Pendahuluan
Di dalam sejarah Doktrin Kristologi, kita mengenal dua bidat yang pernah muncul di dalam sejarah, bahkan sampai saat ini masih terus hidup dengan berbagai bentuk di dalam tubuh kekristenan. Kedua bidat tersebut adalah Arianisme dan Sabelianisme. Arianisme, secara umum percaya bahwa Yesus adalah ciptaan. Singkatnya Yesus bukan Allah. Di sisi lain, Sabelianisme menandaskan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah semacam peran yang berbeda dari Pribadi yang sama. Artinya Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan Tiga Pribadi, melainkan Tiga Peran dari Pribadi yang sama.

Sementara itu, kekristenan ortodoks mengakui bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus merupakan Tiga Pibadi yang berbeda dengan hakikat yang setara/sama. Di dalam bahasa Yunaninya, rumusan ortodoksi untuk doktrin Tritunggal ini, sebagaimana yang pernah dilontarkan oleh Gregorius Agung, adalah: mia ousia treis hupostaseis (Satu Hakikat Tiga Pribadi). Itulah inti doktrin Tritunggal!

Sebenarnya, penyelidikan yang teliti terhadap Alkitab, menunjukkan dengan jelas kesesatan dari kedua aliran bidat di atas. Untuk itu, karena keterbatasan tertentu, saya akan menunjukkan kesesatan kedua bidat tersebut berdasarkan sebuah frasa yang muncul dalam Yohanes 1:1c (καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος; kai theos en ho logos). Namun sebelumnya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu signifikansi penggunaan kata sandang tertentu (definite article) dan urutan kata di dalam tata bahasa Yunani.

Signifikansi Definite Article dan Urutan Kata (word order) di dalam Tata Bahasa Yunani
Kasus nominatif di dalam tata bahasa Yunani merujuk kepada fungsi sebuah kata benda sebagai subjek di dalam kalimat. Ketika subjek tersebut mendapat sebuah to be (equative verb), misalnya: “is” (adalah), maka sebuah kata benda yang lain akan digunakan juga dalam kasus nominatif. Dalam hal ini, kasus nominatif dari kata benda tersebut berfungsi sebagai predikatif nominatif. Contoh sederhana dari hal ini terlihat misalnya: “John is a man.” Dalam kalimat sederhana ini, “John” adalah subjek, sedangkan “man” berfungsi sebagai predikatif nominatifnya.

Di dalam tata bahasa bahasa Inggris (juga dalam tata bahasa bahasa Indonesia), subjek dan predikatif nominatif dalam sebuah kalimat dapat dibedakan berdasarkan urutan kata (subjek ditempatkan di depan predikatif nominatifnya). Akan tetapi, tidak demikian dalam tata bahasa Yunani. Karena urutan kata dalam tata bahasa Yunani sebenarnya sangat fleksibel. Biasanya, dalam tata bahasa Yunani, penempatan urutan kata di dalam sebuah kalimat berfungsi untuk memberikan penekanan (emphasis) terhadap signifikansi dari kata yang bersangkutan dalam kalimat tersebut. Itulah sebabnya, untuk membedakan subjek dan predikatif nominatifnya, biasanya dilakukan berdasarkan kata benda yang mana yang diberi kata sandang tertentu (definite article).

καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος (Yoh. 1:1c)
Sebagaimana yang telah dikatakan di atas bahwa urutan kata di dalam tata bahasa Yunani secara khusus menunjukkan sebuah penekanan tertentu, maka ilustrasi yang cocok untuk penjelasan di atas dapat dilihat dalam sebuah frasa yang muncul di dalam Yohanes 1:1c, yang berbunyi demikian: καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος.

Memang di dalam terjemahan bahasa Inggrisnya: “and the Word was God,” namun dalam kalimat bahasa Yunaninya, kata θεὸς (God) ditempatkan lebih dahulu dari kata ὁ λόγος (the Word). Kita tahu bahwa kata “Firman” adalah subjek di dalam frasa ini, karena kata inilah yang diberi kata sandang tertentu (definite article; ὁ λόγος), dan bukan kata “Allah” (θεὸς). Itulah sebabnya kita tidak boleh menerjemahkan frasa ini demikian: “dan Allah [subjek] adalah firman itu [predikatif nominatifnya],” melainkan “dan firman itu [subjek] adalah Allah [predikatif nominatifnya]”

Wawasan Eksegetis-teologisnya
Berdasarkan penjelasan di atas, paling tidak muncul dua pertanyaan, yaitu: pertama, mengapa kata θεὸς ditempatkan lebih dahulu dari kata ὁ λόγος? Kedua, mengapa kata θεὸς tidak menggunakan kata sandang tertentu (definite article) sebagaimana kata ὁ λόγος?

Secara singkat, jawaban dari kedua pertanyaan di atas adalah sebagai berikut: pertama, dari aspek emphatic-nya, sebenarnya penempatan θεὸς di awal frasa tersebut menekankan mengenai esensi (essence) atau kualitas (quality). Itulah sebabnya, Daniel Wallace memparafrasekan frasa ini dengan memperhatikan penekanan tersebut, sebagai berikut: “What God was, the Word was.” Kedua, ketiadaan kata sandang (definite article) dari kata theos, mencegah kita untuk tidak mengidentikkan Pribadi Allah (dalam hal ini: Allah Bapa) dengan Pribadi Yesus Kristus (Allah Anak).

Kedua jawaban di atas memperlihatkan dua hal. Pertama, urutan kata-nya memberitahukan kepada kita bahwa Yesus Kristus memiliki seluruh kualitas ilahi yang dimiliki oleh Allah Bapa. Dan kedua, ketiadaan kata sandang tertentu dari kata θεὸς mengingatkan kita bahwa Allah Anak (Yesus Kristus) memiliki Pribadi yang berbeda dengan Allah Bapa.

Untuk membedakan dengan jelas gagasan teologis dari Arianisme, Sabelianisme, dan Ortodoksi, saya akan menunjukkan ketiga kemungkinan konstruksi dari Yohanes 1:1c, sebagai berikut:

Pertama, καὶ ὁ λόγος ἦν ὁ θεὸς (kai ho theos en ho logos) = dan Firman itu adalah Allah itu (“and the Word was the God”; Sabelianisme);

Kedua, καὶ ὁ λόγος ἦν θεὸς (kai ho logos en theos) = dan Firman itu adalah [seorang] Allah (“and the Word was a God”; Arianisme);

Dan ketiga, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος (kai theos en ho logos) = dan Firman itu adalah Allah (“and the Word was God”; Ortodoksi).

Komentar Singkat dari Martin Luther
Mengakhiri bahan konklusif, saya mengutip komentar dari seorang Reformator terkemuka, Martin Luther, terhadap ayat ini. Luther berujar: “The lack of an definite article is against Sabellianism; the word order is against Arianism.”

(Sebagian besar isi note ini disadur dari sebuah artikel singkat yang ditulis oleh Daniel Wallace dalam: William D. Mounce, Basic of Biblical Greek Grammar [second edition; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003], 27-28)