Tentang Kata “Hemdath” (Hag. 2:8) dan Kata “Parakletos” dalam Injil Yohanes

Pendahuluan
Note ini ditulis untuk mengevaluasi note yang ditulis oleh Hansen. Note evaluatif ini memuat penjelasan eksegetis mengenai Hagai 2:8 (ITB) yang diklaim oleh Hansen bahwa di dalamnya terdapat bukti eksistensi nama Ahmad (Muhammad). Bagian lain, Yohanes 14:16, 26 yang juga dirujuk oleh Hansen, juga akan diulas dalam note ini karena menurut Hansen, kata “parakletos” dalam bagian-bagian ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, maka kata Ibrani yang diguanakan adalah: “hemdath” [sebagaimana yang terdapat dalam Hagai 2:8]. Saya sengaja memberi perhatian khusus kepada bagian-bagian ini, karena Hansen, di dalam notenya memberikan penjelasan yang sangat amburadur tetapi tidak menyadari keamburadurannya sehingga mengklaim bahwa ia telah “berhasil” menunaikan tugasnya “memulung sampah” untuk Muhammad.Saya tidak lagi mengulangi isi note Hansen, kecuali kalau benar-benar perlu diulangi, karena note tersebut dapat dibaca pada link:

Eksegesis Hagai 2:8
Hansen berupaya membuktikan isi QS. 7:157 dan QS. 61:6 yang berisi pernyataan mengenai terdapatnya nama “Ahmad” (Muhammad) sebagai nabi terakhir sesudah Yesus di dalam Alkitab. Menurutnya, kata “hemdath” paralel dengan kata bahasa Arab: “Ahmad”, yang merujuk kepada Muhammad. Jelas bahwa Hamsen SALAH mentrasliterasi kata ini sebagai “himdath”. Karena vowel di bawah konsonan He adalah “Segol” yang harusnya ditransliterasi e pendek, bukan i.

Karena keterbatasan ruang, survai spektrum arti leksikal dari kata hemdath akan ditiadakan. Menurut saya, konteks penggunaan kata ini cukup untuk membuktikan bahwa Hamsen sedang memulung sampah untuk Muhammad. Mengapa? Karena kata itu digunakan dalam konteks. Kontekslah yang menentukan arah penggunaannya. Di bagian akhir note ini saya akan kembali kepada poin ini untuk mengomentari metode yang digunakan Hansen.

Konteks Historis
Hagai 2:8 termasuk di dalam pemberitaan kedua (Kitab Hagai memuat empat pemberitaan), yang dimulai dari Hagai 2:1b-10. Pemberitaan kedua dalam bagian ini ditujukan kepada para petinggi Israel yang (2:3) yang saat itu sedang memimpin umat Israel dalam pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem. Sesuai dengan catatan sejarah yang dilestarikan oleh Epifanius (seorang rahib pertapa di Salmis, sekitar tahun 403-315 SM), pemberitaan kedua ini dapat diberi penanggalan yang pasti, yaitu: 17 Oktober 520 SM.

Sejak pulang dari pembuangan, umat Israel yang kembali itu bertekad untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Kelihatannya, tatkala pembangunan itu sedang berlangsung, timbul kekecewaan karena beberapa orang membandingkan kemegahan Bait Suci pertama [yang dibangun Salomo] dengan Bait Suci kedua yang sedang mereka bangun. Mereka “berkecil hati” karena menurut mereka kemegahannya tidak akan seindah kemegahan Bait Suci pertama (2:4). Kekecewaan ini bisa dimengerti karena Yerusalem, yang walaupun merupakan tanah leluhur mereka, namun telah sekian lama mereka tinggalkan. Mereka harus memulai segala sesuatunya dari nol. Mereka harus mengurus juga kehidupan mereka, dimana tampaknya kewajiban ini membuat mereka lupa akan tanggung jawab mereka terhadap pembangunan Bait Suci (1:1-2:1a). Selain itu, mereka juga harus berhadapan dengan gangguan dari bangsa lain yang berusaha menghambat mereka, misalnya: gangguan dari bangsa Samaria (bnd. Ezr. 4:1-5; sebagai catatan: hal ini menjadi salah satu akar pahit sejarah atau dendam sejarah yang membuat orang Yahudi sangat membenci orang Samaria sampai pada masa Yesus). Alhasil, pembangunan Bait Suci kedua itu tetap berupa fondasi saja selama kurang lebih enam belas tahun, yakni sampai pada masa pemerintahan Raja Darius yang kedua. Dalam occasion inilah Hagai diutus Tuhan untuk menggerakkan kembali umat Israel agar melanjutkan pembangunan Bait Suci kedua.

Ide spesifik dari ulasan ringkas mengenai konteks historis di atas yang berhubungan dengan penggunaan kata hemdath dalam Hagai 2:8 adalah adanya suatu pesimisme bahwa mereka tidak akan mampu membangun Bait Suci kedua itu sama megahnya dengan Bait Suci Salomo. Dari segi ekonomi, mereka harus berusaha dari awal. Di tambah lagi dengan kondisi geografis yang kurang menguntungkan untuk dikelola secara agraris pada waktu itu. Akhirnya mereka lebih memilih mementingkan kehidupan mereka sendiri ketimbang meneruskan pembangunan Bait Suci itu. Secara politis, mereka masih berstatus jajahan. Dari segi stabilitas keamanan, mereka sedang dirongrong oleh bangsa-bangsa lain. Mana mungkin mereka dapat membangun sebuah Bait Suci yang megah? Demikian pikir mereka, dalam parafrase saya.

Penggunaan Kata Hemdath dalam Hagai 2:8
Dalam konteks spesifik di atas, Tuhan, melalui Hagai, memberikan dorongan, penghiburan, dan jaminan bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Itu adalah urusan Tuhan. Dalam Hagai 2:9, Tuhan menandaskan, “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas”. Dan Hagai 2:8 mengikuti persis sebelum ayat ini. Itulah sebabnya, kata hemdath di dalam Hagai 2:8 tidak mungkin merujuk kepada seorang pribadi, sebagaimana yang diklaim oleh Hansen, yaitu: Ahmad (Muhammad). Karena yang dibicarakan mulai dari ayat 7-9 adalah isi dari janji penyertaan Tuhan dalam rangka menjadikan Baitu Suci kedua itu memiliki kemegahan yang melampaui kemegahan Bait Suci pertama (2:10).

Kata hemdath dalam Hagai 2:8 berasal ari kata hamad, yang berarti: “desire”. Arti konotatifnya adalah sesuatu yang sangat diinginkan. Septuaginta (LXX), menangkap arti konotatif ini dalam hubungan dengan konteksnya, sehingga menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa Yunani: eklakta (gender neuter; akusatif jamak), yang secara substatif berarti “barang-barang pilihan [berharga]”. Spektrum arti inilah yang membuat kita mendapati sejumlah versi terjemahan yang berbeda terhadap kata hemdath dalam Hagai 2:8. Ada yang menerjemahkannya secara literal, yaitu: “desire” (KJV; NIV; NIB; DRA; DYB). Tetapi ada yang lebih menekankan arti konotatifnya dengan mempertimbangkan konteksnya, yaitu: “treasure” (ESV; NAB; ITB). Dan ada pula yang menerjemahkannya secara lebih umum dari arti konotatifnya: “wealth” (NAS; NAU).

Perbedaan terjemahan di atas, memang pada akhirnya menuntun kita untuk memutuskan: dalam arti yang manakah kata hemdath digunakan dalam Hagai 2:8? Pertanyaan ini perlu dijawab. Meski begitu, sekali lagi, jelas bahwa kita tidak mendapati ide dimana kata ini boleh diterjemahkan dengan merujuknya kepada seorang pribadi yang bernama Ahmad! Dan berikut ini, secara ringkas saya akan menunjukkan perbedaan penekanan terjemahan kata ini menjadi “desire” dan “treasure” atau “wealth”.

