Home

“Seeking Allah, Finding Jesus”: 5 Keberatan Utama Islam terhadap Kekristenan

Comments Off on “Seeking Allah, Finding Jesus”: 5 Keberatan Utama Islam terhadap Kekristenan

Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp (baca tinjauan umum saya di sini)

Karena Seeking Allah, Finding Jesus adalah sebuah eksodus spiritual, keluar dari Islam kepada Kristen, maka adalah sah bagi para pembaca untuk berharap menemukan lontaran-lontaran mengenai keyakinan-keyakinan teologis yang membuat Qureshi dulunya percaya bahwa Islam adalah agama yang benar, dan Kristen adalah agama yang salah.

Ringkasnya, dalam perspektif teologi Islam, pokok-pokok apa saja yang membuat mereka melihat teologi Kristen sebagai kesalahan? Kita berharap mendapatkan keberatan-keberatan yang real (nyata) dan representatif mengingat penulisnya, Nabeel Qureshi, adalah seorang eks Muslim yang saleh dan memahami dengan baik teologi Islam serta keberatan-keberatan mereka terhadap Kristen. More

“Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity” (Tinjauan Buku)

Comments Off on “Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity” (Tinjauan Buku)

Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp.

seeking-allah-finding-jesus-banner

“Seeking Allah, Finding Jesus” adalah sebuah autobiografi, sebuah buku yang ditulis dengan gaya bercerita mengenai perjalanan spiritual Qureshi. Qureshi adalah eks Muslim yang More

Saya Dihardik dengan Teologi “Angkat Tangan”

Comments Off on Saya Dihardik dengan Teologi “Angkat Tangan”

Karena saya tidak ingin mewakili pengalaman siapa pun, walau sangat mungkin rekan-rekan yang berasal dari keanggotaan Gereja dengan tipikal liturgi ibadah seperti saya dulu pernah merasakan pengalaman ini, maka saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pengalaman pribadi.

Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja dalam tradisi Gereja yang sangat menjaga ketertiban liturgis. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah asal Gereja saya. Sampai tahun 1998, saat dimana saya mulai menempuh studi teologi di Jakarta, saya adalah jemaat GMIT. Terlepas dari masalah keanggotaan administratif, pengaruh liturgis GMIT masih kuat membekas dalam diri saya hingga sekarang. More

Kebangkitan Yesus menurut 1 Korintus 15

Comments Off on Kebangkitan Yesus menurut 1 Korintus 15

Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (1Kor. 15:14)

Kebangkitan dalam Dunia Greco-Roman
Orang-orang di Korintus, yang terdiri atas orang-orang Yahudi maupun orang-orang Yunani, tampaknya sulit untuk percaya bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Tidak jelas, apakah kesulitan ini berasal dari lingkungan jemaat sendiri, atau berasal dari lingkungan sekitar mereka yang dihadapi oleh jemaat kemudian mereka melaporkannya kepada Paulus yang saat itu sedang berada di Efesus. Yang pasti, ada penolakan terhadap pemberitaan mengenai kebangkitan Yesus yang bagi Paulus merupakan inti terpenting dari Injilnya (1Kor. 15:1-4). More

Referen Kata ἔδωκεν dalam Yohanes 3:16, Natal atau Jumat Agung?

Comments Off on Referen Kata ἔδωκεν dalam Yohanes 3:16, Natal atau Jumat Agung?

Injil Yohanes adalah satu-satunya Kitab Injil yang memuat lontaran mengenai “murid yang dikasihi” (the beloved disciple). Kitab ini sendiri adalah “Injil yang dikasihi” (the beloved Gospel). Bahkan di dalamnya, kita mendapati banyak bagian yang “dikasihi”, salah satunya adalah Yohanes 3:16 yang disebut Kostenberger sebagai “much-loved verse” (John; BECNT).

Isu spesifik yang menjadi concern saya di sini adalah referen kata  ἔδωκεν (“telah memberikan”) dalam Yohanes 3:16. Apakah kata ini merujuk kepada peristiwa Natal atau Jumat Agung? Pertanyaan ini penting karena Yohanes 3:16, dalam konteks pelayanan pastoral sesuai dengan kalender Gerejawi, seringkali dikutip bahkan dikhotbahkan pada momen Natal. Maka secara eksegetis, kita mesti mengajukan pertanyaan ini untuk melihat keabsahan ekesegetis dari penggunaan teks ini dalam konteks pelayanan tersebut. More

Yesus Bermain Mata dengan Seorang Perempuan Siro-Fenisia (Mrk. 7:24-30; Mat. 15:21-28)

Comments Off on Yesus Bermain Mata dengan Seorang Perempuan Siro-Fenisia (Mrk. 7:24-30; Mat. 15:21-28)

Ini bukan tafsiran lengkap atas narasi perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Siro-Fenisia seperti yang dikisahkan dalam Markus 7:24-30 (Mat. 15:21-28). Saya sudah membahas beragam tafsiran terhadap teks ini dalam buku terbaru saya: “Dari ‘Mesir’ ke Mesir.”

Dalam survei saya, semua variasi tafsiran terhadap narasi tersebut disetir oleh asumsi bahwa penggunaan kata “anjing-anjing kecil” (terj. literal dari: tois kunarois – ay. 27; ta kunaria – ay. 28) bermakna negatif. Terangnya, diasumsikan bahwa istilah “anjing-anjing” pada waktu itu adalah istilah khas dari orang-orang Yahudi yang memandang rendah orang-orang non-Yahudi. Secara historis, asumsi ini berasal dari John Chrysostom dalam homilinya mengenai Filipi 3:2 yang di dalamnya ia merujuk More

Pendekatan Kristologis Bart Ehrman: Pendekatan Ad Nauseam

Comments Off on Pendekatan Kristologis Bart Ehrman: Pendekatan Ad Nauseam

Secara umum, Bab 1 dan Bab 2 How Jesus Became God bisa dikatakan sangat informatif mengenai konsep divinisasi dalam dunia Greco-Roman maupun dalam Yudaisme kuno. Masalahnya bukan kedua Bab pertama buku Ehrman tidak bermanfaat bagi pembaca; masalahnya adalah kedua Bab tersebut tidak relevan untuk dijadikan acuan latar belakang bagi Kristologi Perjanjian Baru. Kedua Bab pertama buku Ehrman yang dijadikan titik berangkat memahami Kristologi Perjanjian Baru, merupakan titik berangkat yang salah! More

Bart D. Ehrman: Apollonius dari Tyana dan Yesus; Totally Anachronistic!

Comments Off on Bart D. Ehrman: Apollonius dari Tyana dan Yesus; Totally Anachronistic!

Bab 1 dan Bab 2 dari How Jesus Became God, fokus untuk membahas beragam data tekstual mengenai konsep keilahian dalam konteks Greco-Roman dan Yudaisme. Saya tidak membahas kedua bab ini secara menyeluruh di sini, namun saya perlu mengingatkan satu hal penting. Tidak seperti upaya yang dilakukan oleh aliran Sejarah Agama (Religionsgeschichteliche Schule), Ehrman bukan menarik paralel antara beragam data tersebut dengan bagaimana para murid memahami keilahian Yesus.[1] Ehrman sekadar ingin memperlihatkan gambaran bahwa di dalam konteks seperti itulah klaim keilahian Yesus lahir, dan klaim tersebut bukan sesuatu yang unik. More

Older Entries

%d bloggers like this: