Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? (1Kor. 15:29)

Kalimat di atas dilontarkan Paulus dalam rangkaian argumen-argumennya mengenai kebangkitan Kristus yang olehnya menjadi dasar dari kebangkitan kita. Persoalannya, apakah yang dimaksud dengan “dibaptis bagi orang yang telah meninggal”? Apa hubungan ungkapan tersebut dengan topik tentang kebangkitan Kristus sebagai dasar dari kebangkitan kita?

Sejarah Eksegesis dan Evaluasi
Ayat yang malang ini, dalam sejarah eksegesis telah menerima banyak usulan arti dari para ekseget. Yang paling umum, di antaranya: para Bapa Gereja menafsirkan frasa tersebut sebagai penanda kefanaan tubuh kita. Maksudnya, baptisan bersifat jasmaniah, dan tubuh yang mendapat manfaat dari baptisan itu bisa mati. Di kemudian hari muncullah eksegesis “baptisan untuk orang yang sudah meninggal.” Hans Conzelmann mengartikan “dibaptis bagi orang mati” sebagai “baptisan vikariat,” di mana seseorang yang hidup memberi diri dibaptis sebagai pengganti (vikariat) bagi seseorang yang sudah meninggal. Penafsir-penafsir lain (Holwerda, Bachmann, Cappellus) mengusulkan bahwa baptisan vikariat ini diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang sekarat, yang hampir menghembuskan nafas terakhirnya. Ada juga yang menganggap bahwa baptisan vikariat ini dilakukan oleh orang-orang kafir yang tergerak hatinya oleh orang-orang Kristen, sehingga setelah orang Kristen itu meninggal, orang-orang kafir tadi memberi diri dibaptis demi orang Kristen tersebut (Reader; Jeremias; Robertson-Plummer).

Pertanyaannya adalah apakah pernah ada ritual baptisan untuk orang-orang yang sudah mati? Bachman, merujuk juga Tertullianus dan Chrysostomus, menceritakan bahwa baptisan vikariat hanya terjadi sebagai karakteristik kaum Marcionit. Kaum Marcionit melakukan baptisan vikariat bagi seorang katekumen yang sedang sekarat. Biasanya seorang yang sehat disuruh duduk di bawah ranjang orang yang sekarat itu sambil menjawap semua pertanyaan yang diajukan kepada si sakit, lalu menerima baptisan pengganti bagi si sakit.

Persoalannya, jika yang dimaksudkan dengan “dibaptis bagi orang mati” adalah baptisan vikariat (sebagai ritual khas jemaat Kristen), mengapa tidak ada rujukan yang spesifik dalam ayat ini (misalnya, “di tengah-tengah kamu” atau “pada kamu”)? Dalam ayat ini, Paulus menggunakan pernyataan yang bersifat umum, yang memberi kesan sebagai suatu ritual yang umum dipraktikkan pada zaman itu. Dan di sinilah letak kesulitan untuk menerima usulan arti “baptisan vikariat” bagi ayat ini. Karena tidak terdapat bukti-bukti historis yang memadai untuk ritual ini sebagai ritual umum pada zaman itu.

Pertanyaan lain yang juga sangat signifikan adalah apakah kata “baptizein” dalam ayat ini harus diartikan “membaptis” atau ada arti lain yang dapat ditelusuri guna menemukan maksud yang sesungguhnya dari Paulus melalui “dibaptis bagi orang mati”? Apakah hubungan ayat ini dengan topik tentang kebangkitan dan ayat 30-31,

Dan kami juga mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

Mengenai hal ini, saya akan mengemukakan sebuah tafsiran yang berbeda, yang menurut saya lebih mewakili apa yang Paulus maksudkan dengan frasa “dibaptis bagi orang mati” dalam hubungannya dengan topik tentang kebangkitan dalam 1 Korintus 15.

Rujukan tentang “Bulan Pebruari” dalam Tulisan Tertulianus
Para ekseget (penafsir) yang menganggap frasa “dibaptis bagi orang mati” di sini merujuk kepada baptisan vikariat biasanya mendasarkan tafsiran mereka atas tulisan Tertulianus. Tertulianus pernah menulis tentang ritus baptisan vikariat dalam kalangan Marcionit. Tetapi kesulitan untuk menerima usulan tafsiran ini adalah bahwa ritus baptisan vikariat di kalangan kaum Marcionit adalah ritus yang baru dipraktikkan kemudian. Dan tidak ada bukti bahwa komunitas percaya di Korintus mempraktikkan ritus baptisan vikariat (atau Proxy Baptism).

Meskipun begitu, dengan mencermati tulisan Tertulianus, kita mendapatkan semacam petunjuk untuk mengartikan frasa “dibaptis bagi orang mati.” Tertulianus dalam tulisan tersebut, mencela ritus baptisan vikariat dari kalangan Marcionit sebagai kesia-siaan dan menyamakannya dengan kebiasaan kaum kafir yang biasanya mempersembahkan korban serta menaikkan doa untuk kaum familinya yang sudah meninggal pada bulan Pebruari. Memang ada yang kemudian menghubungkan kata-kata tersebut dengan baptisan (Scalinger). Karena diperkirakan bahwa orang Kristen mula-mula menganggap bahwa bulan Pebruari adalah bulan Yesus dibaptis oleh Yohanes. Sedangkan di kemudian hari orang-orang merujuk kepada bulan Januari sebagai bulan Yesus dibaptis.

Namun, mencermati kata-kata Tertulianus, lebih wajar kalau kita mengaitkan “bulan Pebruari” dengan “orang mati”. Maksudnya, melalui kata “orang mati” dalam 1Kor. 15:29, Tertulianus menunjuk ke bulan Pebruari. Dan menarik untuk diketahui bahwa bulan Pebruari adalah bulan di mana orang-orang kafir pada masa itu membersihkan makam, mempersembahkan korban untuk orang mati, dan merayakan semacam “Hari Peringatan Arwah” (lih. Supp. XII).

Ritual Perawatan Arwah dalam Kebudayaan Kuno
Informasi di atas mendorong kita untuk memikirkan apakah kebiasaan tersebut didahului dengan semacam pembasuhan atau penyucian tertentu. Dan  sebagaimana yang telah diteliti oleh Th. Watchter, tidak ada informasi yang jelas mengenai “penyucian demi [perawatan] orang-orang mati.” Meskipun begitu, penelitian ini memberikan informasi bahwa tampaknya ada sekelompok orang pada waktu itu yang dengan cara khusus melakukan sesuatu untuk orang-orang mati. Dan demi “sesuatu” itu, mereka bekerja keras.

Dalam penelitian lanjutan dari E. F. Buck, ditemukan bahwa kebiasaan lama kaum kafir untuk membekali orang mati dengan berbagai barang dalam makam-makam mereka sudah tidak dipraktikkan lagi di daerah kebudayaan Yunani pada masa itu. Namun, kebiasaan memuja orang mati dilanjutkan dengan ada merawat orang yang sudah dikubur bersama kuburannya, dengan korban dan hidangan makanan.

Dalam abad-abad sesudah Aleksander Agung, ketika hubungan-hubungan normal antar-keluarga dan antar-kota semakin hilang, terbentuk “perkumpulan-perkumpulan perawatan orang-orang mati” yang menerima anggota-anggota dengan mengenakan iuran dalam jumlah tertentu. Perkumpulan-perkumpulan ini berkewajiban untuk setiap tahun mempersembahkan korban-korban di makam-makam. Dan di Korintus, pada masa Paulus juga terdapat perkumpulan-perkumpulan ini [lih. Richard e. DeMaris, “Corinthian Religion and Baptism for the Dead (1 Corinthians 15:29): Insights from Archeology and Anthropology” in Journal of Biblical Literature 114 (1995), 661-682].

Cicero bahkan merasa heran bahwa sejumlah filsuf yang tidak mau tahu mengenai kelanggengan manusia di bumi, toh meninggalkan surat wasiat dengan pesan tentang perawatan makam mereka dan tentang persembahan korban-korban untuk orang mati. Sebagai akibat perkembangan itu, muncullah jasa perawatan kuburan: ada orang-orang yang bertugas di bidang ini. Di makam-makam, mereka menuangkan korban-korban curahan ke dalam corong-corong sehingga masuk ke dalam kuburan; kadang-kadang, mereka juga mempersembahkan korban hewan di kuburan itu; atau mereka mengadakan jamuan makan untuk memperingati orang yang sudah mati itu. Yang jelas, dalam hubungan dengan kebiasaan ini, ada sekelompok orang khusus yang mendapat imbalan tertentu  bahkan ongkos perjalanan kalau makam yang harus mereka rawat itu jaraknya jauh. Artinya kelompok ini melakukan “sesuatu” bagi orang-orang mati (lih. Richard e. DeMaris).

Jika demikian, apakah hubungan sekelompok orang-orang yang mendapat imbalan untuk melakukan “sesuatu” bagi orang mati ini dengan tulisan Paulus tentang “dibaptis bagi orang mati” dalam 1 Korintus 15:29?

Untuk menghubungkan fakta sejarah ini dengan kata-kata Paulus dalam 1 Korintus 15:29, kita perlu mengajukan pertanyaan terakhir: apakah arti kata “baptizo” yang digunakan dalam ayat ini?

Arti Kata “Baptizo” dan Hubungannya dengan Topik Kebangkitan dalam 1Kor. 15:29
Semua terjemahan Alkitab menerjemahkan kata baptizomenoi dan baptizontai (dari kata baptizo) dalam ayat ini dengan “dibaptis” (baptized). Bahkan Kamus Yunani BDAG mengartikan kata ini sebagai cirri khas Kristen.  BDAG juga memuat keterangan bahwa kata ini memiliki arti khiasan, namun memberi kesan seakan-akan arti khiasan itu selalu bergantung atas pemakaiannya dalam konteks Kristen yang memikirkan tentang tindakan “membaptis”. Jelas bahwa keterangan ini tidak sepenuhnya benar. Karena, misalnya, kamus umum untuk Bahasa Yunani (Liddell-Scott) menggambarkan arti kata ini sebagai berikut: 1) membenamkan; bentuk pasifnya: dibenamkan, tenggelam, karam; 2) menciduk anggur dengan cara mengisi cawan di dalam tong anggur; 3) membaptis.

Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam tulisan Diodorus Siculus (Diodorus Siculus, I 73,6), dikisahkan mengenai seorang raja yang tidak “membebani”  orang-orang swasta dengan pajak. Dan kata kerja yang darinya diterjemahkan dengan “membebani” di sini adalah baptizein. Jadi kata baptizein, secara khiasan dapat juga berarti “membebani”; atau secara pasif berarti “dibebani oleh sesuatu, dikuasai oleh sesuatu” (lih. tulisan Plutarkhus, Moralia 593 F “baptizomenous hupo toon pragmatoon”). Libanius (orations) menggunakan kata baptizesthai dalam bentuk medium dalam arti “menyerahkan diri seluruhnya.”.

Kembali ke 1 Korintus 15:29, apakah di sini dapat dipikirkan mengenai pemakaian kata “baptizo” dalam arti khiasan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu memperhatikan bahwa dalam PB, kata “baptizo” juga digunakan dalam arti khiasan (misalnya dalam Mrk. 10:38-39). Dalam hubungan dengan uraian mengenai sekelompok orang yang mencari nafkah dengan bekerja untuk orang mati, pemakaian kata “baptizo” secara khiasan sebenarnya lebih tepat. Maksudnya, kata “baptizo” dalam 1 Korintus 15:29 lebih cocok diartikan dengan “sibuk”. Dengan kata lain, frasa “dibaptis bagi orang mati” seharusnya dimengerti sebagai  “sibuk bagi orang mati.” Orang-orang ini dikuasai dan dibanjiri oleh pekerjaan untuk orang mati. Tetapi untuk apa, kalau orang mati tidak dibangkitkan lagi? Untuk apa korban-korban curahan dituangkan ke dalam lubang-lubang kubur? Dan apa gunanya kebiasaan untuk menghormati orang mati dengan hidangan-hidangan makan tetap dipertahankan?

Sebuah Argumen dari Dunia Sekitar
Dalam 1Kor. 15:29, Paulus memakai salah satu argument yang diambilnya dari dunia sekitarnya untuk berbicara mengenai topik kebangkitan. Betapa besarnya kesibukan orang yang sepanjang hidupnya bekerja bagi orang-orang mati. Lalu dalam 1Kor. 15:30-31, Paulus menunjuk kepada kesibukannya sendiri sebagai rasul: pekerjaannya sehari-hari untuk mengabarkan Injil tidak mempunyai perspektif jika pesan yang dibawanya tidak benar. Artinya Paulus membandingkan antara kesibukannya sebagai rasul dengan kesibukan para pekerja yang sibuk bagi orang mati, dan kesinambungannya adalah sejarah lanjutan tubuh-tubuh manusia, yaitu kebangkitan. Kesibukan orang-orang itu bagi mereka yang sudah meninggal sebenarnya mencuatkan sebuah harapan mengenai “kehidupan di balik kematian” yang mereka mungkin sangkal dengan berbagai macam cara (bnd kutipan dari prinsip hidup kaum Epikurean dalam 1Kor. 15:32). Dan inilah cara Paulus menopang argumennya mengenai kebangkitan yang disangkal oleh sebagian orang di Korintus.

Mereka tidak percaya akan kebangkitan, tetapi disibukan dengan berbagai ritual untuk orang-orang mati. Dan Paulus dengan jeli memanfaatkan kebiasaan ini untuk menyerang ketidakkonsistenan penolakkan mereka terhadap ide mengenai kebangkitan. Ini dapat diibaratkan seperti “senjata makan tuan.”

Sebuah Informasi Menarik Lainnya
Informasi menarik lainnya yang dapat dipertimbangkan untuk memperkuat gagasan mengenai arti “dibaptis bagi orang mati” sebagai “disibukkan dengan ritual-ritual bagi orang mati” adalah tempat Paulus menulis surat ini. Surat ini ditulis dari Efesus. Dan sungguh menarik untuk menyadari bahwa justru di Kota Efesus, terkenal tulisan pada sebuah kuburan, yang menyebutkan bahwa upah sebesar 500 drachme (uang Yunani) diberikan kepada “para pekerja di Efesus yang bertugas di gerbang kuil Poseidon,” dengan syarat mereka harus merawat kuburan itu dan melaksanakan ritual bagi orang mati. Persyaratan ini ditambah dengan sebuah peringatan: “Kalau mereka tidak melakukannya…” (Lih. Bruck, 268).

Sebelum dilanjutkan, patut diingatkan bahwa , misalnya: TB LAI memikirkan mengenai interpretasi “baptisan,” karena memberi terjemahan “apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis” (“perbuatan,” yaitu “dibaptis bagi orang mati”). Padahal kalimat Yunani dalam ayat ini membedakan kedua kegiatan itu (“orang-orang yang dibaptis bagi orang mati harus berbuat apa”).  Dan Informasi di atas mengingatkan kita pada apa yang ditulis Paulus: “apa yang harus dibuat oleh orang-orang….”

Ketika tinggal di Efesus, Paulus pasti mengetahui seluk beluk kehidupan kota tersebut dengan segala kebiasaannya. Lagi pula, institusi “perawatan orang mati” dalam bermacam variasinya terkenal di mana-mana pada zaman itu (M. P. Nilsson, 1950:522-525).

Kesimpulan
Berdasarkan ulasan dari aspek historis, budaya, religi, dan bahasa di atas, saya menyimpulkan bahwa frasa “dibaptis bagi orang mati” bukan merujuk kepada baptisan vikariat (atau proxy baptism). Bukan juga merujuk kepada semacam kegiatan khusus di kalangan Kristen di Korintus pada zaman itu. Eksegesis yang mengaitkan frasa ini dengan ritual baptisan vikariat sebenarnya terlalu disetir oleh pandangan bahwa arti kata baptizein semata-mata dapat dimengerti dalam nuansa Kristen: membaptis!

Frasa “dibaptis bagi orang mati” sebenarnya merupakan ritual kafir yang berisi kesibukan-kesibukan bagi orang mati, padahal mereka sendiri menyangkali ide tentang kebangkitan. Apa faedahnya kesibukan-kesibukan itu? Apa gunanya dibanjiri dengan kewajiban-kewajiban bagi orang mati jika mereka sendiri tidak mengakui bahwa ada kebangkitan setelah kematian? Inilah poin Paulus melalui frasa “dibaptis bagi orang mati” dalam 1 Korintus 30:29!