Yesus Tidak Mengakui Orang-orang Kristen? (Mat. 7:15-23)

TEKS

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat. 7:22-23)

TUDUHAN

A

da seorang anggota CLDC yang mengeluarkan pernyataan ini: “Orang-orang Kristen berada dalam khayalan tingkat tinggi. Sudah membela Yesus mati-matian, tetap Yesus tidak akan mengakui mereka yang menganggap Dia Tuhan!”. Menurut orang ini, yang menjadi objek kritik Yesus dalam Matius 7:22-23 adalah orang-orang Kristen (pengikut Yesus) dan pengakuan akan ketuhanan Yesus tidak akan membuat orang-orang Kristen diakui oleh Yesus.

EKSEGESIS APOLOGETIS

M

engakhiri Khotbah di Bukit (Mat. 5-7), Yesus memberikan tantangan konklusif-etis bagi para pengikut-Nya. Tantangan konklusif ini boleh disebut sebagai klimaks atau puncak dari eksposisi etis Yesus dalam Khotbah di Bukit yang disampaikan dalam bentuk peringatan-peringatan yang bersifat kontras-metaforik (Mat. 7:13-27).[1] Lalu, Matius 7:28-29 merupakan konklusi menyeluruh dari Khotbah di Bukit, yaitu respons orang banyak terhadap Yesus, Sang Ekspositor etika kerajaan Allah.

Matius 7:13-27: Tiga atau Empat Peringatan?
Ada sejumlah penafsir yang membagi Matius 7:13-27 ke dalam empat peringatan. Para penafsir ini, antara lain: Leon Morris,[2] R.T. France,[3] Mark E. Ross,[4] dan Michael J. Wilkins.[5] Pembagian yang ditawarkan oleh para penafsir ini adalah:

  • 7:13-14, peringatan tentang dua jalan;
  • 7:15-20, peringatan tentang para nabi palsu;
  • 7:21-23, peringatan tentang pendengar dan pelaku firman; dan
  • 7:24-27, peringatan tentang dua macam dasar.[6]

Menurut para penafsir ini, objek yang dibicarakan dalam Matius 7:21-23 (orang yang hanya mengaku dengan mulut tanpa perbuatan) berbeda dengan objek yang dibicarakan dalam Matius 7:15-20 (para nabi palsu).

Akan tetapi, saya sependapat dengan keberatan Turner terhadap pembagian di atas. Intinya, Turner menunjukkan bahwa Matius 7:15, 22 sebenarnya membicarakan objek yang sama, yaitu para nabi palsu. Ayat 15 merupakan catatan tentang “tingkah laku” para nabi palsu tersebut, sedangkan ayat 20 merupakan catatan tentang “kata-kata” mereka.[7] Turner yang menyebut peringatan-peringatan ini sebagai “dualisme etis”, membaginya dalam tiga topik dalam bentuk tabel, sebagaimana yang saya cantumkan di bawah ini:[8]

Matius 7

Murid Sejati

Pendurhaka

Dua Gerbang/ Jalan  (7:3-14) Pintu yang sempit Pintu yang lebar
Jalan yang sukar Jalan yang luas
Hidup Kehancuran
Sedikit Banyak
Dua Pohon/ Buah (7:15-23) Nabi yang benar (implisit) Nabi palsu
Domba Serigala
Pohon yang baik Pohon yang buruk
Buah yang baik Buah yang buruk
Hidup (implisit) Penghakiman
Melakukan kehendak Bapa Berkata, “Tuhan, Tuhan…”
Dua Fondasi (7:24-27) Orang bijak Orang bodoh[9]
Mendengar dan taat Mendengar tetapi tidak taat
Membangun di atas batu karang Membangun di atas pasir
Bangunan yang kokoh Bangunan yang runtuh

Peringatan mengenai Para Nabi Palsu (Mat. 7:15-23)
Dalam peringatannya[10] tentang para nabi palsu ini,[11] Yesus menggambarkan mereka sebagai “serigala yang rakus” (terjemahan saya; ay. 15). Ayat ini berbicara tentang penampilan mereka yang tidak kelihatan seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Penampilan mereka tidak berbeda dengan orang-orang beragama, bahkan orang-orang beragama yang saleh sekalipun. Tentu saja, karena mereka menyamar dengan penampilan yang tidak mudah dikenali: “seperti domba”.[12]

