Home

Klaim-klaim Islam dan Tradisi Manuskrip PB (Wawancara David Wood dengan Prof. Daniel B. Wallace, Ph.D.)

Comments Off on Klaim-klaim Islam dan Tradisi Manuskrip PB (Wawancara David Wood dengan Prof. Daniel B. Wallace, Ph.D.)

Muslims, secara tipikal, mengklaim beberapa poin berikut:

  • Kitab-kitab Injil telah diubah secara sengaja untuk menyelewengkan naskah originalnya.
  • Naskah original Kitab-kitab Injil seharusnya memuat informasi bahwa Yesus tidak disalibkan, Yesus tidak bangkit dari kematian, dan bahwa Yesus tidak mengklaim diri-Nya ilahi.
  • Para sarjana Muslim modern, merujuk kepada studi Bart D. Ehrman mengenai kritik tekstual PB, kemudian memasukkan asumsi Islamik mereka ke dalam studi tersebut, sambil berpikir bahwa Ehrman membantu mereka mendapatkan dukungan bagi klaim-klaim di atas.

More

Diskrepansi Pengisahan dan Historisitas Penyaliban Yesus

Comments Off on Diskrepansi Pengisahan dan Historisitas Penyaliban Yesus

Akhir-akhir ini saya banyak menyimak rekaman-rekaman perdebatan mengenai penyaliban Yesus di Youtube. Saya mengamati sebuah strategi berargumen yang menarik dari kalangan apologet Muslim dalam rangka menolak historisitas (kesejarahan) penyaliban Yesus adalah dengan berkutat pada detail-detail pengisahan di sekitar narasi-narasi penyaliban Yesus dalam Kitab-kitab Injil. Mereka mengajukan detail-detail yang menurut mereka tidak harmonis satu sama lain, sebagai indikasi bahwa penyaliban Yesus tidak pernah terjadi.

Ada kekecualian, semisal Shabir Ally sama seperti Ahmed Deedat percaya bahwa Yesus disalib, namun tidak mati melalui penyaliban. Tetapi, pandangan Deedat dan Ally, bisa dikatakan bukan merupakan pandangan mayoritas Muslim. Meski demikian, Ally juga menggunakan strategi yang sama, yaitu memberi perhatian terhadap diskrepansi detail-detail pengisahan di sekitar narasi penyaliban dan kematian Yesus lalu menyimpulkan bahwa Yesus tidak mati melalui penyaliban. Termasuk juga Louay Fatoohi dalam bukunya: The Mystery of the Crucifixion. More

Book Review: What is a Healthy Church Member? (Mark 3)

Comments Off on Book Review: What is a Healthy Church Member? (Mark 3)

Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Mengawali bab mengenai “mark 3,” Thabiti menulis: “The greatest need in the world today is the Gospel” (“Kebutuhan terbesar dalam dunia saat ini adalah Injil.”). Dan bahwa “The greatest need in the church today is the Gospel” (“Kebutuhan terbesar dalam Gereja masa kini adalah Injil.”). Sedemikian vitalnya Injil dalam keseluruhan eksistensi Gereja, maka tanda ketiga yang dikemukakan Thabiti sebagai jawaban dari: “What is a healthy church member?,” adalah “A healthy church member is Gospel saturated.” (“Seorang anggota Gereja yang sehat dipenuhi oleh Injil”). More

Book Review: What is a Healthy Church Member? (Mark 2)

Comments Off on Book Review: What is a Healthy Church Member? (Mark 2)

Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Sebagai jawaban dari “What is a healthy church member?,” Thabiti menulis: “a healthy church member is a biblical theologian” (“seorang anggota Gereja yang sehat adalah seorang teolog alkitabiah/biblika”). Ini adalah tanda kedua dari seorang anggota Gereja yang sehat.

Apa yang Dimaksud dengan Menjadi Seorang Teolog Biblika?

Kenyataan yang menyedihkan dalam berbagai Gereja adalah anggota-anggotanya mayoritas hanya memiliki pemahaman yang dangkal mengenai Allah. Orang-orang Kristen telah mengabaikan panggilan utama mereka yaitu memahami dan mengenal Allah. More

Book Review: What is A Healthy Church Member? (Mark 1)

Comments Off on Book Review: What is A Healthy Church Member? (Mark 1)

Thabiti M. Anyabwile, What is a Healthy Church Member? Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2008. 127pp.

Karena ini adalah tinjauan bagian pertama, maka saya perlu memberikan beberapa komentar pengantar terlebih dahulu sebelum meninjau bab tentang “Mark 1”.

