Sebagaimana yang tersurat pada judul di atas, fokus saya adalah memberikan evaluasi terhadap komentar Matthew Henry (selanjutnya akan disingkat: MH) mengenai kata proskuneo dalam Matius 2:11. Komentar beliau yang saya ulas di sini terdapat dalam: Matthew Henry, Injil Matius 1-14, terj. Lanny Murtihardjana, dkk (Surabaya: Momentum, 2007).

Untuk maksud di atas, saya akan memulainya dengan mengemukakan inti argumen dalam komentar MH. Setelah itu, saya akan mengemukakan pertimbangan-pertimbangan eksegetis-evaluatif terhadap komentar MH.

Signifikansi Kata Proskuneo dalam Komentar MH
Komentar MH terhadap Matius 2:11 sebenarnya berkenaan dengan jawaban terhadap pertanyaan: Apakah orang-orang Majus yang datang menemui Yesus, menyembah DIA sebagai Allah? Pertanyaan ini diiyakan oleh MH secara tegas dan lugas.

Pertama, MH menafsirkan bahwa sebutan “raja orang Yahudi” dalam pertanyaan pertanyaan orang-orang Majus (Mat. 2:2) berarti “raja di atas segala raja” (hlm. 36). Atas dasar apa MH menafsirkannya demikian? MH tidak menjelaskannya. Meski begitu, bila kita membaca terus komentar MH hingga ayat 11, kita akan menemukan dasarnya sebagaimana yang akan disebutkan dalam hal berikut;

Kedua, dalam Matius 2:11, dikatakan bahwa orang-orang Majus itu “sujud menyembah” Yesus. Tindakan “sujud menyembah” tersebut dikomentari MH demikian: “Mereka mempersembahkan diri kepada-Nya: mereka sujud menyembah Dia” (hlm. 37). Bagi MH, tindakan ini menunjukkan, “…mereka memuja-Nya, dan menyerahkan diri kepada-Nya. Sebab, dialah Tuhanmu! Sujudlah kepada-Nya” (hlm. 37).

Argumen pendukung tafsiran MH di atas kelihatannya ada pada kalimat ini:

Kita tidak membaca bahwa mereka memberikan penghormatan seperti ini kepada Herodes, walau ia berada di puncak kebesarannya; namun pada bayi ini mereka memberikan penghormatan, bukan saja seperti kepada seorang raja (karena jika demikian, mereka pasti juga telah melakukan yang sama kepada Herodes), tetapi seperti kepada Allah sendiri.

Sebelumnya, MH menyatakan bahwa tentu tidak sia-sia Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang Majus tersebut melalui sebuah bintang. Akan tetapi, apakah tidak sia-sia di sini mengharuskan kesimpulan eksegesis bahwa mereka sudah mengenali Yesus sebagai Allah? Tidak!

Selanjutnya, argumen bahwa mereka tidak menghormati Herodes sebagai mana menghormati Yesus pun sangat mudah dipatahkan bahwa tujuan mereka bukanlah mencari seorang raja yang telah lama berkuasa dan sedang berada pada puncak kejayaannya. Tujuan mereka adalah mencari seorang “raja Yahudi yang baru lahir” [huruf miring dari saya]. Mereka tidak harus memberikan penghormatan itu kepada Herodes!

Bagi saya, dua argumen di atas bukanlah titik tolak kesimpulan eksegesis MH. Kedua argumen di atas boleh diperlakukan sebagai “sampingan” saja. Karena kalau kita membaca dengan saksama komentar-komentar MH, sebenarnya titik tolak komentar MH terdapat pada pemahamannya mengenai kata proskuneo yang terdapat dalam ayat 11. Hal ini tidak sulit dilihat karena memang para penafsir sepakat,

“The word … is one normally reserved for the veneration of deity” (lih. Michael J. Wilkins, Matthew [NIVAC; Grand Rapids: Zondervan, 2004], 100).

Bahkan secara gramatikal, konstruksi: proskuneo + datif (auto) dalam ayat 11, oleh para ahli tata bahasa Yunani dianggap ikut menopang ide pemujaan terhadap yang Ilahi (lih. Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics, 172-173).

Singkatnya, bagi MH kita harus menganggap bahwa orang-orang Majus tersebut jelas mengenali Yesus sebagai Allah yang menjadi Manusia. Alasannya, karena mereka sujud menyembah (proskuneo) DIA!

Eksegesis Evaluatif
Mencermati kesimpulan dan dasar tafsiran di atas, saya memulainya dengan sebuah prinsip sederhana dalam eksegesis. Prinsip tersebut berkenaan dengan apakah konteks narasinya mendukung kesimpulan dan alasan di atas? Ulasan konteks ini nantinya akan sekaligus mengantar kita kepada ulasan mengenai keabsahan penetapan kesimpulan tafsiran di atas berdasarkan arti leksikal dan gramatikalnya.

Meski begitu, supaya menghindari kesalahpahaman, saya perlu menandaskan bahwa evaluasi saya ini berhubungan dengan tafsiran MH bahwa orang-orang Majus tersebut menyembah Yesus sebagai Allah yang menjadi Manusia karena mereka memang sudah mengenali Yesus secara demikian. Perihal Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia, saya aminkan dengan segenap hati saya. Tetapi, apakah orang-orang Majus tersebut mengenali Yesus demikian? Pokok inilah yang akan saya evaluasi di bawah ini.

Pertama, evaluasi dari segi konteks. Hal pokok yang perlu diperhatikan dalam hubungan dengan konteks naratifnya adalah bahwa orang-orang Majus tersebut mendapat tanda melalui tafsiran mereka terhadap kemunculan sebuah bintang. Melalui tanda ini, kita dapat memastikan bahwa kejelasan tentang sosok pribadi yang hendak mereka datangi, bukanlah sesuatu yang disingkapkan secara jelas kepada mereka. Mereka bahkan tidak tahu di mana letak bayi tersebut berada, sehingga mereka perlu bertanya-tanya kepada orang-orang di Yerusalem. Dan dari isi pertanyaan mereka, yaitu “raja orang Yahudi” kita mendapat kesan bahwa hanya sebatas itulah yang mampu mereka identifikasikan mengenai sosok pribadi yang mereka hendak beri penghormatan. Tidak ada rujukan apa pun bahwa “raja orang Yahudi” yang mereka maksudkan adalah “raja di atas segala raja”.

Sebenarnya, tindakan “sujud menyembah” sembari memberikan persembahan-persembahan, merupakan kebiasaan yang sudah dikenal sejak masa PL. Dan unsur venerasi sebenarnya bukanlah sebuah rujukan yang dapat langsung dengan jelas terdapat dalam tindakan ini. Artinya, sampai di sini, MH memasukkan presuposisinya kepada teks, dan ini adalah kesalahan eksegetis (exegetical fallacy) yang disebut eisegesis!

Kedua, evaluasi dari segi keabsahan penetapan kesimpulan tafsiran berdasarkan arti kata dan konstruksi gramatikalnya. Dari segi ini pun, prinsip di atas tetap berlaku. Apakah konteks naratifnya mendukung kata proskuneo harus diartikan dalam nuansa venerasi terhadap Yesus karena mereka mengenali DIA sebagai Allah yang menjadi manusia? Terhadap pertanyaan ini pun, kita tidak menemukan petunjuk dari konteksnya.

Tidak ada legitimasi dalam eksegesis bahwa arti teknis dan pola konstruksi gramatikal dapat secara independen menjadi basis kesimpulan eksegesis tanpa rujukan konteks. Tidak pernah demikian. Justru penafsir yang melakukan demikian, berarti ia sedang melakukan kesalahan eksegetis yang disebut: illegitimate totality transfer. Kesalahan eksegetis ini merujuk kepada transfer arti teknis dari sebuah kata kepada penggunaannya dalam konteks yang spesifik. Dan inilah yang dilakukan MH. MH mentransfer arti teknis dari kata proskuneo kepada penggunaannya dalam konteks yang spesifik (narasi ini) tanpa memberikan ulasan sama sekali dari segi konteksnya sebagai basis untuk hal ini.

Lalu, Seharusnya Bagaimana?
Jika demikian, bagaimana saya memaknai tindakan penghormatan orang-orang Majus tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya mengikuti kesimpulan eksegesis dari Michael J. Wilkins:

At the least they understand that this is God’s Messiah, and they worship the God of Israel through him (Matthew, 100). [Paling tidak mereka memahami bahwa ini adalah Mesias dari Allah, dan mereka menyembah Allah Israel melalui Dia]

Dukungan untuk kesimpulan di atas dapat saya uraikan sebagai berikut. Bagi orang-orang Majus tersebut, Yesus yang masih kanak-kanak itu tentu bukanlah sosok biasa. Yesus pastilah sosok yang sangat istimewa. Dan ini dapat disimpulkan dari kata-kata orang Majus tersebut bahwa kelahiran Yesus dinyatakan kepada mereka melalui kemunculan sebuah bintang. Saya sependapat dengan Wilkins bahwa orang-orang Majus ini mengenali Yesus sebagai “raja orang Yahudi” dalam arti Yesus adalah Mesias. Apa dasarnya? Orang-orang Majus tersebut tentu tahu bahwa orang-orang Yahudi sedang berada dalam cengkraman jajahan Romawi. Dan ketika mereka menyebut Yesus sebagai “raja orang Yahudi”, sebenarnya mereka sedang memaksudkan bahwa Yesus adalah utusan yang diurapi (Mesias) yang akan mengepalai Israel. Dan ini secara implisit menunjukkan bahwa Yesuslah yang akan membebaskan Israel. Tentu “membebaskan” di sini belum mereka pahami dalam arti “pembebasan secara rohani”. Ide ini belum diungkapkan kepada orang-orang Majus tersebut. Bahkan para murid pun masih berkutat dengan ide pembebasan nasionalistik mereka. Singkatnya, orang-orang Majus tersebut sebatas mengenali Yesus sebagai Mesias yang akan membebaskan Israel. Dan ini jelas berbeda dengan mengatakan bahwa orang-orang Majus tersebut sudah mengenali Yesus sebagai ALLAH YANG MENJADI MANUSIA.

Matius menggunakan kisah ini selain untuk menunjukkan penggenapan nubuat PL di dalam diri Yesus, juga untuk memberikan unsur ironi dalam Injilnya. Matius menunjukkan tentangbetapa lamban dan tidak pekanya orang-orang Israel di Yerusalem yang hanya berjarak Sembilan kilometer dari Betlehem, tempat di mana Yesus dilahirkan. Seharusnya mereka yang ada di dekat kota kelahiran Mesias itu cepat tanggap. Mereka bahkan memiliki PL yang darinya mereka dapat membaca nubuat-nubuat tentang kelahiran Mesias. Tetapi, mereka justru tidak tahu menahu soal ini, sementara ada orang-orang dari negeri yang jauh, orang-orang Majus, datang dan menghormati serta memberikan persembahan kepada Yesus. Ironis sekali!