TEKS

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;”

 TUDUHAN

S

udah lebih dari sekali, beberapa anggota CLDC menampilkan tuduhan bahwa Alkitab telah diubah-ubah. Salah satu “bukti” yang mereka angkat adalah terjemahan kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14. Menurut mereka, terjemahan yang tepat dari kata ini bukan “Tuhan” melainkan “tuan”.[1] Kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 disinyalir sebagai bukti bahwa telah terjadi pemalsuan makna dalam Alkitab. Selain itu, untuk mencari dukungan tambahan, mereka juga menyatakan bahwa sebenarnya kata Yunani yang berarti “Tuhan” adalah theos bukan kyrios.

Tentu saja, selain alasan pemalsuan Alkitab, asumsi yang terbonceng di balik tuduhan di atas adalah bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Yesus sekadar manusia biasa. Tidak lebih.

EKSEGESIS APOLOGETIS

S

sebagai tanggapan, saya akan memusatkan perhatian pada terjemahan kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14. Saya tidak akan menyorot asumsi di balik tuduhan di atas. Menurut saya, bantahan terhadap tuduhan di atas akan dengan sendirinya menggugurkan asumsi di baliknya.

Spektrum Arti Kata Kyrios dan Theos
Tuduhan di atas menunjukkan dengan jelas mengenai ketidaktahuan mereka akan keragaman arti kata (leksikal) di dalam bahasa Yunani. Kata kyrios sebenarnya memiliki arti yang beragam, bukan cuma satu arti. Kata kyrios bisa berarti: “Tuhan”, “tuan”, “pemilik”, “penguasa”, “suami”, dsb.[2] Itulah sebabnya, untuk menentukan arti dan terjemahan yang tepat, penelitian akan kontekslah yang sangat menentukan. Misalnya kyriou (genetif tunggal dari kata kyrios) dalam Lukas 1:66 diterjemahkan dalam semua versi dengan “Tuhan”. Mengapa? Karena konteksnya menentukan bahwa kata ini mesti diterjemahkan demikian. Selanjutnya, mengenai terjemahan “tuan” dari kata kyrios, terdapat misalnya dalam Matius 10:25. Kata kyrios dalam ayat ini diterjemahkan dengan “tuan”. Mengapa? Sekali lagi, karena konteksnya menentukan demikian. Jadi tuduhan di atas merupakan reduksi terhadap arti kata kyrios, seolah-olah kata ini semata-mata berarti “tuan”.

Selanjutnya saya akan mengulas secara singkat mengenai opini bahwa kata Yunani yang berarti “Tuhan” adalah theos dan kata kyrios berarti “tuan”. Dalam kategori penerjemahan, para penerjemah PB konsisten menerjemahkan kata theos dengan “Allah” (Inggris: God) dan tidak pernah diterjemahkan dengan kata “Tuhan” (Inggris: Lord). Sebagai catatan tambahan, kata theos, sebagaimana kata kyrios tidak hanya punya satu arti. Kata theos bisa berarti “Allah” (God), bisa juga berarti: “ilah” atau “dewa” (god). Dan seperti penjelasan saya di atas, kontekslah yang menentukan arti apa yang dirujuk. Sebagai contoh, kata theon (akusatif tunggal dari kata theos) dalam Lukas 13:13 diterjemahkan dengan “Allah”. Mengapa demikian? Kontekslah yang menentukan penerjemahannya. Di sisi lain, dalam Kisah 19:26, kata theoi. (nominatif jamak dari kata theos) diterjemahkan dengan “dewa-dewa”). Sekali lagi, kontekslah yang menetukan penerjemahannya dalam ayat ini.

Jika demikian, berdasarkan konteksnya, terjemahan yang manakah yang cocok untuk kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan menguraikan dua pokok penting yang menjadi landasan jawaban saya. Dua pokok ini adalah: Pertama, ulasan tentang kecenderungan dan kekhasan penggunaan kata didaskalos dan kyrios dalam Injil Yohanes; dan kedua, sebuah elaborasi ringkas mengenai struktur naratif Yohanes 13:1-20.

