Diringkas dari: Bruce Waltke and Charles Yu, An Old Testament Theology (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2007), 767-770.

Setelah memberikan penjelasan singkat mengenai pengantar Kitab Ester, Waltke dan Yu mengemukakan tiga penekanan teologis yang dapat dipetik dari Kitab Ester. Menurut mereka, “Ketiga kebenaran teologis ini mesti dipahami secara bersama untuk memahami unstated message (pesan tersurat) dari penulisnya.

A. Umat Perjanjian Nominal (Nominal Covenant People)
Orang-orang Yahudi yang diceritakan dalam kitab ini disinyalir sebagai umat perjanjian nominal. Di satu sisi, mereka adalah keturunan Abraham dan dengan demikian mereka mewarisi perjanjian Abraham. Tampaknya mereka juga memiliki ketaatan secara lahiriah terhadap Hukum Musa, sebagaimana yang terungkap dalam complain dari Haman bahwa mereka “memisahkan diri mereka” dan “hukum mereka berlainan dengan hukum segala bangsa” (Est. 3:8). Ketika mereka terancam dimusnahkan, Ester, pahlawan dalam kitab ini, menyerukan agar seluruh orang Yahudi berpuasa selama tiga hari. Dan Mordekhai, juga adalah pahlawan dalam kitab ini, memperlihatkan suatu keyakinan providensial di balik situasi mereka (4:14).

Di sisi lain, Ester, mengikuti larangan Mordekhai, tidak menampilkan “kebangsaan dan asal usulnya” (2:10). Hal ini membuat Waltke dan Yu menganggap bahwa tindakan Ester (dan Mordekhai) tidak mencerminkan bahkan bertolak belakang dengan Hukum Musa. Ester tidak memisahkan dirinya dari praktik-praktik kafir, sebagaimana Daniel dan ketiga temannya. Mordekhai menolak perintah raja untuk tunduk kepada Haman, si magistrate kafir itu, mungkin semata-mata karena masalah kebanggaan. Padahal, misalnya: Daniel, Ezra, dan Nehemia, menunjukkan rasa hormat kepada penguasa Persia di zaman mereka. Selanjutnya, Mordekhai justru “membahayakan” nasib seluruh orang-orang Yahudi itu dengan menaruh beban keselamatan mereka di pundak seorang perempuan, Ester. Meskipun begitu, Waltke dan Yu menyatakan bahwa ada juga pernyataan Mordekhai yang “paling” mengekspresikan iman Israel adalah yang ia ungkapkan kepada Ester, “bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain … Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (4:14).

Ester, tanpa rasa takut, tampaknya membahayakan hidupnya dengan dengan melakukan apa yang benar menurut iman mereka guna menyelamatkan dirinya dan seluruh kaumnya. Akan tetapi, sayang. Ketika mereka mendapat kelepasan atas restu sang raja, yang terjadi adalah mereka lebih suka mempertontonkan sikap balas dendam terhadap musuh mereka, daripada menunjukkan hormat kepada YAHWE. Mereka membunuh dan membasmi musuh-musuh mereka tanpa mempersoalkan tugas mereka sebagai “a light to the nations.”

Itulah sebabnya, menurut Waltke dan Yu, perayaan Purim yang mereka lakukan sebenarnya hanya merupakan upaya memperlihatkan “their victory, not their God”. Mereka tidak mengambil barang-barang rampasan dari musuh-musuh mereka, namun dengan demikian mereka mengabaikan kebutuhan-kebutuhan penyembahan di Bait Suci yang olehnya Tuhan dimuliakan. Sesungguhnya, tiada ketertarikkan sedikitpun terhadap Yerusalem dan Bait Suci yang merupakan simbol iman mereka. Bukan hanya itu, sang narrator – demikian menurut Waltke dan Yu, menunjukkan sebuah kesimpulan bahwa Mordekhailah yang mendapat pujian, dan bukan Tuhan. “The people never repented of their sins.” Waltke dan Yu menyimpulkan, “In sum, neither Esther nor Mordecai nor the Jews show love for God or for their neighbors, the identifying marks of the true covenant people of God.” Bahkan, kitab ini tidak pernah menyebut kata “Allah” satu kali pun.

Atas dasar argumen-argumen di atas, Waltke dan Yu menyebut mereka sebagai umat perjanjian nominal dan bukan umat perjanjian yang sejati.

Selanjutnya, menurut Waltke dan Yu, untuk “membenarkan” nuansa sekular dari kitab ini, tampaknya sejumlah text critics berupaya memberikan tambahan-tambahan pada berbagai poin dalam narasi kitab ini. Hal ini dapat dilihat dalam versi Yunani dari kitab ini. Itulah sebabnya, pada abad IV M, Hieronimus (Jerome), ketika menyusun versi Latin dari Alkitab yang dikenal dengan nama Vulgata, memisahkan tambahan-tambahan tersebut dan menempatkannya di akhir dari kitab ini, yang sampai hari ini dikenal dengan nama “Tambahan-tambahan pada Kitab Ester”.

Dalam versi tambahan tersebut, disebutkan bahwa Mordekhai berdoa kepada Allah sambil mengenang berbagai karya Allah dalam sejarah (13:8). Dalam doa ini (13:9-17), Mordekhai mengungkapkan alasannya mengapa ia tidak mau tunduk kepada Haman: “Aku bersedia berlutut dan mencium kaki Haman, untuk menyelamatkan Israel! Tetapi aku melakukan apa yang aku lakukan sekarang agar aku tidak memuliakan manusia melampaui Tuhan, dan aku tidak akan tunduk kepada siapa pun kecuali Engkau, Tuhanku; dan aku tidak membanggakan diriku melalui ini semua” (13:13-14). Mordekhai kemudian mengakhiri doanya dengan berkata, “Dengarlah doaku…supaya kami tetap hidup dan memuji nama-Mu, TUHAN; dan jangan Kau hancurkan mulut yang memuji Engkau” (13:16).

Di dalam tambahan-tambahan itu juga, Ester menaikkan doa yang panjang (14:1-9), yang di dalamnya ia mengakui sejarah keselamatan di masa lampau (ay. 5) dan dosa mereka saat itu (ay. 6-7). Pada saat yang sama, Ester mempersembahkan dirinya kepada Allah yang memelihara perjanjian-Nya (ay. 16-18).

Tambahan-tambahan yang tidak terdapat dalam naskah kitab Ester ini menggarisbawahi bahwa orang-orang Yahudi pada zaman Ester bukanlah “milik” dari kerajaan Allah yang spiritual. Tambahan-tambahan tersebut juga mendemonstrasikan bahwa sang narrator memang sengaja mengabaikan penyebutan atau mereferensikan kehidupan mereka dengan Allah. “His lack of prayer, praise, and piety silently drives home his message: these are nominal Jews, not true Israel.”

B. Providensi (Pemeliharaan) Allah
Penekanan teologis yang kedua, yang dikemukakan Waltke dan Yu berkenaan dengan “unstated message” dari Kitab Ester adalah gagasan tentang pemeliharaan (providensi) Allah.

Waltke dan Yu melihat bahwa gagasan mengenai providensi Allah jelas terlihat di balik “keterlibatan”-Nya dalam adegan-adegan penyelamatkan bagi bangsa Yahudi yang cinta diri dan sekular itu. (1) Pembuangan Ratu Wasti yang juga merupakan kesempatan bagi Ester untuk menggantikan posisinya (1:1-2:18); (2) Mordekhai pernah mengetahui rencana pembunuhan terhadap raja, dan memberitahukannya kepada raja melalui Ester. Tindakan Mordekhai tersebut dicatat dalam sejarah kerajaan itu, walaupun ia tidak mendapat penghargaan (2:22-23); (3) Haman yang berpikir akan memperoleh penghargaan (bagi orang-orang dengan kemampuan luar biasa), merancang kematian Mordekhai sebagai bentuk pelampiasan kebenciannya (4) Haman mempersiapkan tali gantungan bagi Mordekhai, namun ia sendiri yang tergantung di tali gantungan tersebut (5:14; 7:9-10); (5) Sesudah Ester menyingkapkan rencana busuk Haman untuk membunuh orang-orang Yahudi itu kepada raja, Haman berlutut pada katil tempat Ester berbaring untuk memohon pengampunan dari raja. Maka titah raja: “Masih jugakah ia hendak menggagahi sang ratu di dalam istanaku sendiri?” Tatkala titah raja itu keluar dari mulutnya, maka diselubungi oranglah muka Haman (7:8); dan (6) Pada hari di mana orang-orang Yahudi, menurut rencana Haman, akan dibunuh, pada hari itu juga Haman bersama seluruh anak-anaknya bahkan orang-orang yang bersamanya dibinasakan (9:10-17).

Singkatnya, “the king of Persia thinks he is running the show, but behind the scenes Israel’s hidden God rules.”

Selanjutnya, Waltke dan Yu berkomentar bahwa Allah berdaulat untuk memelihara perjanjian-Nya bahkan melalui kebodohan (folly) manusia sekalipun, sebagaimana yang DIA lakukan di balik kebanggaan yang bodoh dari Mordekhai dan keangkuhan Haman. Event-event yang kelihatannya tidak signifikan itu, ternyata ditenun oleh Allah satu demi satu untuk memelihara perjanjian-Nya. Akhirnya, Waltke dan Yu menyimpulkan bagian kedua ini dengan kalimat, “Through a mysterious an inscrutable Providence, against all odds, the fate of God’s covenant people is reversed.”

C. Sejarah Keselamatan (Salvation Histori; Lat. Historia Salutis) dan Perang Suci (Holy War)
Allah tidak hanya menunjukkan pemeliharaan-Nya yang berdaulat terhadap kehidupan umat covenan yang nominal itu, melainkan juga memelihara kelangsungan sejarah keselamatan melalui mereka.

Menurut Waltke dan Yu, narrator kitab ini mengidentifikasikan Haman sebagai “orang Agag” (3:1). “Orang Agag” di sini pernah ditafsirkan merujuk kepada “unknown person” oleh beberapa penafsir. Namun, Waltke dan Yu menolak tafsiran terebut karena jika itu yang dimaksud maka informasi tersebut tidak relevan bagi audiens kitab ini. Itulah sebabnya, menurut Waltke dan Yu, “orang Agag” di sini hampir pasti merujuk kepada Agag, raja orang Amalek yang disebutkan dalam 1 Samuel 15:20.

Selanjutnya, Waltke dan Yu meruntut kembali sejarah Israel dan mengingatkan kita mengenai perang Israel melawan Orang-orang Amalek sesudah mereka keluar dari Mesir dan bahwa “TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun” (Kel. 17:16). Itulah sebabnya TUHAN memerintahkan dengan tegas kepada Israel agar “menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kolong langit” (Ul. 25:9).

Sebagai bangsa yang pertama kali menyerang Israel, anak Allah, pasca Eksodus, Amalek merepresentasikan (mewakili) semua kekuatan duniawi yang melawan kekuasaan Allah (Kel. 17:8-16). Itulah sebabnya, sesudah Saul diurapi menjadi raja atas Israel, ia ditugaskan “to blot out the memory of Amalek”. Namun sayang, Saul gagal menunaikan tugas dalam Perang Suci itu dengan membiarkan Agag, raja Amalek itu hidup. Kegagalan yang membuat Tuhan menyesal telah mengangkat Saul sebagai raja atas Israel (1Sam. 15). Apa yang dilakukan oleh Saul itu juga berimbas ke depan. Dalam 1 Samuel 30, dikisahkan bahwa orang-orang Amalek menyerbu tanah Negeb dan Ziklag, membakar habis tempat2 itu bahkan menawan orang-orang Israel yang ada di situ. Dan untuk itu, TUHAN mengutus Daud untuk menumpas dan mengambil barang-barang orang-orang Amalek sebagai jarahan. Namun, rupanya tidak semua orang Amalek berhasil dibunuh oleh Daud, karena dikatakan bahwa sekitar 400 orang meloloskan diri dengan menunggang unta (1Sam. 30:17). Sampai di sini, ternyata Perang Suci antara TUHAN melawan Amalek belum komplit.

Waltke dan Yu mengajak kita untuk menyimak rujukkan dari narrator kitab Ester yang mengidentifikasikan Mordekhai sebagai “seorang Benyamin” dan menghubungkan garis keturunannya dengan Kish (2:5). Penyebutan nama Kish di sini, mengingatkan kita akan apa yang tercatat dalam 1 Samuel 9:1 dan 2 Samuel 16:5 bahwa Kish adalah ayah Saul.

Referensi kepada kedua leluhur (dari Haman dan Mordekhai) tersebut tentu memiliki signifikansi historis yang perlu diperhatikan. Sebagaimana Saul, putra Kish berperang melawan Agag, sekarang Mordekhai, keturunan Kish, melawan Haman keturunan Agag. Keturunan Agag kini sudah dimusnahkan (Est. 9:14).

Waltke dan Yu mengakhiri penjelasannya dalam bagian ini dengan menyimpulkan,

Thus this loose end of sacred history is brought to a satisfactory ending. As Amalek represents the first of God’s national adversaries, their termination represents the termintation of all God’s enemies.