Penulis buku ini (E. Randolph Richards) adalah seorang seorang profesor studi biblika, teologi, dan misi Kristen di Pruet School of Christian Studies, Ouachita Baptist University, Arkadelphia – Arkansas. Beliau meraih gelar M. Div., dan Ph. D., dari Southwestern Baptist Theological Seminary. Bekal kualifikasi dan pengalaman akademis beliau tersebut terlihat ketika kita membaca buku yang informatif ini.

Tinjauan Isi Buku
Di dalam buku yang dibagi menjadi 15 bab ini (selain pendauluan dan konklusi), Richards benar-benar menggumuli sumber-sumber mengenai surat-menyurat pada abad-abad awal kekristenan untuk menunjukkan relevansi sumber-sumber tersebut dalam memahami tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan proses penulisan surat-surat Paulus.

Richards memberikan informasi-informasi mengenai praktik, material, dan contoh-contoh dari surat-surat pada masa Paulus, termasuk menunjukkan bahwa “Paulus tidak sendirian” dalam menulis surat-suratnya. Paulus memiliki semacam tim yang terdiri dari co-authors (Timotius, Silas, dsb) dan amanuensis (mis, Tertius; Rm. 16:22). Itulah sebabnya, Richards mempertimbangkan, secara khusus, peran dari para amanuensis Paulus. Dari tiga peran amanuensi yang umumnya dipraktikkan pada masa itu: transcriber, contributor, dan composer, menurut Richards peran yang cocok dilekatkan kepada para amanuensis Paulus adalah sebagai transcriber dan contributor, namun bukan sebagai composer. Implikasi dari peran amanuensis tersebut diarahkan Richard untuk menjelaskan mengapa terdapat perbedaan-perbedaan leksikal dan gramatikal dalam beberapa surat Paulus (mis, Surat-surat Pastoral).

Selanjutnya Richards juga mendiskusikan beberapa hal lain, misalnya, masalah “plagiarisme” pada masa Paulus dan ia menyimpulkan bahwa pada masa itu masalah tersebut bukanlah sebuah masalah serius sebagaimana kita saat ini. Beberapa penjelasan detail mengenai proses penulisan, termasuk mengenai mereka yang ditugaskan Paulus sebagai pengantar surat-suratnya. Berdasarkan penyelidikan akan beberapa rujukan implisit dalam surat-surat Paulus, Richards juga yakin bahwa Paulus menyimpan copy-an dari surat-surat yang pernah ia tulis kepada jemaat-jemaat maupun pribadi-pribadi (Timotius, Titus, dan Filemon).

Jika dalam empat belas bab pertama bukunya, Richards memberikan deskripsi lalu diikuti dengan rekonstruksi yang berhubungan dengan penulisan surat-surat Paulus, maka dalam bab terakhir bukunya (bab 15), Richards membuat sebuah analisis teologis. Richards menganalisis mengenai hubungan antara co-authors, amanuensis, dan masalah inspirasi. Richards kemudian berkesimpulan bahwa semua yang terlibat, bahkan keseluruhan proses penulisan surat-surat Paulus dapat dianggap “diinspirasikan”.

Tinjauan Evaluatif dan Rekomendasi
Saya memberikan apresiasi kepada penulis akan informasi-informasi berharga dalam bukunya, termasuk kemampuannya membahasakan isu-isu dalam buku ini dengan sederhana. Selain itu, Richards juga mengakhiri setiap babnya dengan ringkasan pokok-pokok argumennya yang memudahkan pembaca untuk melakukan pembacaan secara cepat akan buku ini. Hal ini bisa dimengerti karena Richards memang tidak berniat untuk menulis buku ini bagi para scholars.

Akan tetapi, tentu tidak semua yang tertera dalam buku ini harus disetujui. Nigel Witson dalam tinjauannya terhadap buku ini (Australian Biblical Review, Vol. 54, 2006)menyayangkan kesimpulan Richards yang prematur mengenai 1 Korintus 14:33b-35 (bnd. hlm. 108; 120dst). William “Chip” Gruen (RBL, Society of Biblical Literature, 2007) juga menyatakan bahwa argumen Richards mengenai penggunaan amanuensis yang menurutnya dapat mendukung authorship Paulus dalam Surat-surat Pastoral, sebenarnya dapat menjadi titik lemahnya. Oleh karena jika argumen tersebut digunakan untuk sebuah surat apokrifa: 3 Korintus, misalnya, maka kesimpulannya adalah bahwa surat tersebut pun harus dianggap berasal dari Paulus. Dan tentu Richards tidak akan pernah menginginkan kesimpulan ini.

Selain pertimbangan-pertimbangan evaluatif di atas, saya juga memiliki keberatan, paling tidak, terhadap kesimpulan Richards dalam bab 15 (bahwa seluruh proses penulisan surat-surat Paulus diinspirasikan). Saya bisa memahami bahwa kesimpulan tersebut lahir dari keyakinan (presuposisi) Richards akan kanonitas, autentisitas, dan otoritas seluruh surat-surat Paulus. Akan tetapi, saya tidak melihat bahwa presuposisi tersebut harus teraplikasi dalam bentuk kesimpulan Richards yang ia anggap cukup meyakinkan ini. Oleh sebab kita sama sekali tidak memiliki fondasi tekstual yang menopang kesimpulan tersebut. Paulus tidak satu kalipun mendiskusikan isu ini, maka ada baiknya kita tidak perlu terlalu berani menegaskannya. Menurut saya, kesimpulan tersebut hanya dapat diterima sebagai implikasi dari keyakinan teologis kita akan surat-surat Paulus. Meskipun demikian, jangan sampai kita menegaskannya seolah-olah telah terbukti dengan sedemikian pasti.

Akhirnya, saya merekomendasikan para pembaca sekalian untuk “berdialog” dengan penulis buku ini, sambil mendapatkan berbagai informasi berharga dari penulis mengenai isu-isu seputar penulisan surat-surat Paulus.