Kekhususan Penggunaan Didaskalos dan Kyrios dalam Injil Yohanes
Merupakan sesuatu hal yang menarik untuk mencermati kecenderungan dan kekhasan penggunaan kata didaskalos dan kata kyrios dalam Injil Yohanes. Dalam Injil Yohanes, penggunaan kata didaskalos dan kyrios oleh para Murid terhadap Yesus, menunjukkan adanya suatu progress. Pada awalnya, kedua belas murid Yesus (juga Nikodemus) menyebut Yesus dengan sebutan Rabbi (kata bahasa Aram yang padanannya dalam bahasa Yunani adalah didaskalos: “Guru”; lih. Yoh. 1:38, 49; 3:2; 4:31). Di sisi lain, orang-orang lain (misalnya, wanita Samaria, seorang bangsawan dari Kapernaum, orang sakit di Behtesda, dan orang yang buta sejak lahir) menyebut Yesus: kyrie (bentuk vokatif dari kata kyrios). Kata kyrie dalam sebutan orang-orang ini digunakan dalam arti “tuan”, di mana dalam arti ini, kata kyrie sebenarnya berarti sama seperti rabbi (juga rabbouni – Yoh. 20:16; Inggris: Sir; lih. Yoh. 4:11-19, 49; 5:7; 9:36).[3]

Meski begitu, ketika Yesus mengakhiri pidatonya tentang “Roti Hidup” yang disampaikan pada akhir periode pelayanan-Nya di Galilea, Petrus menyapa Yesus dengan kata kyrie (“Tuhan”; Yoh. 6:68). Orang banyak yang hadir pada waktu itu mulai mengganti sebutan mereka terhadap Yesus dari sebutan Rabbi menjadi kyrie (Lord; lih. Yoh. 6: 25, 34). Hanya tiga kali sesudah peristiwa ini, kita mendapati para murid menyebut Yesus dengan sebutan Rabbi (Yoh. 9:2; 11:8; dan 20:16). Sesudah Yohanes 11:8, para murid dan juga beberapa perempuan yang mengikut Yesus (Maria dan Martha), mulai secara regular menyebut Yesus dengan sebutan: kyrie (dalam arti “Tuhan”; Yoh. 11:12, 21, 27, 32, 34, 39; 13:6, 9, 25, 36, 37; 14:5, 8, 22; 20:2, 13, 18, 20, 25, 28; 21:7, 12, 15, 16, 17, 20, 21). Penggunaan kata kyrie ini digunakan baik untuk menyapa Yesus, maupun digunakan sebagai kata ganti orang ketiga tunggal [bagi Yesus].

Sampai di sini, memang kita belum dapat membangun ide yang jelas mengenai kecenderungan penggunaan kata didaskalos (Rabbi) dan kyrios bagi Yesus dalam Injil Yohanes. Para murid mungkin masih tetap menggunakan kata Rabbi atau didaskalos untuk menyapa Yesus (bnd. Yoh. 13:13, 14; mengenai ayat ini, saya akan memberikan ulasannya di bawah). Namun pada kenyataannya, sesudah narasi tentang kebangkitan Yesus, sapaan Rabbi bagi Yesus benar-benar sudah tidak digunakan lagi, sementara sapaan kyrie mulai secara konstan (tetap) digunakan dalam arti “Tuhan”. Memang dalam Yohanes 20:15 (pasca kebangkitan Yesus), kata kyrie di sini diterjemahkan dengan “tuan”. Namun, terjemahan ini tidak menggugurkan fakta di atas. Kata kyrie di sini digunakan dalam nuansa arti “tuan” karena para wanita yang datang ke kubur Yesus, saat itu belum mengenali Yesus yang sudah bangkit.

Ide yang tampak dalam penjelasan di atas adalah bahwa secara gradual (bertahap) terjadi penggantian (substitution) arti kata kyrie dalam nuansa arti yang sama seperti Rabbi, menjadi “Tuhan”. Dan inilah yang menjadi keunikan pengisahan Yohanes mengenai bagaimana para murid dan orang-orang di sekitar Yesus mengenali siapa Yesus sebenarnya.[4] Awalnya mereka menggunakan sebutan Rabbi atau didaskalos dalam nuansa arti yang serupa dengan sapaan kyrie. Namun secara perlahan, mereka mulai menyapa Yesus dengan sebutan kyrie dalam arti “Tuhan”.[5]

Elaborasi Struktur Naratif
Yohanes 13:13-14 terdapat dalam narasi unik Injil Yohanes[6] yang mengisahkan tentang Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (13:1-20). Terungkap dari narasi ini bahwa peristiwa pembasuhan kaki tersebut terjadi menjelang hari raya Paskah, dimana “waktu”[7] Yesus sudah hampir tiba (13:1).