Selanjutnya, ayat 16-20 ditulis dalam gaya khiastik-simetris:[13]

Gaya khiastik-simetris ini menunjukkan adanya inclusio, yakni pengulangan atau penegasan kembali ide pada ayat 16 dalam ayat 20. Ide pokok yang terlihat dalam struktur khiastik-simetris di atas adalah “buah” sebagai indikator utama untuk menemukenali kepalsuan para nabi tersebut. Yesus tidak membiarkan kebenaran dipalsukan dan tidak membiarkan pengikut-pengikut-Nya tertipu. Itulah sebabnya, Yesus melontarkan petunjuk-petunjuk bagi para pengikut-Nya untuk mengidentifikasi para nabi palsu tersebut. Hal yang patut dicatat di sini adalah bahwa petunjuk-petunjuk ini dilontarkan Yesus bukan dari sisi doktrinalnya (pengajaran), melainkan dari sisi etika.[14]

Secara sederhana, saya akan menjelaskan identifikasi Yesus terhadap para nabi palsu tersebut sebagai berikut:

  • Para nabi palsu tersebut adalah orang-orang yang tamak dan mementingkan diri sendiri. Kata “buas” (dalam terjemahan ITB dan BIS), mestinya diterjemahkan dengan “rakus” atau “tamak” (ay. 15).[15] Yesus memperingatkan para murid agar tidak tertipu dengan penampilan luar mereka. Para murid harus memperhatikan dengan cermat akan sikap tamak yang muncul dalam sepak terjang para nabi palsu tersebut. Para nabi palsu ini menjadikan komunitas Kristen sebagai “ladang” untuk melayani ketamakan mereka (sifat ini merupakan kontras dengan karakteristik kehidupan Yesus – bnd. Mrk. 10:45; Yoh. 10:15).
  • Hidup mereka semata-mata membuahkan kejahatan dan hal-hal yang tidak berguna karena sumbernya pun demikian (ay. 16; bnd. Mat. 13:41; 23:28); Istilah “buah” di sini selain merujuk kepada karakter pribadi para nabi palsu tersebut, juga merujuk kepada karakter hidup dari orang-orang yang terpengaruh oleh ajaran mereka.[16]
  • Mereka dapat menggunakan istilah-istilah yang rohani dan teologis (ay. 21), namun tidak pernah terwujud dalam tindakan nyata. Antara kata-kata mereka dan tindakan mereka terdapat sebuah gap (jurang) yang menganga.; dan
  • Mereka bahkan dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani, bahkan kelihatan memiliki karunia-karunia rohani yang sangat berpotensi dan hebat (ay. 22). Keener mengomentari ayat ini dengan menandaskan bahwa kita seharusnya “mengevaluasi para nabi melalui buahnya, bukan melalui karunia-karunia rohani yang mereka miliki”.[17]

Hal yang paling mendasar dari semua petunjuk di atas adalah pengakuan Yesus bahwa Ia tidak akan mengakui para nabi palsu tersebut pada hari penghakiman. Dalam ayat 19, Yesus menggambarkan penghakiman atas para nabi palsu tersebut seperti pohon yang akan “ditebang dan dibung ke dalam api”. Ungkapan penghakiman ini paralel dengan deklarasi Yesus bahwa “Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan” (ay. 23).

Deklarasi penghakiman di atas memuat inti yang sangat fundamental dalam penolakan Yesus terhadap mereka, yakni Yesus tidak “mengenal” mereka.[18] Kata “mengenal” dalam ayat 23 dalam bahasa Yunaninya adalah kata egnon (bentuk aorist indikatif aktif dari kata ginosko). Bentuk aorist dari kata ginosko di sini yang dinegasi secara tegas dengan kata oudepote (“tidak pernah”), menekankan bahwa tidak pernah dalam satu titik waktu di masa lampau sampai dengan penghakiman itu dideklarasikan,[19] para nabi palsu tersebut memiliki hubungan pribadi dengan Yesus. Tidak pernah ada intimasi atau relasi pribadi. Yesus tidak mengenal mereka artinya mereka tidak memiliki relasi pribadi atau intimasi dengan Yesus. Mereka tidak pernah menjadi milik Yesus. Dalam kondisi ini mereka dapat mengklaim apa saja, namun pada akhirnya mereka akan mendengar keterusterangan Yesus: “Aku tidak pernah mengenal kamu!”

Bisa jadi, jangkauan maksud ungkapan penghakiman dalam Matius 7:19-23 juga merujuk kepada orang-orang Kristen nominal yang karena ketidaksejatian mereka, dengan mudahnya terpengaruh dan terperangkap untuk menerima ajaran serta mengadoposi perilaku dari para pengajar sesat tersebut. Mereka, sebagaimana para nabi palsu tersebut, adalah orang-orang antinomian.[20]

Kesimpulan
Melalui ulasan eksegetis ini, terungkap bahwa kedua tuduhan yang dilontarkan di atas, sama sekali tidak benar. Objek kritik Yesus dalam Matius 7:15-23 bukanlah para murid (orang Kristen). Objek kritik Yesus adalah para nabi palsu yang menyambar seperti domba. Demikian juga, bagian ini tidak mengajarkan bahwa pengakuan akan ketuhanan Yesus tidak akan membuat orang-orang Kristen (pengikut Yesus) diakui. Mengapa? Karena ungkapan penghakiman dalam Matius 7:21-23 ditujukan bukan kepada orang-orang Kristen sejati, melainkan kepada para nabi palsu dan orang-orang Kristen [nominal] yang terperangkap untuk mengikuti ajaran dan pola hidup para nabi palsu tersebut.


[1] Karakteristik ketiga peringatan yang bersifat dualitas ini, berakar pada: a) Perjanjian Lama (lih. Ul. 11:26; 30:15, 19; Mzm. 1:1-6; 119:29-32; Ams. 14:2; 28:6, 18; Yer. 21:8); b) literatur-literatur Yahudi pada periode intertestamental (Wis. 5:6-7; Sir. 2:12; 15:11-17; 21:10; T. Ash. 1:3-5; 2En. 30:15; 42:10; 4Ezr. 7:3-9; 1QS 3.13 – 4.26); dan c) literatur-literatur Kristen perdana (Did. 1.1; 2.2; 5.1; Barn. 18.1). Saya mengutip data tekstual ini dari: David L. Turner, Matthew (BECNT; Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008), 213-214. Mengenai sifat dualitas etis yang terdapat dalam literatur-literatur Yunani dan Romawi, lihat: Craig S. Keener, The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2009), 250.

[2] Leon Morris, The Gospel According to Matthew (PNTC; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1992), 173-183.

[3] R.T. France, The Gospel of Matthew (NICNT; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2007), 284-297.

[4] Mark E. Ross, Let’s Study Matthew (Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 2009), 73-76.

[5] Michael J. Wilkins, Matthew (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2004), 321.

[6] J.J. de Heer juga berpendapat bahwa bagian akhir Khotbah di Bukit ini dapat dibagi menjadi empat peringatan. Meski begitu, pembagian de Heer agak berbeda dengan para penafsir di atas. Walaupun ia menganggap bahwa peringatan pertama itu terdapat dalam Matius 7:13, namun dalam tafsirannya ia menggabungkan ayat 12 dan 13. Lalu, ia juga berpendapat bahwa Matius 7:15-20 sebagai peringatan kedua, sedangkan 7:21-23 adalah peringatan ketiga. Ia berpendapat bahwa “para nabi palsu” yang dibicarakan dalam 7:15-20 juga dibicarakan dalam 7:21-23. Meski begitu, bagi de Heer, pasal 7:21-23 mengandung objek tambahan yaitu orang-orang yang sekadar mengaku Yesus sebagai Tuhan dengan mulut mereka. Detail inilah yang membedakan de Heer dengan para penafsir di atas, walau mereka sama-sama membaginya menjadi empat peringatan (Tafsiran Alkitab: Injil Matius 1-22 [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003], 123-129).

[7] Untuk keberatan selengkapnya, lih. Turner, Matthew, 214.

[8] Turner, Matthew, 213. Beberapa penafsir lain juga mengikuti pembagian in, misalnya: Frederick Dale Bruner, Matthew: A Commentary 1-12 (Revised & Expanded Edition; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2004), 348; Sinclair B. Ferguson, Khotbah Di Bukit: Cermin Kehidupan Sorgawi di Tengah Dunia Berdosa, terj. Shirley Liz (Surabaya: Momentum, 2010), 181-193.

[9] Istilah “bodoh” di sini lebih berhubungan dengan aspek etis ketimbang aspek intelektual. Hal ini mengingatkan kita akan penekanan dalam literatur-litaratur hikmat PL yang membuat kontras antara orang berhikmat dan orang bodoh (lih. Deky H. Y. Nggadas, “Orang yang Tidak Berpengalaman menurut Kitab Amsal,” dalam Jurnal Laus Deo. Vol. I, No. 1 [Cibubur: Arrabona Press, 2011], 27-44).

[10] Kata prosekhete (present imperatif, orang kedua jamak dari kata prosekho) di sini menadai keseriusan dan kontinuitas peringatan ini. Secara leksikal, kata ini dapat diterjemahkan “hati-hatilah”, “perhatikanlah [dengan saksama]”, “waspadalah”. Secara tata bahasa, present tense kata ini mengindikasikan bahwa perintah ini menekankan tentang kontinuitas atau sifat terus-menerusnya. Kewaspadaan terhadap para nabi palsu adalah sikap yang harus terus-menerus dimiliki bahkan oleh kita yang hidup saat ini.

[11] Rujukan tentang para nabi palsu terdapat sangat banyak dalam Alkitab dan juga dalam sejarah Gereja. Dalam PL, misalnya: Yer. 6:13-14; 8:11; 23:13-17; Yeh. 13:1-16; dan Mi. 3:5-8. Dalam PB, misalnya: Mat. 24:24; Mrk. 13:22; Luk. 6:26; 2Pet. 2:1; dan 1Yoh. 4:1, 4. Dalam kehidupan Gereja mula-mula, misalnya: Did. 11-12.

Dalam konteks Matius 7, tampaknya para nabi palsu ini mengajarkan tentang Injil yang palsu dan “jalan pintas” tanpa ketaatan kepada Tuhan untuk menangani hidup ini. Secara moral, mereka bisa digolongkan sebagai orang-orang antinomian atau libertines. Untuk ulasan yang representatif mengenai hal ini, lihat: Turner, Matthew, 217; France, The Gospel of Matthew, 289-290; bnd. The IVP NTC versi online, http://www.biblegateway.com/ resources/commentaries/IVP-NT/Matt/Discern-Fruits-Not-Gifts, diakses tanggal: 23 November 2011; Bruner, Matthew 1-12, 353-354; de Heer, Injil Matius Pasal 1-22, 126-128.

[12] Bisa jadi bahwa para nabi palsu tersebut hidup di dalam lingkungan “para domba”: Mereka beragama Kristen walau sesungguhnya mereka bukan Kristen sama sekali (lih. Bruner, Matthew: A Commentary 1-12, 352.

Mengenai domba, kita perlu tahu bahwa domba merupakan harta yang sangat penting bagi orang Yahudi. Pada umumnya domba digunakan sebagai makanan dan korban persembahan (bnd. Kej. 20:14; Im. 9:3; 1Sam. 25:18; Ay. 30:1). Sifat lemah-lembut dan jinak dari binatang inilah yang menjadi alasan mengapa banyak kali ia dipakai secara simbolik dalam Alkitab. Salah satunya, domba dipakai sebagai metafora bagi umat Allah yang lembut, yang bergantung penuh pada Tuhan dan mengikuti Kristus, Gembala surgawi mereka (Mzm. 44:12, 23; 49:15; 74:1; 78:52; 79:13; 100:3; 119:176; Kid. 1:7-8; Yer. 50:6; Yeh. 34:1-31; Mi. 2:12; Za. 10:2; 13:7; Mat. 10:16; 25:32-33; 26:31; Mrk. 14:27; Yoh. 10:1-27; 21:15-16; Rm. 8:36; Ibr. 13:20). Untuk keterangan lebih lanjut, lihat: “Sheep, Sheperd,” dalam Dictionary of Biblical Imagery (Software version).

