Sarana-sarana Ketaatan menjadi Saksi-saksi Ketidaktaatan (Eksegesis Rm. 2:12-16)

Batasan Teks dan Batasan Pengamatan
Sebelum mengulas mengenai latar belakang dan isi Roma 2:12-16, ada baiknya kita mengamati batasan teks eksegetis yang akan menjadi fokus pengamatan. Kita akan mengamatinya mulai dari tema besar hingga sub-sub topiknya.

Pertama, Roma 1:18 – 3:20 merupakan satu kesatuan kohesif yang berbicara tentang tema: “The universal reign of Sin”. Tema besar ini, dieksplorasi Paulus dalam beberapa sub pokok, yaitu:

  • Semua orang diperhitungkan berdosa dihadapan Allah – 1:18-32;
  • Orang-orang Yahudi juga diperhitungkan berdosa oleh Allah – 2:1 – 3:8

- Penghakiman Allah atas orang-orang Yahudi – 2:1-16
– Batasan-batasan Perjanjian Allah dengan Israel – 2:17-29
– Kesetiaan Allah dan penghakiman-Nya atas orang-orang Yahudi – 3:1-8

  • Kebersalahan semua manusia – 3:9-20

Kedua, khususnya mengenai Roma 2, LAI-ITB membaginya menjadi dua bagian, yaitu:

  • Pasal 2:1-16 di bawah topik “Hukuman Allah atas Semua Orang” (Catatan: judul topik ini tidak berbeda dengan judul topik pada bagian b di atas, karena penekanan judul ini adalah semua orang dihukum termasuk orang-orang Yahudi. Dalam ulasan mengenai konteks historisnya akan menjadi lebih jelas); dan
  • Pasal 2:17-29 di bawah topik “Hukum Taurat dan Sunat tidak menyelamatkan orang Yahudi” (Catatan: Judul ini juga tidak berbeda dengan bagian b di atas karena tanda perjanjian yang dibahas secara spesifik dalam bagian ini adalah Taurat dan Sunat, yang disalahpahami orang-orang Yahudi seolah-olah secara otomatis memberi ‘khasiat’ yang istimewa padahal tidak! Lihat konteks historis di bawah)

Ketiga, bila kita mengamati Roma 2 dengan lebih saksama, kita dapat membaginya ke dalam beberapa bagian, berdasarkan topik spesifik yang dibicarakan Paulus:

  • Pasal 2:1-5 berbicara tentang “Self-righteous nya Orang-orang Yahudi menempatkan mereka sama bersalahnya dengan gentiles”;
  • Pasal 2:6-11 berbicara tentang “Allah menghakimi semua orang – secara objektif – berdasarkan basis yang sama, yaitu “perbuatan” mereka!
  • Pasal 2:12-16 berbicara tentang “hukum Allah”. Orang Yahudi dihukum karena melanggar Hukum Allah yang tertulis (Taurat Musa) sedangkan orang-orang non Yahudi dihukum karena melanggar hukum “yang tertulis dalam hati” mereka.
  • Pasal 2:17-24 berbicara secara spesifik tentang kemegahan orang-orang Yahudi terhadap “Taurat” yang sekaligus menjadi kegagalan mereka; dan
  • Pasal 2:25-29 berbicara tentang “sunat lahiriah tidak lebih penting dari sunat rohani”.

Parafrase saya untuk “mengikat” seluruh sub topik di atas adalah:

Tidak ada alasan bagi orang-orang Yahudi untuk merasa istimewa dalam hal penghakiman ketimbang gentiles (2:1-5). Karena Allah menghakimi semua orang berdasarkan perbuatan atau ketaatan mereka terhadap Allah (2:6-11). Sebagai ukuran untuk menilai ketaatan, Allah memberikan Taurat Musa bagi orang-orang Yahudi, dan menaruh “hukum yang tertulis” di dalam hati nurani orang-orang non Yahudi (2:12-16). Orang-orang Yahudi tidak dapat menyangkali ini berdasarkan kepemilikan Taurat. Mereka harus menaatinya, tapi kenyataannya mereka gagal (2:17-24). Mereka juga tidak dapat diistimewakan karena tanda lahiriah, yaitu sunat. Karena yang terpenting adalah sunat secara rohani (2:25-29).

