Sebelumnya saya sudah menulis sebuah note singkat mengenai kesalahan eksegetis dalam ranah studi kata (lexiology), yaitu: Reduksi Arti Kata yang Tak Sah. Kali ini, saya akan melanjutkan ulasan saya mengenai kesalahan eksegetis dalam ranah studi kata, yaitu: Transfer Total Arti Kata yang Tak Sah.

Kecenderungan Penggunaan Terminus Technicus dan Manfaatnya
Dalam ranah systematic theology (teologi sistematika), kita mengenal banyak sekali istilah teknis (Lat. terminus technicus): pengudusan, pemilihan, baptisan Roh Kudus, penyembahan (adoration), dan sebagainya. Istilah-istilah ini disebut istilah teknis karena pada istilah-istilah ini termuat satu set pemahaman teologis yang terwakilkan ketika kita menggunakan istilah-istilah ini. Misalnya ketika kita menggunakan istilah “pemilihan” kita langsung berpikir tentang tindakan berdaulat Allah di dalam kekekalan dalam memilih sebagian orang sesuai dengan kerelaan kehendaknya untuk menikmati manfaat atau khasiat karya penebusan Kristus (definisi penganut Calvinisme).

Manfaat dari penggunaan terminus technicus adalah bahwa kita tidak perlu menggunakan kalimat yang panjang dalam definisi ini untuk bicara tentang suatu konsep. Kita hanya perlu menggunakan sebuah istilah teknis, dan set pemahaman teologisnya langsung terpampang dalam benak kita. Sampai di sini, kita dapat melihat manfaat yang sangat signifikan dari sebuah istilah teknis.

Transfer Total Arti yang Tak Sah (Illegitimate Totality Transfer)
Akan tetapi, dalam ranah eksegesis, kecenderungan penggunaan istilah teknis di atas dapat memimpin seseorang melakukan kesalahan eksegetis yang disebut transfer total arti kata yang tak sah ketika menafsirkan sebuah kata di dalam sebuah teks tertentu. Kesalahan eksegetis ini terjadi ketika seorang ekseget (penafsir) mentransfer totalitas pemahaman teologisnya berkenaan dengan istilah tertentu kepada penggunaan istilah tersebut dalam sebuah teks tertentu.

Mengapa tindakan mentransfer totalitas pemahaman teologis dari sebuah istilah kepada penggunaannya di dalam sebuah teks tertentu merupakan sebuah kesalahan (illegitimate)?

Di dalam eksegesis, prinsip penting dalam studi kata (lexiology) adalah bahwa arti atau makna sebuah kata di tentukan oleh konteks penggunaannya pada teks tersebut. Mengapa prinsip ini disebut prinsip penting? Karena setiap kata di dalam bahasa Ibrani maupun Yunani (bahasa asli PL dan PB) memiliki lebih dari satu arti. Itulah sebabnya, ketika kita melakukan studi kata, misalnya memeriksa arti sebuah kata dalam sebuah Lexicon Ibrani atau Yunani, kita harus sadar bahwa fungsi Lexicon tersebut semata-mata memberitahukan kepada kita apa dan berapa banyak pilihan arti yang kita hadapi untuk menerjemahkan atau menafsirkan makna penggunaan sebuah kata di dalam teks tertentu. Makna penggunaan sebuah kata di dalam sebuah teks TIDAK ditentukan oleh Lexicon, tidak pula ditentukan oleh arti teknisnya, tetapi oleh konteks penggunaannya. Singkatnya, makna atau arti sebuah kata di dalam teks tertentu TIDAK ditentukan oleh teologi kita mengenai kata tersebut (technical meaning), melainkan ditentukan oleh konteks penggunaannya di dalam teks tersebut.

Jangan sampai, misalnya, setiap kali kita menemukan kata “menyembah” lalu kita berpikir pasti itu merupakan sebuah penyembahan kepada yang ilahi. Atau setiap kali kita menemukan kata “pengudusan” kita langsung berpikir bahwa itu merupakan progressive sanctification, dsb.

Saya perlu menyebutkan bahwa sarjana biblika yang berjasa dalam mencetuskan ide ini sekaligus menyadarkan kita untuk tidak terjebak dalam kesalahan ini adalah James Barr dalam bukunya: The Semantic of Biblical Language (Oxford: Oxford University Press, 1961). Setelah Barr melontarkan konsep ini, banyak sarjana lain yang mengadakan riset tentang hal ini. Meski begitu, sarjana yang bukunya sangat representatif dalam hal ini, yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, adalah D.A. Carson, Kesalahan-kesalahan Eksegetis, terj. Lanna Wahyuni (Surabaya: Momentum, 2009). Khususnya mengenai kesalahan eksegetis yang berhubungan dengan arti teknis ini serta contoh-contohnya, lihat Carson, Kesalahan-kesalahan Eksegetis, 51-55.

Penutup
Sekali lagi, kita perlu waspada untuk tidak menafsirkan sebuah kata dalam penggunaannya pada teks tertentu yang hendak kita tafsirkan dengan konsep total (konsep teologisnya atau arti teknisnya) yang kita pahami terhadap kata tersebut. Eksegesis yang sehat, khususnya dalam hal studi kata, mewajibkan kita untuk HARUS mengartikan kata-kata di dalam kalimatnya menurut KONTEKSnya, bukan menurut arti teknisnya atau arti teologisnya.