Pendahuluan
Tujuan saya menulis artikel ringkas ini bukan untuk mengulas hal-hal apa yang dituduhkan sebagai kesalahan dalam Alkitab, melainkan titik tolak apa yang dipakai ketika seseorang memberikan respons terhadap isu: Alkitab mengandung kesalahan atau tidak.
Sebagai landasan ulasan ini, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu definisi dari doktrin ineransi Alkitab.

Kata inerrant berasal dari kata kerja bahasa Latin: errare, yang merujuk kepada sesuatu yang menjauhi kebenaran. Dari kata ini, kemudian kita mendapat kata inerrant yang merujuk kepada kualitas yang bebas dari kesalahan (exempted from error/error-free). Jadi doktrin ineransi Alkitab berarti Alkitab adalah firman Allah yang pada naskah aslinya (autograph) memiliki kualitas yang bebas dari kesalahan, bukan hanya dalam hal yang berkaitan dengan moral dan kerohanian atau iman tetapi juga termasuk hal yang berkaitan dengan sejarah, geografi, dan ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, saya akan mengulas secara ringkas mengenai posisi-posisi teologis yang dianut berkenaan dengan doktrin ineransi Alkitab. Posisi-posisi ini akan saya sebut dengan menggunakan – mayoritas  – istilah saya sendiri. Tentunya, saya akan memberikan definisi stipulatif untuk masing-masing istilah tersebut.

Tetapi sebelumnya, bagi anda yang masih “samar-samar” tentang doktrin inspirasi Alkitab dan pengertian eksegetis, ada baiknya anda tinggalkan dulu artikel ini dan membaca empat artikel saya, yakni: Doktrin Inspirasi Alkitab: Sebuah Ulasan Ringkas-Teologis; Konsep Dasar Penafsiran Alkitab – Part One; Mengapa Perlu Melakukan Eksegesis?; dan Pentingnya Memahami Genre Alkitab dalam Melakukan Eksegesis. Dengan membaca keempat artikel ini terlebih dahulu, pemahaman anda akan istilah-istilah kunci serta konsepnya dalam artikel ini akan semakin jelas.

A. Alkitab Mengandung Kesalahan (Errantists)
Dua golongan penganut errantists yang akan saya sebutkan di bawah ini adalah: Outsiders dan Insiders.

1. “Orang-orang Luar” (“Outsiders”)
Istilah Outsiders yang saya maksudkan di sini adalah orang-orang non Kristen. Mereka adalah para penentang kekristenan  dari pihak non Kristen yang memamerkan tudingan-tudingan mereka  karena berangkat dari asumsi bahwa ajaran Alkitab tidak dapat dipercayai sebagai kebenaran mutlak. Menurut mereka Alkitab adalah buku biasa, bukan firman Tuhan. Karena Alkitab bukan firman Tuhan, maka Alkitab memang mengandung kesalahan. Alkitab, bagi mereka, bukanlah firman Tuhan yang berotoritas mutlak serta inerrant dan infallible.

2. “Orang-orang Dalam” (“Insiders”)
Insiders yang saya maksudkan di sini adalah orang-orang Kristen. Kategori insiders ini bisa dirinci lagi menjadi dua golongan utama, yaitu:

Pertama, orang-orang Kristen critical, yakni mereka yang mengusung presuposisi-presuposisi higher criticism (Kritik Tinggi), yang di satu sisi menjunjung Alkitab sebagai basis kajian, tapi di sisi lain tidak sungkan-sungkan menunjukkan adanya kesalahan dalam Alkitab. Mereka bukan hanya tidak sungkan-sungkan, tetapi meyakini bahkan membela posisi ini sedemikian rupa, sehingga pada taraf ini kita suli membedakan mereka dengan outsiders di atas.

Kedua, orang-orang Kristen moderat, yang sangat menghormati Alkitab dan menjunjung tinggi otoritasnya, namun terbuka bahwa Alktitab bisa saja mengandung kesalahan kecil, namun tetap bisa dipercaya kehandalannya. Orang-orang ini tampaknya menerima sebagian hasil studi kaum critical di atas, namun tetap bersikap, dalam parafrase saya: “kalo ada kesalahan, so what gitu lho”. Ini adalah posisi yang kelihatannya faithful tapi sebenarnya bersifat reduktif terhadap dari doktrin inspirasi Alkitab, yakni bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Allah yang tanpa salah.

B. Alkitab Tidak Mengandung Kesalahan (Inerrantists)
Saya akan menyebut dua kategori penganut paham ineransi Alkitab, berikut ini:

1. “Pokoknya-Inerransi”
Yang saya maksudkan dengan para penganut “pokoknya inerransi” adalah orang-orang Kristen yang secara spontan dan gigih langsung mengambil posisi oposisi (berlawanan) ketika ada tuduhan bahwa Alkitab mengandung kesalahan. Mereka ini sedemikian mencintai Alkitab sampai-sampai sampai-sampai mereka langsung bereaksi konfrontatif untuk menolak semua hal yang diajukan oleh para penentang ineransi. Seolah-olah karena hal-hal tersebut dilontarkan oleh para penentang inerransi, maka semuanya pasti salah. Ini adalah sebuah kesalahan logika (genetic fallacy).

Para penganut posisi ini akan berupaya sedemikian rupa untuk menunjukkan data sejarah tandingan yang “lebih” guna “menggugurkan” data sejarah apa pun yang diajukan para pengritik ineransi. Jika mereka tidak menemukan data tandingan itu, pada akhirnya mereka akan berkata: “pokoknya Alkitab tidak salah!” Sekali lagi, inilah yang saya sebut “pokoknya-ineransi”! Mereka bahkan dapat terjebak untuk menggunakan standar yang sama dengan para penentang, hanya saja mereka merasa memiliki data yang lebih trustworthy ketimbang para pengritik (false analogy).

Hal yang positif dari posisi ini adalah kesetiaannya terhadap basis teologis bahwa yang menginsiprasikan Alkitab adalah Allah sendiri, sehingga Alkitab yang adalah firman Allah yang berotoritas mutlak itu pastilah tanpa salah sama sekali. Persoalannya adalah posisi ini kurang menegaskan implikasi dari fakta bahwa Alkitab mengandung proposisi-proposisi yang time-bounded. Dan kekurangan inilah yang ditegaskan dalam posisi berikut ini.

2. “Inerransi-Eksegetis-Teologis”
Yang saya maksudkan dengan “inerransi-eksegetis-teologis” adalah inerransi yang bersifat eksegetis dan juga teologis. Bukan hanya eksegetis, bukan pula hanya teologis, tapi keduanya: eksegetis sekaligus teologis. Posisi ini berpegang teguh bahwa standar penilaian terhadap Alkitab haruslah bersifat inherent, yaitu otoritas yang terdapat di dalam Alkitab itu sendiri, dan secara eksernal berbasis pada context para penulis Alkitab. Para penganut “inerransi-eksegetis-teologis” jelas menolak segenap presuposisi teologis yang merendahkan nilai Alkitab, namun tidak serta merta menolak data sejarah apa pun yang diajukan para penentang untuk menunjukkan kesalahan dalam Alkitab. Bagi mereka, data sejarah tersebut bisa saja undeniable, namun bukan berarti dapat dipakai untuk menghakimi Alkitab. Mereka lebih cenderung untuk mengajak para penentang tersebut memeriksa standar yang dipakai oleh para penentang Alkitab ketika mereka menuding Alkitab mengandung kesalahan. Pemeriksaan standar tersebut dilakukan secara eksegetis, yakni memeriksa context para penulis Alkitab guna melihat apakah standar tersebut berlaku atau tidak pada masa para penulis Alkitab.

Bagi para penganut posisi ini, Alkitab adalah firman Allah yang berotoritas mutlak. Dari segi sifatnya, Alkitab bersifat ilahi sekaligus manusiawi (inspirasi organis). Alkitab mengandung proposisi-proposisi yang timeless sekaligus propoisisi-proposisi yang time-bounded. Karena mayoritas kesalahan yang dituduhkan kepada Alkitab berhubungan dengan proposisi-proposisi yang time-bounded, maka basis yang sah untuk menilai standar atau asumsi dari tuduhan tersebut bukan hanya bersifat teologis melainkan juga eksegetis, yaitu context penulisan Alkitab.

Tentu, penempatan standar penilaian pada konteks para penulis Alkitab, tidak berarti bahwa setiap tuduhan pasti bisa terjawab dengan memuaskan. Mengapa? Karena ada gap-gap eksegetis yang terbentang: gap linguistik, gap sejarah, gap budaya, dan gap filosofis. Untuk hal-hal yang tidak dapat kita pastikan karena terhalang gap-gap ini, mereka memilih untuk terbuka bahwa tidak ada cukup alasan untuk memastikannya. Meski begitu, itu tidak berarti bahwa karena tidak memiliki cukup alasan untuk memastikannya, maka si pengritik mendapat keuntungan untuk posisinya. Tidak!

Penutup
Pertimbangan-pertimbangan di atas menunjukkan bahwa posisi inneransi-eksegetis-teologis lebih komprehensif untuk di anut. Alkitab adalah firman Allah yang berotoritas mutlak, dan dalam hubungan dengan proposisi-proposisinya yang time-bounded, Alkitab tidak mengandung kesalahan menurut konteks para penulis Alkitab, bukan menurut standar penilaian modern dan postmodern![1]


[1] Dalam artikel ini saya tidak menyebut hal-hal apa saya yang terkategorikan sebagai standar “modern” dan “postmodern”. Menurut saya, itu hanya dapat disebut bila saya membahas case-by-case. Isi artikel ini tidak mencakup hal ini.