Merekayasa Yesus: Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern – Craig A. Evans

Craig A. Evans, Merekayasa Yesus: Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern, terj. Johny The (Yogyakarta: Andi, 2007),xxx + 346 hlm.

MerekayasaYesusCatatan: Buku ini diterjemahkan dari buku asilnya dalam bahasa Inggris: Fabricating Jesus: How Modern Scholars Distort the Gospels (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2006).

Saya membeli buku ini tidak lama sesudah pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Tidak satu dua kali saya membaca buku ini bahkan mengutip beberapa bagian kecil dalam sejumlah artikel yang saya tulis maupun dalam sejumlah diskusi di internet. Meski demikian, saya baru memberi perhatian detail terhadap buku ini saat mengadakan riset untuk bagian apendiks dari tesis Master of Theology saya yang berjudul: Dari ‘Mesir’ ke Mesir, Analisis terhadap Penggunaan Hosea 11:1 dalam Matius 2:15 dari Perspektif Kristotelik. Dalam bagian apendiks tesis ini, saya memberikan semacam draft studi lanjut mengenai isu historis di balik narasi pengungsian Yesus ke Mesir (Mat. 2:13-15), di mana oleh sejumlah ahli, mis. Morton Smith, narasi ini merupakan upaya “perbaikan” dari Matius terhadap asersi kuno bahwa Yesus adalah seorang magician yang mempelajari ilmu sihir di Mesir. Para ahli yang menganut asersi ini percaya bahwa narasi tersebut bila dikombinasikan dengan catatan-catatan mengenai mukjizat-mukjizat Yesus dalam Kitab-kitab Injil, kemudian dibaca dari perspektif asersi kuno di atas, akan [sedikit] memberikan clue mengenai hal ini. Meski ulasan Evans yang relevan dan insightful dalah hubungan dengan isu yang saya sebutkan ini hanya terdapat dalam bab 7 buku ini, namun mungkin karena saya cukup baik mengenal kepakaran Evans, menarik minat saya membaca buku ini sekali lagi secara cermat dan detail saat itu.

Evans adalah seorang pakar yang menguasai bahasa Ibrani, Aram, Yunani, naskah-naskah Laut Mati, naskah-naskah Gnostik, dan tulisan-tulisan sejarah kuno, mis. Philo, Tacitus, Josephus, dsb. Saya bersyukur Tuhan membangkitkan seorang Kristen yang memperlengkapi dirinya dengan sedemikian serius hingga menguasi bidang-bidang yang hari-hari terakhir ini cukup dominan didiskusikan dalam lingkungan kesarjanaan PB. Menariknya, tidak seperti Ehrman yang kehilangan imannya sejak mendapat komentar kritis dari profesornya mengenai Markus 2:25-26, Evans justru belajar secara ekstensif di bawah bimbingan salah seorang profesor critical yang dalam buku ini ia kritik pandangannya: Profesor James Robinson!

Informasi mengenai bidang-bidang kepakaran Evans di atas tidak disebutkan tanpa alasan. Membaca buku ini, kita akan menemukan sajian sumber-sumber historis dari bidang-bidang yang sudah saya sebutkan di atas. Ia memberikan ulasan bantahan terhadap klaim mengenai: lost Christianity Ehrman, tendensi untuk menjadikan teks-teks Gonstik sebagai sumber rekonstruksi mengenai the historical Jesus, kriteria-kriteria analisis historis yang biasanya diterapkan para historians, pengabaian terhadap mukjizat-mukjizat Yesus, dan klaim bahwa Yesus adalah seorang sinis. Dari segi arahnya, bagian-bagian awal buku ini merupakan analisis terhadap kesalahan presuposisi bibliologi para skeptis yang mengklaim telah menemukan kesalahan dalam PB sehingga akhirnya mereka meninggalkan iman ortodoks mereka. Menurut Evans, mereka mendekati Alkitab dari titik tolak yang salah dan membawa harapan yang salah pula terhadap Alkitab. Tidak heran, orang-orang seperti: Robert Price, Robert W. Funk, Bart D. Ehrman, dan James Robinson, akhirnya tiba pada kesimpulan yang amat kontras dengan keyakinan awal mereka mengenai kekristenan dan secara khusus, Alkitab. Selanjutnya, bagian terbesar dari buku ini merupakan evaluasi kritis terhadap klaim dan argumentasi dari kelompok Seminar Yesus [Jesus Seminar]. Dan bab terakhir buku ini, merupakan klaim dan argumentasi historis yang mewakili keyakinan Evans mengenai Yesus, Kitab-kitab Injil, dan Kekristenan.

Sebagaimana yang sudah dikemukakan di atas, Evans benar-benar memperlihatkan kepakarannya dengan menghadirkan basis rekonstruksi historis yang sulit untuk diabaikan oleh pakar mana pun. Singkatnya, ia tahu apa yang ia percayai, ia tahu apa yang ia bicarakan, dan ia tahu bagaimana membicarakan apa yang ia tahu tentang apa yang ia percayai.

Beberapa penegasan Evans dalam buku ini mengingatkan saya akan klaim dari beberapa sarjana PB lain yang menulis buku mengenai studi sejarah mengenai Yesus. Saya teringat misalnya klaim dari James D.G. Dunn yang disatu sisi percaya bahwa Kitab-kitab Injil memuat ingatan-ingatan para saksi mata mengenai Yesus yang sebenarnya [tercermin dari judul bukunya: Jesus Remembered], namun menolak bahwa Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Mesias semasa Ia hidup dan melayani. Klaim kemesiasan Yesus, menurut Dunn, merupakan klaim pasca kebangkitan Yesus yang diberikan oleh murid-murid-Nya setelah mereka melihat sendiri bahwa Yesus benar-benar dibangkitkan.[1] Evans justru secara meyakinkan memperlihatkan sejumlah data dari Kitab-kitab Injil bahwa Yesus memang mengklaim Diri-Nya sebagai Mesias semasa Ia hidup dan melayani.

