Salah satu fitur sangat menarik dalam tata bahasa Yunani dalam memberikan empasis (penekanan), adalah kombinasi double negasi (kata negatif): ou me + subjunktif. Kombinasi ini digunakan untuk memberikan “a strong negation about the future”. Biasanya mereka yang berbahasa Yunani menggunakan bentuk subjunktif untuk berbicara mengenai sebuah posibilitas di masa depan. Namun untuk menyangkali posibilitas itu secara kuat, maka mereka menggunakan konstruksi double negatif: ou dan me (yang sebenarnya sama artinya, yaitu: “tidak” atau “bukan”). Sekadar catatan, dalam PB kombinasi ini digunakan sekitar 85 kali, dan mayoritas signifikansinya merujuk kepada janji atau jaminan mengenai masa depan. Dan Saya akan menunjukkan salah satu contohnya dalam artikel singkat ini.

Dalam deskripsi tentang Diri-Nya sebagai Gembala yang Baik (baca keseluruhan Yoh. 10), Tuhan Yesus berkata:

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,  dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku (ay. 27-28).

Dalam bahasa Yunaninya, frasa “mereka pasti tidak akan binasa” digunakan kombinasi: ou me + subjunktif. Signifikansi inilah yang kemudian ditekankan dalam terjemahan LAI menjadi “pasti tidak”. Dalam banyak terjemahan berbahasa Inggris, penekanan ini juga ditampilkan: “they shall never perish” (NIV, NAB, KJV, dsb).

Sebenarnya untuk sebuah maksud yang biasa, cukup digunakan ou + subjunktif. Namun dengan menggabungkan ou dan me + subjunktif, Tuhan Yesus “strongly denies even the possibility that any of Jesus’ sheep would perish”. Dan maksud ini lebih dipertegas dengan frasa “eis ton aiona” (sampai selama-lamanya).

Penekanan yang kuat dalam ucapan Tuhan Yesus ini, merupakan landasan yang tak tergoyahkan; jaminan yang tak tergantikan; sekaligus motivasi yang kokoh bagi domba-domba-Nya untuk mempercayakan seluruh hidup mereka tanpa takut dirampas kembali oleh Iblis. Benarlah apa yang dikatakan Paulus:

Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?  Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?  Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Rm. 8:33-35).

Tak perlu ragu, barangsiapa di dalam Kristus dan Kristus di dalam dia, pasti diselamatkan.

Laus Deo!