Narasi ini secara struktural dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: a) pendahuluan [13:1-4]; b) keteladanan Yesus dalam membasuh kaki murid-murid-Nya [13:4-11]; dan c) signifikansi dari keteladanan Yesus [13:12-20].

Bagian pertama (13:1-3), memuat beberapa elemen kunci dalam teologi Injil Yohanes, yakni:[8]

  • Kemampuan supranatural Yesus dalam mengetahui “saat-Nya” (bnd. Yoh. 12:23; 17:1);
  • Kasih Yesus terhadap para pengikut-Nya (bnd. Yoh. 1:11);[9]
  • Bapa menyerahkan segala sesuatu dalam tangan Anak (bnd. Yoh. 3:35);
  • Fakta bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi dan akan kembali ke dalam kemuliaan-Nya (bnd. Yoh. 16:28); dan
  • Perlawanan iblis, khususnya dengan memakai Yudas Iskariot,[10] terhadap karya Allah di dalam Kristus (bnd. Yoh. 12:31; 13:27).

Bagian kedua (13:4-11), Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.[11] William Hendricksen[12] mengemuka-kan tiga makna (saya menggabungkan makna pertama dan kedua karena menurut saya identik) yang dapat diangkat dari tindakan pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus dalam narasi ini, yaitu:

  • Tindakan ini merupakan elemen esensial dalam perendahan Diri Kristus. Air yang digunakan untuk pembasuhan fisik merupakan simbol  dari khasiat kerelaan Kristus dalam mengorbankan Diri-Nya bagi umat-Nya[13] dan juga karya pengudusan Roh Kudus. Jadi dalam kategori ini, tindakan pembasuhan tersebut merupakan simbol dari pembasuhan rohani dan pelayanan yang rendah hati;[14]
  • Tindakan ini merupakan sebuah contoh nyata tentang perendahan diri yang patut dimiliki oleh para pengikut Yesus (13:15).[15]

Sejumlah penafsir mengusulkan bahwa tindakan pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus ini memiliki signifikansi sakramental, yakni merujuk kepada sakramen baptisan kudus (bnd. Yoh. 3:5). Saya mengikuti tafsiran Schreiner bahwa pembasuhan kaki dalam narasi ini tidak merujuk secara langsung kepada baptisan Kristen. Namun, pembasuhan dengan air dalam narasi ini dapat merujuk juga kepada pembasuhan dosa yang ditandai secara simbolik melalui baptisan. Sama seperti frasa “roti hidup” tidak merujuk kepada perayaan Eukaristi, tetapi ungkapan ini memiliki kaitan tidak langsung (kaitan sekunder) dengan Perjamuan Malam.[16]

Bagian ketiga (13:12-20), merupakan signifikansi dari tindakan pembasuhan kaki tersebut yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pokok utama yang sering didiskusikan adalah apakah dalam pengajaran-Nya, Yesus menganjurkan agar para pengikut-Nya terus-menerus menerapkan semacam ordinansi pembasuhan kaki? Jawabannya adalah tidak! Praktik pembasuhan kaki adalah praktik yang dibatasi oleh konteks sosial-budaya pada waktu itu. Sedangkan, hal utama yang ditekankan dalam narasi ini adalah perendahan diri. Artinya, hal yang dianjurkan di sini bukanlah “membasuh kaki” melainkan “merendahkan diri”. Maksud ini terlihat dalam penggunaan kata hupodeigma (literal: “sebuah contoh” atau “sebuah salinan”). Pembasuhan kaki adalah “sebuah contoh” dari sikap perendahan diri Yesus. Tepat sekali yang dilontarkan oleh Hendricksen, “…apa yang dimaksudkan Yesus di sini bukanlah sebuah ritual lahiriah melainkan sebuah sikap batin, yaitu perendahan diri dan hasrat untuk melayani.”[17]

Berdasarkan ulasan di atas, saya ingin menekankan kembali pokok pikiran yang dapat dijadikan landasan untuk menerjemahkan kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14. Pokok pikiran yang saya maksudkan adalah bahwa narasi ini menyingkapkan baik kesadaran diri Yesus sebagai figur ilahi yang terkarakterisasi dalam pasal 13:1-3, maupun kerelaan Yesus untuk merendahkan Diri-Nya dalam memberi teladan bagi para murid (Yoh. 13:4-20).

Ho Kyrios (Yoh. 13:13-14): “Tuhan” atau “Tuan”?
Beberapa penafsir menolak bahwa kata didaskalos  dan kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 digunakan dalam kasus[18] vokatif (sapaan). Menurut mereka, kedua kata ini berkasus nominatif. Alasannya, dalam tata bahasa Yunani, kasus vokatif tidak menggunakan kata sandang tertentu (definite article). Baik kata didaskalos maupun kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 menggunakan kata sandang tertentu: ho (The). Saya setuju bahwa kata didaskalos dan kyrios dalam bagian ini bukan berkasus vokatif melainkan nominative of appellation.[19] Hendricksen[20] mempertahankan kasus vokatif dari kata didaskalos dan kyrios dalam bagian ini. Menurut Hendricksen, dalam bahasa Yunani, penggunaan kata sandang untuk kata benda berkasus vokatif bukanlah sesuatu yang tidak familiar (lih. Yoh. 20:28; Why. 4:11; 6:10; 15:3; bnd. Mat. 11:26; Mrk. 5:41; 9:25; Luk. 8:54; 12:32).[21] Akan tetapi, selain alasan penggunaan kata sandang tertentu di atas, jika Yohanes bermaksud menggunakan kata didaskalos dan kyrios dalam bentuk vokatif, seharusnya ia menggunakan kata didaskale dan kyrie (kasus vokatif dari kata didaskalos dan kata kyrios).

Mengenai terjemahan dari kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 akan saya tentukan berdasarkan dua ide pokok yang terpapar di atas. Pertama, kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 kemungkinan besar tidak boleh diterjemahkan dengan “tuan” tetapi “Tuhan”. Mengapa? Kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 digunakan secara berpasangan dengan kata didaskalos. Jika kata kyrios diterjemahkan dengan “tuan”, maka akan terjadi tumpang tindih makna. Mengapa tumpang tindih makna? Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, kata didaskalos pun, dalam Injil Yohanes, digunakan dalam nuansa arti yang senada dengan kata kyrios. Bila dalam kalimat ini Yesus bermaksud berbicara tentang diri-Nya semata-mata dalam arti “tuan”, maka ia tidak perlu menggunakan kedua kata ini secara berpasangan di sini.[22]

Kedua, dasar yang paling jelas mengenai penerjemahan kata kyrios di sini terdapat dalam uraian mengenai struktur naratif dari Yohanes 13:1-20. Dalam uraian tersebut, kita mendapatkan rujukan bahwa kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 harus diterjemahkan dengan “Tuhan” dan bukan sekadar “tuan”. Mengapa? Yohanes dalam bagian pendahuluan narasi ini (13:1-3) menyingkapkan karakteristik-karakteristik ilahi Yesus (lihat penjelasan di atas). Dan itu berarti bahwa kata kyrios dalam ayat 13 tidak mungkin sekadar berarti “tuan”. Karena narasi ini tidak sedang bicara tentang “seorang tuan” yang menjadi “hamba”, melainkan lebih daripada itu: “Tuhan” yang “menghambakan” (merendahkan) Diri-Nya![23]

Kesimpulan
Berdasarkan dua alasan di atas, saya menyimpulkan bahwa kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14 mestinya diterjemahkan dengan “Tuhan”, bukan “tuan”.

Meski begitu, saya perlu menandaskan satu hal, bahwa baik penerjemahan “Tuhan” maupun “tuan” terhadap kata kyrios dalam Yohanes 13:13-14, sebenarnya tidak berurusan dengan “perubahan makna Alkitab”. Hal ini semata-mata berhubungan dengan pertimbangan arti kata dalam konteks pemahaman para murid terhadap siapa Yesus sebenarnya dalam perjumpaan dan pengiringan mereka bersama Yesus.


[1] Usulan penerjemahan kata kyrios dalam Yohanes 13:13 dengan “tuan” (Master), memang tidak hanya berasal dari pihak para penuduh di atas. George R. Beasley-Murray dalam komentarnya juga mengusulkan terjemahan ini (lih. John [Software version of WBC vol. 36; Dallas, Texas: Word Books Publisher, 1998]). Meski begitu, perlu diperjelas bahwa Beasley-Murray tidak mengasumsikan tuduhan bahwa dengan demikian telah terjadi penyelewangan makna bila kata kyrios dalam ayat ini diterjemahkan dengan “Tuhan”.

[2] Lih. H. Bietenhard, “Lord, Master,” dalam The New International Dictionary of New Testament Theology, Vol. 2, ed. Collin Brown (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1976), 508-519.

[3] Kata kyrie juga digunakan dalam Yohanes 9:38, namun mayoritas penerjemah menerjemahkan kata ini dengan “Tuhan” (Lord). Kata rabbi pada dasarnya berarti “besar” atau “mulia”. Kata ini digunakan untuk orang-orang yang dihormati, misalnya: seorang pangeran dalam hubungan dengan rakyatnya, seorang guru dalam hubungan dengan murid-muridnya, atau seorang tuan dalam hubungan dengan budaknya. Bahkan bangsa Samaria tidak jarang menggunakan kata rabbi sebagai sebutan untuk Tuhan. Untuk ulasan lebih detail tentang sejarah perkembangan arti kata rabbi-didaskalos serta signifikansi penggunaannya dalam konteks-konteks yang berbeda, lihat: “didaskaloj,” dalam TDNT, vol. II, ed. Gerhard Kittel, trans. Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1974), 148-159.

[4] Lih. Gerhardus Vos, The Self-Disclosure of Jesus (New York: 1926), 117-139.

[5] Salah satu narasi terpanjang dalam Injil Yohanes, juga menyajikan progresivitas arti penggunaan kata kyrios bagi Yesus, yaitu narasi tentang Perempuan Samaria (Yoh. 4). Progresivitas tersebut dimulai dari: “orang asing” – “nabi” – “mungkinkah Ia adalah Kristus?” – “percaya”.

[6] Narasi ini tidak terdapat dalam Injil-injil Sinoptik.

[7] Kata “waktu” (Yunani: hora, literal: “jam”, “saat”) di sini merujuk kepada kematian hingga kenaikan Yesus ke sorga.

[8] Beberapa penekanan teologis dalam bagian ini dikutip dari: Beasley-Murray, John, Software version of WBC vol. 36. R.H. Strachan mengomentari Yohanes 13:1-3 bahwa melalui bagian ini Yohanes ingin menekankan proposisi-proposisi teologis tentang kesadaran diri Ilahi Yesus yang nantinya dikombinasikan dengan tindakan humiliasi (perendahan diri) Yesus yang tergambar dalam ayat 4-5(The Fourth Gospel: Its Significance and Environment [London: SCM, 1945], 265).

[9] Marianne Meye Thompson menandaskan bahwa kerelaan Yesus untuk mati bagi para pengikut-Nya merupakan bukti yang sangat signifikan dari kasih-Nya (The Humanity of Jesus in the Fourth Gospel [Philadelphia: Fortress, 1988], 99. Dalam IVP-NTC versi online, dinyatakan bahwa lontaran tentang “kasih” dalam pembukaan Yohanes 13, merupakan istilah kunci di dalam Yohanes 13-17, dimana istilah ini muncul sebanyak 31 kali dalam 5 pasal ini (lih. http://www.biblegateway.com/resources/ commentaries/IVP-NT/John/Jesus-Washes-Disciples-Feet, diakses tanggal 20 November 2011).

[10] Garry M. Burge berkomentar bahwa Yohanes 13:2 yang berisi catatan tentang Yudas Iskariot mengingatkan kita bahwa Yesus sungguh sadar akan harga yang harus ia bayar demi kasih-Nya kepada para pengikut-Nya (John [NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000], 368).

[11] Pembasuhan kaki merupakan sesuatu yang sangat familiar dipraktikkan pada masa Greco-Roman (Yunani-Romawi) dan juga dalam kebudayaan Yahudi abad pertama. Pada masa itu, pembasuhan kaki dilakukan karena beberapa alasan, yaitu: Pertama, jalan-jalan setapak yang ada pada waktu itu sangat berdebu, sehingga orang yang baru saja bepergian harus membasuh debu yang menempel pada kakinya sebelum memasuki rumah. Kedua, pembasuhan kaki yang dilakukan oleh tuan rumah terhadap tamunya sebagai wujud keramahtamahan (bnd. Kej. 18:4; 19:2; 24:32; 43:24; Hak. 19:21; 1Sam. 25:41; Luk. 7:36-50). Ketiga, pembasuhan kaki dilakukan karena alasan keagamaan, yaitu sebagai tindakan pembasuhan sebelum memasuki Sabath. Pembasuhan ini dilakukan pada tangan dan kaki dengan menggunakan air hangat.  Dalam 1 Timotius 5:10, tampaknya tindakan membasuh kaki dilakukan oleh orang-orang Kristen sebagai simbol perendahan diri (lih. Burge, John, 368-369; John Stambaugh & David Balch, Dunia Sosial Kekristenan Mula-mula [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004], 128). Dalam kebudayaan Yunani, pembasuhan kaki biasanya dilakukan oleh seorang budak terhadap tuannya.

