Pendahuluan
Paulus adalah figur yang sangat menonjol dalam kekristenan mula-mula. Selain giat dalam Pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa kafir, ia juga produktif dalam pekerjaan literatur. Di dalam Perjanjian Baru, terdapat 13 surat yang ditulis oleh Paulus.[1] Selain surat-surat tersebut, Paulus pernah menulis surat-surat yang lain namun keberadaan surat-surat tersebut tidak diketahui hingga saat ini. 1 Korintus 5:9 mengindikasikan adanya sebuah surat yang dikirimkan kepada jemaat di Korintus, selain dari kedua surat kanonik yang kita punyai saat ini. Rujukan yang sama juga terdapat dalam Kolose 4:16 bahwa Paulus pernah menulis sebuah surat kepada jemaat di Laodikia. Tidak heran jika Perrin dan Duling menunjukkan bahwa Paulus telah menulis lebih dari seperempat kitab-kitab Perjanjian Baru dan kehidupan, misi, serta khotbah-khotbahnya menguasai lebih dari setengah isi kitab Kisah Para Rasul.[2] Selain itu, Dunn menyatakan bahwa Paulus adalah seorang teolog Kristen yang pertama dan yang terbesar. Paulus disebut teolog yang pertama karena ia adalah orang yang pertama kali mempersembahkan hidupnya untuk berefleksi, mengajarkan kebenaran, dan menulis ajaran-ajaran yang berotoritas. Ia juga disebut teolog yang terbesar karena pengaruh dari tulisan-tulisannya yang makin meluas bahkan sampai hari ini.[3] Jelas bahwa Paulus mendapat apresiasi positif dari para teolog terkait dengan hasil tulisannya, walaupun tidak semua apresiasi itu lahir dari pengakuan bahwa Paulus menulis sebagai seorang rasul Yesus Kristus.[4]Bahwa Paulus disebut sebagai seorang penulis yang sangat berpengaruh, tidak berarti bahwa dia sendiri yang menulis setiap surat tersebut dengan tangannya sendiri. Para ahli Perjanjian Baru sepakat bahwa Paulus sering kali memakai seorang amanuensis.[5] Istilah amanuensis berasal dari kata bahasa Latin “a manu” yang biasanya dirangkaikan dengan kata “servus” yang secara literal berarti “pekerja manual” (manual labourer). Istilah “servus a manu” pada waktu itu diperuntukkan bagi seorang budak yang ditugaskan sebagai sekretaris untuk mencatat sesuatu yang didikte.[6] Istilah ini kemudian diasosiasikan ke dalam berbagai bahasa untuk menyebut seseorang yang dipekerjakan untuk menyalin atau mencatat sebuah materi lisan (terutama yang didikte) dari pihak lain.[7]Peran dan keterlibatan amanuensis dalam penulisan surat-surat Paulus inilah yang akan dibahas dalam makalah ini, khususnya mengenai sejauh mana Paulus memberikan kebebasan kepada amanuensisnya untuk menuliskan surat-suratnya. Selanjutnya, pembahasan ini akan diakhiri dengan analisis terhadap keterlibatan para amanuensis tersebut dalam kaitannya dengan doktrin inspirasi Alkitab.Untuk itu, beberapa poin yang akan dibahas, yaitu: surat-menyurat dan amanuensis dalam konteks Greco-Roman (bagian ini hanya memuat uraian tentang jenis-jenis surat dan keterlibatan amanuensis di dalamnya); peran amanuensis dalam surat-surat Paulus; serta amanuensis dan problem inspirasi.A. Surat-Menyurat dan Amanuensis dalam Konteks Greco-Roman
Pada periode Greco-Roman (+ 300 BC – 300 AD), sarana komunikasi yang digunakan untuk keperluan informatif antar-pribadi maupun antar-kelompok yang terpisah secara locus (tempat), yaitu: seorang utusan atau sebuah karangan dalam bentuk surat. Namun karena alasan efisiensi, biasanya mereka lebih memilih untuk melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan sebuah surat dari pada seorang utusan. Pada waktu itu, material penulisan surat (papyrus) sangat mudah diperoleh terutama dari Mesir sebagai daerah penghasil papyrus terbesar yang melakukan ekspor papyrus ke seluruh wilayah Mediterranean.[8]  Selain itu, tidak jarang keduanya dimanfaatkan sekaligus, yaitu sebuah surat dititipkan melalui seorang utusan (bnd. Kis. 15:22-23). Penggunaan surat sebagai alat komunikasi rupanya terdapat dalam segala kalangan masyarakat pada waktu itu: pejabat negeri (bnd. Kis. 23:26-30; 25:26), pemimpin agama (Kis. 9:2; 28:21), juga pedagang, sahabat, dan orang tua-anak atau sebaliknya.[9]Dengan kata lain, surat-menyurat adalah alat komunikasi yang lumrah pada waktu itu.J. A. D. Weima memberikan gambaran mengenai tiga sumber utama bagi seseorang yang ingin mengadakan penelitian mengenai seluk-beluk penulisan surat-surat dalam konteks Greco-Roman, yaitu: pertama, surat-surat yang terdapat dalam epistolary handbooks; kedua, surat-surat yang bersifat rethoris; dan ketiga, surat-surat yang ditulis untuk kepentingan kurikulum pendidikan (bagi para pelajar yang berusia 12 – 15 tahun tentang cara penulisan sebuah surat). Weima menunjukkan bahwa berdasarkan tujuan serta isinya, surat-surat dalam konteks Greco-Roman memiliki beragam jenis. Dalam Pseudo-Demetrius, disebutkan bahwa paling tidak terdapat dua puluh satu jenis surat yang harus dibedakan satu sama lain. Kedua puluh satu jenis surat tersebut, antara lain: persahabatan, penghargaan/pujian, surat celaan, peringatan, ancaman, tanggapan/klarifikasi, ucapan selamat, ironis, ucapan terima kasih, dsb.[10] Selain itu, penulis Pseudo-Libanius menyebutkan bahwa sebenarnya terdapat empat puluh satu jenis surat, yang beberapa di antaranya telah disebutkan dalam Pseudo-Demetrius.Beberapa dari keempat puluh satu jenis surat tersebut adalah: deklaratif, dukacita, ejekan, laporan, nasihat, dan pengakuan.Sejak abad ke-19, beberapa ahli (yang dipelopori oleh Adolf Deissmann) berusaha menjelaskan bahwa surat-surat dalam lingkungan Greco-Roman dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, jenis surat-surat yang biasanya  diistilahkan dengan “littera” (letter). Deissman menyebutnya “true letters”. Kedua, surat yang biasanya disebut dalam bahasa Latin “epistola/epistula” (Yun: evpistolh; Ing: epistle).[11] Klasifikasi yang diusulkan oleh Deissmann dan mereka yang sependapat dengannya, mendapat kritikkan tajam. Menurut Aune, pendapat Deissmann di atas telah dianggap tidak memadai untuk dianut lagi karena baik istilah “letter” maupun “epistle” dapat digunakan secara sinonim.[12] Di samping itu, berdasarkan fungsinya, Aune juga menunjukkan beberapa jenis surat, antara lain: surat-surat pribadi (private or documentary letters), surat-surat resmi yang terkait dengan urusan pemerintahan (official Letters), surat-surat sastrawi (literary letters), surat-surat rekomendasi (surat-surat ini biasanya dihasilkan dari para warga “kelas atas”), surat-surat yang isinya adalah suatu risalah/esei (letter-Essays), surat-surat filosofis, surat-surat yang berisi cerita-cerita atau anekdot-anekdot yang fiksional (novelistic letters), dan surat-surat imaginatif.[13]Mengenai sistem produksi surat-surat yang ada pada waktu itu, Weima mengemukakan sebuah fakta bahwa pada waktu itu cukup banyak orang yang terlatih (trained) di bidang retorika termasuk sebagai seorang sekretaris.[14] Para sekretaris ini juga menguasai stenografi dan gramatika yang nantinya menolong mereka dalam melaksanakan tugas penulisan sebuah surat.[15]Berkaitan dengan penulisan surat-surat di atas, penggunaan jasa seorang amanuensis merupakan hal yang umum dipraktikkan pada waktu itu. E. Randolph Richards menulis bahwa seorang amanuensis memainkan peranan penting dalam penulisan surat-surat resmi (yang berasal dari pemerintah), maupun surat-surat pribadi. Jasa mereka dalam penulisan sebuah surat diperlukan karena beberapa alasan, antara lain:

  • Mereka dipekerjakan di sebuah instansi pemerintahan; dan
  • Seseorang ingin menulis sebuah surat tetapi mengalami keterbatasan-keterbatasan tertentu (misalnya: cacat tubuh akibat kecelakaan, tidak dapat membaca dan menulis, atau karena ketidaktahuan akan seluk-beluk penulisan sebuah surat yang baik).[16]

Mengenai tempat praktik para amanuensis, Richards menjelaskan bahwa mereka biasanya membuka semacam tempat praktik di tempat-tempat umum (misalnya, di pasar). Ketika seseorang ingin menulis sebuah surat, ia dapat “menemui seorang sekretaris di sebuah pasar”.[17] Untuk surat-surat yang agak pendek atau surat-surat bisnis, biasanya amanuensis itulah yang didatangi, sedangkan untuk surat-surat yang lebih panjang, maka tidak jarang amanuensis itu yang dipanggil ke tempat si pengirim surat.

Richards mendiskusikan tentang sejauh mana keterlibatan seorang amanuensis mempengaruhi isi surat yang ditulisnya. Berdasarkan hasil risetnya terhadap surat-surat kuno, Richards menyebutkan bahwa peran seorang amanuensis dapat dikategorikan menjadi tiga peran, sebagaimana yang diilustrasikan melalui skema di bawah ini:

[18]

Pertama, dalam fungsi sebagai transcriber, seorang amanuensis menyalin kembali materi yang didiktekan setepat mungkin. Dalam hal ini, ia tidak memberikan kontribusi apa pun berkaitan dengan isi surat maupun tata bahasanya; kedua, sebagai contributor, amanuensis dapat disebut sebagai seorang editor. Ia bertanggung jawab atas penggunaan leksikal, sintaksis, dan gaya penulisan surat tersebut, tetapi tidak mengubah maksud pendikte (author); ketiga, sebagai composer, amanuensis hanya mendapat perintah yang disertai penjelasan tentang tujuan umum penulisan surat tersebut, lalu ia akan menulis sesuai dengan pengetahuannya termasuk menentukan panjang-pendek dan isi surat tersebut.[19]

B. Peran Amanuensis dalam Surat-surat Paulus
Sebagaimana kebiasaan umum yang berlaku dalam konteks Greco-Roman, Daniel Wallace menulis, “Paulus pasti sering menyewa seorang amanuensis atau seorang sekretaris untuk menulis surat yang ia dikte”.[20] Salah seorang amanuensis Paulus yang menuliskan namanya secara eksplisit, yakni Tertius.[21] Beberapa surat Paulus yang lain juga memberikan indikasi implisit bahwa Paulus memang menggunakan jasa seorang amanuensis dalam penulisan surat-surat tersebut (Rm. 16:22; 1 Kor. 16:21; Gal. 6:11; Kol. 4:18; 2 Tes. 3:17; dan Flm. 19). Selain itu, beberapa ahli juga mengusulkan Lukas sebagai amanuensis dari surat-surat Pastoral.[22]

Kita tidak meragukan kemampuan Paulus dalam hal menulis. Paulus adalah seorang yang terpelajar dan tentu saja ia tidak memiliki kesulitan teknis untuk menghasilkan sebuah surat. Jika demikian, mengapa Paulus memerlukan amanuensis? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mendaftarkan beberapa kemungkinan di bawah ini, antara lain:

  1. Paulus menggunakan jasa amanuensis karena alasan kesehatan. Beberapa ahli Perjanjian Baru percaya bahwa “duri dalam daging” yang disebutkan Paulus dalam 2 Korintus 12:7, merujuk kepada suatu jenis penyakit yang sedang diderita Paulus.[23] Demikian pula dalam surat kepada jemaat Galatia (4:15), terdapat indikasi bahwa Paulus mengalami semacam penyakit yang diduga Ramsay, bahwa mungkin Paulus sedang menderita malaria di Pamfilia yang terkenal memiliki banyak rawa.[24] Mengenai jenis penyakit ini masih bersifat wacana, namun melaluinya kita dapat menduga bahwa salah satu alasan Paulus mempekerjakan seorang amanuensis adalah karena ia sedang mengalami gangguan kesehatan secara fisik.
  2. Paulus menggunakan jasa amanuensis karena faktor usia, di mana Paulus telah menjadi tua dan penglihatannya mulai berkurang sehingga rekan-rekan seperjalanannya ia pakai sebagai amanuensisnya (misalnya: Lukas, Timotius, dan Silvanus).
  3. Kemungkinan-kemungkinan di atas bisa juga dikoneksikan dengan alasan ekonomis. Witterington menjelaskan bahwa Paulus menggunakan seorang sekretaris yang terlatih dengan baik agar menghindari kesalahan tulis karena pada waktu itu harga material surat mulai mahal. Seorang sekretaris yang terlatih dengan baik, mampu menulis dengan scriptio continua sehingga bisa menghemat material yang dibutuhkan untuk surat-surat Paulus yang terbilang cukup panjang.[25]

Berdasarkan uraian di atas, isu yang relevan untuk dibahas di sini bukan apakah Paulus menggunakan seorang amanuensis, melainkan bagaimana ia menggunakan seorang amanuensis. Sebesar apakah peran seorang amanuensis dalam surat-surat Paulus? Konkretnya, dalam kaitan dengan tiga peran amanuensis yang dikemukakan Richards, apakah para amanuensis Paulus digunakan sebagai transcriber, contributor, atau composer?[26]

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa dalam seluruh surat-surat Paulus, terdapat 6 ayat yang mengindikasikan bahwa Paulus menggunakan amanuensis. Dari ayat-ayat tersebut juga kita dapat mengasumsikan bahwa keseluruhan surat ditulis oleh amanuensis,[27] sedangkan Paulus hanya menuliskan salam penutup (1 Kor. 16:21; Kol. 4:18) atau Paulus menuliskan sesuatu untuk menekankan tentang kekhasan tulisan tangannya (bnd. Gal. 6:11; 2 Tes. 3:17). Namun sejauh manakah peran para amanuensis Paulus?

Para ahli menduga, misalnya terhadap peran Tertius dalam penulisan surat Roma, “Adalah mungkin bahwa Paulus mendiktekan seluruh surat tersebut kepadanya [Tertius, pen], tetapi kemungkinan lainnya adalah Tertius mendapat peran yang lebih kreatif dalam komposisinya. Hal ini dapat diasumsikan berdasarkan salam pribadinya kepada para pembaca”.[28] Pendapat yang senada juga terlihat dalam diskusi tentang peran amanuensis dalam Surat-surat Penjara khususnya surat Kolose: “The contribution of an amanuensis could vary from merely taking down verbatim what Paul dictated to actually writing the letter under Paul’s direction and supervision.”[29] Artinya, amanuensis Paulus hanya berfungsi sebagai transcriber atau sebagai contributor, dan bukan sebagai composer. Namun, perhatikan bahwa pendapat-pendapat tersebut tidak diletakkan di atas suatu dasar pijakan yang terlalu meyakinkan. Oleh karena Kolese 4:18 (dan juga ayat-ayat lainnya) hanya membuktikan (secara implisit) tentang adanya seorang amanuensis yang menuliskan surat tersebut, dan juga bahwa Paulus sangat ketat mengontrol isi surat tersebut, tetapi tidak menyebutkan sejauh mana perannya. Ketidakjelasan tersebut dapat menuntun siapa saja – salah satunya: Otto Roller – untuk percaya bahwa para amanuensis Paulus mendapat kebebasan yang besar untuk menulis surat-surat tersebut sesuai dengan keinginan mereka (composer).[30]

Lalu, apakah kita tidak mendapatkan petunjuk sama sekali mengenai hal ini? Richards mungkin dapat menolong kita dengan hasil risetnya. Menurut Richards, paling tidak terdapat beberapa alasan untuk menolak fungsi amanuensis sebagai composer dalam surat-surat Paulus, antara lain:

  1. Peran sebagai composer memang dipraktikkan pada waktu itu, namun bukan merupakan sesuatu yang umum dipraktikkan
  2. Peran sebagai composer diberikan kepada seorang amanuensis, jika si pemilik surat tidak mempersoalkan isinya. Sebaliknya Paulus memiliki pesan khusus kepada pembacanya sehingga ia sangat memperhatikan isi surat-suratnya.
  3. Peran sebagai composer biasanya hanya digunakan untuk menulis surat-surat resmi (yang dikeluarkan pihak pemerintah), Surat-surat Paulus tidak tidak dapat dikategorikan dalam jenis surat yang demikian.[31]

Alasan-alasan di atas membuat Richards berkesimpulan bahwa para sekretaris Paulus berperan hanya sebatas transcriber dan contributor, tetapi tidak pernah sebagai composer.[32] Demikian pula yang ditegaskan Osborne, “Tidak terdapat bukti untuk level yang ketiga [composer, pen] tetapi level yang pertama dan yang kedua [transcriber dan contributor, pen] dapat ditemukan.”[33] Masalahnya adalah Richards dan Osborne tidak menunjukkan surat-surat Paulus yang mana atau bagian-bagian mana dari surat-surat Paulus yang menggunakan amanuensis dalam fungsi sebagai transcriber dan surat-surat atau bagian-bagian yang mana yang menggunakan amanuensis sebagai seorang contributor.

Berdasarkan kemiripan leksikal dan gramatikal di antara surat-surat Paulus (kecuali surat-surat Pastoral yang masih diperdebatkan soal authorship-nya), menurut penulis fungsi amanuensis Paulus adalah sebagai transcriber. Di samping itu, Paulus sangat ketat memperhatikan isi surat-suratnya (bnd. 1Kor. 16:21; Kol. 4:18; Gal. 6:11; 2Tes. 3:17). Roma 16:22 yang biasanya digunakan untuk menunjukkan adanya kemungkinan bahwa Tertius mendapatkan kebebasan untuk menulis surat tersebut, sebenarnya bukan merupakan bukti yang kuat untuk meyakini bahwa Tertius berfungsi sebagai contributor. Penulis percaya bahwa keseluruhan isi surat Roma ditulis Tertius sebagai transcriber kecuali ps. 16:22 (itu pun  tentu atas izin Paulus).[34]

Diskusi mengenai ‘Authorship’ Surat-surat Pastoral
Mayoritas sarjana Perjanjian Baru (termasuk beberapa sarjana Injili), meyakini bahwa Surat-surat Pastoral bukan ditulis oleh Paulus.[35] Secara umum, mereka yang menolak Paulus sebagai penulis Surat-surat Pastoral menunjukkan bahwa terdapat perbedaan leksikal dan gramatikal yang menonjol dalam surat-surat ini dibandingkan dengan surat-surat Paulus yang lain. Mereka juga menunjukkan adanya perbedaan penekanan teologis, Kristologis, dan etis dengan surat-surat Paulus yang lain.[36] “Kenyataan” ini rupanya bagi mereka cukup meyakinkan untuk berkesimpulan bahwa penulis Surat-surat Pastoral adalah seorang imitator Paulus atau seorang murid Paulus yang memiliki beberapa fragmen dari Paulus kemudian secara kreatif menuliskan Surat-surat Pastoral.[37] Biasanya mereka menyebut penulis surat-surat ini sebagai “The Pastor”.[38]

Untuk menjawab keberatan-keberatan di atas, beberapa sarjana pernah mengusulkan penggunaan amanuensis dalam penulisan Surat-surat Pastoral demi membela authorship Paulus.[39] Terlepas dari berbagai keberatan terhadap usulan ini, jika Paulus menggunakan seorang amanuensis maka kita harus mengakui bahwa kebebasan yang diberikan kepadanya melampaui peran sebagai transcriber maupun sebagai contributor, sebagaimana yang terlihat dalam alasan-alasan penolakan kepenulisan Paulus.

Terkait dengan hubungan antara penggunaan amanuensis dan otoritas surat-surat tersebut, pertanyaannya adalah mungkinkah kebebasan seperti ini dapat diberikan Paulus kepada amanuensisnya dan tidak “menggangu” isi maupun otoritasnya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita menyimak pendapat Longenecker mengenai kemungkinan tersebut. Menurut Longenecker, kebebasan yang diberikan kepada seorang amanuensis bergantung atas tingkat keahlian amanuensis dan mungkin juga berdasarkan seberapa dekat hubungan antara penulis dengan si amanuensis. Dengan kata lain, natur dari relasi antara penulis dan amanuensisnya dapat menjadi salah satu alasan mengapa seorang penulis memberikan kepercayaan yang besar kepada amanuensisnya untuk menulis sebuah surat.[40] Oleh karena itu

ketika Paulus menggunakan teman dekat atau yang mengiringinya dalam perjalanan [misalnya: Lukas, pen], ia memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih kata-kata yang tepat untuk surat tersebut – kita dapat berasumsi bahwa Paulus selalu memeriksa dan menguji ketepatan isi surat tersebut lalu memberikan salam penutup sebagai tanda persetujuan.[41]

Jika alasan di atas dapat diterapkan untuk problem kepenulisan Surat-surat Pastoral, maka hal itu berarti surat-surat yang dituliskan tersebut tetap berada dalam tanggung jawab Paulus sepenuhnya. Dalam hal ini, Paulus memberikan kebebasan kepada amanuensisnya untuk menggunakan pengetahuan leksikal dan gramatikalnya dalam surat-surat tersebut. Bukan hanya itu, amanuensis itu juga harus benar-benar memahami maksud Paulus atau lebih jauh memiliki pandangan teologis yang sama dengan Paulus (Lukas?).

Tentu ada perspektif lain yang dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan yang tampak dalam Surat-surat Pastoral dan surat-surat Paulus yang lain.[42] Maksud penulis adalah jika perbedaan-perbedaan tersebut dijelaskan dari perspektif penggunaan amanuensis maka kita dapat memahaminya dari sudut tingkat keahlian, kesamaan pandangan teologis, dan natur dari relasi para amanuensis tersebut dengan Paulus sebagaimana yang dikemukakan Longenecker. Itulah sebabnya, Ellis menyimpulkan bahwa dengan memperhitungkan peran seorang amanuensis dalam surat-surat Pastoral akan “solidly support Pauline authorsip”.[43]

Keberatan para ahli terhadap penggunaan amanuensis dalam kebebasan yang demikian adalah bahwa jika surat-surat Pastoral ditulis oleh amanuensis dengan kebebasan yang demikian, maka surat-surat tersebut harus dianggap pseudonym.[44] Salah satunya, Arland J. Hultgren bahkan berkesimpulan bahwa Surat-surat Pastoral adalah surat-surat pseudonym yang ditulis pada akhir abad pertama atau awal abad kedua.[45] Akan tetapi keberatan ini sebenarnya bukan tidak dapat dijawab. (1) Secara historis, kita mendapatkan kesaksian bahwa Gereja mula-mula sangat menentang pseudonimity. Seorang Bishop dari Antiokhia bernama Serapion (meninggal tahun 211 M), sebagaimana yang dicatat Eusabeus, menyatakan, “we receive both Peter and the other apostles as Christ, but pseudepigrapha in their name we reject”.[46] Selain itu, sebuah surat yang pseudonym adalah sebuah surat yang dihasilkan tanpa persetujuan langsung dari orang yang namanya dicantumkan sebagai penulis surat tersebut.[47] Padahal, composer selalu menulis surat atas arahan awal dari orang yang menginginkan jasanya. Maksudnya, jika kita menganggap bahwa amanuensis Surat-surat Pastoral difungsikan sebagai composer maka anggapan tersebut tidak serta merta menempatkan surat-surat tersebut sebagai surat-surat pseudonym.[48] Keberatan lain yang juga harus dipertimbangkan adalah bahwa memang di dalam Surat-surat Pastoral, tidak terdapat rujukkan eksplisit maupun implisit (sebagaimana beberapa surat di atas) tentang campur tangan seorang amanuensis.[49] Akan tetapi, ketiadaan rujukkan tersebut, belum bisa dijadikan alasan yang meyakinkan bahwa memang Paulus tidak menggunakan seorang amanuensis dalam menulis Surat-surat Pastoral. Lagi pula, bukan merupakan sebuah keharusan bagi Paulus untuk memberikan indikasi eksplisit (mis, Rm. 16:22) atau pun implisit setiap kali ia menggunakan seorang amanuensis.

C. Inspirasi dan Otoritas Surat-surat Paulus
Dalam pandangang tradisional, pemahaman tentang proses insipirasi Alkitab paling tidak mencakup tiga hal, yaitu: Allah (sebagai Inspirator), para penulis (dalam hal ini, Paulus sebagai yang diinsipirasikan) dan teks (surat-surat yang berotoritas karena ditulis oleh penulis yang diinspirasikan). Meskipun demikian, kenyataan yang kita hadapi tidak sesederhana pandangan tersebut. Terdapat bukti yang kuat bahwa yang terlibat hingga terbentuknya kitab-kitab dalam Alkitab bukan hanya para penulis, tetapi juga ada pihak-pihak lain (editor/ kolektor, para amanuensis, termasuk orang-orang yang tidak kita ketahui identitas mereka tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan kitab-kitab tersebut, baik dalam kitab-kitab PL maupun PB).[50] Itulah sebabnya, sebelum mendiskusikan tentang hubungan antara para amanuensis Paulus dengan masalah inspirasi, ada baiknya kita melihat sebuah bagan yang dibuat Richards berdasarkan surat 1 Korintus untuk menggambarkan isu ini.[51]]

Terkait dengan topik tulisan ini, pertanyaan yang wajar adalah apakah para amanuensis Paulus (yang terlibat dalam produksi surat-surat Paulus) juga diinspirasikan? Jika tidak, apakah itu tidak akan membuka sebuah peluang di mana para amanuensis tersebut dapat memasukkan suatu kesalahan ke dalam teks yang dipercayakan untuk mereka tulis? Konkretnya, bagaimana menjawab pertanyaan yang digambarkan melalui bagan di atas?

Richards menjelaskan bahwa baik situasi yang nantinya dijawab melalui sebuah surat, maupun Paulus bersama timnya (co-authors dan amanuensis) berada di bawah kontrol ilahi. Semuanya itu dipersiapkan Tuhan untuk kemudian memberikan wahyu sesuai dengan latar belakang Paulus bersama timnya (yang juga telah dipersiapkan Tuhan sebelumnya) termasuk situasi konkret yang dihadapi dalam jemaat (misalnya, di Korintus).[53] Richards menyimpulkan, “The entire letter-writing process can be considered ‘inspired’”.[54] Jika Richards menunjuk kepada keseluruhan proses penulisannya, maka Osborne lebih tegas dan spesifik dengan menyatakan bahwa sama seperti Paulus, para sekretarisnya juga diinspirasikan Allah.[55] Tampaknya, ide ini juga yang menjadi penekanan Richard A. Muller bahwa terminologi amanuensis merupakan “a term applied to the human authors of inspired Scripture who, in writing, acted as the penmen of the Spirit [huruf miring – pen]”.[56]

Akan tetapi, jika kita mencoba mempertimbangkan isu di atas secara ketat, maka pertanyaan yang tidak mungkin kita hindari adalah mengapa kita harus menarik kesimpulan yang demikian? Kita tidak memiliki catatan tekstual yang eksplisit mendukung pandangan di atas. Daniel Wallace menggambarkan kesulitan tersebut sebagai berikut:

I suppose that only if we assume that both [Paulus dan amanuensisnya, pen] were equally inspired could we then conclude that there could be no mistakes in the original document, even if they were corrected before the document was sent out. But I’m not sure that that is a necessary conclusion, nor is the supposition that the amanuensis was equally as inspired as the apostle. We are simply not told in scripture about such things. However, my guess is that since amanuenses were basically secretaries, their personalities would not be nearly as engaged in the writing process as the authors’. (There are, to be sure, exceptions to this, but this will have to suffice for now.) If so, then the process of inspiration would not involve them directly. Now certainly, the final document, as the written Word, would be inerrant. And to that extent, the secretary’s work would have to be checked. But the Bible itself seems to give us no real clues about the inner workings of this process. That is left for us to figure out on the basis of the data that we have.[57]

Meskipun Wallace kelihatannya bersikap “longgar” terhadap persoalan ini, kita dapat melihat suatu kejujuran untuk tidak terlalu cepat menjawabnya secara pasti sebagaimana yang dilakukan oleh Richards dan Osborne. Penulis menduga bahwa Richards dan Osborne mengemukakan pendapat mereka berdasarkan keyakinan atas otoritas dan kedapatdipercayaan (auvtopistia) Alkitab. Selain itu argumen mereka juga terkait erat dengan doktrin yang biasanya dikenal dengan istilah doktrin Inspirasi Organis.[58] Padahal doktrin Inspirasi Organis yang melatarbelakangi pendapat Richards dan Osborne sebenarnya bukan tanpa masalah. Prof. Jakob Van Bruggen menyatakan bahwa – salah satu kelemahan – doktrin ini mengimplikasikan bahwa Allah “menerima” keterbatasan dan kelemahan para penulis Alkitab. Hal itu membuat kata “inspirasi” kehilangan maknanya dan kita hanya berbicara mengenai “penerimaan” organis terhadap para penulis Alkitab yang bisa salah.[59] Kita tidak sedang membahas inspirasi organis secara detail di sini, tetapi jika doktrin ini berada di belakang argumen mereka, maka kita harus sadar bahwa presuposisi tersebut bukannya tanpa kritikkan.[60]

Selanjutnya, kita harus mengakui bahwa sebenarnya diskusi mengenai apakah para amanuensis tersebut diinspirasikan atau tidak, hanya sedikit memberikan kontribusi dalam sebuah analisis eksegetis. Arti dan signifikansi sebuah teks tidak bergantung atas pendapat terhdapat isu: amanuensis yang digunakan jasanya menulis surat tersebut diinspirasikan atau tidak. Maksud penulis, kita tidak perlu terlampau berani menarik kesimpulan yang tegas berkenaan dengan isu ini seolah-olah jika tidak demikian maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang negatif dalam penyelidikan isi surat-surat Paulus.[61] Kekhawatiran seperti ini tanpa sadar disetir oleh ketakutan bahwa kalau kita menemukan satu kesalahan saja dalam Alkitab, maka itu akan menggugurkan nilai ilahi Alkitab. Itulah sebabnya, kita mau tidak mau harus mengharmoniskan segala sesuatu yang kita hadapi dalam proses penulisan Alkitab untuk memberikan topangan bagi presuposisi tersebut. Maksudnya, karena Alkitab tanpa salah maka otomatis semua yang terlibat di dalam penulisan Alkitab diinspirasikan – hal mana yang menjadikan teks Alkitab tanpa salah.

Akan tetapi haruskah demikian? Saat ini, beberapa ahli mulai menyadari bahwa keyakinan akan otoritas Alkitab – keyakinan yang lahir dari pengakuan bahwa Allah yang berada di balik penulisan Alkitab – tidak harus membuat kita menjadi seorang innerantist. Bahkan ketika kita mendapat “kesalahan” dalam Alkitab kita masih dapat mempercayai reliabilitasnya. Misalnya, Van Bruggen menyatakan bahwa bergantung apa yang kita sebut sebagai kesalahan. Bukan hanya itu, tetapi sebesar apa kesalahan yang kita temukan itu. Itulah sebabnya kita tidak perlu bersikap panik terhadap apa yang disodorkan kepada kita sebagai kesalahan yang ditemukan dalam Alkitab (misalnya kesalahan kutipan dalam Mat. 27:9).[62] Maksud penulis, mengapa kita harus menegaskan bahwa para amanuensis tersebut diinspirasikan jika kepada kita tidak diberikan dasar yang kuat dari Alkitab untuk meyakininya?

Kemungkinan besar Paulus sendiri tidak bermaksud untuk membuat kita harus memberikan suatu jawaban yang terlampau tegas berkenaan dengan isu ini. Itulah sebabnya, kita tidak mendapatkan dasar tekstual yang eksplisit dari Paulus sendiri dalam surat-suratnya. Maksudnya, isu ini adalah isu yang anakronistik (isu yang kita hadapi saat ini) dan bukan isu yang mendapat perhatian Paulus sendiri.

Jika demikian, apakah kita mesti bersikap seperti Wallace? Menurut penulis, pendapat Osborne dan Richards dapat diterima sebagai konsekuensi logis dari suatu keyakinan teologis bahwa hasil tulisan para penulis tersebut berotoritas (bnd. 2 Tim. 3:16).[63] Dengan kata lain, penegasan mereka bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam penulisan surat-surat tersebut (para amanuensis) juga diinspirasikan, dapat diterima dari perspektif implikatifnya. Meskipun demikian, fakta akan keterbatasan pengetahuan akan hal ini (sebagaimana yang ditunjukkan Wallace), di mana kita tidak memiliki dasar tekstual yang memadai untuk keyakinan tersebut, membuat kita harus berhati-hati untuk tidak menegaskan pandangan ini seolah-olah telah terbukti dengan sedemikian pasti.

Konklusi
Jelas dalam uraian ini bahwa surat-surat Paulus yang kita miliki saat ini ditulis dengan perantaraan amanuensis. Hal ini tidak perlu diragukan lagi. Dan berdasarkan kesatuan ide dan tata bahasa yang digunakan, kita dapat menganggap bahwa amanuensis Paulus – mayoritas – berfungsi sebagai transcriber (walaupun tidak tertutup kemungkinan bahwa amanuensis Paulus dapat juga berfungsi sebagai contributor). Dalam surat-surat Pastoral, amanuensis Paulus mendapat kebebasan yang cukup besar (dilihat dari prosentase perbedaan leksikal dan gramatikalnya serta penekanan teologisnya). Hal ini dapat dipahami berdasarkan natur relasi Paulus dengan amanuensisnya. Meskipun demikian, surat-surat tersebut tidak dapat dianggap pseudonym karena Paulus mengontrol isi dari surat-surat tersebut.

Apakah para amanuensis tersebut juga diinspirasikan oleh Allah? Secara tekstual, kita tidak memiliki data yang meyakinkan untuk mengiyakannya. Namun, kita dapat mengasumsikan (atau lebih tepat: menduga) bahwa mereka juga diinspirasikan Allah. Asumsi ini merupakan implikasi dari keyakinan bahwa tulisan-tulisan yang mereka hasilkan (dalam hal ini surat-surat Paulus) adalah tulisan-tulisan yang berotoritas. Hal itu berarti, asumsi ini bukan bersifat niscaya, melainkan bersifat kontingen. Dengan kata lain, kalau pun kita tidak ingin menyebut para amanuensis tersebut diinspirasikan, kita dapat meyakini bahwa mereka pun dalam taraf tertentu berada dalam “penyertaan ilahi”. Mengapa? Oleh karena tulisan yang dihasilkan Paulus melalui amanuensis itu adalah firman Allah yang berotoritas.[64]


[1] Walaupun terdapat bukti-bukti kuat yang menolak Paulus sebagai penulis surat Ibrani, jelas bahwa surat tersebut diterima ke dalam kanon PB karena dikaitkan dengan nama Paulus. Bahkan Agustinus dan Hieronimus pun percaya bahwa Paulus lah yang menulis surat ini (Lihat diskusi mengenai hal ini dalam: Udo Schnelle, The History and Theology of the New Testament Writings [London: SCM Press, 1998], 366-367)

[2] Norman Perrin dan Dennis C. Duling, The New Testament: An Introduction, Second Edition (New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc., 1982), 127

[3] Lihat: James D. G. Dunn, The Theology of Paul the Apostle, (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans, 1998), 1-26; apresiasi terhadap kualitas tulisan Paulus, datang misalnya dari Wrede (Baca uraian lengkapnya dalam: William Wrede, “The Task and Method of ‘New Testament Theology,’”  dalam The Nature of New Testament Theology: The Contribution of William Wrede and Adolf Schlatter, ed. Robert Morgan [SBT 2.25; London: SCM Press, 1973], 68-116); bnd. C. K. Barret, Paul: An Introduction to His Thought (Louisville: Westminster John Knox, 1994); juga: Herman Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans, 1975)

[4] Ben Witherington menjelaskan bahwa perihal keberhasilan Paulus menyebarkan iman apostolik baik melalui PI maupun melalui surat-suratnya, justru membuat ia dituduh oleh sebagian orang sebagai perusak iman Kristen yang pertama dan juga yang terbesar. Mereka menganggap Paulus telah mengubah Kekristenan menjadi sebuah gerakan non-Yahudi – atau setidak-tidaknya didominasi oleh orang-orang non-Yahudi (Apa yang telah Mereka Lakukan pada Yesus? Bantahan terhadap Teori-Teori Aneh dan Sejarah “Ngawur” tentang Yesus, terj. James Pantou [Jakarta: Gramedia, 2007], 305-307)

[5] Penggunaan seorang amanuensis juga terindikasi dalam 1 Petrus 5:12, “Dengan perantaraan Silwanus, yang telah kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu, bahwa ini adalah kasih karunia yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!” Akan tetapi, ulasan makalah ini akan dibatasi pada surat-surat Paulus.

[6] http://www.merriam-webster/dictionary/amanuensis, diakses tanggal 30 Maret 2008

[7] Dalam era modern ini, seorang amanuensis dapat disejajarkan (disinonimkan) dengan seorang juru tulis, sekretaris, atau seorang stenografer yang memperoleh pendidikan khusus untuk mengerjakan tugas penyalinan atau penulisan transkripsi dari sebuah khotbah, orasi, materi pembicaraan dalam rapat, dsb

[8] Paul J. Achtemeier, et al, Introducing the New Testament: Its Literature and Theology (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 2001), 272; bnd.  Robert H. Gundry,  A Survay of the New Testament, third edition (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1994), 88; D. A. Carson, et al,  An Introduction to the New Testament (Leicester: Apollos, 1992), 334

[9] C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 1995),  204

[10] Lihat: J. A. D. Weima, “Epistolary Theory,”  dalam Dictionary of New Testament Background, eds. Craig A. Evans & Stanley E. Porter (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2000), 327

[11] Lihat: G. Adolf  Deissmann, Light from the Ancient East: The New Testament Illustrated by Recently Discovered Texts of the Greco-Roman World, trans. Lionel R. M. Strachan (Peabody, Massachussets: Hendrickson, 1995), 146-152; bnd. Groenen, Pengantar ke dalam PB, 204-206; pembedaan yang sama juga dapat dilihat dalam, Hanz Conzelmann & Andreas Lindemann, Interpreting the New Testament: An Introduction to the Principles and Methods of N.T. Exegesis, trans. Siegfried S. Schatzmann (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1988), 159dst

[12] David E. Aune, The New Testament in its Literary Environment (Philadelphia: The Westminster Press, 1987), 161; bnd. John D. Grassmick, “Epistolary Genre: Reading Ancient Letters,” dalam Interpreting the New Testament Text: Introduction to the Art and Science of Exegesis, eds. Darrell L. Bock & P. M. Fanning [Wheaton, Illinois: Crossway Books, 2006], 225; Grant R. Osborne menyatakan bahwa pendapat Deissmann terlalu “simplistic” (Hermeneutical Spiral: A Comprehensive Introduction to Biblical Interpretation, Revised Edition [Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2006], 315)

[13] Ibid., 162-169

[14] Weima, “Epistolary Theory”, 329

[15] E. Randolph Richards, Paul and First-Century Letter Writing: Secretaries, Composition, and Collection (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2004),

[16] Ibid., 60-64

[17] Ibid., 90

[18] Ibid., 64

[19] Untuk penjelasan lebih detail, lihat: Ibid., 65-79

[20] Daniel Wallace, “What if We Found the Original New Testament but did not Know it?,” dalam http://www.reclaimingthemind.org, diakses tanggal 16 April 2008; Perrin dan Duling, The New Testament: An Introduction, 164

[21] Ada yang menduga bahwa Tertius adalah nama lain dari Silas karena baik dalam bahasa Ibrani (salish) maupun dalam bahasa Latin (tertios) memiliki arti yang sama, yaitu “third (officer)”. Selain itu, ada pula yang mengidentifikasi Tertius sebagai seorang Kristen Romawi yang berdiam di Korintus. Meskipun demikian, kita tidak memiliki referensi yang jelas mengenai siapakah Tertius sebenarnya (Lihat: S. F. Hunter, http://www.bible-history.com/isbe/T/TERTIUS, diakses tanggal 18 April 2008); bnd. Th. Van den End, Tafsiran Alkitab Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 711-712

[22] Pandangan ini masih merupakan wacana dalam diskusi tentang penulis surat-surat Pastoral (Baca: S. G. Wilson, Luke and the Pastoral Epistles [London: SPCK, 1979]); bnd. misalnya, Margaret Davies, The Pastoral Epistles (England: Sheffield Academic Press, 1996), 112-113

[23]Lihat: Ralph P. Martin, 2 Corinthians (Word Biblical Commentary, Volume 40; Dallas, Texas: Word Books, Publisher, 1998)

[24] William Ramsay, St. Paul, the Traveller and the Roman Citizen (London: Hodder & Stoughton, 1897), 94-97

[25] bnd. Ben Witherington, The Paul Quest: The Renewed Search for the Jew of Tarsus (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1998), 100

[26] Carson dan Moo menyebut isu ini sebagai sebuah isu krusial yang sering diperdebatkan khususnya dalam diskusi tentang kepenulisan surat-surat Pastoral (Lihat: An Introduction to the New Testament, 233-234)

[27] Richard N. Longenecker menulis, “Overall stylistic unity and comparative evidence that writer always takes responsibility for material written by amanuensis” (“Ancient Amanuenses and the Pauline Epistles,” dalam New Dimensions in New Testament Study, eds. R. N. Longenecker & M. C. Tenney [Grand Rapids: Zondervan, 1974], 297)

[28] Lihat: http://www.abu.nb.ca/courses/NTIntro/Rom.htm, diakses tanggal 18 April 2008

[29] Lihat: http://www.abu.nb.ca/Courses/NTIntro/Col.htm, diakses tanggal 18 April 2008

[30] Dikutip dalam: Osborne, Hermeneutical Spiral, 318

[31] Richards, Paul and First-Century Letter Writing, 92; kadang-kadang surat-surat bisnis juga menggunakan seorang composer di mana seorang budak (amanuensis) diminta untuk menuliskan sebuah surat kontrak berdasarkan petujuk awal dari majikannya.

[32] Ibid., 93

[33] Osborne, Hermeneutical Spiral, 318

[34] bnd. Witterington, The Paul Quest, 101

[35] Lih. daftar para sarjana yang menolak dan yang menerima kepenulisan Paulus, yang diberikan oleh:  I. Howard Marshall & P. H. Towner, A Critical and Exegetical Commentary on The Pastoral Epistles (ICC; Ediburgh: T & T. Clark, 1999) 58 & 67; juga dalam: L. T. Johnson, Letters to Paul’s Delegates: 1 Timothy, 2 Timothy, Titus (Valley Forge: Trinity Press International, 1996), 2-32

[36] Untuk penjelasan lebih jelasnya, lihat: Davies, The Pastoral Epistles, 105-109

[37] Udo Schnelle menolak bahwa penulis Surat-surat Pastoral memiliki beberapa fragmen dari Paulus. Namun ia percaya penulis Surat-surat Pastoral adalah salah seorang dari Pauline School yang tidak kita ketahui identitasnya. Penulis tersebut mungkin seorang yang terpelajar yang berasal dari lingkungan Kristen-Hellenis yang tinggal di Asia Kecil pada third Christian generation. Pendapat ini ia berikan berdasarkan situasi yang ia lihat dalam Surat-surat Pastoral, yang menurutnya berasal dari era tersebut (The History and Theology of New Testament Writtings [London: SCM Press, 1998], 332). Sebagai respons atas pendapat ini, kita tidak pernah mendapatkan bukti yang otentik bahwa memang pernah ada sebuah sekolah semacam itu, yang didirikan oleh atau berkiblat kepada Paulus.

[38] Paul Trebilco, The Early Christians in Ephesus from Paul to Ignatius (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2004), 196-202

[39] Misalnya, J. N. D. Kelly, A Commentary on The Pastoral Epistles (BNTC; London: A & C. Black, 1963), 21-27, 30-33; W. D. Mounce, Pastoral Epistles (WBC; Nashville: Thomas Nelson, 2000), xxix. Meskipun demikian, ada beberapa sarjana lain yang mengemukakan keberatan terhadap pandangan ini, antara lain: Marshall, A Critical and Exegetical Commentary on The Pastoral Epistles, 87-88; W. F. Taylor, “1-2 Timothy, Titus,” dalam The Deutero-Pauline Letters: Ephesians, Colossians, 2 Thessalonians, 1-2 Timothy, Titus, ed. G. Krodel (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 71; Trebilco, The Early Christians in Ephesus from Paul to Ignatius,201; Schnelle, The History and Theology of New Testament Writtings, 332

[40] Lihat: Richard N. Longenecker, “On the Form, Function, and Authority of the New Testament Letters,” dalam Scripture and Truth, ed. D. A. Carson & John D. Woodbridge (Grand Rapids: Zondervan, 1983), 101-114

[41] Carson & Moo,  An Introduction to the New Testament, 234

[42] Lih. E. E. Ellis, “Pastoral Letters,” Dictionary of Paul and His Letters,659-660

[43] Ibid., 661

[44] Lihat: Davies, The Pastoral Epistles, 111

[45] Arland J. Hultgren,  “The Pastoral Epistles,” dalam The Cambridge Companion to St. Paul, ed. James D. G. Dunn (Cambridge: The Cambridge University Press, 2004), 143-144

[46] Eusebius, Ecclesiastical History, 6.12.3

[47] Misalnya: The Gospel of Thomas atau The Gospel of Mary yang ditulis pada abad ke-2 di mana Tomas dan Maria (jika yang dimaksud di sini adalah Maria Magdalena) telah meninggal.

[48] Uraian representatif mengenai hal ini, lih. D. A. Carson, “Pseudonymity and Pseudopigraphy,” dalam Dictionary of New Testament Background,

[49] Lihat keberatan yang diajukan oleh Schenelle, The History and Theology of New Testament Writtings, 332

[50] Tremper Longman, secara singkat menunjukkan bahwa dalam kitab-kitab PL (kitab-kitab Taurat, Amsal, Mazmur, dll), keterlibatan pihak lain selain penulis kitab-kitab tersebut, yang dapat disebut sebagai editor atau kolektor (Memahami Perjanjian Lama [Malang: SAAT, 2001], 26)

[51] Richards, Paul and First-Century Letter Writing, 228

[52] Co-author Paulus

[53] Richards, Paul and First-Century Letter Writing, 228

[54] Ibid., 229

[55] Osborne, Hermeneutical Spiral, 318

[56] Richard A. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms: Drawn Principally from Protestant Scholastic Theology (Grand Rapids, Michigan: Bakers Book House, 1998), 31

[57] Daniel B. Wallace, “Inerrancy and the Text-Critical Problem in Roman  5:1,” dalam http://www.bible.org/page.php?page_id=1156, diakses 20 April 2008

[58] Doktrin ini mengajarkan bahwa para penulis Alkitab diinspirasikan oleh Allah tanpa menghilangkan unsur kemanusiaan mereka, termasuk latar belakang sosial, budaya, dan pendidikan mereka. Dengan kata lain, inspirasi Allah tidak menjadikan para penulis Alkitab itu sebagai superman.

[59] Jakob Van Bruggen, Siapa yang Membuat Alkitab? Mengenai Penyelesaian dan Kewibawaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Surabaya: Momentum, 2002), 125

[60] Herman Bavinck memberikan sebuah pembelaan representatif terhadap doktrin ini (lih. Reformed Dogmatics: Prolegomena, ed. John Bolt, trans. John Vriend, Volume 1 (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2003), 439-448

[61] Tentu diskusi mengenai peran amanuensis sangat bermanfaat misalnya dalam menjawab diskusi mengenai authorship surat-surat tertentu, tetapi ini harus dibedakan dari isu mengenai apakah para amanuensis tersebut diinspirasikan atau tidak.

[62] Lih. Van Bruggen, Siapa yang Membuat Alkitab?, 123dst ‘khususnya bab 7: Bisa Salah, Tanpa Salah, atau Layak Dipercaya’

[63] Pengakuan akan kewibawaan Alkitab adalah persoalan teologis dan bukan persoalan logika semata. Keyakinan bahwa Alkitab berotoritas (keyakinan teologis) menuntun kita untuk memikirkan implikasinya dalam kaitan dengan keseluruhan proses penulisannya (konsekuensi logis).

[64] J. I. Packer percaya bahwa bukan para penulis yang diinspirasikan, melainkan teksnya. Allah memberikan para penulis tersebut  “ide”, tetapi Allah membiarkan mereka menggunakan cara mereka sendiri untuk mengungkapkan ide tersebut (“Inspiration,” dalam The New Bible Dictionary [Wheaton, Illinois: Tyndale House Publishers, Inc., 1962])