Pertama, jika kata ini diterjemahkan dengan “desire”, maka penekanannya bersifat mesianik. Maksudnya, yang dinubuatkan Hagai di sini adalah akan ada suatu masa di mana bangsa-bangsa lain di luar bangsa Yahudi berkerinduan untuk “mendekat” kepada Allah dan beribadah di Bait Suci itu. Reformator terkenal, Martin Luther menganut pandangan ini. Ia memahami bagian ini secara mesianik, yaitu sebagai sebuah nubuat mengenai masa eskatologis di mana kedatangan Mesias akan melahirkan suatu kerinduan atau keingina yang besar dari bangsa-bangsa lain untuk mendekat kepada Allah.

Kedua, jika kata ini diterjemahkan dengan “treasure” atau “wealth”, maka penekanannya adalah nubuat mengenai kedaulatan Allah atas bangsa-bangsa, di mana Allah dapat memakai bangsa-bangsa untuk berkontribusi dalam pembangunan Bait Allah kedua tersebut. Allah adalah pemilik segala sesuatu, maka Ia dapat mengambil apa yang menjadi milik-Nya untuk membangun Bait Suci-Nya. Umat Israel tidak perlu terpaku pada kondisi mereka kemudian menjadi pesimis.

Terhadap kedua pilihan penekanan di atas, saya, berdasarkan konteks historisnya, percaya bahwa arti penggunaan kata hemdath dalam Hagai 2:8 adalah “treasures” atau bisa juga “wealth”. Karena jelas bahwa yang dirujuk di situ adalah “emas dan perak” (ayat 9).

Persoalan dari arti di atas adalah kapan persisnya nubuat itu digenapi? Kapan pernah terjadi bahwa bangsa-bangsa datang membawa harta mereka untuk memegahkan bangunan Bait Suci kedua itu? Dalam sejarah, kita mengetahui bahwa Bait Suci kedua itu ternyata tidak “tuntas” dibangun pada masa Ezra dan Nehemia. Barulah pada masa Herodes, Bait Suci kedua itu dipugar dengan kemegahan yang luar biasa. Kemegahan itu dapat terasa dalam luapan kekaguman yang tergambar pada kata-kata para murid Yesus ketika memandang bangunan Bait Suci hasil pugaran Herodes itu (Mrk. 13:1). Dan kita tahu bahwa nenek moyang bukanlah orang Yahudi asli, melainkan orang Samaria. Itulah sebabnya, ada penafsir yang menghubungkan nubuat ini dengan Herodes sebagai representasi dari “bangsa-bangsa” lain.

Meski begitu, mayoritas penafsir lebih memilih untuk mengartikan nubuat ini secara simbolik, bukan harafiah. Artinya, kontribusi bangsa-bangsa lain ini merupakan nubuat bahwa orang-orang Yahudi, pada diri mereka sendiri, harus sadar bahwa mereka tidak lagi sanggup untuk memenuhi tujuan dari pemilihan mereka. Mereka kini harus menerima keterlibatan bangsa-bangsa lain. Dan dalam arti ini, nubuat Hagai tergenapi dalam terbentuknya sebuah komunitas iman yang am di seluruh dunia yang mengaku iman yang sama kepada Kristus, di mana tidak ada satu komunitas tertentu yang dapat memuliakan Tuhan tanpa menerima atau memberi kontribusi kepada komunitas lainnya. Dan menarik bahwa PB menyebut orang-orang percaya dari semua latar belakang dengan sebutan “Bait Suci” atau “Bait Roh Kudus”. Bersama-sama, satu kesatuan, bergandengan tangan memuliakan Tuhan (Catatan: bisa jadi bahwa hal ini menjadi salah satu latar belakang motivasi Paulus mengumpulkan uang untuk orang-orang miskin di Yerusalem dari berbagai jemaat non Yahudi).

Jadi, sekali lagi, kata hemdath dalam Hagai 2:8, berdasarkan konteks penggunaannya, jelas TIDAK berbicara tentang seorang bernama: Ahmad (apalagi Muhammad). SAMA SEKALI TIDAK! Kesimpulan Hansen lahir dari khayalannya sendiri untuk mendapatkan legitimasi bagi Muhammad. Tetapi nubuat Hagai dalam bagian ini sama sekali tidak mendukung khayalan itu.

