Alkitab, awalnya, ditulis dalam bahasa Ibrani (PL; sebagian kecil teks PL ditulis dalam bahasa Aram) dan bahasa Yunani Koine (PB). Dan acap kali, kata atau frasa yang sama – yang muncul dalam bagian-bagian yang berbeda dalam Alkitab – digunakan  dalam arti yang berbeda sesuai dengan konteksnya penggunaannya di dalam sebuah perikop. Kadang, perbedaan arti – walaupun kata atau frasa yang digunakan itu sama – bisa menjadi begitu variatif, sehingga kita tidak dapat hanya mengandalkan sebuah lexicon bahasa Ibrani atau Yunani untuk menentukan maksud penggunaannya dalam bagian tertentu. Di samping itu, pada kenyataannya, kata-kata dalam bahasa Ibrani dan Yunani biasanya memiliki lebih dari satu arti. Itulah sebabnya, adalah bijak untuk mengingat bahwa lexicon bahasa Ibrani dan Yunani memiliki peran penting sebatas memberitahukan kepada kita pilihan-pilihan arti dari sebuah kata. Dan tugas kita sebagai penafsir adalah menyelidiki konteks penggunaannya dalam sebuah perikop untuk menentukan pilihan arti yang mana yang cocok dengan konteksnya.

Saya akan memberikan sebuah contoh mengenai variasi arti dari frasa “Anak Manusia” yang kemunculannya di dalam Alkitab begitu berlimpah ruah (dalam PL, tidak kurang dari 200 kali digunakan; sedangkan dalam PB, frasa ini khusus digunakan untuk Yesus, tidak kurang dari 80 kali, khususnya dalam Kitab-kitab Injil). Saya mengambil contoh ini, mengingat dalam argumennya ketika ditanya, “Apakah sudah menyelidiki arti ‘Anak Manusia’?”, Mutiara Dari Timur membuat silogisme berikut sebagai jawaban:

Apa maksud dari pertanyaannya? Kan jelas Yesus lahir dari kandungan maria. Jadi Yesus anaknya maria. Maria kan manusia, jadi anaknya Maria ya namanya anak manusia! Benar?

Silogisme di atas, walaupun sah secara logis, namun secara eksegetis, bersifat reduksionistis karena mengabaikan (bisa juga dikatakan “mengeliminasi”) arti lain dari pemakaian frasa “Anak Manusia” untuk Yesus dalam Kitab-kitab Injil. Kita juga bisa menambahkan bahwa secara moral, argumen ini bersifat “mengecoh” karena membentuk opini yang sempit (reduksionis) dalam benak para penyimak diskusi, seolah-olah Mutiara Dari Timur telah membuktikan arti frasa “Anak Manusia” secara gemilang (dengan silogisme yang valid).

Dalam Alkitab, frasa “Anak Manusia” digunakan dalam arti yang beragam sesuai dengan konteks penggunaannya. Berikut ini adalah survai ringkas saya terhadap penggunaan frasa “Anak Manusia” dalam seluruh Alkitab:

Penggunaan “Anak Manusia” secara umum
Anak Manusia = keturunan manusia (mis. kel. 12:12)
Anak manusia = manusia secara umum (Mzm. 8:4)
Anak Manusia = Mesias yang ilahi(bnd. “kekuasaan-Nya kekal” Dan. 7:13-14; dalam literature apokaliptik – Kitab Daniel bergenre apokaliptik – istilah “anak manusia” dimengerti sebagai istilah eskatologis bagi mesias yang diharapkan orang-orang Israel).
Anak Manusia = pribadi tertentu, mis. Daniel (Dan. 8:17)

Penggunaan “Anak Manusia” untuk Yesus
Anak Manusia = manusia yang bersahaja (Mat. 8:20)
Anak Manusia = merujuk kepada Daniel 7:13-14 sebagai figure eskatologis yang berkuasa mengampuni dosa (Mat. 9:6; bnd. 10:23; 19:11; 12:8)
Anak Manusia = Mesias yang menderita (Mat. 20:18; 20:28)
Anak Manusia = Mesias – Ilahi yang akan datang pada hari penghakiman (Mat. 24:27dst)
Anak Manusia = Mesias-Ilahi yang dinubuatkan Daniel (Mrk. 14:61-64; perhatikan reaksi imam besar yang mengoyak jubahnya dan mengatakan Yesus menghujat Allah karena mengaku sebagai “Anak Manusia”)
Anak Manusia = pemerintahan eskatologis Yesus (Why.  1:13-20)
Anak Manusia = kemuliaan Yesus di sorga pasca kebangkitan (Kis. 7:56)

Perhatikan bahwa berdasarkan hasil survai di atas, silogisme Mutiara Dari Timur memang sah untuk dikenakan pada bagian-bagian tertentu dalam Alkitab, namun tidak dapat dikatakan sebagai kesimpulan tunggal mengenai arti penggunaan frasa “Anak Manusia” dalam Alkitab. Dan atas dasar data dalam survai ini, sekali lagi, silogisme tersebut hanya benar dalam sebagian kecil konteks penggunaannya, tapi tidak seluruhnya benar. Inilah yang dimaksud dengan kesalahan eksegetis yang disebut “Reduksi Arti yang Tak Sah”.

Untuk menunjukkan kecacatan eksegetis di atas, kita hanya perlu menunjukkan kepelbagaian arti penggunaan sebuah kata atau frasa dalam Alkitab, dan itu adalah “tikaman maut” baginya.