“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (Yoh. 3:9).

Pembacaan sekilas akan ayat di atas langsung mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa siapa pun yang menamakan diri orang Kristen alias anak-anak Allah, tidak berbuat dosa lagi. Titik. Tapi, masa sih orang Kristen tidak berbuat dosa lagi? Kalau begitu, kelihatannya tidak ada orang yang benar-benar bisa disebut anak Allah. Kita semua masih berdosa. Berdosa adalah pengalaman keseharian kita. Lalu bagaimana?

Ayat ini bukan hanya tampak terlalu ideal dalam level pengalaman. Dalam konteks penulisan 1 Yohahens pun, ayat ini kelihatannya “bermasalah” dengan 1 Yohanes 1:8, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Dan 1 Yohanes 1:10, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” Penulis surat ini bahkan berulang kali mengungkapkan ide “perfeksionis” ini (2:29; 3:6; 5:18, dll). Apakah penulis surat ini menulis dua ide yang kontradiktif di sini?

Sejarah Eksegesis
Sampai saat ini, cukup banyak pendapat yang sudah ditelorkan oleh para ekseget mengenai bagaimana tepatnya kita memahami ayat ini. Beberapa di antaranya, akan saya sebutkan di bawah ini:

Pertama, ada penafsir yang menjadikan ayat ini sebagai ayat-bukti bahwa orang-orang Kristen dapat mencapai kesempurnaan hidup, yakni hidup tanpa dosa di dalam dunia ini. Pendapat ini ditolak karena, seperti isi paragraf di atas, penulis surat ini juga menandaskan bahwa mereka yang berkata bahwa mereka sudah tidak berdosa adalah para penipu (1Yoh. 1:8, 10).

Kedua, ada penafsir yang percaya bahwa ayat ini merujuk kepada suatu kelompok elit rohani tertentu pada masa itu yang telah mencapai kesempurnaan hidup. Kesulitan dari pandangan ini adalah ayat ini tidak mengindikasikan bahwa mereka yang dituju adalah suatu kelompok tertentu. Sebaliknya dikatakan “setiap orang yang lahir dari Allah”; suatu frasa yang merujuk kepada semua orang Kristen sejati.

Ketiga, ada penafsir yang berpendapat bahwa cakupan kata-kata dalam ayat ini hanya berkenaan dengan dosa-dosa yang dengan sengaja dilakukan. Tapi, tidak ada bukti dari ayat ini bahwa cakupan maknanya hanya berkenaan dengan dosa dalam kategori tertentu. Yang dikatakan adalah bahwa setiap orang percaya tidak berbuat dosa lagi!

Keempat, penafsir lain menyarankan bahwa yang dimaksud dengan “tidak berbuat dosa lagi” berarti tidak berbuat “dosa yang mendatangkan maut.” Orang-orang percaya tidak berbuat dosa sampai mereka murtad dan kehilangan keselamatannya (bnd. 1Yoh. 5:16-17). Keberatan untuk tafsiran ini sama seperti keberatan pada poin ketiga di atas. Ayat ini tidak berbicara mengenai dosa dalam spesifikasi tertentu, tetapi mengenai dosa secara umum.

Kelima, penafsir lain mengartikan ayat ini bahwa orang-orang percaya tidak berdosa selama mereka berdiam di dalam Kristus. Keberatan untuk pandangan ini sama seperti keberatan pada poin kedua di atas. Ayat ini tidak mengatakan bahwa hanya mereka yang tinggal di dalam Kristus yang tidak berdosa. Yang dikatakan adalah setiap orang yang lahir dari Allah tidak berdosa.

Keenam, ada penafsir yang menyangka bahwa penulis surat ini semata-mata berbicara mengenai suatu ideal yang tidak dimaksudkan harus terjadi dalam kehidupan nyata sekarang. Pandangan ini pun mendapat kritikan karena dapat menimbulkan rasa puas diri yang tidak alkitabiah. Orang dapat berpikir bahwa “tidak apa-apa berdosa”, toh “tidak berdosa” itu hanya sekadar ideal yang tidak harus terjadi sekarang. Lagi pula, sama seperti keberatan pada poin-poin di atas, penulis surat ini secara gamblang menyaratkan ketidakberdosaan sebagai bukti seseorang lahir dari Allah.

Ketujuh, penafsir lain berusaha untuk tidak mendamaikan 1Yoh. 1:8, 10 dan 1Yoh. 3;9. Menurut mereka ketegangan ini terjadi karena penulis surat ini berhadapan dengan dua kelompok bidat yang berbeda. 1 Yohanes 1:8,10 merupakan bantahan terhadap kelompok bidat yang mengajarkan bahwa mereka dapat mencapai kesempurnaan hidup tanpa dosa sekarang. Sedangkan 1 Yohanes 3:9 (juga bagian-bagian lain yang senada) merupakan bantahan terhadap kelompok bidat yang mengajarkan sikap antinomian (anti hukum; bnd. Rm. 6). Menurut para penganut tafsiran ini, penulis surat ini memang tidak memaksudkan kedua ide ini untuk didamaikan. Maka ada baiknya kita menerima ketegangan ini sebagai dua sisi dari satu mata uang. Persoalannya, ide kontradiksi tetap terlihat di sini.

Kedelapan, karena berbagai keberatan di atas, mayoritas penafsir menyatakan bahwa ayat ini harus dimegerti sebagai pola (patern) dan arah (direction) dari kehidupan orang-orang percaya. Kehidupan orang-orang percaya ditandai dengan orientasi yang mengarah kepada ketaatan dan kesalehan hidup. Banyak penganut pandangan ini yang mempertahankan pandangan ini dengan merujuk kepada bentuk present tense yang muncul dalam 1 Yohanes 3:4-10. Dalam pandangan ini, “tidak berbuat dosa lagi” berarti “tidak terus-menerus berbuat dosa lagi”. Orang percaya dapat jatuh ke dalam dosa, namun mereka tidak akan terus jatuh ke dalam dosa. Dengan kata lain, ayat ini tidak sekadar dilihat sebagai “beban”, melainkan juga “jaminan” bahwa orang-orang percaya dapat memiliki hidup yang berkemenangan atas dosa.

Sebenarnya, masih ada pendapat lain mengenai arti ayat ini. Meski begitu, kedelapan tafsiran di atas cukup representatif untuk membuat kita bertanya, “Ayat ini artinya apa sih?”

Pandangan Saya
Dalam penjelasan di atas, saya telah mengemukakan delapan macam usulan tafsiran terhadap ayat ini. Dalam bagian ini, saya akan mengemukakan pandangan saya (lebih tepat: pandangan yang saya anut). Pandangan yang saya anut berkiblat pada tafsiran kedelapan, meski saya juga memberikan sedikit evaluasi terhadap penggunaan aspek duratif dari bentuk present tense yang mereka kemukakan.

Untuk memahami maksudnya, pertama, kita perlu menempatkan 1 Yohanes 3:9 dalam keseluruhan konteks surat ini. Hal ini perlu dilakukan karena penulis surat ini sering mengulangi ide ini secara tersebar pada surat ini (lihat uraian di atas). Itulah sebabnya, analisis terhadap keseluruhan surat ini akan sangat menolong untuk menafsirkan salah satu bagiannya.

Dalam 1 Yohanes 1:5 – 2:2, penulis surat ini mengindikasikan bahwa kesempurnaan hidup tanpa dosa selagi kita berada di dunia ini merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin tercapai. Bahkan pada satu titik di mana orang telah berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan kekudusannya lalu berpuas diri bahwa ia telah hidup tanpa dosa, sesungguhnya ia sedang menipu dirinya sendiri; kebenaran tidak ada di dalam dia; dan lebih celaka, rasa puas diri itu sebenarnya sama dengan menganggap bahwa Tuhan itu pendusta dan firmannya juga dusta (1:8, 10). Dalam penekanan ini, orang tentu berpikir, “Kalau begitu untuk apa mengupayakan kehidupan yang saleh? Toh, dosa dan tindakan dosa sudah sedemikian memperbudak kita. Kita tidak mungkin melepaskan diri darinya.” Untuk menjawab pesimisme terhadap kehidupan yang saleh akibat salah memahami penekanan dalam 1 Yohanes 5 – 2:2, penulis surat ini menandaskan dalam pasal 3 arah dan pola hidup yang benar. Adalah fakta bahwa kita tidak mungkin mencapai kesempurnaan dalam dunia ini. Tetapi, fakta itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menuntun kita kepada kehidupan yang antinomian. Kita tidak boleh pesimis. Karena arah kehidupan baru adalah kesalehan dan kehidupan tanpa dosa. Inilah arah yang baru yang harus dituju. Jangan membelokkannya ke arah yang salah (antinomianisme).

Dalam pandangan di atas, penulis surat ini kira-kira menandaskan beberapa hal, yaitu bahwa dosa adalah sesuatu yang sangat serius dan bersifat memperbudak. Dosa sudah memperbudak kita sedemikian rupa sehingga kita tidak dapat berpongah diri dengan berkata bahwa kita sudah tidak berdosa lagi. Tetapi, kita memiliki pengharapan. Pengharapan yang memimpin kita untuk tetap menata kehidupan ini kepada kehidupan yang tanpa dosa. Inilah arah dan pola hidup yang harus kita perjuangkan. Bukan sebaliknya. Dan pengharapan itu bersumber dari Allah yang telah melahirbarukan kita sebagai anak-anak-Nya.

Gagasan tafsir di atas memang didukung oleh bentuk present tense dari sejumlah kata kerja dalam 1 Yohanes 3:4-10. Dan memang salah satu aspek present tense dalam bahasa Yunani adalah penekanannya yang bersifat duratif (dan banyak penafsir telah membuktikan bahwa penekanan duratif dari bentuk present tense memang terdapat dalam bagian ini). Meski begitu, bagi saya, kita harus menghindari doktrin prematur nan berbahaya yang dapat terbonceng dalam penekanan akan aspek duratif ini bahwa hanya dosa yang dilakukan “terus-menerus” saja yang diantisipasi oleh ayat ini. Seolah-olah kalau hanya melakukan satu bentuk dosa atau hanya satu atau dua kali melakukan dosa tertentu maka itu “tidak apa-apa”. Ingat, dalam pasal 1:5 – 2:2 penulis surat ini telah menandaskan mengenai keseriusan dosa. Dan keseriusan dosa itu tidak terletak pada durasi praktiknya, tetapi pada natur dosa itu sendiri. Dosa adalah pemberontakan yang sangat serius di mata Tuhan. Tidak peduli walau cuma satu dosa. Jangan sampai kita berpikir bahwa kalau hanya satu dosa “tidak apa-apa”. Ingat, Adam dan Hawa dikutuk lalu diusir keluar dari Taman Eden bukan karena mereka “terus-menerus” melakukan dosa. Mereka melakukan satu dosa pertama. Itu pun dosa “makan buah” (suatu dosa, yang mungkin bagi kita yang sudah terbiasa dengan dosa-dosa spektakuler, merupakan “dosa kecil”). Dan lihatlah akibat dari “dosa kecil” itu. Fatal sekali.

Jadi kita bisa saja menekankan aspek duratif di atas. Asal saja digunakan dalam arti – pada pihak kita – dorongan untuk tetap berjuang melawan dosa dan – pada pihak Allah – jaminan bahwa kita memiliki kuasa untuk melawan dosa.

Ayat ini adalah dorongan sekaligus jaminan. Dorongan sekaligus jaminan bagi anak-anak Allah yang terkasih. Anak-anak Allah mengasihi Allah maka mereka berjuang untuk tetap hidup bagi Allah. Ada beban memang. Beban yang sangat berat. Namun beban itu pun adalah beban yang manis karena karya Allah di dalam kita yang melandasinya. Maka, kita bisa juga menyebut ayat ini: “sweet burden” (beban yang manis)!