Dalam diskusi atau perdebatan, saya kerap kali menemukan exegetical fallacies yang dipertontonkan oleh para muslimers dalam menggunakan Alkitab untuk membuktikan atau memperkuat prasangka teologis mereka.

Saya memperhatikan bahwa salah satu kesalahan yang sangat mencolok dalam tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh para sahabat muslim mengenai bagian-bagian yang mereka anggap “masalah” adalah kesalahan eksegetis yang disebut Anakronisme.

Anakronisme, sederhananya, berarti “tidak sesuai dengan zaman”. Satu contoh kontemporer yang sederhana dari anakronisme terlihat dalam kalimat ini: “Rasul Paulus makan es krim”. “Es krim” dalam konteks kalimat ini bersifat anakronis karena pada waktu Rasul Paulus hidup, es krim belum ada.

Kadang-kadang, sebuah pernyataan dapat digolongkan sebagai anakronisme karena asumsi atau presuposisinya. Misalnya, Seorang Muslim pernah bertanya demikian: “Yesus tak pernah mengucapkan ‘Akulah Tuhan’ betulkah itu?”

“Di belakang” pertanyaan ini sebenarnya terbonceng asumsi atau presuposisi bahwa Yesus harus  mengaku secara eksplisit-verbal bahwa Diri-Nya adalah Tuhan. Dan pengakuan yang dimaksudkan dalam asumsi ini adalah “Akulah Tuhan”. Dan tepat sekali respons dari seorang debater Kristen yang menelanjangi asumsi di belakang pertanyaan ini:

Ma Kuru Paijo Budiwidayanto: “Kenapa harus ada pernyataan eksplisit dari Yesus ‘Akulah Tuhan” baru pasti bahwa Yesus adalah Tuhan?”

Memang, kita mendapati dalam Alkitab bahwa dalam satu kesempatan Yohanes Pembaptis pernah menyuruh para muridnya untuk bertanya apakah Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu (Mat. 11:2dst). Sederhananya, Yohanes meminta pengakuan yang jelas dan eksplisit dari Yesus. Meski begitu, bagi orang-orang Yahudi pada masa itu, pengakuan yang eksplisit [seperti diasumsikan oleh sahabat Muslim di atas] tidak merupakan keharusan bagi mereka untuk mengidentifikasi seseorang [yang mengaku] sebagai Tuhan. Mereka dapat mengidentifikasi itu bisa berdasarkan “klaim” atau “perbuatan”. Contoh identifikasi berdasarkan klaim:

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah” (Mat. 9:2-3).

Perhatikan dalam bagian di atas, para ahli Taurat mencap Yesus sebagai penghujat. Mengapa? Karena bagi mereka, hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa. Yesus menyatakan bahwa dosa orang lumpuh itu sudah diampuni. Implynya, Yesus menempatkan diri sebagai Tuhan. Ia penghujat. Itulah cara mereka mengidentifikasi “ketuhanan” Yesus.

Contoh identifikasi berdasarkan perbuatan, kita bisa temukan dalam bagian Alkitab di bawah ini:

“Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yoh. 5:17-18).

Implikasi dari contoh-contoh di atas menegaskan bahwa tuntutan akan eksplisitas pengakuan verbal dari mulut Yesus bahwa Ia adalah Tuhan merupakan anakronisme: Tidak sesuai dengan konteks historis Palestianian Judaism.

Sebuah Catatan Tambahan:
Dalam scipt berjudul “Apakah Yesus adalah Allah?” yang disajikan untuk mendebat Anis A. Shorrosh (perdebatan ini berlangsung di Royal Albert Hall, Inggris,  pada tanggal 25 Desember 1985), Ahmed Deedat mengajukan tuntutan ini, “Saya akan sangat bergembira mendengar dari bibir Yesus keterangan sederhana, jujur, dan tegas: ‘Aku adalah Allah’ atau ‘sembahlah Aku” (script lengkapnya dapat dibaca dalam: Anis A. Shorrosh, Kebenaran Disingkapkan: Pandangan Seorang Arab Kristen tentang Islam, 257-278).

Kata-kata Deedat di atas mengimplikasikan bahwa ia [mungkin juga para muslim’s debators] akan lebih “mudah” untuk percaya bahwa Yesus adalah Allah kalau Yesus mengungkapkan pengakuan eksplisit tersebut. Perhatikan kata “Saya akan sangat bergembira mendengar….”

Sayang sekali, ini juga adalah subjektivisme yang anakronis. Artinya tuntutan tersebut merupakan selera pribadi Deedat yang dibebankan sebagai keharusan bagi Yesus pada jaman-Nya. Pada masa itu, para kaisar Romawi mendeklarasikan diri secara eksplisit sebagai deus et noster (Tuhan dan Allah), yang saat ini istilah teknis yang dikenakan kepada deklarasi para kaisar tersebut adalah Caesar Worship. Dan baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang Kristen, sampai dengan abad kedua harus merelakan nyawa mereka sebagai harga menolak “bergembira” bersama para kaisar itu meskipun ada statement eksplisit.

Maksud saya, sebenarnya asumsi dan subjektivisme di atas, selain merupakan anakronisme dan bukan merupakan suatu keharusan pada abad pertama, sebenarnya juga merupakan alasan yang dicari-cari semata. Para sahabat Muslim mempresuposisikan bahwa Yesus bukan Tuhan, dan konyolnya, mereka menopang presuposisi tersebut dengan anakronisme + selera pribadi!

Menanggulangi “Penyakit” Anakronisme
Untuk menanggulangi “penyakit” anakronisme dalam memahami Alkitab, seseorang hanya perlu diperhadapkan dengan bukti-bukti historis yang menyadarkannya bahwa baik event, pemahaman, maupun presuposisinya tidak atau belum berlaku atau mungkin berlaku tetapi bukan mutlak pada setting historis yang dirujuknya.