Meski demikian, perhatian detail saya terhadap buku ini dalam pembacaan terakhir saya, membuat saya sedikit “terganggu” dalam beberapa bagian. Namun di sini, saya akan mengemukakan salah satunya. Dalam ulasannya mengenai Markus 14:61-62, di mana Yesus menjawab secara afirmatif terhadap pertanyaan Kayafas mengenai Yesus sebagai Mesias, Anak Yang Terpuji, Evans menyinggung keberatan dari sejumlah pakar mengenai ketidakautentikan bagian ini. Para pakar ini menolak autentisitas bagian ini sebagai jawaban yang berasal dari mulut Yesus sendiri karena jawaban tersebut dikemukakan dalam konteks pengadilan Yesus di hadapan Kayafas. Jika kita mengasumsikan bahwa para murid tidak hadir dalam peristiwa tersebut, bagaimana murid-murid bisa mengetahui jawaban tersebut secara persis sebagaimana yang ditulis oleh Markus? Demikianlah alasan penolakan terhadap autentisitas jawaban Yesus dalam bagian ini. Lalu, bagaimana Evans meresponsi keberatan ini? Saya akan mencantumkan respons Evans secara langsung di bawah ini:

Keberatan yang mengatakan bahwa murid-murid tidak hadir saat mendengar percakapan antara Yesus dan Kayafas dan dengan demikian tidak tahu apa yang telah terjadi adalah naïf. Apakah kita harus sungguh-sungguh membayangkan bahwa murid-murid, yang belakangan menjadi pemberita yang penuh semangat tentang Guru dan ajaran-Nya, tidak pernah belajar dari apa yang terjadi? Apakah mereka tidak mengerti mengapa penguasa Yahudi menghukum Dia? Hal itu melukai akal sehat. Bahkan jika peraturan Mishnah (sekitar 220 M) belum berlaku pada awal abad pertama, ada kemungkinan keputusan hukuman mati akan diumumkan, seperti dituntut oleh Misnah. Pernyataan Yesus sebagai Mesias Israel tidak akan mengakibatkan Dia disalibkan oleh tentara Romawi dan pada salib-Nya ditempelkan plakat [atau pemberian gelar] yang berbunyi, ‘raja orang Yahudi’. Sebab klaim sebagai Mesias berarti klaim sebagai raja orang Yahudi. Hampir sulit dipercaya bahwa murid-murid tidak mengetahui hal ini sama sekali. Namun, fakta bahwa murid-murid tidak hadir mungkin menjelaskan mengapa catatan tentang percakapan antara Yesus dan para penuduh-Nya (Mrk. 14:55-65) begitu singkat dan di beberapa tempat agak kabur [hlm. 283-284].

Untuk lebih jelasnya, saya menegaskan sekali lagi bahwa isunya adalah penolakan terhadap autentisitas [atau keaslian jawaban Yesus – apakah Yesus benar-benar mengucapkan jawaban tersebut atau tidak!]. Alasan dari penolakan tersebut adalah murid-murid tidak hadir dalam peristiwa pengadilan di mana Yesus menurut Markus, mengemukakan jawaban tersebut. Jawaban Evans terhadap alasan ini mengecewakan saya karena ia tampaknya beralih dari isu spesifik ini [yaitu masalah autentisitas] kepada isu yang agak lebih umum dalam bentuk pertanyaan retoris, yaitu: “apa yang terjadi” dan “tidak mengerti mengapa penguasa Yahudi menghukum Dia”. Yang dipersoalkan para ahli skeptik tersebut bukan para murid secara umum tidak memiliki gambaran tentang alasan para penguasa Yahudi menghukum Yesus. Yang dipersoalkan adalah bagaimana kita bisa yakin bahwa Yesus benar-benar mengucapkan jawaban sementara para murid tidak hadir pada peristiwa tersebut? Dan sebagaimana yang terlihat dalam kutipan langsung di atas, Evans yang mengakui bahwa para murid tidak hadir pada peristiwa itu justru tidak memberikan jawaban yang mengena dengan isu spesifik di atas.  

Di sisi lain, membaca buku Evans dengan sajian yang sangat informatif berkelas pakar, membangkitkan semangat saya untuk terus berstudi. Buku ini semakin membentuk kesadaran bahwa, meminjam kalimat Erasmus, ketidaktahuan dan “tahu sedikit” tidak akan memberikan kontribusi positif apa pun terhadap iman Kristen, justru merusaknya. Semangat “percaya saja”, “pokoknya Yesus”, “yang penting punya hati melayani, tidak perlu pintar” dan sejenisnya adalah hama perusak yang mematikan iman Kristen. Juga, buku ini mencegah kita untuk membuat kesimpulan sebaliknya setelah melihat pengalaman dari sejumlah pakar Alkitab yang akhirnya meninggalkan iman Kristen, seakan-akan studi kesarjanaan yang serius pada dirinya sendiri membahayakan iman Kristen. Titik tolak dan harapan yang benar akan Alkitab, disertai dengan kepakaran yang handal, akan menjadikan kita alat berkat yang menolong dan menemani perjalanan iman banyak orang Kristen. Dan saya telah menikmati berkat tersebut dari karya seorang pakar yang beriman, Merekayasa Yesus karya Craig A. Evans.

Saya mengajak setiap orang Kristen untuk membaca buku ini dan mendapatkan berkat Tuhan melalui seorang pakar yang mempersembahkan hidupnya untuk mengenal dan membela imannya secara baik.


[1] Lih. James D.G. Dunn, Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003), 615-654.