Home

Pendekatan Kristologis Bart Ehrman: Pendekatan Ad Nauseam

Comments Off on Pendekatan Kristologis Bart Ehrman: Pendekatan Ad Nauseam

Secara umum, Bab 1 dan Bab 2 How Jesus Became God bisa dikatakan sangat informatif mengenai konsep divinisasi dalam dunia Greco-Roman maupun dalam Yudaisme kuno. Masalahnya bukan kedua Bab pertama buku Ehrman tidak bermanfaat bagi pembaca; masalahnya adalah kedua Bab tersebut tidak relevan untuk dijadikan acuan latar belakang bagi Kristologi Perjanjian Baru. Kedua Bab pertama buku Ehrman yang dijadikan titik berangkat memahami Kristologi Perjanjian Baru, merupakan titik berangkat yang salah! More

Bart D. Ehrman: Apollonius dari Tyana dan Yesus; Totally Anachronistic!

Comments Off on Bart D. Ehrman: Apollonius dari Tyana dan Yesus; Totally Anachronistic!

Bab 1 dan Bab 2 dari How Jesus Became God, fokus untuk membahas beragam data tekstual mengenai konsep keilahian dalam konteks Greco-Roman dan Yudaisme. Saya tidak membahas kedua bab ini secara menyeluruh di sini, namun saya perlu mengingatkan satu hal penting. Tidak seperti upaya yang dilakukan oleh aliran Sejarah Agama (Religionsgeschichteliche Schule), Ehrman bukan menarik paralel antara beragam data tersebut dengan bagaimana para murid memahami keilahian Yesus.[1] Ehrman sekadar ingin memperlihatkan gambaran bahwa di dalam konteks seperti itulah klaim keilahian Yesus lahir, dan klaim tersebut bukan sesuatu yang unik. More

Studi Historis mengenai Yesus Harus Mengasumsikan Ketidakhandalan Kitab-kitab Injil? Bart Ehrman (Mungkin) Lupa Pernah Setuju dengan Craig A. Evans!

Comments Off on Studi Historis mengenai Yesus Harus Mengasumsikan Ketidakhandalan Kitab-kitab Injil? Bart Ehrman (Mungkin) Lupa Pernah Setuju dengan Craig A. Evans!

Dalam How Jesus Became God (Bab 3), Ehrman berusaha meyakinkan pembacanya bahwa Kitab-kitab Injil tidak handal secara historis dan karena itu studi sejarah mengenai Yesus diperlukan. Ehrman menulis,

The reason we need book like these is that the Gospels cannot simply be taken at face value as giving us historically accounts of the things Jesus said and did. If the Gospels were those sorts of trustworthy biographies that recorded Jesus’ life “as it really was,” there would be little need for historical scholarship that stresses the need to learn the ancient biblical languages (Hebrew and Greek), that emphasized the importance of Jesus’ historical context in his firs-century Palestinian world, and that the maintains that full understanding of the true character of the Gospel as historical sources is fundamentally for any attempt to establish what Jesus really said and did. All we need to do would to read the Bible and accept what it says as what really happened.

More

Transmisi Tradisi Oral: Bart Ehrman Membangkitkan Kembali Hantu Kritik Bentuk!

Comments Off on Transmisi Tradisi Oral: Bart Ehrman Membangkitkan Kembali Hantu Kritik Bentuk!

Sudah menjadi kesepakatan umum di kalangan para sarjana bahwa sebelum Kitab-kitab Injil ditulis, ada sebuah periode di mana tradisi mengenai Yesus bersirkulasi secara lisan. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada sejumlah catatan tertulis telah muncul pada periode ini. Periode ini bisa dikatakan dimulai sejak kehidupan Yesus hingga penulisan Injil yang pertama (Injil Markus).[1] Bart D. Ehrman mengemukakan fakta ini di dalam bukunya yang berjudul: How Jesus Became God (Bab 3). More

Referen dari Frasa “Anak Manusia”: “Ehrman is Simply Wrong!”

Comments Off on Referen dari Frasa “Anak Manusia”: “Ehrman is Simply Wrong!”

Dalam bukunya yang berjudul: How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee (New York: HarperCollins, 2014), khususnya dalam Bab 3, Ehrman membahas tentang apakah Yesus mengklaim bahwa Diri-Nya adalah Allah? Ehrman memberikan jawaban negatif untuk pertanyaan ini lalu mengajukan sebuah proposal historis mengenai Yesus Sejarah. Menurutnya, Yesus sekadar seorang nabi apokaliptik.[1] Ada sejumlah klaim spesifik Ehrman dalam bab ini yang perlu diresponsi, namun di sini saya secara khusus membahas proposal historis Ehrman, khususnya penjelasannya mengenai referensi dari penggunaan frasa “Anak Manusia” (the Son of Man) dalam Kitab-kitab Injil. More

“False Double-Binding Conclusion” Bagi Bart D. Ehrman?

Comments Off on “False Double-Binding Conclusion” Bagi Bart D. Ehrman?

Saya baru saja menerima email dari seorang pecinta buku-buku Ehrman. Ia mengajukan protes karena menurutnya saya mengajukan false double-binding conclusion untuk posisi Ehrman dalam postingan saya berjudul: “Diskrepansi-diskrepansi dalam Kitab-kitab Injil: Sesat Pikir Bart D. Ehrman”. Baginya, Ehrman memang mengklaim adanya diskrepansi-diskrepansi tersebut, tetapi Ehrman tidak membuat penolakkan terhadap mereka yang “menghasilkan Injil mereka sendiri” untuk menyelesaikan diskrepansi-diskrepansi tersebut. Ia juga mempersoalkan doktrin Inerransi Alkitab.

Karena saya tidak (harus) dalam posisi mempertahankan doktrin Inerransi Alkitab ketika mempersoalkan kesalahan logika Ehrman, maka saya tidak memberikan komentar untuk isu ini di sini. More

Diskrepansi-diskrepansi dalam Kitab-kitab Injil: Sesat Pikir Bart Ehrman

1 Comment

Bart D. Ehrman sering menggunakan istilah “discrepancy” (saya meng-Indonesia-kannya menjadi “diskrepansi”) dengan kesan yang sama dengan “contradiction” (kontradiksi). Secara linguistik, diskrepansi tidak sama dengan kontradiksi. Perhatikan definisi diskrepansi dan kontradiksi di bawah ini.

Diskrepansi berarti “sebuah perbedaan khususnya hal-hal yang seharusnya sama” (Merriam-Webster). Kontradiksi berarti “perbedaan antara dua hal di mana keduanya tidak dapat sekaligus benar [pada saat yang sama dan dalam aspek yang sama]” (Merriam-Webster).[1] More

Mr. “Ad Nauseam”: Komentar Umum untuk “Propaganda Kontradiksi” Bart D. Ehrman

Comments Off on Mr. “Ad Nauseam”: Komentar Umum untuk “Propaganda Kontradiksi” Bart D. Ehrman

Saya sengaja membuat page khusus di weblog ini untuk membahas “propaganda kontradiksi” Bart D. Ehrman dalam buku-bukunya maupun dalam berbagai debat publik yang pernah dilakukannya. Tujuan saya sebenarnya lebih berintonasi positif, yaitu melatih kepekaan mendeteksi beragam sesat pikir. Sebagai pengantar, saya ingin mendorong Anda bahwa jika Anda ingin melatih kepekaan Anda mendeteksi beragam sesat pikir (logical fallacies), bacalah buku-buku Bart D. Ehrman. Tulisan-tulisan berikutnya akan membuktikan klaim ini. More

Older Entries

%d bloggers like this: