Pendahuluan
Kata sifat dalam bahasa Yunani memiliki beberapa fungsi dasar, yakni: fungsi atributif (memodifikasi sebuah kata benda); fungsi predikatif (menegaskan sebuah kata benda); dan fungsi substantival (digunakan sebagai kata benda).Pengenalan akan fungsi-fungsi kata sifat di atas, menolong kita untuk memahami dengan jelas apa yang tertulis dalam Matius 6:13, “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat” (ITB LAI). Kata “yang jahat” di sini merupakan terjemahan dari kata ponerou (yang berasal dari kata poneros, berarti “jahat”).

Tou Ponerou: “yang jahat” atau “si jahat”?
Mengenai kata tou ponerou dalam ayat ini, pada umumnya disepakati bahwa fungsinya adalah fungsi substantival (kata sifat ini berfungsi sebagai kata benda). Meskipun begitu, para penerjemah Alkitab berbeda pendapat soal gender dari kata tou ponerou dalam ayat ini. Ada yang melihat kata ini bergender Neuter, sedangkan ada yang bersikeras bahwa gendernya adalah maskulin. Bagi mereka yang memahami kata ini dalam gender neuter, akan menerjemahkanya menjadi “hal yang jahat” atau “yang jahat” (evil; sesuatu yang jahat secara umum; bnd. cf. Luk. 6:45; Rm. 12:9; 1Tes. 5:22). Beberapa terjemahan yang menganut pandangan ini, antara lain: KJV; NAS; ESV; dan ITB LAI.  Di pihak lain, mereka yang memahami kata ini bergender maskulin, akan menerjemahkan kata tou ponerou menjadi: “si jahat” (the evil one; Setan; bnd. 13:19, 38; Yoh. 10:28-30; 17:15; Ef. 6:16; 1Yoh. 2:13-14; 3:12; 5:19). Beberapa terjemahan yang dibuat berdasarkan ide ini, antara lain: NIV;  NAB; BIS-LAI.

Sebagai informasi tambahan, beberapa seri tafsiran mengingatkan bahwa kata tou ponerou dalam ayat ini dapat berarti “yang jahat” mau pun “si jahat. Walau begitu, mereka lebih menitikberatkan tafsiran mereka kepada terjemahan “si jahat” ketimbang “yang jahat” (Matthew –NIVAC; Matthew-WBC; Matthew-EBCNT)

Signifikansi “yang jahat” dan “si jahat”
Sebenarnya, signifikansi apakah yang membedakan kedua pilihan terjemahan terhadap kata tou ponerou dalam ayat ini?

Singkat saja, terjemahan “yang jahat” mengindikasikan bahwa petisi ini (petisi ketujuh dalam Doa Bapa Kami) diarahkan untuk meminta perlindungan Tuhan sehingga umat-Nya terlindung dari hal yang jahat (musibah; malapetaka; penyakit; dsb, sebagai akibat dari kejahatan). Di sisi lain, terjemahan “si jahat” menandaskan bahwa petisi tersebut lebih dikaitkan dengan permohonan perlindungan terhadap iblis sendiri.

Lalu, tou ponerou dalam ayat ini mestinya dipahami dalam arti yang mana?

Beberapa Pertimbangan Eksegetis
Berikut ini saya akan mengajukan beberapa pertimbangan eksegetis yang menunjukkan bahwa tou ponerou dalam Matius 6:13 lebih cocok diartikan “si jahat” ketimbang “yang jahat”.

Pertama, petisi ketujuh, “lepaskanlah kami dari si jahat” berhubungan erat dengan petisi keenam, “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”. Kata “pencobaan” [temptation; kata “pencobaan” atau “mencobai” dalam PB berarti “enticement to sin”] dalam petisi keenam ini sebaiknya dipahami sebagai “ujian” [testing; bertujuan positif]. Karena Allah tidak mencobai siapapun (Yak. 1:13). Memang kesulitan untuk memahaminya sebagai ujian adalah bahwa dalam beberapa bagian, Alkitab justru menasihatkan supaya kita bersukacita jika kita diuji oleh Allah (1Kor. 10:13; Yak. 1:2). Meski begitu, karena beberapa ujian tidak terhindarkan (untuk memurnikan iman; atau bersifat eskatologis yang ditandai dengan apostasi), maka petisi ketujuh disampaikan kepada Allah supaya ujian tersebut tidak dimanfaatkan oleh Iblis demi tujuannya.

Kedua, kata rhusai (modus imperatif aorist dari kata rhuomai, berarti “lepaskanlah” atau “bebaskanlah” atau “selamatkanlah”) dapat diikuti dengan preposisi ek (keluar dari) maupun apo (dari [arah]). Kata depan ek, “always introducing things from which to be delivered.” Sedangkan apo biasanya digunakan predominantly of persons” (J.B. Bauer, 34; Zerwick, 89). Dan dalam petisi ini, kata depan yang digunakan adalah “apo” (alla rhousai hemas apo tou ponerou).

Ketiga, penyebutan kata peirasmos (pencobaan; ujian) untuk pertama kalinya dalam Injil Matius (4:1-11) berhubungan langsung dengan setan. Jadi petisi ini, secara implisit mengingatkan kita tentang ketidakberdayaan kita terhadap Iblis yang hanya bisa ditaklukkan oleh Yesus, juga menegaskan bahwa kebergantungan atas pertolongan Allahlah yang sanggup membebaskan kita dari kuasa dan muslihat Iblis yang selalu berupaya menjatuhkan kita (bnd. 1Pet. 5:8).

Keempat, mungkin tidak terlalu signifikan, tetapi bentuk tunggal kata tou ponerou juga secara implisit mendukung rujukan, terutama, kepada iblis.

Konklusi
Berdasarkan beberapa pertimbangan di atas, saya percaya bahwa petisi ini lebih berhubungan dengan permohonan proteksi terhadap iblis sendiri (bnd. Daniel Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics, 233). Tepatlah apa yang dikatakan Daniel Wallace mengenai petisi ini,

The Father does not always keep his chidren out of danger, disasters, or the ugliness of the world. In short, he does not always deliver us from evil. But he does deliver us from the evil one. The text is not teaching that God will make our life a rose garden, but that he will protect us from the evil one, the devil himself (cf. John 10:28-30; 17:15).

Kita harus selalu mengingat dengan jelas, atas ajaran Yesus melalui petisi ini, bahwa kehidupan sebagai orang percaya adalah kehidupan yang selalu ditandai dengan peperangan rohani (lih. uraian Bruce Chilton, Jesus’ Prayer and Jesus’ Eucharist: His Personal Practice of Spirituality, 46-47). Karena itu, kita perlu selalu waspada dan bermohon, sebagaimana yang diajarkan Yesus melalui petisi ini, sambil terus percaya bahwa Allah, Bapa kita akan “ deliver us from the Evil One and his purposes” [Donald Hagner, Matthew 1-13, WBC].