Mengapa Nama Saulus Diganti Menjadi Paulus?

Pertanyaan pada judul di atas sering saya dengar dari para mahasiswa yang mengikuti kelas tafsir PB. Namun saya baru terdorong untuk menulis note singkat ini setelah saya membaca sebuah diskusi di internet yang akan saya kisahkan di bawah ini.

Sebuah Upaya Penghilangan Jejak?
Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah diskusi di Yahoo Answers. Di forum ini, ada seseorang yang bertanya tentang latar belakang penggantian nama Saulus menjadi Paulus. Penanya ini menduga bahwa penggantian nama Saulus menjadi Paulus dilakukan untuk menghilangkan jejak. Tidak jelas “menghilangkan jejak” dari apa atau siapa. Sebagai tanggapan, seorang yang lain menjelaskan bahwa penggantian nama tersebut tidak seperti “Abram” menjadi “Abraham”. Pada dasarnya Paulus adalah nama lain dari Saulus. Menariknya, orang ini pun terbuka untuk kemungkinan bahwa penggantian nama ini bisa jadi karena Paulus sedang menghindari kejaran “kawan-kawan lamanya”, yaitu orang-orang Yahudi yang dulu bersama-sama dengan dia menganiaya pengikut Kristus.

Ada dua hal yang perlu dikomentari terhadap isi diskusi di atas. Pertama, benar bahwa Paulus adalah nama lain dari Saulus (bnd. Kis. 13:9). Saulus adalah nama Yahudi, sedangkan Paulus adalah nama Yunani yang paralel dengan nama Paullus dalam bahasa Latin. Paulus memiliki kewargaan Romawi.[1] Pada masa itu, orang-orang Romawi biasanya memiliki tiga bagian pada nama mereka, yaitu:

-          praenomen, yaitu nama dirinya;

-          nomen, yaitu nama pendiri klan atau sukunya;

-          dan  cognomen, yaitu nama keluarganya.

Contoh dari tiga bagian nama Romawi di atas: Gaius Julius Caesar. Pada masa itu, bila seorang asing atau budak memperoleh kewargaan Romawi, ia akan mempertahankan namanya sebagai nama akhir (cognomen), tetapi ia akan menambahkan praenomen dan nomen orang Roma yang memberinya kewargaan tersebut.

Hal yang perlu ditegaskan adalah kita tidak memiliki catatan, baik dari Kisah Para Rasul maupun surat-surat Paulus, mengenai nama Romawi Paulus yang lengkap. Meski begitu nama Latin: “Paullus” (sejajar dengan nama Yunani: Paulos) jarang digunakan sebagai praenomen dan cukup sering digunakan sebagai cognomen (misalnya, pada nama prokonsul Sergius Paullus yang muncul dalam Kis. 13:8). Berdasarkan kecenderungan ini, sangat mungkin bahwa Paulos adalah cognomen atau nama keluarga Paulus. Meski begitu, awal kemunculan nama ini dalam Kisah Para Rasul 13:8-9 (“yang juga disebut…”) mungkin mengindikasikan bahwa “Paulos” hanyalah nama panggilan yang bermakna “si kecil”.

Kedua, sejak awal kemunculannya dalam Kisah Para Rasul 7:58, nama Saulus tetap digunakan hingga KPR 13:9 sebanyak 26 kali. Setelah Kisah 13:9, memang nama Paulus secara konsisten digunakan sebagai ganti nama Saulus. Meski begitu, dalam kesaksian-kesaksiannya mengenai pengalamannya di Damsyik pasca penggantian nama tersebut, beberapa kali Paulus masih menyebut dirinya dengan nama Saulus (22:7, 13; 26:14). Data tekstual ini secara tersirat membantah dugaan bahwa penggantian nama tersebut merupakan upaya penghapusan jejak (karena takut terhadap kejaran “kawan-kawan lamanya”).

Dari segi rentang waktunya, antara pertobatannya di Damsyik dengan awal penggantian nama Saulus menjadi Paulus dalam Kisah 13:9 memakan waktu satu hingga tiga tahun. Dan sebelum Kisah 13 yang menjadi awal perjalanan misinya yang pertama ke daerah-daerah non Yahudi (gentiles), Paulus masih bolak-balik ke Yerusalem. Lagi pula, Paulus yang adalah salah satu pemimpin penganiayaan terhadap orang-orang Kristen sebelum ia bertobat, pasti dikenal baik oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem. Lalu, apa manfaatnya sebuah penggantian nama demi penghapusan jejak? Toh ia dikenal baik bukan? Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa dugaan penghapusan jejak sebagai motif di balik penggantian nama Paulus, tidak benar!

Meski begitu, pertanyaan pada judul note ini tetap perlu dijawab. Apa yang mendorong penggantian nama “Saulos” menjadi “Paulos”?

Motif Misi
Untuk memahami motif atau latar belakang penggantian “Saulus” menjadi “Paulus”, kita harus memulainya dari Kisah 9. Pasca penampakan Diri-Nya kepada Paulus, Yesus menampakkan Diri kepada Ananias dan menyatakan bahwa Paulus adalah “alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis. 9:15). Tujuan panggilan Paulus adalah agar ia menjadi rasul bagi bangsa-bangsa non Yahudi (dunia Yunani-Romawi – Graeco-Roman).

Menariknya, awal penggantian nama “Saulus” menjadi “Paulus” terjadi pada awal perjalanan misinya kepada bangsa-bangsa non Yahudi. Perjalanan pertama ini, diawali dengan pemberitaan Injil yang dilakukan Paulus di hadapan seorang penguasa Romawi bernama Sergius Paullus (Kis. 13). Selanjutnya, dalam perjalanan-perjalanan misinya menjangkau bangsa-bangsa non Yahudi, KPR secara konsisten menggunakan nama “Paulus” sebagai ganti nama “Saulus”.

Selain itu, karena fokus pekabaran Injil yang dilakukan Paulus adalah bangsa-bangsa non Yahudi, dalam hal ini dunia Yunani-Romawi, maka kita perlu mengetahui apa arti “saulos” di mata orang-orang Yunani. Ternyata istilah “saulos” dalam bahasa Yunani mengandung konotasi negatif. Dalam bahasa Yunani, kata “saulos” tidak jarang dikenakan bagi orang yang berjalan dengan gaya merangsang seperti pelacur.[2]

Mencermati indikator-indikator di atas, saya berpandangan bahwa penggantian nama “Saulus” menjadi “Paulus” bermotif misi. Dalam rangka menjalankan pekerjaannya sebagai misionaris bagi bangsa-bangsa non Yahudi, Paulus mengganti namanya demi kemudahan penjangkauan terhadap bangsa-bangsa non Yahudi (bnd. 1Kor. 9:18-22). Halangan arti nama “saulos” dalam bahasa Yunani, kemungkinan besar juga ikut melatarbelakangi penggantian namanya. Paulus meminimalisasi potensi terjadinya olok-olokan yang tidak efektif bagi pelayanannya terkait arti istilah “saulos” dalam bahasa Yunani. Bila dalam 1 Korintus 9:22, Paulus menyatakan bahwa “Segala sesuatu aku lakukan demi Injil…”, maka adalah masuk akal untuk menduga bahwa penggantian nama ini pun dilakukan demi pekabaran Injil. Penggantian nama “Saulus” menjadi “Paulus” merupakan bagian dari strategi misi Paulus dalam menjangkau bangsa-bangsa non Yahudi.


[1] Pada masa itu, kewargaan Romawi memberi keistimewaan-keistimewaan terhadap pemiliknya. Seseorang yang memiliki kewargaan Romawi, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang tanpa alasan yang benar-benar kuat. Ia tidak boleh dihukum atau dipinalti tanpa benar-benar terbukti bahwa ia bersalah. Bahkan ia dapat mengajukan banding atas kasusnya kepada Kaisar. Dalam perjalanan misinya, Paulus pernah memanfaatkan keistimewaan kewargaan Romawinya saat ditahan.

[2] Lih. T.J. Leary, “Paul’s Improper Name,” in New Testament Studies 38 (1992), 679-684; baca juga: C.J. Hemer, “The Name of Paul,” in Tyndale Bulletin 36 (1986), 179-183.