMOS 8:7)

Pendahuluan
Di CLDC, Rony Sahaduta memosting sebuah thread yang berbunyi demikian:

Secara logis, ketika suatu subjek bersumpah, maka subjek itu akan bersumpah demi otoritas tertinggi yang dapat menghukumnya atau mengutuknya bila subjek tersebut melanggar sumpahnya. Subjek yang diyakini sebagai otoritas tertinggi dalam tiap2 agama adalah Tuhan. Jadi, jikalau Tuhan (yang dalam agama2 itu) bersumpah, pasti bersumpah demi Diri-Nya sendiri, karena otoritas tertinggi adalah Diri-Nya sendiri. Kalau ada Tuhan yang bersumpah demi otoritas yang lebih rendah dari Diri-Nya pasti Ia bukan Tuhan yang sejati atau dengan kata lain dia lebih rendah dari otoritas yang dirujuk dalam sumpahnya. Tuhan dalam Alquran bersumpah demi tempat beredarnya bintang-bintang (QS 56 : 75-79). Tuhan dalam Alquran bersumpah demi bintang2 yang beredar dan terbenam, demi malam, demi subuh (QS 81: 18-25). Tuhan dalam Alquran bersumpah demi kota dan Muhamad (QS 90:1-4). Kesimpulannya : Tuhan dalam Alquran bukanlah Tuhan yang sejati. Adakah rekan-rekan muslim yang membantah hal ini ? jika ada, mohon penjelasannya. Saat ini saya lagi senang belajar tentang Islam dan Alquran. Terimakasih.

Menanggapi isi thread ini, Meneke Tehe menggunakan Amos 8:7 untuk menunjukkan bahwa TUHAN di dalam Alkitab pun bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya, yaitu “kebanggaan Yakub”. Dengan menampilkan ayat ini di sini, Meneke Tehe berasumsi bahwa Amos 8:7 mendukung maksudnya, yaitu bahwa ternyata TUHAN dalam Alkitab pun melakukan apa yang dituduhkan Saudara Rony Sahaduta di atas. Apakah asumsi ini benar? Apakah Amos 8:7 menyatakan bahwa TUHAN bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya akan mengemukakan beberapa dasar pertimbangan eksegetis sebelum menentukan makna kata saba‘ (bersumpah) dalam konteks Amos 8:7.

Latar Historis
Meski berasal dari Kerajaan Selatan (Yehuda), namun Amos menjalankan pelayanannya di Kerajaan Utara (Israel). Ia bernubuat pada masa pemerintahan raja Yerobeam II di Kerajaan Utara dan raja Uzia atau yang disebut juga Azarya di Kerajaan Selatan (lih. 2Raj. 14:17-15:7; 2Taw. 26). Dari segi politik dan ekonomi, kedua raja ini mendatangkan kestabilan dan kemakmuran pada kerajaan mereka masing-masing. Batas-batas wilayah kekuasaan berhasil diperluas. Kedua kerajaan ini bahkan hidup berdampingan secara damai. Israel dan Yehuda sedang menikmati masa keemasan dalam bidang ekonomi dan politik.

Akan tetapi, masa keemasan ini rupanya juga sekaligus merupakan masa kebusukan. Pada masa pemerintahan kedua raja ini, baik di Israel maupun di Yehuda, terdapat kemerosotan moral dan sosial yang sangat mencolok. Nabi Amos (dan juga Yesaya) diutus Tuhan untuk menuding bahwa mereka telah “sarat dengan kesalahan” (Yes. 1:4) dan “ranum” untuk menerima hukuman (Am. 8:1-2; bnd. 3:9-15; Yes. 3:13-15; 5:8-30).

Gambaran Isi
Isi Kitab Amos dapat dikatakan sarat dengan berita penghakiman. Tuhan murka atas Israel, karena kesusksesan mereka dalam bidang politik dan ekonomi, membuat mereka melalaikan Tuhan. Mereka hidup dalam penyimpangan-penyimpangan yang tidak dikenan Tuhan. Berikut adalah gambaran ringkas isi Kitab Amos:

  1. Pasal 1:1-2 >> Pendahuluan
  2. Pasal 1:1-2:16 >> Ucapan ilahi (orakel) melawan bangsa-bangsa: Damsyik, Gaza, Tirus, Edom, Amon, Moab, Yehuda, dan Israel
  3. Berkenaan dengan fokus pelayanan Amos, dapat dikaitkan lagi ke atas bahwa pasal 2:6-9:15 berhubungan dengan Israel. Berikut saya akan membuat ulasan ringkas mengenai isi bagian ini.
  • Pesan pertama, (2:6-16): Amos mencela Israel dan menubuatkan mengenai malapetaka nasional denga maksud mengingatkan mereka mengenai akibat-akibat dari ketidaktaatan mereka terhadap perjanjian (covenant);
  • Pesan kedua (3:1-6:14), Amos menyalahkan mereka atas perbuatan ketidakadilan sosial dan kemunafikan rohani;
  • Pesan ketiga (7:1-9:10), Amos menceritakan tentang lima penglihatan yang dialaminya. Semua penglihatan ini berhubungan dengan hukuman dan murka Allah atas Israel. Penglihatan-penglihatan ini menekankan mengenai kepastian kehancuran dan pembuangan Israel;
  • Pesan keempat (9:11-15), Amos mengakhiri pelayanannya di Israel dengan janji mengenai pemulihan dan berkat, yang dilakukan oleh Sang Mesias.

Hal penting yang dapat disimpulkan dari ulasan ringkas di atas adalah bahwa Amos 8:7 berada dalam konteks penglihatan-penglihatan (akan diulas lebih rinci di bawah) mengenai hukuman atas Israel.

Amos 8:1-14
Seperti yang telah disinggung di atas, Amos 7:1-9:4 berisi catatan mengenai lima penglihatan tentang hukuman atas Israel. Kelima penglihatan tersebut, adalah:

  1. Penglihatan pertama: hama belalang (7:1-3).
  2. Penglihatan kedua: api yang tidak terpadamkan (7:4-6)
  3. Penglihatan ketiga: Tali sipat (7:7-9).
  4. Penglihatan keempat: keranjang buah-buahan musim kemarau (8:1-14).
  5. Penglihatan kelima: kehancuran bait Allah (9:1-10)

Jadi Amos 8:1-14 adalah penglihatan keempat dari lima penglihatan Amos. Penglihatan keempat ini berisi kecaman Tuhan terhadap ketidakadilan yang dilakukan Israel terhadap orang-orang miskin (8:4-6). Dan nubuat yang berisi kepastian hukuman yang akan menimpa Israel (8:2-3, 7-14).

Amos 8:7
Amos 8:7, dalam terjemahan LAI-ITB, berbunyi demikian: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: “Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!”. Terjemahan ini memang menimbulkan kesan bahwa TUHAN bersumpah demi atau atas nama “kebanggaan Yakub”.

Tetapi, dari ulasan konteks di atas, sebenarnya terjemahan LAI-ITB memberi kesan yang tidak tepat. Kata Ibrani: saba‘  secara literal bukan hanya berarti “bersumpah”, melainkan juga “menyerapahi” atau “mengutuki” atau “mengumpati”. Untuk menentukan arti mana yang akan digunakan, kita harus ingat akan prinsip studi leksikal dalam eksegesis Alkitab, yaitu bahwa arti kata selalu harus ditempatkan atau disesuaikan dengan konteksnya. Dan dalam konteks seperti yang sudah diulas di atas, kata saba‘  lebih cocok dimengerti dalam arti “menyerapahi” atau “mengutuk”. Dan terjemahan berbahasa Inggris yang tepat menangkap maksud ini adalah: “The Lord hath sworn against the pride of Jacob: surely I will never forget all their works” (DRA; perhatikan penekanan pada kata against dalam terjemahan ini). Maksud ini juga terdapat dalam terjemahan LXX yang berbunyi: ὀμνύει κύριος καθ᾽ ὑπερηφανίας Ιακωβ εἰ ἐπιλησθήσεται εἰς νεῖκος πάντα τὰ ἔργα ὑμῶν. Perhatikan bahwa dalam tata bahasa Yunani, preposisi kata + kata benda genetif, maka preposisi kata itu harus diterjemahkan “against”.

Dengan kata lain, kata saba‘ dalam Amos 8:7 bisa saja diterjemahkan “bersumpah”, namun kata depan (preposisi) bedalam rangkaian bige’on, mestinya diterjemahkan “against the pride”, bukan “demi kebanggaan”.

