Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya (Kel. 4:16; ITB).

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu (Kel. 7:1; ITB).

Membaca kedua ayat di atas, pertanyaan yang segera terbesit dalam benak kita adalah: Apakah maksudnya Musa disebut sebagai “Allah” (elohim)? Apakah Musa diberi semacam status ilahi oleh Yahweh dalam kedua nats di atas?

Dalam note ini saya akan mengulas secara singkat jawaban yang ditawarkan oleh beberapa penafsir, khususnya Bruce K. Waltke (Profesor PL di Westminster Theological Seminary) dan Peter Enns (mantan Profesor PL di Westminster Theological Seminary) berkenaan dengan pertanyaan di atas. Pandangan dari kedua ahli di atas, sebagian besar saya sadur dari: Bruce K. Waltke, An Old Testament Theology [Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2007), 805-806] dan Peter Enns, Exodus (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000).

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memulainya dari terminologi nabi dan medan makna yang terkandung di dalam penggunaannya di dalam berbagai teks Alkitab.

Terminologi
Istilah Inggris: prophesy (nubuat) sebenarnya diderivasi dari sebuah kata kerja di dalam bahasa Yunani: prophemi, yang berarti “to say before.” Sebelum Samuel, seseorang yang menyampaikan orakel dari Allah, biasanya disebut: ro’eh dan haza (“seer”). Kedua istilah ini menandai orang tersebut sebagai clairvoyant atau observer dari realitas ilahi (bnd. 1Sam. 9:9; Bil. 24:16-17).

Selanjutnya istilah prophet (nabi) merupakan terjemahan dari kata Ibrani: nabi’, yang dalam dalam LXX diterjemahkan menjadi prophetes. Istilah ini berarti “Seseorang yang berbicara atas nama Allah dan menyampaikan kehendak-Nya bagi manusia.” Seorang nabi merupakan seseorang yang dipanggil dan ditunjuk oleh Allah untuk menjadi jurubicara Allah (2Raj. 9:1; 2Taw. 12:5; Yer. 1:5).

Uraian singkat di atas menunjukkan bahwa Allah adalah sumber dari berita yang dibawa oleh para nabi, sementara para nabi adalah “mulut” yang melaluinya Allah memperdengarkan kehendak-Nya bagi umat-Nya. Melalui para nabi, “the invisible God becomes audible.” Atau dengan kata lain, seorang nabi adalah “God’s human mouth”.

Musa menjadi “Elohim”? (Kel. 4:16; 7:1)

Dalam Hubungan dengan Harun
Sebelum Musa menemui Yitro, mertuanya, untuk meminta izin kembali ke Mesir menunaikan tugas yang diembankan Allah kepadanya (Kel. 4:18), tampaknya Musa mengajukan paling tidak tiga “keberatan” kepada Allah atas tugasnya untuk memimpin Israel keluar dari Mesir (Kel. 4:1-16). Ketiga keberatan Musa tersebut, yaitu: pertama, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu” (Ay. 1). Untuk keberatan ini, dalam Keluaran 4:2-9, TUHAN menunjukkan berbagai tanda yang akan menyertainya untuk meyakinkan orang-orang Israel perihal otentisitas panggilannya sebagai utusan Allah. Kedua, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (ay. 10). Untuk keberatan ini, TUHAN bukan hanya mengingatkan melainkan juga menantang Musa untuk mengakui bahwa DIA berkuasa memampukannya untuk berbicara di hadapan Firaun sebagai duta (ay. 11-12). Dan ketiga, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (ay. 13). Keberatan Musa yang ketiga inilah yang membuat TUHAN murka kemudian menunjuk Harun untuk menyertai Musa menghadap Firaun (ay. 14-17).

Secara khusus, jelas bahwa Tuhan menyebut Musa sebagai “elohim” (ay. 16) berhubungan dengan keberatan Musa bahwa ia tidak pandai bicara. Itulah sebabnya, “…engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan.  Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya” (ay. 15-16).

Dengan kata lain, penggunaan istilah “elohim” dalam ayat di atas menempatkan Musa sebagai “sumber” perkataan-perkataan yang harus disampaikan oleh Harun (perhatikan frasa: “engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya”). Dalam hal ini fungsi Harun adalah sebagai nabi bagi Musa (bnd. Kel. 7:1 “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu).

Dalam Hubungan dengan Firaun (Kel. 7:1)
Menarik untuk dicermati bahwa Tuhan bukan hanya menyebut Musa sebagai “elohim” dalam hubungan dengan Harun, melainkan juga dalam hubungan dengan Firaun (Kel. 7:1). Dalam hubungan dengan Harun, telah dijelaskan bahwa istilah “elohim” digunakan dalam pengertian Musa akan menjadi “sumber” dari perkataan Harun di hadapan Firaun dan Harun akan menjadi nabi bagi Musa. Lalu apakah maksudnya Allah mengatakan bahwa Musa menjadi elohim bagi Firaun?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sependapat dengan isi note yang ditulis oleh sohib saya: Edward Hanock (beliau sedang menyelesaik program M.Th dalam bidang PL di TUK Kampen-Belanda). Beliau menyatakan bahwa penggunaan istilah elohim untuk Musa di sini memiliki sifat dan tujuan encourage.

Dalam ideologi politis di Mesir Kuno pada zaman itu, Firaun dipandang sebagai figur ilahi. Jadi penyebutan Musa sebagai “elohim” dalam hubungan dengan Firaun berarti bahwa “Yahweh beating Pharaoh at his own game.”  Dengan kata lain, poin penting dari perkataan Tuhan di sini adalah bahwa “Moses will be God functionally both to Pharaoh and to the Israelites” (Enns, 2000: 181). Musa tidak perlu takut!