Seperti “nada” dalam buku sebelumnya (The Myth of God Incarnate), Hick kembali menggembar-gemborkan soal ketidakpercayaannya terhadap Kristologi Ortodoks dalam buku ini (The Metaphor of God Incarnate). Tidak ada argumen yang terlalu baru dalam buku ini. Hanya dalam buku ini kita melihat perkembangan pemahaman Hick. Jika dalam The Myth of God Incarnate, Hick menganggap Ketuhanan Kristus sebagai mitos, maka dalam buku ini Hick lebih menganggapnya sebagai metafora.

Jika anda ingin mengetahui pandangan dari seorang yang dulu pernah menganut pandangan Kristen fundamentalis lalu beralih menjadi seorang pluralis, maka anda dapat menjadikan tulisan-tulisan Hick sebagai referensi. Dan buku ini adalah salah satu dari buah peralihan (bukan perkembangan) spiritual-journey orang-orang yang demikian.