Kesimpulan
Berdasarkan ulasan di atas, Amos 8:7 tidak berarti bahwa TUHAN bersumpah demi atau atas nama sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya (kebanggaan Israel). Maksud dari ayat ini adalah Tuhan bersumpah melawan kebanggaan Israel. Tuhan menyerapahi kebanggaan Israel. Tuhan mengutuk kebanggaan Israel, yakni kemapanan ekonomi dan politisnya yang membuat mereka lupa diri.

Jadi, Amos 8:7 tidak dapat dipakai untuk menuduh TUHAN dalam Alkitab bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya.

Referensi:

  1. Page H. Kelley, Biblical Hebrew: An Introductory Grammar (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1992).
  2. Deky H. Y. Nggadas, Bahasa Yunani: Ikhtisar Historis, Elemen-elemen Dasar, dan Fungsi Gramatikalnya (Jakarta: SETIA, 2008).
  3. Tremper Longman III & Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2006).
  4. W.S. Lasor, dkk, Pengatar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat, terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi & Lily W. Tjiputra (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000)
  5. Leon J. Wood, Nabi-nabi Israel, terj. Fransiska Lestari Ilham (Malang: Gandum Mas, 2005).
  6. Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1996).
  7. Ian Provan, V. Philips Long, & Tremper Longman III, A Biblical History of Israel (Louisville/London: Westminster/John Knox Press, 2003).

Minder Menulis, Menulis Minder

Inilah malam pertama saya mulai menulis mengenai rasa minder saya. Tanggal 30 Maret 2011, tepatnya. Mengapa? Saya ingat, terlampau seringnya saya dibuat kagum Pak Andar Ismail. Seri Selamat. Itulah rangkaian buah pena beliau yang sudah sekian lama memikat hati saya. Daya pikat beliau belum memudar sedikit pun sampai sekarang. Malah semakin bertambah.

Sekali lagi, saya minder. Seperti seekor tikus yang tak putus asa melobangi karung beras, demikianlah perasaan minder itu. Saya membayangkan, sama seperti saya, tidak sedikit orang Kristen di Indonesia yang sudah sangat jatuh cinta kepada beliau. Siapa saya? Wah, saya tidak mungkin berhasil. Saya yakin, bukan sekadar merasa, bahwa tak sedikit pun saya bisa membayangi beliau.

Anda yang sedang membaca tulisan ini tentu bertanya: “Lalu, mengapa tulisan ini dipublikasikan di sini?” Anda ingin tahu rahasianya. Adakah sesuatu yang menakjubkan yang membuat saya mengalahkan rasa minder itu? Bagaimana saya menanganinya?

Begini ceritanya. Sebenarnya, saya masih minder. Tidak berkurang. Bahkan lebih minder lagi dari perasaan minder saya yang awal. Tetapi rasa minder itulah yang membuat saya mulai menulis. Mengapa begitu? Karena saya tidak memandang rasa minder itu seperti awal saya memandangnya. Rasa minder itu kini bukan lagi seekor tikus pengerat yang merugikan dan menjijikan. Rasa minder itu sekarang adalah Si Friday yang lucu (nama seekor anjing lucu dalam film: Hotel for Dogs). Dia menemani saya. Saat saya mulai membayangkan kesuksesan saya karena berhasil menulis sebuah buku, Si Friday mungil ini menggoyang ekor tanda peringatan: Jangan sombong! Saat saya mulai kehabisan kata-kata karena memang saya tidak pandai berkata-kata, dia meliuk-liuk di pelupuk mata saya: Ayo, banyak yang bisa kamu ketik di situ. Saat saya kehilangan semangat, dia tak henti-hentinya menyemangati saya: Teruslah mengetik. Jangan berhenti. Rasa minder saya kini menjadi sahabat bahkan kerabat saya.

Intinya apa? Saya mengubah seekor tikus menjadi seekor anjing yang lucu. Saya berhasil mengelola rasa minder saya secara luar biasa bukan? Bukan!

Masih kurang luar biasa? Jangan khawatir, saya masih punya cerita lanjutannya. Malam ini, saat saya mulai dikuasai rasa minder, sesuatu yang ajaib terjadi. Angin malam mulai berhembus dengan kencang. Bunyi gesekan daun pohon mangga di depan rumah saya terdengar riuh. Suasana mulai terasa mencekam, karena listrik di rumah saya, entah kenapa, padam. Sekonyong-konyong, sepasang tangan misterius menyentuh kepala saya. Layaknya sedang ditumpang tangan, sepasang tangan misterius itu menekan ubun-ubun saya. Lalu, terdengarlah sebuah bisikan lirih: “Jangan takut, Aku menyertai Engkau.” Itulah awal mengalirnya keberanian untuk menulis. Dan luar biasa, seperti aliran sungai Kapuas, demikianlah kata-kata pun mengalir membanjiri halaman demi halaman buku ini.

“Ah, lebay.” Itulah komentar istri saya ketika membaca cerita terakhir di atas. Anda juga setuju dengan komentar istri saya? Nah, berarti Anda sudah siap mendengar apa yang sebenarnya terjadi.

Pembaca yang budiman, maaf saya baru saja menghayal. Lho, cerita di atas hanyalah sebuah khayalan? Ya, itu bukanlah cerita yang sebenarnya. Itu khayalan saya belaka. Tidak pernah terjadi sama sekali. Sungguh, itu tidak pernah terjadi! Lalu, mengapa saya menghayal seheboh itu?

Saya sering bertemu banyak orang dan mereka selalu ingin mendengar saya mengatakan apa yang mereka ingin dengar. Saat saya diundang berkhotbah, jemaat ingin mendengar saya mengkhotbahkan yang enak-enak, gampang, praktis, tidak terlalu rumit, dan penuh janji berkat. Pokoknya yang tidak berbau penderitaan, salib, teguran dan sejenisnya. Dan saya sering dicela karena jarang saya mengatakan apa yang mereka ingin dengar. Saat saya berada di ruang konsistori bersama para majelis, mereka mengingatkan saya: “Pak, jemaat di sini sombong-sombong. Tolong disinggung ya.” Mereka ingin saya mengatakan apa yang mereka ingn jemaat dengar dari khotbah saya. Saat saya mengajar, para mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang denominasi itu berharap agar saya tidak menyinggung apalagi mengritik doktrin-doktrin teologi mereka yang saya tidak setujui. Dari mana saya tahu mereka berharap demikian? Dari sungut-sungut mereka di belakang yang bocor ke telinga saya. Saya mengecewakan mereka, karena saya mengatakan apa yang mereka harap saya tidak katakan. Dalam  relasi antar teman pelayan pun demikian. Kami bisa bersama-sama mengritik slogan atau gerakan atau apa pun, sejauh itu bukan menyangkut salah satu di antara kami. Saat salah satu di antara kami mulai mempersoalkan apa yang “kurang beres” dalam lingkungan kami, terjadilah sikut-menyikut, perang kata-kata, hingga sikap menjauh disertai “bisik-bisik” di belakang.

Mayoritas kita tidak siap mendengar kebalikan dari yang kita harap orang lain katakan. Kita tidak siap, bukan karena kurang siap. Kita tidak siap karena kita tidak pernah ingin siap.

Sekarang Anda mengerti? Saya menghayal tentang tikus pengerat dan Friday, tentang tangan misterius dan suara aneh itu, untuk memenuhi apa yang Anda harapkan saya ceritakan. Dan sebagai pemula, saya tidak ingin Anda segera melempar buku saya ke tong sampah karena Anda tidak mendapatkan cerita luar biasa dari rasa minder saya. Saya memberitahukan apa yang ingin Anda dengar. Anda ingin mendengar sebuah rahasia yang luar biasa. Dan Anda mungkin sedikit terhibur dengan cerita khayalan saya itu.

Maaf ya, tapi sekarang saya harus mengatakan yang sebenarnya. Tentang rasa minder saya itu, saya memang masih minder. Saya tidak ingin memeliharanya, juga tidak ingin memusnahkannya cepat-cepat. Saya tidak ingin memeliharanya karena saya tidak usah menipu diri bahwa perasaan minder itu dapat menjadi selucu Friday. Tidak ada yang patut dibanggakan dari rasa minder apalagi dijadikan peliharaan yang lucu. Saya juga tidak kuasa membuangnya secepat khayalan saya tentang tangan misterius dan suara ajaib itu. Di sisi lain, saya memang tidak ingin membuangnya cepat-cepat. Karena dengan demikian saya mendapatkan topik pertama untuk buku ini.

Tidak layak mencampur air dengan anggur. Rasa minder tidak boleh dicampur dengan keberanian. Daripada mencampur air dengan anggur, lebih baik mengubah air menjadi anggur. Daripada mencampur rasa minder dengan keberanian, lebih baik mengubah rasa minder menjadi keberanian. Itulah parafrase saya atas kata-kata Thomas Aquinas.  Saya minder menulis, maka saya menulis tentang rasa minder saya.