[12] William Hendricksen, The Gospel of John (NTC; London: The Banner of Truth Trust, 1959), 234.

[13] Lih. Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008), 285-286. Kata tithemi (“menanggalkan” – ay. 4) dan kata labon (aorist aktif dari kata lambano, yang berarti “mengambil” – ay. 4) merupakan kata-kata [yang mungkin] secara tidak langsung merujuk kepada dua event penting dalam perendahan diri Kristus, yaitu: Inkarnasi (bnd. Flp. 3:5-9), dimana Kristus meninggalkan kemuliaan sorgawi-Nya untuk menjadi manusia dan penyaliban-Nya, dimana Kristus mengambil cawan murka Allah (lih. IVP-NTC versi online, http://www.biblegateway. com/resources/commentaries/IVP-NT/John/Jesus-Washes-Disciples-Feet, diakses tanggal 20 November 2011).

[14] Donald Guthrie, John, eds. G.J. Wenham, et al (NBC; Downers Grove, Illinois/Nottingham: IVP Academic/Inter-Varsity Press, 2007), 1053.

[15] Tampaknya ide ini terkandung juga di dalam 1 Yohanes 4:11 (lih. Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach [Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2005], 564).

[16] Schreiner, New Testament Theology, 712.

[17] Hendricksen, The Gospel of John, 236. Meskipun 1 Timotius 5:10 tampaknya menjadi bukti bahwa orang-orang Kristen pada masa Paulus tetap mempraktikan hal ini, namun seperti yang sudah disinggung di atas, konteks sosial-budaya pada masa Paulus identik dengan masa hidup Yesus. Jadi rujukan dalam 1 Timotius 5:10 tidak dapat dijadikan alasan bahwa orang-orang Kristen pada masa ini mesti mempraktikan pembasuhan kaki sebagai sebuah ritual wajib.

[18] Kata “kasus” dalam tata bahasa Yunani digunakan dalam arti “fungsi kata benda dalam kalimat”. Jangan disalahartikan seolah-olah kata “kasus” di sini berhubungan dengan “masalah” atau “kriminalitas”. Tidak!

[19] Nominative of Appellation adalah jenis kasus nominatif yang merujuk kepada fungsi kata benda sebagai subjek yang menjelaskan karakter khusus dari subjek sebuah kalimat (lih. Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament [Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1996], 61).

[20] Hendricksen, The Gospel of John, 234-235.

[21] Para penafsir yang mengategorikan kata didaskalos dan kyrios dalam kasus nominatif (subjek pelengkap), memahami kalimat ini sebagai berikut: “Kalian menyebut Aku sebagai guru dan Tuhan kepada orang lain”. Para penafsir yang mengategorikan kata didaskalos dan kyrios dalam kasus vokatif, memahami kalimat ini sebagai berikut: “Kalian memanggil Aku guru dan Tuhan”.

[22] Dalam tata bahasa Yunani, penempatan kata di dalam kalimat biasanya menunjukkan adanya penekanan. Kata yang ditempatkan di awal sebuah kalimat biasanya merupakan kata yang mendapat penekenanan dalam kalimat tersebut. Dalam Yohanes 13:13, kata “kalian” (Yunani: humeis, yang merujuk kepada “para murid Yesus”) adalah kata pertama. Bila hal ini dibandingkan dengan Matius 23:8, tampaknya kata “kalian” dalam Yohanes 13:13 mengindikasikan adanya nuansa kontras antara bagaimana para murid dan orang-orang lain dalam hal pandangan mereka tentang Yesus. Maksudnya, bagi para murid, Yesus adalah “guru” dan Tuhan”, sedangkan bagi orang-orang tidak demikian.

Atas dasar ide ini, bila yang ingin ditekankan adalah arti “tuan” dari kata kyrios dalam Yohanes 13:13, maka sekali lagi, kedua kata ini tidak perlu digunakan berpasangan. Karena pada dasarnya, baik kata didaskalos maupun kata kyrios mengandung nuansa arti tersebut.

[23] Lih. Andreas J. Kostenberger, John (BECNT; Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2004), 408; Colin G. Kruse, The Gospel According to John: An Introduction and Commentary (TNTC; Surabaya: Momentum, 2007), 283-284.