Pertanyaan selanjutnya, berdasarkan note Hamsen, apakah kata parakletos merupakan terjemahan dari kata hemdath? Atau, apakah kata parakletos, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani maka terjemahannya adalah hemdath? Saya akan menjawabnya secara ringkas di bawah ini.

Kata Parakletos dalam Injil Yohanes
Dalam Injil Yohanes, kata parakletos muncul beberapa kali, yaitu dalam: 14:26; 15:26; 16:7. Dan dalam bagian-bagian ini, kata parakletos jelas merujuk kepada Roh Kudus. Rujukan ini begitu jelas, sehingga kita tidak perlu membuang waktu untuk menunjukkan kepada Hansen tentang betapa bodohnya dia menghubungkan kata ini dengan Ahmad (Muhammad). Eksegesis yang sehat pasti taat kepada penggunaan kata di dalam konteks. Hanya orang yang melakukan eisegesis lah yang akan mendukung Hansen [dan juga mayoritas Muslimers] dalam hal ini.

Tetapi, berhubungan dengan isu yang diangkat oleh Hansen bahwa kata parakletos merupakan terjemahan dari hemdath, maka saya perlu menunjukkan sejumlah hal yang menafikan kesimpulan ini. Apakah kata parakletos, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, maka terjemahannya adalah hemdath sebagaimana yang terdapat dalam Hagai 2:8?

Pertama, kata hemdath di dalam Hagai 2:8 tidak diterjemahkan oleh LXX sebagai parakletos, melainkan eklekta (kata sifat, neuter, akusatif jamak dari kata eklektos).

Kedua, kata parakletos dalam beberapa bagian Injil Yohanes itu BUKAN kata terjemahan. Kata itu memang ada di situ sejak semula, karena Injil Yohanes ditulis dalam bahasa Yunani Koine. Hansen menyatakan bahwa jika kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, maka hasilnya adalah sama dengan yang terdapat dalam Hagai 2:8. Ini jelas upaya yang amat lucu. Untuk kepentingan apa kata itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani? Kata parakletos memang digunakan di situ dan hanya orang yang membutuhkan pembuktian seperti yang dilakukan oleh Hansen demi melegitamasi Muhammadlah yang memaksakan diri untuk melakukan itu.

Yang seharusnya dilakukan Hansen adalah meneliti penggunaan kata parakletos dalam Septuaginta, yang mungkin bisa dijadikan “pendukung” teori konyolnya. Maksudnya, dengan meneliti penggunaan kata parakletos dalam LXX, Hamsen bisa melihat sendiri dari kata bahasa Ibrani yang mana kata parakletos dalam LXX diterjemahkan. Tapi sayang, Hansen tidak melakukan ini dan malah mengusulkan bahwa kata parakletos dalam Injil Yohanes mesti diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani untuk mendukung teori jeraminya.

Untuk berbaik hati kepada Hansen, saya akan menunjukkan sebuah survai ringkas mengenai apakah kata parakletos digunakan dalam PL, khususnya berdasarkan LXX?. Di dalam PL, kata parakletos sama sekali tidak digunakan. Meski begitu, ada dua kata yang cognate dengan kata parakletos digunakan, yakni:

  • Kata paraklesis digunakan dalam: Mzm 13:1; 93:19; Ay. 21:2; Yes. 28:29; 30:7; 57:18; 66:11; Yer. 16:7; 38:9; Hos. 13:14. Kata ini digunakan dalam bagian-bagian ini dalam arti “ajakan”; “nasihat”; “dorongan”; “penghiburan”; atau “penghibur”. Dan perhatikan bahwa kata Ibrani yang darinya kata paraklesis diterjemahkan adalah kata: tanehum. Tidak satu pun yang dari bagian-bagian ini yang menerjemahkan kata paraklesis dari kata hemdath ataupun kata-kata yang segolongan dengan hemdath.
  • Kata parakletores digunakan dalam: Ay. 16:2. Dalam bagian ini, kata Ibrani yang darinya LXX menerjemahkan kata parakletores adalah kata: naham. Hal yang sama juga bahwa kita tidak mendapati kemunculan hemdath atau kata-kata lain yang segolongan dengannya.

Jadi, sekalipun saya sudah berbaik hati menunjukkan bagaimana penggunaan kata-kata yang segolongan dengan kata parakletos dalam LXX, ternyata tidak satu pun yang menunjukkan bahwa kata-kata tersebut diterjemahkan dari kata hemdath atau kata-kata yang segolongan dengannya.

Kesimpulan
Setelah meneliti penggunaan kata hemdath dalam Hagai 2:8 dan penggunaan kata parakletos dalam Injil Yohanes dan juga penggunaannya dalam LXX, ternyata tidak satu pun yang “bersahabat” dengan teori Hansen.

Lalu dari mana Hansen mendapatkan teori ini? Saya akan menjawabnya dalam catatan tambahan untuk note ini, yaitu catatan evaluatif terhadap metode yang digunakan Hansen.

Evaluasi Tambahan
Di bawah ini, saya akan mengomentari beberapa hal yang jelas-jelas merupakan khayalan Hansen sendiri [mungkin juga khayalan dari sebagian besar Muslimers].

Pertama, secara metodologis, Hansen melakukan studi etimologis terhadap kata hemdath yang kemudian ia paralelkan denga kata Ahmad. Dalam studi eksegesis Alkitab, penelusuran etimologis itu sebenarnya lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Mengapa? Kontribusi positif dari studi etimologis, semata-mata menunjukkan perkembangan arti dan penggunaan sebuah kata. Studi etimologis tidak dapat diterapkan sebagai basis penetapan arti sebuah kata, karena sebuah kata, biasanya mengalami perubahan makna atau paling tidak perkembangan makna seiring dengan berjalannya waktu. Sebuah kata tidak memiliki arti yang statis, melainkan arti yang bisa dikatakan dinamis, sesuai dengan konteks penggunaannya. Misalnya, kata euanggelion pada periode Yunani klasik berarti upah yang diberikan kepada seorang pembawa kabar baik. Arti kata euanggelion beralih menjadi kabar baik itu sendiri sesudah periode Yunani klasik. Di Palestina, pada masa PB, kata euanggelion sudah umum digunakan dalam arti kabar baik (misalnya kabar tentang sembuh dari penyakit; menikah; memperoleh keuntungan; dsb). Arti umum ini berubah lagi di dalam PB. PB memang menggunakan kata euanggelion dalam arti kabar baik, namun kabar baik yang dimaksud di sini bukan kabar baik yang umum, melainkan kabar baik tentang kehidupan, Pribadi, dan karya Yesus Kristus. Itulah arti euanggelion dalam PB. Jadi kita melihat, kata yang sama, namun seiring berjalannya waktu dan perbedaan konteks penggunaan, tidak dapat diartikan menurut etimologinya lagi. Satu contoh lain yang lebih kontemporer, misalnya kata nice dalam bahasa Inggris. Secara etimologis, berasal dari kata nescius dalam bahasa Latin, yang berarti “tidak tahu”. Hari ini, tidak ada seorang pun yang menggunakan kata nice dalam bahasa Inggris dalam arti etimologisnya, yaitu “tidak tahu”. Jadi percuma saja melakukan studi etimologis untuk mengetahui arti sebuah kata dalam konteks penggunaan yang sekarang.

Kedua, semangat yang memotori Hansen adalah semangat eisegesis. Eisegesis berarti memaksakan sebuah ide asing ke dalam sebuah teks yang sebenarnya tidak dimaksudkan sama sekali oleh teks yang bersangkutan. Inilah yang dilakukan Hansen.

Dua “sampah” eksegetikal ini tampaknya dimanfaatkan Hansen dengan “baik” sehingga ia merasa telah membuktikan kebenaran dua bagaian Alquran di awal notenya. Sayang sekali, sampah, tetaplah sampah. Tapi si pemulung ini telah “berhasil” memanfaatkan sampah itu untuk sebuah maksud sampah yang lainnya.

Hal ketiga, Hansen rupanya tidak mengenal situasi penggunaan bahasa pada masa PB. Hansen menyatakan bahwa bahasa Yesus adalah bahasa Ibrani, maka ia harus diberitahu bahwa pada masa PB, bahasa Ibrani sudah tidak digunakan sebagai bahasa percakapan. Orang-orang Yahudi bercakap sehari-hari dalam bahasa Aram. Bahasa Aram adalah dialek pembuangan yang mulai meluas digunakan sampai pada masa Yesus, selain bahasa Yunani yang adalah lingua franca (bahasa pergaulan; bahasa dunia) pada waktu itu. Bahasa Ibrani memang masih digunakan, tapi terbatas untuk kepentingan liturgikal di sinagoge atau Bait Suci. Di luar itu, orang-orang Yahudi Palestina berbicara atau bercakap-cakap dalam bahasa Aram. Kita juga bisa menambahkan bahasa Latin, sebagai bahasa nasional kekaisaran Romawi yang menjajah Palestina pada waktu itu juga dikenal oleh orang-orang Yahudi, walau harus diberi catatan bahwa penggunaan bahasa Latin di kalangan orang-orang Yahudi pada masa Yesus sebagai bahasa percakapan, sulit ditelusuri.

Keempat, Hansen menyatakan bahwa “bagi siapa yang ahli dalam bahasa Semit akan menyimpulkan hal yang sama”. Ini jelas-jelas khayalan Hansen sendiri. Saya sudah menunjukkan aspek-aspek eksegetikal dari bagian-bagian yang dirujuk Hansen, yang tentunya bersentuhan langsung dengan penyelidikan bahasa Ibrani dan Yunaninya. Tetapi lihatlah, apakah kesimpulan saya sama dengan kesimpulan Hansen yang hanya mengandalkan sumber-sumber yang tidak jelas dalam menulis notenya?

Kelima, Hansen menyatakan bahwa Alkitab bahasa asli yaitu yang berbahasa Ibrani sengaja disembunyikan supaya nama Ahmad tidak muncul di sana. Ini juga jelas teori jin dari gua hantu. Teks Ibrani PL tetap ada di situ dari dulu sampai sekarang. Tidak ada catatan sejarah bahwa teks PL, khususnya Hagai 2:8 itu disembunyikan atau sengaja tidak dinampakkan ke hadapan publik. Kata-kata Hansen ini jelas tipikal Muslimers yang suka melontarkan tuduhan tanpa argumen dan bukti. Jika saya menafsirkan maksud Hansen secara tepat, tampaknya Hansen juga bermaksud bahwa Kitab-kitab Injil awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani. Itulah sebabnya, dia memaksakan supaya kata parakletos dalam Injil Yohanes perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani. Ini jelas-jelas teori dungu. Tidak satu pun sarjana PB yang berkompeten yang menelorkan teori gila seperti ini. Semua manuskrip (salinan) PB yang paling awal tertulis dalam bahasa Yunani. Hansen perlu diingatkan bahwa para penulis PB menulis kitab mereka dalam bahasa Yunani karena bahasa Yunani Koine merupakan lingua franca pada masa itu. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak orang yang dapat membacanya dan memahami pesan dari kitab-kitab tersebut.

Demikianlah hasil pengamatan eksegetis dan komentar-komentar evaluatif saya terhadap note Hansen.

Referensi:

  1. Tremper Longman III & Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2006).
  2. Leon J. Wood, The Prophet of Israel (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House Company, 1979).
  3. W.S. Lasor, et all, Old Testament Survey (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1982)
  4. Bruce K. Waltke & Charles Yu, An Old Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2007)
  5. Andrew E. Hill & John H. Walton, A Survey of the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1991)
  6. Iaian Provan, V. Philips Long, & Tremper Longman III, A Biblical History of Israel (Louisville/London: Westminster/John Knox, 2003)
  7. John H. Walton, Victor H. Matthew, & Mark W. Chavalas, “Hagai”, in The IVP Bible Background Commentary: Old Testament (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2000)
  8. David F. Pennant, “Hagai” in New Bible Commentary, eds. D.A. Carson, et al. (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1994)
  9. Ralph M. Smith, Micah – Malachi (WBC; Dallas, Texas: Word Books Publishers, 1998).
  10. D.A. Carson, Exegetical Fallacies (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 1996)