Berdasarkan pembagian sub-sub topik di atas, pengamatan eksegetis ini akan dikhususkan pada Roma 2:12-16, yakni tentang “Hukum Allah” – dalam konteks orang Yahudi adalah Taurat Musa, dalam konteks orang non Yahudi adalah “hukum yang tertulis dalam hati” mereka (unwritten law)!

Konteks Historis
Ketika Paulus menulis Surat Roma, tampaknya orang-orang Yahudi sudah diperkenankan kembali ke Kota Roma. Sebelumnya, atas edik yang dikeluarkan Kaisar Claudius pada tahun 48 M, semua orang-orang Yahudi diusir keluar dari Kota Roma. Peristiwa ini menyebabkan “menguatnya” jumlah orang-orang Kristen non Yahudi di Jemaat Roma. Orang-orang non Yahudi ini mulai “mengejek” status istimewa yang dulunya dibangga-banggakan orang-orang Yahudi. Mereka mulai berpikir bahwa “Tuhan sudah selesai urusan-Nya dengan orang-orang Yahudi” (bnd. Rm. 9-11).

Hal penting yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana reaksi orang-orang Yahudi sendiri terhadap pandangan gentiles di atas. Mereka kembali mempertontonkan keangkuhan rohani. Mereka merasa bahwa mereka adalah umat perjanjian yang memiliki tanda spesifik dari Tuhan, yaitu Taurat dan Sunat. Tanda-tanda ini adalah bukti keistimewaan mereka di hadapan Tuhan. Mereka memiliki tanda rohani yang kelihatan sedangkan orang-orang non Yahudi tidak memiliki “apa-apa” untuk dijadikan bukti dari status rohani mereka di hadapan Tuhan.

Jadi menurut mereka, orang-orang non Yahudi memang patut dihakimi karena tidak memiliki sarana keselamatan. Lain halnya dengan mereka. Mereka memiliki Taurat, dan itu cukup untuk membuat mereka “berbeda” atau “istimewa” ketimbang orang-orang non Yahudi.

Penjelasan Roma 2:12-16
Pada paragraf singkat ini, Paulus melanjutkan argumennya yang terdapat dalam 2:1-11 (lihat ulasan batasan teks di atas) dan sekaligus mempersiapkan landasan untuk lontarannya mengenai keterbatasan Taurat dan sunat dalam bagian selanjutnya (2:17-29). Unsur yang baru dalam bagian ini (2:12-16) adalah lontarannya mengenai “hukum” (Yunani: nomos).

Paulus memberikan alasan terhadap statemennya bahwa “Allah tidak pandang bulu”. Perhatikan kata “karena” (Yunani: gar) yang mengawali ayat 12. Dalam 2:1-11 Paulus menempatkan orang-orang Yahudi dan non Yahudi pada posisi yang setara: berada di bawah penghakiman Tuhan karena Tuhan menghakimi berdasarkan basis yang sama yaitu perbuatan. Tentu orang-orang Yahudi yang membaca bagian tersebut, akan mengajukan keberatan bahwa mereka memiliki keistimewaan-keistimewaan rohani yang tidak dimiliki orang-orang non Yahudi. Mereka memiliki “hukum” (nomos – kata ini merujuk kepada “Taurat Musa”; lihat uraian konteks historis di atas) sementara kaum non Yahudi “tanpa hukum” (Yunani: anomos). Mengapa Paulus menyetarakan status mereka dengan kaum non Yahudi sebagai orang yang sama-sama terhakimi dan terhukum? (lihat uraian konteks historis di atas).

Untuk menyikapi (lebih tepat: mengantisipasi) keberatan di atas, Paulus menjelaskan bahwa kepemilikan Taurat tidak membuat mereka lebih “beruntung” ketimbang kaum non Yahudi (2:12). Mengapa? Alasannya adalah:

  • Seseorang dibenarkan karena “doing”nya (ketaatan) bukan “possession”nya (2:13);
  • Karena kalau berbicara tentang possession, orang-orang Yahudi juga memiliki “hukum” walau dalam bentuk yang berbeda. Orang-orang Yahudi memiliki hukum dalam bentuk tertulis (Taurat Musa); orang-orang non Yahudi memiliki “hukum yang tertulis dalam hati mereka”. Dan hati nurani mereka bersaksi bahwa mereka telah melanggar prinsip-prinsip moral tersebut.

Dengan menunjukkan dua alasan di atas, Paulus ingin mengoreksi orang-orang Yahudi bahwa kepemilikan Taurat semata menjadikan mereka istimewa terlepas dari taat atau tidak. Paulus juga mengoreksi “kepongahan rohani” mereka atas kepemilikan Taurat seolah-olah bangsa-bangsa lain tidak memiliki sarana ketaatan terhadap Tuhan dan dengan demikian menjadikan mereka lebih rendah status rohaninya di hadapan Tuhan. Paulus menyatakan bahwa anggapan tersebut salah. Sebagaimana orang-orang Yahudi diberi saran ketaatan secara tertulis (Taurat Musa), demikian pula orang-orang non Yahudi diberi sarana ketaatan secara tidak tertulis, yaitu kesadaran hati nurani (Yunani: syneidesis) mereka terhadap hukum-hukum moralnya Tuhan.

Pada masa Paulus, konsep “unwritten law” atau “natural law” merupakan konsep penting. Baik para filsuf Yunani – Stoiksisme, maupun orang-orang Yahudi (dalam taraf tertentu), percaya bahwa “unwritten law” ini menjadi basis dari norma-norma moral yang universal dan juga basis dari “hukum positif” yang diterapkan dalam sebuah kota.

Kesimpulannya, bagi Paulus, baik Taurat Musa maupun “unwritten law” yang menjadi basis dari perumusan norma-norma moral dan kemasyarakatan dalam kebudayaan non Yahudi – terlepas dari penyimpangan-penyimpangannya baik dalam hal penafsiran/pemahaman maupun dalam hal praktisnya – berasal dari Tuhan. Kedua jenis “hukum” ini diberikan sebagai sarana ketaatan. Tetapi, sayangnya, baik orang-orang Yahudi maupun non Yahudi telah gagal. Mereka berada dalam penghakiman Tuhan dan layak menerima hukuman. Sarana-saran ketaatan ini sekarang menjadi saksi-saksi penghakiman. Hukum Taurat bersaksi mengenai kegagalan orang-orang Yahudi. Sementara “unwritten law” yang terkonfirmasi lewat kesadaran hati nurani adalah saksi mengenai kegagalan orang-orang non Yahudi. Perbuatan mereka atau lebih tepatnya ketidaktaatan mereka menempatkan baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi sama-sama gagal. Sama-sama berstatus sebagai terhukum. Tidak perlu protes. Tak ada yang bisa menyangkalinya. Tudingan dan argumen Paulus jelas dan tegas!

Pokok di atas juga menghubungkan bagian ini dengan tema besar dari Roma 1:16 – 3:20 mengenai “The universal reign of sin”. Dosa telah merasuk secara universal dalam dunia dan membuahkan penghakiman bagi orang-orang Yahudi maupun orang-orang non Yahudi. Atas dasar apakah Paulus menuding mereka? Paulus menuding mereka atas dasar ketidaktaatan mereka terhadap sarana ketaatan yang Tuhan berikan: Taurat Musa dan “Unwritten law”!