Pendahuluan
Paulus adalah figur yang sangat sentral dalam pergerakan dan penyebarluasan kekristenan mula-mula. Sentralitas Paulus bahkan terus terasa hingga saat ini. Kajian tentang Paulus dalam segala bentuk: buku, khotbah, orasi, pamflet, dsb., begitu berlimpah. Benarlah apa yang dikatakan James D.G. Dunn bahwa Paulus adalah seorang teolog Kristen yang pertama dan yang terbesar sepanjang sejarah.[1] C. K. Barret mengapresiasi Paulus sebagai seorang pemikir Kristen yang outstanding. Meski begitu, tidak sedikit pula tuduhan negatif terhadap Paulus terlontar sepanjang sejarah, khususnya dalam isu tentang hubungan antara Yesus dan Paulus. Dan mengenai hal ini, kita dapat berkata bahwa antara Yesus dan Paulus telah terpasang sebuah “tembok pemisah” yang menjulang. Tembok pemisah ini sedemikian sulit tersebrangi sehingga tak jarang lontaran-lontaran yang alot dan kompleks sedemikian terasa. Tidak heran,  A.J.M. Wedderburn, menyatakan:

It is hard to think of a more pressing theme in the whole field of New Testament study than the relationship of Paul to Jesus.[2]

Yesus dan Paulus: Discontinuity
Menurut Bultmann, pandangan Paulus tentang Yesus sebenarnya dipengaruhi oleh mitos hellenistik yang berkembang di daerah Greco-Syrian. Mitos tersebut diadopsi oleh Paulus dari para murid yang berbahasa Yunani yang terlebih dahulu sudah dipengaruhi oleh mitos-mitos tersebut. Bultmann bahkan menganggap Paulus sebagai “the true founder of Christianity”. Wilhelm Wrede menyebut Paulus sebagai “The second founder of Christianity”.[3] Harnack pun tak kalah tajam ketika menuduh Paulus memperkenalkan “speculative ide that not only was god in Christ, but that Christ himself was possessed of a peculiar nature of a heavenly kind.”[4]

Ada pula yang melihat bahwa Paulus lebih fokus dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Bahkan sebenarnya penekanan Paulus tentang kematian dan kebangkitan Kristus, juga merupakan rekayasa Paulus sendiri. Nietzsche menyebut Paulus “the genius” yang telah membuat Yesus menjadi “a God who died for our sins; redemption by faith; resurrection after death – all these things are falsifications of true Christianity.”[5] Pemikiran Nietzsche tersebut digemakan kembali dalam film The Last Temptation of Christ, yang dirilis berdasarkan novel dari Nikos Kazantzakis. Di dalam novel tersebut, terdapat sebuah fantasi ketika Yesus mendengar Paulus mengkhotbahkan tentang penyaliban dan kebangkitan-Nya.

Yesus: Saya adalah manusia biasa seperti yang lainnya. Mengapa engkau menyebarluaskan kebohongan-kebohongan ini?

Paulus: Saya senang berjumpa dengan Engkau. Sekarang saya sedang “membersihkan” engkau…. Saya telah menciptakan kebenaran tentang keinginan dan iman…. Jika perlu saya akan menyalibkan engkau – dan saya akan membangkitkan engkau, suka atau tidak suka. Kematian adalah musuh dan saya akan menghancurkan kematian dengan membangkitkan engkau – Yesus dari Nazaret, Anak Allah, Mesias.

Seakan-akan Paulus tidak tertarik dengan kehidupan pribadi Yesus, karena Paulus memiliki agenda sendiri, yaitu menjadikan Yesus sebagai seorang figur yang mulia. Singkatnya, kata kunci untuk pandangan dari para penuduh di atas adalah: Discontinuity!

Discontinuity antara Paulus dan Yesus yang dituduhkan di atas, umumnya berkaitan dengan dua hal, yaitu:

Pertama, ajarannya. Memang sangat penting untuk diingat bahwa Paulus tidak memberikan klaim bahwa ia mengenal Yesus Sejarah secara langsung (bertemu secara langsung dengan Yesus). Dia mungkin telah berjumpa dan mendengar langsung pengajaran langsung dari Yesus, tetapi itu hanyalah sebuah dugaan. Ketika Paulus mengklaim telah “melihat” Tuhan yang bangkit (1Kor. 9:1) sebenarnya itu merujuk kepada pengalaman Kristophani di Damsyik. Pengakuan Paulus bahwa dia mengenal Kristus  menurut daging (ἐγνώκαμεν κατὰ σάρκα Χριστόν ( 2Kor. 5:16) kemungkinan besar berarti bahwa ia pernah mendengar tentang Yesus. Intinya, tidak ada rujukan yang sangat kuat bahwa Paulus pernah berjumpa dan mendengar langsung pengajaran Yesus.[6]

kedua, misi Paulus. Ben Witherington menjelaskan bahwa perihal keberhasilan Paulus menyebarkan iman apostolik baik melalui PI maupun melalui surat-suratnya, justru membuat ia dituduh oleh sebagian orang sebagai perusak iman Kristen yang pertama dan juga yang terbesar. Mereka menganggap Paulus telah mengubah Kekristenan menjadi sebuah gerakan non-Yahudi – atau setidak-tidaknya didominasi oleh orang-orang non-Yahudi [7]

Dapatkah kita membenarkan tuduhan discontinuity berdasarkan dua isu spesifik di atas?

Apakah Paulus Mengetahui tentang Kehidupan dan Ajaran Yesus?
Beberapa orang memang menyangkal surat-surat Paulus menunjukkan pengenalan Paulus akan Yesus. Namun berdasarkan analisis yang cermat terhadap informasi dari Paulus tentang Yesus terbukti sangat luas. Mengapa? Adalah pasti bahwa Paulus berkesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai detail-detail dari kehidupan Yesus. Perhatikan beberapa pertimbangan historis di bawah ini:

Pertama, sejauh yang kita tahu, Paulus tinggal di Yerusalem pada masa pelayanan Yesus; karena Paulus telah tinggal di kota itu bertahun-tahun sebelumnya.

Kedua, partisipasinya dalam pengadilan dan perajaman Stefanus serta penyerangan terhadap para murid menarik perhatiannya untuk mengetahui tentang Yesus.

Ketiga, dia bergabung dengan Ananias dan juga dengan para murid yang sedang buron dari Yerusalem pasti memberikan kontribusi tersendiri terhadap pengetahuannya tentang Yesus.

Keempat, Paulus sendiri menyatakan bahwa selama beberapa minggu ia tinggal bersama Petrus di Yerusalem dan bertemu dengan Yakobus, sudara Yesus (Gal. 1:18-20). Bukti-bukti dari kesaksian Paulus sendiri memperlihatkan bahwa ia memiliki kesempatan yang baik untuk mengetahui tentang awal-awal kehidupan Yesus (dari Yakobus) dan tentang pelayanan dan ajaran Yesus (dari Petrus).

Kelima, rekan perjalanannya, Barnabas juga dapat menjadi salah satu sumber informasi tidak langsung mengenai Yesus.

Singkatnya, Paulus mendapat informasi-informasi berharga mengenai Yesus dari sumber-sumber yang dapat dipercaya. Itulah sebabnya kita berkesimpulan bahwa Paulus mengenal informasi-informasi tersebut sebelum dia pergi mendirikan gereja-gereja. M. Hengel berkata: “Sangat tidak mungkin pada zaman dahulu, jika seseorang memproklamirkan tentang seorang yang disalib beberapa tahun yang lalu sebagai Tuhan, Anak Allah, dan Pembebas, tanpa mengetahui atau mengatakan sesuatu mengenai siapa dia, apa yang dia ajarkan dan lakukan dan mengapa ia mati.”[8]

Di dalam daftar berikut kita akan menemukan banyak informasi dari surat-surat Paulus mengenai pengetahuannya akan Yesus dan pengajaran-Nya.[9]

  1. Menyebutkan beberapa data tentang hidup Yesus: Yesus sebagai orang Yahudi, lahir dari seorang wanita (Galatia 4), memiliki seorang saudara bernama Yakobus (Gal. 1:19)
  2. 1Kor. 15:1-8 “meneruskan” tradisi. Pasti dia mempelajari tentang Jesus tradition
  3. 1Kor. 11:23-26 “menerima” dari tradisi tentang perjamuan Tuhan.
  4. Paulus pernah menyebut Allah sebagai Abba (Rm. 8 dan Gal. 4) dan ini terkait dengan apa Yang Yesus pernah ajarkan.
  5. Sayings of Jesus (1Kor. 7:10; 9:14 —Luk. 10:7; juga  Rm. 12:14 —pengaruh dari ajaran Yesus; 1Tes. 5; Rm. 13 kepatuhan kepada pemerintah.
  6. Kingdom of God memang jarang tetapi bukan berarti tidak ada (already but not yet) Kis. 20:25; Rm. 14:17
  7. Paulus sangat kuat mengajarkan tentang konsep Imitation of Christ. Tidak mungkin dia mengajak untuk meneladani Kristus jika dia sendiri tidak pernah belajar tentang Yesus.

Pada bagian-bagian yang dirujuk di atas, kita mendapati bahwa Paulus tampaknya tidak ingin memperkenalkan informasi baru tentang Yesus kepada para pembacanya. Bahkan, komentarnya menunjukkan secara implisit bahwa Gereja-gereja pada waktu itu telah mengetahui informasi-informasi tersebut.

Pengenalan Paulus akan kehidupan dan pelayanan Yesus memunculkan pertanyaan: Mengapa Paulus tampaknya “meniadakan” mukjizat-mukjizat Yesus dalam tulisan-tulisannya? Ada yang menjawab, karena Paulus tidak tahu bahwa Yesus pernah melakukan mukjizat. Ada pula yang berpendapat bahwa Paulus mengetahui bahkan pernah mengajarkan hal itu dalam khotbah-khotbah-Nya, tetapi isu tersebut tidak pernah menjadi masalah dalam jemaat-jemaat yang ia layani maka ia tidak perlu memberikan komentar mengenai hal itu dalam surat-suratnya.

Misi Yesus dan Misi Paulus
Apakah misi Paulus kepada bangsa-bangsa non-Yahudi selaras dengan misi yang dilakukan oleh Yesus? Apakah Paulus adalah misionaris Yesus yang sejati?

Dalam surat-suratnya, kita melihat bahwa misi Paulus meliputi dua tahap, yaitu: dimulai dari Israel lalu diperluas kepada bangsa-bangsa lain. Kedua tahap misi ini terlihat jelas dalam Rm. 1:16; 2:9; “pertama-tama bagi orang Yahudi dan juga Yunani = gentiles).

Hal ini terlihat juga dalam Roma 15 di mana Paulus membuat suatu pemisahan antara gentiles dari orang-orang Kristen Yahudi yang merupakan karakteristik orang-orang Kristen di Roma pada pertengahan tahun 50an. Dalam paragraph ini, Paulus menulis tentang dua tahap ministry Yesus yang diarahkan pertama-tama kepada Israel dan selanjutnya kepada bangsa-bangsa lain. Penerimaan Kristus akan bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa lain ini seharusnya membuat mereka saling menerima satu sama lain, yang iroinisnya tidak menjadi kenyataan praktis di sana.

Progres Israel-gentiles memiliki akar yang mendalam dalam sejarah Israel yang dimulai dengan panggilan dan janji Allah kepada Abraham, dan dirincikan kembali beberapa kali oleh para nabi.[10] Semua yang dijanjikan kepada Israel melalui karya Kristus, juga diberikan kepada bangsa-bangsa lain sebagai penggenapan dari janji-janji Allah di dalam PL melalui perantaraan para nabi (Rm. 1:2). Visi postif tentang penerimaan bangsa-bangsa lain dalam rencana penebusan memiliki dasar dalam kitab Taurat maupun para nabi. Artinya bahwa misi Paulus yang dimulai dari bangsa Yahudi kemudian diperluas kepada bangsa-bangsa kafir merupakan penggenapan dari apa yang telah tertulis dalam PL.

Bagaimana dengan Yesus? Apakah misi Yesus juga demikian? Saya telah menulis sebuah artikel yang menunjukkan bahwa memang pelayanan misi Yesus juga memiliki pola ini, yaitu, dimulai dari bangsa Yahudi lalu diperluas kepada bangsa-bangsa lain (baca di sini). Paul Barnett menyatakan,

Paul’s mission was Jesus’ mission.[11]

Kesimpulan
Berdasarkan ulasan di atas, kita melihat bahwa apa yang diajarkan dan dilakukan Paulus memiliki kesinambungan yang erat dengan Yesus. Tidak benar bahwa Paulus memiliki pemahaman dan misi yang berbeda dengan Yesus. Tidak benar pula bahwa Paulus adalah the founder of Christianity apakah dalam arti the true founder atau the second founder. Sebaliknya, dalam hampir semua surat-suratnya, Paulus selalu menandaskan bahwa dirinya adalah rasul Yesus Kristus. Paulus tak satu kalipun mengklaim diri sebagai pendiri kekristenan. Ia hanya alat, ya, alat yang sangat berharga di tangan Yesus. Dengan demikian, pandangan-pandangan negatif tentang Paulus, dimana Paulus dituduh telah menempuh “jalur yang berbeda” dari Yesus, sangat tidak benar!


[1] James D.G. Dunn, The Theology of Paul the Apostle (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1998), 2-3; lihat juga pengantar dalam tulisan saya yang berjudul: Amanuensis, Inspirasi, dan Otoritas Surat-surat Paulus.

[2] A.J.M. Wedderburn menulis kalimat ini pada kata pengantar buku yang ditulis oleh: W.A. Simmons, A Theology of Inclusion in Jesus and Paul: The God of Outcasts and Sinners (Lewiston, N.Y.: Mellen Biblical Press, 1996), v.

[3] Wilhelm Wrede, Paul (Boston: American Unitarian Association, 1908), 148, 151.

[4] Dikutip dalam: J.W. Fraser, Jesus and Paul (Abingdon, Berks, England: Marcham Books, 1974), 12.

[5] Dikutip dalam: Fraser, Jesus and Paul, 9.

[6] Paul Barnett, Paul: Missionary of Jesus (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2008), 16.

[7] Lih. Ben Witherington III, Apa yang telah Mereka Lakukan pada Yesus? Bantahan terhadap Teori-Teori Aneh dan Sejarah “Ngawur” tentang Yesus, terj. James Pantou (Jakarta: Gramedia, 2007), 305-307.

[8] Dikutip dalam S. Kim, Paul and the New Perspective: Second Thoughts on the Origin of Paul’s Gospel (Grand Rapids: Eerdmans, 2002), 281. Bnd. J. D. G. Dunn, The Theology of Paul the Apostle (Grand Rapids: Eerdmans, 1998), 185-189

[9] Untuk rincian yang lebih luas, lihat: F.F. Bruce, Apostle of the Free Spirit (Exeter: Paternoster, 1977), 95-112; lih. juga: James D.G. Dunn, “Jesus Tradition in Paul,” dalam Studying the Historical Jesus, ed. Bruce Chilton & Craig A. Evans (Leiden: Brill, 1994), 155-178.

[10] Khususnya Kej. 12:1-3; Yes. 49:1-3; Amos 9:11-12; Kej. 17: 4-6; 18:22; 26:4; 35:11; Mzm 2:8; 18:49; 22:27-28; 46:10; 57:9; 67:2, 4; 86:9; 96:3; 98:2; 102:15; 108:3; 111:6; 117:1; Yes. 11:10, 12; 42:1, 6; 52:10; 60:3, 5, 11; 61:11; 62:2; 66:19-29; Yer. 3:17; 4:2

[11] Lih. Barnett, Paul: Missionary of Jesus, 103-110, 111.