[13] Dengan sedikit modifikasi, saya mengutip struktur khastik-simetris ini dari: Turner, Matthew, 216.

[14] Di dalam PL, paling tidak terdapat tida aspek yang dijadikan landasan pengujian terhadap kesejatian nubuat seorang nabi, yaitu: Pertama, ketepatan antara nubuat dan penggenapannya (Ul. 18:21-22); kedua, ujian yang bersifat teologis, dimana nubuat dari seorang nabi harus ditolak sekalipun apa yang dinubuatkan itu terjadi, jika pada akhirnya nabi tersebut membawa umat Allah menyembah allah lain (Ul. 13:1-6); dan ketiga, ujian yang bersifat etis, yaitu kehidupan yang tidak saleh dari seorang nabi (Yer. 23:9-15). Penekanan dalam konteks Matius 7:15-23 menunjukkan hubungan yang dekat dengan ujian yang ketiga, yaitu ujian yang bersifat etis (lih. Morris, The Gospel of Matthew, 291).

[15] Kata sifat: haparges (nominatif jamak dari kata harpaks) yang dilekatkan kepada “serigala” dalam ayat 15 lebih cocok diterjemahkan “rakus”, ketimbang “buas” (ITB; BIS). Karena, seperti yang telah dilas di atas, peringatan-peringatan ini sepenuhnya bersifat etis (bnd. Kej. 49:27 – NRSV), Dan seperti yang dijelaskan oleh para ahli, serigala memang adalah salah satu binatang buas yang terkenal sebagai binatang pelahap atau kemaruk (Lih. “a[rpax,” dalam BDAG Lexicon [Software of BibleWorks6]; bnd. Leland Ryken, James C. Wilhoit, & Tremper Longman III, “Wolf,” dalam Dictionary of Biblical Imagery (Versi Software; Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2000]).

[16] Ferguson, Khotbah di Bukit, 189.

[17] Keener, The Gospel of Matthew, 252.

[18] Ayat 23 merupakan alusi (rujukan tak langsung) kepada Mazmur 6:8/9 (bnd. Mzm. 119:115; 139:19; Mat. 25:41; Luk. 13:27; dan 1Mak. 3:6).

[19] Dalam tata bahasa Yunani, penekanan yang terdapat pada sebuah tense bukan hanya soal waktu melainkan yang terpenting adalah aspek. Yang dimaksud dengan aspek adalah penekanan mengenai tipe keberlangsungan sebuah tindakan yang hendak ditekankan melalui sebuah tense. Mengenai aspek dan waktu yang terdapat di balik tense aorist dalam bahasa Yunani, lihat: Danel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1996), 555.

[20] Kata antinomian, secara literal berarti anti hukum atau anti aturan. Antinomianisme [sebagai ajaran yang menyimpang dari kekristenan] adalah paham bahwa orang-orang percaya tidak perlu lagi hidup secara bertanggung jawab di hadapan Tuhan karena mereka sudah dan pasti diselamatkan.

Umumnya para penafsir yang membagi Matius 7:15-23 menjadi dua, menegaskan mengenai hal ini. Mereka melihat bahwa objek penghakiman yang dibicarakan dalam ayat 21-23 adalah orang-orang fasik yang berbeda dengan para nabi palsu yang dibicarakan dalam ayat 15-23. Meski begitu, sebagaimana telah diulas di atas, Matius 7:15-23 adalah satu kesatuan naratif yang berbicara tentang para nabi palsu. Hanya, tidak tertutup kemungkinan bahwa ada “objek tambahan” yang dibicarakan dalam ayat 21-23, yakni orang-orang yang dipengaruhi lalu hidup sebagaimana para nabi palsu tersebut.