Buku ini ditulis dengan bobot yang sangat baik, meski dibahasakan secara sederhana. Keseluruhan isinya terdiri atas 10 bab utama, meski sebenarnya Thabiti menjawab pertanyaan pada judul bukunya: “What is a Healthy Church Member?” dengan menyebutkan 9 macam tanda anggota Gereja yang sehat yang akan saya tinjau satu per satu.

Thabiti adalah seorang Gembala Senior di First Baptist Church, Grand Cayman Island. Saya tertarik juga dengan jejak akademis Thabiti yang meraih gelar BA dan MS dalam bidang Psikologi North Carolina State University. Artinya, Thabiti tidak belajar teologi secara formal, namun saya membaca buku ini dan kualitas isinya tidak kurang berbobot dari orang-orang yang berlatar belakang pendidikan teologi secara formal. Bahkan jika Anda membaca sejumlah nama yang memberikan endorsement untuk buku ini, Anda akan menemukan nama sejumlah world-famous Bible Scholars di sana, semisal: R. Albert Mohler, Jr. (President The Southern Baptist Theological Seminary), R.C. Sproul (President and Chairman Ligionier Ministries), dan D.A. Carson (Research Professor of New Testament, Trinity Evangelical Divinity School). Saya akan kembali ke pengamatan ini. More

Konsili Nicea: Yesus Diangkat Menjadi Tuhan

Comments Off on Konsili Nicea: Yesus Diangkat Menjadi Tuhan

Mitos tentang Konsili Nicea beredar luas di kalangan non-Kristen, terutama di kalangan Islam (dan ironisnya mereka mempercayainya sungguh-sungguh; mereka memang tidak terbiasa belajar, hanya seperti burung yang disuap!). Mitos itu adalah bahwa Konsili Nicea (325 M) merupakan titik sauh di mana Yesus diangkat menjadi Tuhan. Menurut mitos ini juga, ketika Kaisar Konstantinus menjadikan Kekristenan sebagai agama negara, orang-orang Kristen menggunakan kekuasaan politik untuk menyingkirkan lawan-lawan mereka. Dan ketuhanan Yesus dideklarasikan saat itu, seakan-akan Yesus baru jadi Tuhan pada tahun 325 M.
 
Mitos di atas paling sering didengungkan oleh Insan Mokoginta dan Irena Handono, dua pseudo-historians (sejarahwan palsu atau yang pura-pura pintar sejarah!), sering bertanya begini: “Sejak kapan Yesus jadi Tuhan?What a stupid question!

More

Pembaruan Paradigma dan Mitos Kekristenan Praktis

Comments Off on Pembaruan Paradigma dan Mitos Kekristenan Praktis

Konsultan bisnis kelas dunia yang sangat disegani, Stephen R. Covey mengawali “The 8th Habith” dengan penandasan, berikut:

Apabila Anda ingin membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit, lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi bila Anda ingin membuat perbaikan bear yang amat berarti, lakukan sesuatu pada paradigma…persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan, atau kacamata yang Anda gunakan untuk memandang dunia. Paradigma itu seperti peta kawasan atau kota. Bila tidak tepat, tak akan ada bedanya betapa kerasnya Anda bekerja untuk menemukan tujuan Anda atau betapa positifnya cara pikir Anda; Anda tetap saja akan tersesat. Bila petanya tepat, ketelitian dan sikap baru akan berguna.

Precisely! Tepat sekali! More

Belajar dari Khotbah Karl Barth (1886-1968)

Comments Off on Belajar dari Khotbah Karl Barth (1886-1968)

Nama Karl Barth bukanlah nama yang “menyenangkan” bagi mayoritas kaum Injili dan Reformed. Meski Barth sendiri menyebut dirinya bahkan teologinya dengan sebutan “Injili”. Saya memahami itu dengan baik, khususnya ketika kita berbicara mengenai orthodoksi.

Terlepas dari itu, saya melihat bahwa kita dapat belajar sesuatu yang baik dari Barth sebagai seorang pastor (gembala). Dan hal ini menjadi semakin menarik ketika kita memahami konteks di mana Barth hidup dan melayani.

Pada era tahun 1930an, kita mengetahui bahwa anti-Yudaisme begitu menguat di Jerman. Hitler mempropagandakan hal ini dan tidak sedikit orang-orang Kristen yang setuju dengan Hitler pada masa itu. Sebuah propaganda yang berujung genosida terhadap jutaan nyawa orang Yahudi di Jerman pada masa Hitler. More

Older Entries

%d bloggers like this: