Untuk memahami apa yang dimaksud dengan kesalahan penafsiran yang disebut eisegesis, kita perlu memulainya dengan memahami apa yang dimaksud dengan eksegesis.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel berjudul: Konsep Dasar Penafsiran Alkitab – Part One, arti kata eksegesis secara literal adalah “memimpin keluar” (to lead out). Tugas eksegesis adalah mencari tahu apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis kepada pembaca mula-mula (what it meant). Dengan kata lain, melakukan eksegesis berarti “membiarkan” teks berbicara sebagaimana apa yang dimaksudkan oleh penulisnya kepada pembaca mula-mula dari teks tersebut. Pemahaman atau maknanya didapatkan dari dalam teks.

Eisegesis

Eisegesis adalah kebalikan dari eksegesis, yakni penafsir membawa ide asing yang tidak dimaksudkan teks ke dalam teks tertentu. Si penafsir “memaksa” teks untuk berbicara sesuai dengan asumsi atau doktrin atau apa saja yang diinginkan oleh penafsir tersebut.

Saya akan memberikan sebuah contoh eisgesesis yang sering dilakukan oleh Muslimers. Tidak jarang Muslimers berusaha mendapatkan “dukungan” legitimasi bagi nabi Muhammad dengan mengklaim bahwa yang dimaksudkan dengan “seorang penolong yang lain” dalam Yohanes 14:16 adalah nabi Muhammad. Mereka mendasarkan klaim ini atas arti kata parakletos (kata ini memiliki arti yang beragam) yang menurut mereka salah satu artinya cocok dengan Muhammad. Salah satu contoh nyatanya adalah thread yang diposting di CLDC:

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh. 14:16). Siapakah “seorang penolong yang lain” yg dimaksud?

Shammad mengasumsikan bahwa yang dimaksudkan “seorang penolong yang lain” adalah nabi Muhammad). Klaim ini, dengan mengambil dasar Yohanes 14:16, adalah eisegesis karena referen dari parakletos dinyatakan dengan jelas di dalam konteks ayat itu yaitu: Roh Kudus.

Itu hanya salah satu contoh. Intinya, segala sesuatu yang “asing” (yang tidak dimaksudkan teks dan konteksnya) ketika dipaksakan kepada teks tertentu dengan maksud menjadikannya sebagai proof text, atau memaknai teks tersebut sesuai pra-anggapan si penafsir, padahal teks tersebut tidak berbicara demikian, maka tindakan ini adalah eisegesis.