Home

Yusuf adalah Seorang Pedofilia?

Leave a comment

Mayoritas sarjana Muslim tidak merasa harus menyangkali otentisitas hadis-hadis sahih yang secara jelas menyatakan bahwa Aisha berusia 6 tahun saat dinikahi Muhammad dan berusia 9 tahun saat ditiduri oleh Muhammad. Sebagian kecilnya lagi, berupaya menciptakan kebohongan dengan menyatakan bahwa Aisha sudah cukup dewasa ketika dinikahi; ada yang menyatakan ia sudah berusia 19 tahun saat itu. Tidak ada bukti apa pun untuk mendukung upaya taqiya ini. Ada pula yang menolak otentisitas hadis-hadis tersebut, karena katanya bertentangan dengan Qur’an. Upaya ini pun sia-sia karena Qur’an sendiri mengindikasikan bahwa pernikahan anak-anak (child marriage) adalah halal (QS. 65:4). Bahkan dalam Hukum Shariah, semua aliran yurisprudensi Islam yang ada, baik dari pihak Sunni (Hanafi, Hanbali, Shafi’i, dan Maliki) maupun Shiah (Jaafari) tidak menetapkan batas usia minimum untuk pernikahan.[1] More

Advertisements

Berkhotbah dari Pendahuluan Surat-surat Paulus?

Comments Off on Berkhotbah dari Pendahuluan Surat-surat Paulus?

Salah satu prinsip dasar dalam eksegesis terhadap surat-surat Paulus adalah keharusan untuk memberikan perhatian terhadap strukturnya. Struktur surat-surat Paulus mengikuti struktur penulisan surat menyurat dalam dunia Greco-Roman (Yunani-Romawi) yang terdiri atas tiga bagian besar, yaitu: pendahuluan, isi surat, dan penutup. Tiga bagian besar ini memiliki elemen-elemen spesifiknya masing-masing.

Poin saya dengan menyebutkan informasi dasar di atas adalah bahwa orang cenderung melewatkan begitu saja bagian pendahuluan surat-surat Paulus yang bagi mereka hanya sekadar berisi salam, penerima, pengirim, dan doa. Mereka cenderung beranggapan bahwa bagian ini kurang penting atau setidaknya bagian ini tidak mengandung “pelajaran rohani” yang bisa dikhotbahkan. Mungkin inilah sebabnya, hingga kini saya belum pernah mendengar ada orang yang berkhotbah dari bagian pendahuluan surat-surat Paulus. More

“ABCDE” dan Kehandalan Sejarah Kitab-kitab Injil

Comments Off on “ABCDE” dan Kehandalan Sejarah Kitab-kitab Injil

Jika Anda membaca buku-buku Profesor Bart D. Ehrman, termasuk mengikuti rekaman-rekaman perdebatannya dengan beberapa pakar Injili, juga mencermati berbagai klaim serta argumen dari para sarjana non-Kristen yang menolak Kekristenan, Anda akan menemukan bahwa serangan terhadap kehandalan sejarah Kitab-kitab Injil (the historical reliability of the Gospels) disauhkan pada lima isu spesifik.

Saya akan meringkas kelima isu di atas dengan akronim “ABCDE” agar Anda mudah mengingatnya, terutama dengan menjadikan Ehrman sebagai sumber tantangan yang utama dalam catatan singkat ini. More

Mengapa Muslims Harus Membayar Zakat?

Comments Off on Mengapa Muslims Harus Membayar Zakat?

Muslims seringkali memunculkan isu Kristenisasi di Indonesia. Isu yang sebenarnya hanya isapan jempol saja, seperti biasa. Menebar kebohongan, adalah salah satu keahlian teologis Muslims (taqiya). Muslims terbiasa mengklaim tanpa bukti – yang penting klaim dan klaim lalu nanti mereka menuntut orang lain yang harus membuktikan (shifting the burden of proof).

