Ada orang yang bersikap pesimis terhadap urgensi eksegesis. Orang seperti ini biasanya berkata, “Saudara tidak perlu menafsir Alkitab; baca saja, dan laksanakan apa yang saudara baca!”

Merurut Fee dan Stuart, pesimisme seperti ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap kecenderungan kaum cendekiawan Kristen (Pendeta, Penginjil, Guru Sekolah Minggu, Dosen, dsb) yang berusaha menjelaskan Alkitab dengan cara yang memberikan kesan seolah-olah Alkitab berada di luar jangkauan pengertian orang Kristen awam. Dengan sanggahan di atas, mereka ingin mengajukan bantahan bahwa Alkitab bukanlah buku yang tidak jelas artinya. Ada kemungkinan lain di mana sanggahan atau pesimisme tersebut mengarah kepada fakta praktis yang mereka lihat sehari-hari. Mereka menemukan bahwa beberapa penafsir, pengajar, pendeta, dsb yang kelihatannya memiliki kualifikasi yang menempatkan tafsiran mereja pada kualitas yang baik, namun tidak disertai dengan integritas hidup yang sepadan dengan pengajarannya. Mereka bukan kekurangan pengertian, sebab kenyataannya mereka sangat memahami banyak hal seputar Alkitab! Persoalannya terletak pada praktiknya (mis. Fil. 2:14).[1]

Mengapa kita harus melakukan eksegesis terhadap Alkitab? Apakah tidak cukup hanya dengan membaca? Bukankah pengertian yang jelas itu diperoleh melalui membaca?

Fee dan Stuart menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas: “Dalam arti tertentu memang benar. Tetapi dalam arti yang lebih tepat, alasan sedemikian itu bersifat naïf dan tidak realistis karena dua faktor, yaitu si pembaca dan sifat firman Tuhan”.[2] Di satu sisi, Alkitab mengajarkan kepada kita kebenaran-kebenaran kekal yang timeless, namun di sisi lain, kebenaran-kebenaran itu diwahyukan dalam konteks zaman tertentu di dalam sejarah.[3] Dalam arti yang terakhir ini, kita dituntut untuk mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan konteks zaman ketika firman Tuhan diwahyukan.

Seseorang pernah menulis demikian:

The bible was written for you, but that does not mean all of it was written to you.

Persoalannya, ketika kita ingin mengetahui konteks zaman pewahyuan, kita terhalang oleh beberapa jurang pemisah (gap) di bawah ini:

  • Gap sejarah (Historical Gap), di mana disebabkan oleh kenyataan bahwa adanya pembagian/perbedaan waktu yang sangat panjang antara para penulis awal dengan pembaca.
  • Gap budaya (Cultural Gap),  di mana adanya perbedaan kebudayaan antara Ibrani kuno dengan kebudayaan manusia masa kini.
  • Gap bahasa (Linguistic Gap),  Alkitab ditulis dalam bahasa Ibrani Aram dan Yunani yang struktur dan ungkapan-ungkapannya sangat berbeda dengan bahasa kita.
  • Gap filosofis (Philosophical Gap), pandangan tentang hidup, keadaan dan keberadaan hal umum berbeda di antara kebudayaan-kebudayaan yang beragam untuk mengirimkan pesan dari suatu kebudayaan ke kebudayaan yang lain, seorang penerjemah atau pembaca harus menyadari baik persamaan dan perbedaan dalam pandangan dunia.

Henry A. Virkler menulis:

Hermeneutics is needed, then, because of the historical, cultural, linguistic and philosophical gaps that block a spontaneous, accurate understanding of God’s word.[4]


[1] Gordon D. Fee & Douglas Stuart, Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat (Malang: Gandum Mas, 2006), 1-2.

[2] Ibid., 2. Fee dan Stuart juga mengingatkan bahwa pada dasarnya setiap orang adalah penafsir. Tidak seorang pun yang tidak melakukan penafsiran. Bahkan untuk mengatakan bahwa kita tidak perlu menafsir pun sebenarnya kata-kata itu dilakukan atas dasar penafsiran bahwa kita tidak perlu menafsir! Fee dan Stuart memberikan banyak contoh dari Alkitab yang menunjukkan tentang betapa pentingnya melakukan eksegesis (Ibid., 3-11).

[3] Peter Enns menggunakan DWI NATUR KRISTUS (Allah sejati dan Manusia sejati) sebagai analogi mengenai sifat Firman Tuhan. Alkitab adalah Ilahi sekaligus Manusiawi. Firman Allah diwahyukan dengan memakai para penulis dengan menggunakan segenap potensi yang ada pada mereka serta segala sesuatu yang ada di sekitar mereka pada waktu itu (lih. Inspiration and Incarnation: Evangelicals and the Problem of the Old Testament [Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2005], 7).

[4] Henry A. Virkler, Hermeneutics: Principles and Processes of Biblical Interpretation (Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 1981), 20. Catatan: Virkler menggunakan istilah hermeneutics dalam pengertian eksegesis, yakni aspek what it meant dari hermeneutik, sebagaimana yang sudah saya jelaskan dalam arikel terdahulu mengenai “Konsep Dasar Penafsiran – Part One”.