===================

Sebagaimana yang saya sudah janjikan untuk menulis secara berseri mengenai konsep-konsep dasar dalam eksegesis Alkitab serta langkah-langkahnya, berikut ini saya akan mengulas sebuah konsep dasar yang penting untuk dipahami ketika kita hendak melakukan eksegesis terhadap sebuah teks tertentu dalam Alkitab. Konsep dasar ini adalah genre Alkitab (jenis sastra Alkitab).

===================

Saya percaya, walau tidak semua orang memiliki pemahaman yang dalam mengenai genre (jenis sastra), namun pada kenyataannya setiap orang memperlakukan genre dengan serius. Mereka yang hendak membaca berita pagi, tentu tidak mengambil sebuah novel untuk menemukan berita pagi. Mereka yang hendak mengetahui gosip-gosip terbaru tentang para artis, tentu tidak mengambil buku pelajaran matematika untuk mengetahui gosip-gosip tersebut. Demikian pula orang tidak akan bersikap serius ketika membaca sebuah komik dibandingkan dengan membaca sebuah tulisan filosofis. Singkatnya, orang bersikap strategis dan memilih bacaannya sesuai dengan apa yang hendak ia dapatkan dari bacaan tersebut. Dengan kata lain, genre sebuah tulisan membatasi harapan kita akan apa yang hendak kita peroleh sekaligus menentukan strategi kita dalam membacanya.

Sebenarnya “aturan” ini juga berlaku dalam membaca dan menafsirkan Alkitab. Kita mesti memperhatikan genre dan sub genre dari teks yang sedang kita baca atau tafsirkan. Misalnya, ketika kita membaca kata-kata Yohanes bahwa Yesus adalah “anak domba Allah”, tentu kita tidak berpikir bahwa Yesus adalah seekor domba sembelihan benaran. Atau ketika Yesus memaklumatkan Diri-Nya sebagai “pokok anggur yang benar”, tentu kita tidak menganggap Dia adalah sebatang pohon yang bisa berbicara.

Kita harus sadar betul bahwa ke-66 kitab di dalam Alkitab ditulis dengan genre dan sub genre yang berbeda. Secara umum, baik PL mau pun PB, kita mendapati paling tidak sembilan genre utama, yaitu:

  • Narasi (narrative);
  • Taurat (torah);
  • Puisi (poetry)
  • Hikmat (wisdom);
  • Nubuat (prophetic);
  • Apokaliptik (apocalyptic);
  • Injil (gospels – theological biography)
  • Sejarah (theological history);
  • Surat-surat (epistles)

Dari kesembilan genre utama di atas, kita akan menemukan banyak sub genre di dalamnya, misalnya: teka-teki, amsal, permainan kata, ironi, metafora, simile, perumpamaan, dan sebagainya.

Pengenalan akan genre dan sub genre Alkitab menolong kita untuk menentukan strategi membaca dan membatasi harapan kita akan apa yang ingin kita dapatkan dari sebuah teks yang sedang kita baca dan tafsirkan. Karena pada setiap genre dan sub genre, terdapat aturan-aturan khusus serta fitur-fitur khusus yang membedakan antara genre atau sub genre yang satu dengan genre atau sub genre yang lain. Misalnya ketika kita membaca Kitab Kejadian tentang urutan hari-hari penciptaan (hari ke-1; hari ke-2; dst), kita mesti waspada untuk tidak mengharapkan teks tersebut berbicara persis secara kronologis bagi kita. Karena penciptaan Matahari yang baru disebutkan dalam Kejadian 1:14, sementara pergantian hari telah ditandai dengan “jadilah petang dan jadilah pagi” sejak hari pertama penciptaan, memberikan indikasi bahwa penulisnya tidak sedang berbicara mengenai urutan kronologis pada teks tersebut. Artinya, ketika kita memaksakan pemahaman kronologis pada teks tersebut, kita sedang memaksa penulis untuk berbicara seperti yang kita kehendaki. Ini tentu tidak benar. Lagi pula, dari segi genrenya, narasi tersebut ditulis dalam genre theological history, bukan sejarah murni yang menekankan aspek ketepatan kronologis kejadian dalam sebuah rentang waktu tertentu. Atau contoh lain yang pernah menjadi bahan diskusi yang hangat di CLDC adalah tentang penyebutan Abram berjumpa Firaun dalam Kejadian 12:10-20. Atas dasar penyebutan ini, penulis Kitab Kejadian dituduh melakukan anakronisme sejarah karena sebutan Firaun sebagai gelar bagi raja Mesir belum berlaku pada masa hidup Abram (kr. 2000/1900 SM). Penyebutan Firaun dalam arti gelar bagi para raja Mesir menurut sumber-sumber sejarah, baru dilakukan pada abad ke-15 SM atau abad ke-12 SM. Ini jelas tuntutan ketepatan sejarah yang tidak memperhitungkan genre dari teks Kejadian 12:10-20. Teks tersebut ditulis dari perspektif Musa sebagai narator yang pada masa hidupnya, penyebutan Firaun sebagai gelar bagi raja Mesir sudah berlaku. Jadi dari perspektif Musa sebagai narator, penyebutan tersebut bukanlah sebuah anakronisme.

Contoh-contoh di atas menunjukkan sekali lagi mengenai betapa pentingnya kita mengenal dan memahami fitur-fitur dari setiap genre dan sub genre dari teks yang sedang kita tafsirkan. Tentu masih banyak sekali contoh yang bisa diberikan di sini. Namun menurut saya, ulasan ringkas ini cukup untuk membuat kita waspada dan berhati-hati mendekati sebuah teks. Pemahaman yang tepat akan fitur-fitur dari genre serta sub genre dari teks yang bersangkutan, akan sangat bermanfaat menolong kita menetapkan makna dari teks tersebut. Benarlah diktum yang dikatakan Grant Osborne,

Meaning is genre-dependent (Hermeneutical Spiral, 26).