Mari kita asumsikan saja bahwa “Kristenisasi” adalah sebuah terminologi yang memuat etika yang buruk. Jika ada “Kristenisasi,” itu harus dianggap sebagai penyimpangan terhadap ajaran Kristen. Orang tidak boleh dibawa kepada Kekristenan dengan kecurangan, misalnya dengan menggunakan uang untuk membayar mereka agar menjadi Kristen. Satu-satunya daya tarik yang menjadi inti berita Kristen adalah Injil kasih karunia, penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus sebagai inti beritanya. More

Review of Rodney Stark’s “God’s Battalions: The Case for the Crusades”

Comments Off on Review of Rodney Stark’s “God’s Battalions: The Case for the Crusades”

9780061582615.jpg

God’s Battalions

God’s Battalion adalah sebuah buku yang sangat penting dengan materi yang kredibel, menantang serta membongkar asumsi umum yang sudah lebih dari satu abad menebar ke segala penjuru bumi bahwa Perang Salib adalah ‘noktah hitam’ dalam sejarah Kekristenan. Perang Salib dianggap sebagai sebuah kekejaman dan kejahatan atas nama agama (Kristen) yang dilakukan terhadap peace-loving Muslims. Asumsi tak berdasar ini ternyata adalah sebuah mitos yang secara masif disebarluaskan melalui klaim berulang dari berbagai tokoh dari semua golongan dan agama. Kekristenan dipaksa untuk mengaku bersalah. More

Apologetika Defensif dan Ofensif: Dialog Yesus dan Orang-orang Saduki (Mat. 22:23-33)

Comments Off on Apologetika Defensif dan Ofensif: Dialog Yesus dan Orang-orang Saduki (Mat. 22:23-33)

Yesus adalah seorang apologet, seorang pakar persuasi rasional pada masa hidup-Nya, sesuatu yang dapat kita baca dalam banyak bagian dalam Kitab-kitab Injil. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas sebuah contoh nyata mengenai aktivitas apologetis Yesus dengan mengamati dialog Yesus dan orang-orang Saduki mengenai kebangkitan orang mati.

Matius mencatat bahwa orang-orang Saduki merancang sebuah jebakan dilematis bagi Yesus dengan mengangkat isu mengenai kehidupan setelah kematian. Kita mengetahui bahwa orang-orang Saduki “terkenal akan penolakan mereka terhadap kebangkitan, sebuah keyakinan yang menempatkan mereka sebagai oposisi dari orang-orang Farisi maupun para pengikut Yesus.” Mereka menolak tradisi-tradisi oral dari golongan Farisi, termasuk hanya menerima Pentateukh sebagai acuan otoritatif bagi iman mereka. (M.L. Strauss, “Sadducees,” in Joel B. Green, Jeannine K. Brown, and Nicholas Perrin (eds.), Dictionary of Jesus and the Gospels (2nd ed.; Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2013), 824-825). More

A Review of Robert R. Reilly: The Closing of the Muslim Mind: How Intellectual Suicide Created the Modern Islamist Crisis

Comments Off on A Review of Robert R. Reilly: The Closing of the Muslim Mind: How Intellectual Suicide Created the Modern Islamist Crisis

41e12xyzpml-_sx317_bo1204203200_Seorang sarjana Inggris bernama William Montgomery Watt menyatakan: “Disiplin sentral dalam Islam bukanlah pendidikan, melainkan yurisprudensi (hukum)”.

Kata-kata Montgomery di atas sangat tepat menggambarkan “core value” (nilai inti) dari Islam yang penekanannya bukan pada aspek intelektual, melainkan “power and will” (kekuasaan dan kehendak). Islam berarti “tunduk” (submission) secara mutlak kepada kehendak Allah. Dalam intonasi keyakinan dasar seperti ini, Anda tidak memerlukan intelektualitas sebagai intonasi mayornya. Semua yang Anda perlukan adalah sikap tunduk kepada apa pun yang dikatakan Allah dan Muhammad, maka Anda sudah boleh mengkalim sebuah kesalehan. Tanpa pertanyaan, tanpa perlawanan, tanpa refleksi kritis, kecuali satu hal: tunduk atau taat mutlak!
More

Charles Haddon Spurgeon, Khotbah, dan Riset

Comments Off on Charles Haddon Spurgeon, Khotbah, dan Riset

Saya baru saja memCharles Spurgeonbaca sebuah buku, Charles Spurgeon: The Prince of Preachers mengenai Charles Haddon Spurgeon (19 Juni 1834 – 31 Januari 1892) yang dikenang sebagai salah seorang pengkhotbah terbesar dalam sejarah Kekristenan. Selama 40 tahun, ia telah mengkhotbahkan lebih dari 3500 khotbah kepada lebih dari 10 juta orang (buku berisi koleksi khotbah-khotbahnya mencapai 65 volume). Tidak seorang pun pada masanya yang memiliki kemampuan berkhotbah dengan daya tarik yang sangat kuat hingga ribuan orang datang mendengarkannya berkhotbah setiap minggu. More

Older Entries

%d bloggers like this: