Konsep dasar penafsiran Alkitab (Biblical Interpretation) yang saya maksudkan di sini berkenaan dengan pengertian serta cakupan-cakupan makna yang terkandung di dalam tiga istilah kunci dalam bidang penafsiran Alkitab, yakni: Pertama, hermeneutik; kedua, eksegesis; dan ketiga, eksposisi.

Berikut ini saya akan menjelaskan secara sederhana pengertian dan batasan-batasan yang terbentuk dari istilah ini, serta korelasinya satu sama lain.

A. Hermeneutik
Istilah hermeneutik berasal dari kata bahasa Yunani: hermeneuo, yang secara literal berarti: “menyampaikan [sebuah pemikiran atau keinginan]”; “menjelaskan [sebuah ucapan]”; “menerjemahkan [sesuatu dari satu bahasa ke bahasa lainnya]”. Secara historis, kata ini berhubungan dengan nama dewa Hermes dalam mitologi Yunani. Dewa Hermes adalah dewa yang bertugas menyampaikan berita atau menjelaskan hasil keputusan para dewa di khayangan bagi manusia. Dewa ini juga disinyalir sebagai dewa ilmiah, penemuan, kefasihan bicara, seni tulis, dsb.

Memang sejak zaman kuno, kata hermeneutik sudah dipakai dalam arti “menafsir” atau “memberikan penjelasan [terhadap sesuatu yang tidak atau kurang jelas]”. Meski begitu, baru pada abad 17 Masehi, kata ini digunakan sebagai istilah teknis yang merujuk kepada teori-teori penafsiran, ketika kata bahasa Latin: hermeneutica dipakai dalam arti ini.

Kalau begitu, apa pengertian hermeneutik dalam hubungan dengan menafsirkan Alkitab? Sebenarnya dalam penjelasan di atas, kita sudah dapat menangkap gambaran umum mengenai pengertiannya dalam hubungan dengan menafsirkan Alkitab. Meski begitu, saya perlu menegaskan bahwa secara teknis, kata ini jika dihubungkan dengan penafsiran Alkitab, memiliki tiga aspek pengertian yang berbeda namun berkaitan erat, yaitu: Pertama, hermeneutik sebagai ilmu. Dalam aspek ini, kata hermeneutik digunakan dalam arti ilmu yang mempelajari tentang proses penafsiran Alkitab. Proses penafsiran ini mencakup: langkah-langkah atau hukum-hukum atau metode-metode atau prinsip-prinsip yang dijadikan acuan dalam penyelidikan dan penafsiran Alkitab. Kedua, hermeneutik sebagai seni. Dalam hal aspek ini, yang ditekankan adalah pengembangan kecakapan atau ketrampilan seorang penafsir sehingga makin lama makin cakap dan terampil dalam menafsirkan Alkitab. Dan ketiga, hermeneutik sebagai sebuah tindakan spiritual. Pemahaman dari aspek ini adalah bahwa hermeneutik bukan sekadar sebuah ilmu dan proses pengembangan kecakapan menafsir, melainkan juga dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani si penafsir termasuk pertumbuhan rohani komunitas Kristen secara umum.

B. Eksegesis
Istilah berikut yang berkaitan erat dengan hermeneutik adalah istilah eksegesis (Exegesis). Kata ini berasal dari kata bahasa Yunani: eksegeomai (bnd. Yoh. 1:18; Kis. 10:8; 15:12, 14; 21:19). Secara literal, kata ini berarti “menggali keluar” atau  “memimpin keluar” (to lead out).

Dalam hubungan dengan penasiran Alkitab, eksegesis berarti penerapan langkah-langkah atau metode-metode atau prinsip-prinsip hermeneutik dalam menemukan arti atau maksud mula-mula dari si penulis kepada pembaca mula-mula dari teks yang hendak ditafsirkan [perhatikan penekanan saya pada kata-kata yang dimiringkan]. Definisi ini merujuk kepada dua hal, yaitu: Pertama, eksegesis adalah penerapan dari hermeneutik. Hermeneutik adalah ilmunya sedangkan eksegesis adalah penerapan dari ilmu tersebut. Kedua, fokus dan tujuan penyelidikan eksegesis adalah mencari tahu atau menemukan maksud atau arti mula-mula dari penulis kepada pembaca mula-mula (what it meant). Fokus ini merupakan sebuah keharusan karena Alkitab memang ditulis bagi (for) kita tetapi tidak untuk (to) kita. Maksudnya, Alkitab ditulis pada satu masa atau jaman tertentu yang tentu penulisannya berkait dengan masa atau jaman yang bersangkutan.

Pada umumnya, para ahli membagi langkah-langkah eksegesis menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, langkah-langkah umum (ada juga yang menyebutnya: “Hermeneutik Umum” – General Hermeneutics); dan kedua, langkah-langkah khusus (ada yang menyebutnya: “Hermeneutik Khusus” – Special Hermeneutics). Yang dimaksud dengan langkah-langkah umum adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan pada semua kitab di dalam Alkitab. Sedangkan yang dimaksud dengan langkah-langkah khusus adalah langkah-langkah yang hanya bisa diterapkan sesuai dengan jenis sastra (genre) dari teks yang hendak ditafsirkan. Mengenai detail dari kedua kategori langkah eksegesis ini akan saya tulis dalam artikel tersendiri.

C. Eksposisi
Istilah eksposisi dalam hubungannya dengan penafsiran Alkitab merujuk kepada aplikasi kontemporer (masa kini) atas dasar hasil penyelidikan eksegesis yang sudah dilakukan (what it means). Eksposisi itu biasanya dapat berupa, misalnya: devosi (saat teduh pribadi) dan khotbah (sermonic).

D. Hubungan: Hermeneutik, Eksegesis, dan Eksposisi
Mengakhiri artikel ini saya akan fokus menjelaskan tentang hubungan antara: Hermeneutik, eksegesis, dan eksposisi dalam sebuah bagan sederhana di bawah ini.

Bagan di atas menekankan sebuah urutan yang penting dalam penafsiran Alkitab. Pertama-tama, seorang penafsir harus melakukan eksegesis. Setelah itu, atas dasar hasil penyelidikan eksegetis tersebut, barulah si penafsir boleh menarik aplikasi atau signifikansi atau penerapannya untuk kebutuhan masa kini. Jadi, dari eksegesis baru ke eksposisi. Tidak boleh dibalik! Bersambung🙂