Salah satu hal yang sering kali dilihat sebagai kontradiksi dalam Kitab-kitab Injil adalah hari penyaliban Yesus. Menurut Injil-injil Sinoptis, Yesus disalibkan pada hari Jumat, setelah malam Paskah (Passover Eve; Mrk. 15:1-25; Luk. 23; Mat. 27). Sementara itu, Injil Yohanes terkesan mencatat bahwa penyaliban itu dilakukan pada hari Kamis (Yoh. 19).

Berikut ini, saya akan meringkas jawaban yang dilontarkan oleh Dr. Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982), 375-376.

Inti argumen Archer diletakkan atas uraiannya tentang kata paraskeue dan tou paskha dalam Yohanes 19:14. Menurut Archer: Pertama, kata paraskeue pada waktu itu merupakan sebuah istilah teknis untuk “Hari Jumat” sebab mereka memahami bahwa setiap Hari Jumat merupakan hari persiapan untuk Hari Sabat (Hari Sabtu). Bahkan dalam Bahasa Yunani modern kata untuk hari Jumat adalah paraskeue.

Kedua, kata Yunani tou paskha (lit. “of the Passover”) merupakan ekuivalen untuk Minggu Paskah (The Passover Week). Istilah ini merujuk kepada tujuh hari di mana mereka makan roti yang tidak beragi (Ibr. Massot) yang segera diikuti dengan penyembelihan dan makan anak domba Paskah pada malam tanggal 14 bulan Abib. Dan dalam perhitungan kalender Yahudi, merupakan permulaan tanggal 15, tepat sesudah matahari terbenam (bnd. Encyclopedia Britannica, 14th ed., 12:1041;  Arndt and Gingrich, Greek-English Lexicon, pp. 638-639].  Jadi, secara literal khususnya dalam konteks pemahaman ini “the preparation of the Passover” mestinya dimengerti sebagai “Friday of Passover Week.”

Dan itu berarti bahwa Injil Yohanes sebenarnya juga mengafirmasikan bahwa Yesus disalibkan pada Hari Jumat. Archer menyimpulkan, “There is no contradiction whatever between John and the Synoptics as to the day on which Christ died-it was Friday”.