Home

Tahun Penyaliban Yesus: Evaluasi Kritis “The Mystery of the Crucifixion”-nya Louay Fatoohi (Bab 4)

Leave a comment

Untuk tahun penyaliban Yesus, dalam Bab 4 (p. 53-55) Fatoohi percaya bahwa peristiwa itu terjadi antara tahun 26 M – 36 M. Di dalam bab ini pun Fatoohi mengulangi klaim mengenai kontradiksi dan ketidaktepatan historis di dalam Kitab-kitab Injil. Ia menulis,

Because of the impreciseness and contradictions of the Gospel accounts of Jesus’ birth date and how long he live, all that can be said is that the Gospels imply that Jesus was killed during Pilate’s prefectship of Judea, which lasted from 26 to 36 CE (p. 53).

More

Mengapa Yesus Disalibkan? Siapa yang Bertanggung Jawab? Tinjauan Kritis “The Mystery of the Crucifixion”-nya Louay Fatoohi (Bab 3)

Leave a comment

Masih dalam rubrik propaganda kontradiksi di sekitar the passion narratives, sebuah propaganda red herring,[1] Bab 3 dari “The Mystery of the Crucifixion” membahas dua isu penting dalam studi mengenai kematian Yesus di salib, yaitu siapa yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus dan mengapa Yesus disalibkan (pp. 39-52).

Fatoohi (p. 48) tampaknya mengikuti E.P. Sanders bahwa penyebab paling dekat yang memberi alasan mengapa Yesus dieksekusi adalah prediksi Yesus mengenai kehancuran Bait Suci (Mrk. 13:1-2; Mat. 24:1-2; Luk. 21:5-6) yang dijadikan salah satu tuduhan dalam pengadilan terhadap Yesus (Mrk. 14:58; Mat. 26:61). More

“The Passion Narratives” dan “Corpus Iuris” Yudaisme Rabbinik: Tinjauan Kritis “The Mystery of the Crucifixion”-nya Louay Fatoohi (Bab 2)

Leave a comment

Bab 2 dari The Mystery of the Crucifixion (pp. 33-38), sama seperti Bab 1, masih bertujuan untuk memperlihatkan ketidakhandalan Passion Naratives dalam Injil-injil Kanonik. Berbeda dengan Bab 1 dimana Fatoohi mengklaim empat belas pokok kontradiktif atas perbandingan isi Kitab-kitab Injil itu sendiri, dalam Bab 2 Fatoohi mengklaim adanya kesalahan informasi mengenai tradisi Yahudi dalam Passion Narratives berdasarkan perbandingan dengan tradisi Rabbinik, khususnya prosedur-prosedur pengadilan dalam Misnah.[1] Di sini ia mencatat 10 poin presentasi tradisi pengadilan yang menurutnya berkontradiksi dengan prosedur pengadilan Yudaisme seperti yang terdapat dalam Misnah. Ia lalu menyimpulkan, “The Gospel narratives do not only contradict each other, as we saw in the previous chapter, but they are also at odds with known historical facts” (p. 38). More

Tinjauan Kritis “The Mystery of the Crucifixion”: Bab “Red Herring” (Bab 1)

Leave a comment

Masih berhubungan dengan historisitas penyaliban Yesus yang sudah saya bahas dalam sejumlah tulisan terdahulu, kali ini saya akan membuat tinjauan kritis (critical review) terhadap buku yang ditulis oleh: Louay Fatoohi, The Mystery of the Crucifixion: The Attempt to Kill Jesus in the Qur’an, New Testament, and Historical Sources (Birmingham: Luna Plena Publishing, 2008), 147 pp. Fatoohi adalah seorang sarjana kelahiran Baghdad (iraq) yang beralih dari Kekristenan kepada Islam serta berdomisili di Inggris. Ia meraih gelar Bachelor of Science in phisics dari College of Science dan Doctor of Philosophy in astronomy dari Durham University. Kelihatannya bidang kepakaran Fatoohi  tidak terlalu cocok dengan isu yang ia bahas dalam buku ini. Namun dengan memperhitungkan ketertarikannya yang sangat luas terhadap The History of the Early Christianity (terindikasi pada judul dari sejumlah buku yang sebelumnya telah ia tulis) dan menggunakan the principle of charity, saya berharap menemukan interaksi yang mendalam terhadap primary sources dari isu ini serta penarikan kesimpulan yang sound dalam buku ini. More

Buku Terbaru Saya: “Dari ‘Mesir’ ke Mesir”

Leave a comment

Saya baru saja menerima hasil desain sampul buku terbaru saya yang berjudul: “Dari ‘Mesir’ ke Mesir: Telaah Kristotelik Hosea 11:1 dalam Matius 2:15“.

Buku ini merupakan hasil editan dari tesis Master of Theology saya. Saya membahas topik di atas dalam enam bab pertama buku ini. Selain itu, saya juga menyertakan dua tulisan eksegetis saya yang lain. Salah satunya sudah pernah terbit di Jurnal Teologi Indonesia, dan satunya lagi merupakan hasil riset terbaru saya mengenai Markus 7:24-31. Di dalam tulisan yang terakhir ini, saya berinteraksi secara khusus dengan Ruth Schafer, sambil “menggugat” asumsi umum di kalangan para penafsir bahwa yang melatarbelakangi penggunaan kata “anjing” dalam teks ini adalah kebiasaan umum orang-orang Yahudi yang menyebut orang-orang non-Yahudi sebagai “anjing-anjing”.  More

Penyaliban Yesus, Kristologi Doketisme dalam Teks-teks Gnostik, dan QS. 157 (4)

Leave a comment

Untuk jelasnya, saya perlu memulai ulasan ini dengan mengutip QS. 4:157-158 terlebih dahulu.[1]

And because of their saying (in boast), “We killed Messiah Isa (Jesus), son of Maryam (Mary), the Messenger of Allah,” – but they killed him not, nor crussified him, but the resemblance of Isa (Jesus) was put over another man (and they killed that man), and those who differ therein are full of doubts. They have no certain knowledge, the follow nothing but conjecture. For surely; they killed him not [i.e. Isa (Jesus), son of Maryam (Mary) – 157.

But Allah raised him [Isa (Jesus)] up (with his body and soul) unto himself (and he is in the heavens). And Allah is Ever All-Powerful, All-Wise – 158.

More

Penyaliban Yesus, Kristologi Doketisme dalam Teks-teks Gnostik, dan QS. 4:157 (3)

Leave a comment

Sekarang saya akan menampilkan kutipan-kutipan serta penjelasan dari teks-teks Gnostik, khususnya yang berbicara mengenai penyaliban Yesus. Saya tidak lagi menyertakan kutipan dari Second Treatise of the Great Seth yang sudah dikutip Ahmad dalam tulisannya. Tujuan saya adalah untuk memperlihatkan: pertama, tidak ada keraguan apalagi penyangkalan terhadap penyaliban Yesus dalam teks-teks Gnostik; dan kedua, ada hubungan yang sangat erat antara Kristologi Doketisme dalam sejumlah teks-teks Gnostik tersebut dengan QS. 4:157. Saya akan membahas poin pertama terlebih dahulu di sini. More

Penyaliban Yesus, Kristologi Doketisme dalam Teks-teks Gnostik, dan QS. 4:157 (2)

Leave a comment

Dalam tulisan lanjutan ini, saya akan memberikan ulasan ringkas mengenai Kristologi Doketisme serta varias-variasi pandangan yang ada di dalamnya.

Doketisme berasal dari kata bahasa Yunani: dokein yang berarti “tampak” atau “kelihatan”. Secara umum Doketisme adalah pandangan bahwa Kristus hanya kelihatan saja seperti manusia, namun bukan manusia sejati. Kemanusiaan Yesus di dalam segala aspeknya hanya ilusi; walau kelihatan seperti manusia, namun itu tidak lebih dari sesuatu yang hanya tampaknya saja. More

Older Entries

%d bloggers like this: