Pasal yang “Dikasihi”
Injil Yohanes bukan hanya memperkenalkan kepada kita “murid yang dikasihi” (The Beloved Disciple), melainkan juga Injil ini sendiri adalah “Injil yang dikasihi” (The Beloved Gospel). Lebih khusus lagi, pasal 17 yang merupakan catatan terpanjang dari Doa Tuhan Yesus dalam Kitab-kitab Injil, bagi mayoritas penafsir layak dijuluki sebagai “pasal yang dikasihi” (The Beloved Chapter). Julukan ini tentu tidak berlebihan, karena di dalam doa Yesus ini kita diberitahu mengenai apa yang menjadi isi hati Yesus bagi para pengikut-Nya beberapa saat sebelum Ia “dipermuliakan” (baca: disalib; “departing prayer”; bnd. ay. 1, 4, 13; bnd. ps. 16). Sedemikian pentingnya kerinduan tersebut, sehingga Yesus mendoakanya dengan sangat khusyuk kepada Bapa-Nya.

Lesllie Newbigin, seorang pemimpin besar Gereja Anglikan dan misionaris di India, dalam eksposisinya yang terkenal mengenai pasal ini, menulis demikian:

“Tatkala seseorang akan melakukan perjalanan jauh, ia akan menggunakan malam terakhirnya untuk membicarakan hal terpenting dari hatinya kepada keluarganya lalu – jika ia adalah seorang yang takut akan Allah – ia akan mengakhirinya dengan berseru kepada Tuhan bukan hanya mengenai kepergiannya, melainkan juga keluarga yang ditinggalkannya. Sudah dapat dipastikan ini akan dilakukan apalagi kalau kepergian tersebut merupakan kepergian untuk selamanya.”

Yohanes 17, berdasarkan fokus doa Yesus, dapat dibagi ke dalam dua bagian besar, yakni: Yesus berdoa mengenai Diri dan tugas-Nya (ay. 1-8); dan Yesus berdoa bagi para murid-Nya termasuk orang-orang yang percaya kepada pemberitaan mereka (ay. 9-21). Dalam pembagian ini, saya akan memusatkan perhatian kepada doa Yesus bagi para pengikut-Nya.

Isi Hati Yesus bagi para Pengikut-Nya
Saya mengamati, paling tidak terdapat 5 (lima) hal yang menjadi kerinduan hati Yesus dalam hubungan dengan para pengikut-Nya.

Pertama, Yesus berdoa “supaya mereka menjadi satu” (ay. 11, 21-23). Yesus tidak berdoa supaya kita menjadi seragam, satu warna, tanpa perbedaan. Yesus berdoa supaya kita menjadi satu di dalam kekayaan spektrum kehidupan ini. Menjadi satu dalam standar yang bagaimana? Standar yang disebutkan Yesus adalah seperti (kathos) Dia dan Bapa. Yesus berdoa agar para pengikut-Nya satu di dalam kasih, sebagai Yesus mengasihi Bapa; satu di dalam ketaatan, sebagaimana Yesus takluk kepada rencana Bapa-Nya; menjadi satu di dalam iman, sebagaimana Yesus mempercayakan seluruh hidup-Nya kepada rencana keselamatan yang mesti Ia genapi melalui inkarnasi-Nya. Intinya, menjadi satu di dalam segala sesuatu yang Allah kehendaki, sebagaimana yang diajarkan dalam Alkitab.

Kedua, Yesus berdoa “supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam mereka” (ay. 13). Sukacita Yesus jangan dimengerti secara materialistik, hedonistik, dan konsumeristik. Sukacita Yesus juga bukan sekadar impuls-impuls perasaan riang yang dapat segera pupus tertimpa badai kehidupan. Sukacita Yesus adalah sukacita karena melihat salib sebagai jalan pendamaian sekaligus jalan perealisasian misi-Nya. Sukacita Yesus adalah sebuah kepuasan karena ketaatan-Nya kepada Bapa membuahkan hasil yang tidak ternilai. Contoh dari sukacita seperti ini dapat kita baca di dalam Surat Filipi, yang disebut juga “Surat Sukacita” atau “Surat Bahagia” padahal si penulisnya (Paulus) sementara mendekam di dalam penjara bawah tanah sembari tangan serta kakinya dipasung. Sukacita yang melampaui situasi, karena sumbernya bukanlah apa yang “ada di bawah matahari” melainkan Dia yang melampaui segala sesuatu. Dan sukacita inilah yang didoakan Yesus, bukan hanya supaya menaungi, melainkan penuh di dalam diri mereka (pepleromen en eautois). Sukacita ini bukan sekadar sebuah side effect (efek samping) dari kehidupan seorang murid Kristus; itu adalah bagian integral di dalam diri seorang pengikut Kristus.

Ketiga, Yesus berdoa “supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (ay. 15). Terjemahan “yang jahat” dapat sedikit menyesatkan, seolah-olah Yesus bermohon agar para pengikut-Nya tidak mengalami suatu hal buruk apa pun. Padalah yang Yesus doakan adalah supaya kita dilindungi dari si jahat, yaitu setan. Karena tou ponerou dalam ayat ini dipakai secara substantif (the evil one – NIV; NAB). Permohonan seperti ini juga terdapat dalam doa yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya: “…tetapi lepaskanlah kami dari si jahat” (Mat. 6:13; LAI menerjemahkannya: “yang jahat” – huruf miring ditambahkan).

Keempat, Yesus berdoa “supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran” (ay. 19). Anak kalimat pertama ayat 19: “Aku menguduskan Diri-Ku bagi mereka,” pertama-tama mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat bersandar kepada usaha diri kita semata untuk menjadi Kudus. Kekudusan Kristus adalah dasar sekaligus orientasi kekudusan kita. Meskipun begitu, Kristus tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa. Hendaknya kita mengingat dengan jelas bagian yang sering diulang di dalam Alkitab: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (Im. 11:44, 45; 19:2; 20:26; 21:8; 22:32; Yeh. 20:40; dan 1Pet. 1:16). Doa Yesus bukan hanya memberikan jaminan bahwa Diri-Nya merupakan fondasi pengudusan kita, melainkan juga dorongan untuk menguduskan diri, sebagaimana Kristus telah menguduskan Diri-Nya. Menjadi kudus memang berarti dipisahkan atau disendirikan bagi Kristus, tetapi juga jangan lupa kitapun mesti berjuang untuk memisahkan atau menyendirikan diri bagi kebenaran. Sebuah paradoks yang indah: pasif sekaligus aktif.

Kelima, Yesus berdoa “agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (ay. 24). Kata-kata Yesus dalam ayat ini memberikan gambaran yang utuh mengenai jangkauan doa Yesus. Yesus bukan hanya berdoa bagi keberadaan para pengikut-Nya di dalam dunia. Yesuspun mendoakan kita untuk nasib kekekalan kita. Yesus, Sang Jurusyafaat itu membawa kita di dalam doa-Nya supaya kita kelak kita dapat “memandang kemuliaan-Nya.”

Salah satu bait dari himne yang ditulis oleh Isaac Watts, berbunyi demikian:

Di sana kulihat, dengan kesenangan yang manis bagai madu,
Trinitas yang mulia;
Dan kasih sayang yang kuat membuat pandanganku terpaku
Pada Putra Allah yang berinkarnasi jadi manusia.

Ya, sekarang kita hanya mendengar dan percaya, tetapi nanti kita akan melihat-Nya, muka dengan muka.

Penutup
Jika hari ini kita masih mencari-cari alasan untuk menjadi pengikut Kristus, lihatlah betapa Ia mendoakan para pengikut-Nya. Jika hari ini kita masih memerlukan sebab untuk berkenan kepada Dia, pandanglah betapa khusyuknya Ia mendoakan itu bagi kita. Ia memang telah berada di sorga. Tetapi kita tidak dibiarkan sendiri. Dia mengaruniakan Roh Kudus berdiam di dalam kita. Bahkan segala apa yang perlu untuk kehidupan dan iman kita, telah ia doakan kepada Bapa-Nya. Tepat sekali apa yang ditulis oleh James I. Packer:

“Doa yang dipanjatkan diam-diam merupakan mata air utama dari hidup orang-orang saleh.”

Doa Yesus ini adalah mata air yang pancaran-Nya tak akan pernah berhenti, karena mengalirnya dari hati Yesus yang terdalam, di mana Ia sedemikian mengasihi para pengikut-Nya. Amin!