Dalam artikel singkat ini, saya akan memusatkan perhatian kepada persoalan “Mengapa terdapat perbedaan antara Injil Markus dan Injil Yohanes mengenai waktu penyaliban Yesus.” Markus menulis bahwa penyaliban terjadi pada jam ketiga (Mrk. 15:25; LAI menerjemahkannya “jam kesembilan”). Sementara itu, Yohanes menyatakan bahwa itu terjadi pada jam keenam pada waktu Pilatus mengambil keputusan terakhir (Yoh. 19:14). Apakah jam Markus yang lambat atau jam Yohanes yang terlalu cepat? Selisih waktunya sekitar empat jam!

Berikut ini, saya akan meringkas jawaban yang diberikan oleh Profesor Jacob Van Bruggen, Kristus di Bumi: Penuturan Kehidupan-Nya oleh Murid-murid dan oleh Penulis-penulis Sejaman-Nya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 365-369.

Menurut Jakob Van Bruggen, untuk menjawab kesulitan di atas, kita perlu memperhatikan beberapa fakta penting. Pertama, perlu diingat bahwa semua pengisah Injil mengikuti peristiwa-peristiwa pada hari itu dengan sangat intensif maka tidak mungkin kenangan mereka akan saat terjadinya peristiwa-peristiwa itu samar-samar. Hanya saja, bagaimana mungkin dua dokumen ini dapat diandalkan secara historis jika penunjukkan waktunya berlainan justru pada puncak peristiwa yang mereka kisahkan? Pertanyaan ini mengantar kita kepada hal yang kedua, yaitu Markus dan Yohanes menggunakan sistem perhitungan waktu yang berbeda. Markus menggunakan perhitungan waktu berdasarkan pembagian jam pada siang hari. Perhitungan ini dimulai pada saat matahari terbit sampai saat matahari terbenam, dibagi dalam 12 jam (bnd. Mat. 20:1-12; Yoh. 11:9). Jam keenam adalah pada saat matahari mencapai puncak ketinggian. Tidak heran, LAI menerjemahkan hora trite (lit. jam ketiga) menjadi “jam kesembilan” (Mrk. 15:25). Jelas bahwa sesudah jam kesembilan itu masih tersisa waktu untuk kegiatan penurunan dari salib dan pemakaman sebelum hari Sabat tiba. Baru sesudah jam kedua belas, Hari Jumat berakhir dan mulailah hari Sabat. Markus menghitung menurut hitungan dua belas jam. Jadi, menurut Injil Markus penyaliban terjadi di pertengahan antara mulainya hari baru dan tengah hari (“hari ketiga”), sedangkan kegelapan berlangsung dari tengah hari sampai pertengahan antara tengah hari dan akhir hari itu (“jam keenam sampai jam kesembilan”).

Jelas bahwa pembagian waktu di atas cukup fleksibel; berlangsungnya waktu satu jam dapat menjadi lebih panjang atau lebih pendek bergantung panjang atau pendeknya siang hari. Pada musim dingin, bukan saja siang hari bertambah pendek, tetapi jam pun turut menjadi lebih pendek! Hari Raya Paskah jatuh (tidak lama) sesudah ekuinoks musm semi (yaitu hari yang siang dan malamnya sama panjang pada tanggal 21 Mei). Artinya, siang hari mulai menjadi lebih panjang daripada malam hari. Menurut perhitungan waktu di Barat dapat dikatakan bahwa matahari telah mulai terbit sebelum pukul enam pagi. Berapa lama sebelumnya bergantung pada tanggal perayaan hari Paskah pada tahun 33 dirayakan pada awal bulan April atau pada awal bulan Mei. Hal ini, pada gilirannya bergantung atas penentuan tahun kabisat (pada zaman itu dengan penambahan satu bulan penuh). Bila Paskah lambat tibanya, matahari pun akan terbit jauh sebelum pukul enam pagi. Maka meskipun fleksibel, dapat dipastikan bahwa “jam ketiga” dalam Injil Markus itu jika dihitung menurut sistem penghitungan waktu kita maka jatuh antara pukul delapan dan pukul sepuluh. Jadi penyaliban itu terjadi pada pagi hari.

Bila kita menilik “jam keenam” yang menurut Yohanes merupakan saat Pilatus menyampaikan keputusannya, apriori sudah jelas bahwa Yohanes menggunakan sistem perhitungan jam yang berbeda. Bukankah Yohanes mengatakan bahwa “ketika hari masih pagi” orang sudah sampai ke tempat Pilatus (Yoh. 18:28). Sulit untuk membayangkan bahwa perbincangan dengan wali negeri itu menghabiskan waktu enam jam. Itulah sebabnya, kita mesti menerima bahwa Yohanes menggunakan sistem perhitungan waktu Romawi. Perhitungan jam ini mulai dari tengah malam dan berlangsung dua belas jam hingga tengah hari, dan sesudah itu sekali lagi menghitung dua belas jam dari tengah hari sampai tengah malam. Maka jam keenam menurut sistem pernghitungan waktu tersebut berkisar dari jam 06.00 – 07.00. Yohanes tidak bermaksud mengatakan bahwa keputusan terakhir tersebut dilakukan tepat pada jam enam. Ia sebenarnya mengakatan bahwa pada saat itu “kira-kira jam keenam” (Yoh. 19:14; LAI “kira-kira jam dua belas”). Jadi dapat saja dikatakan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum jam keenam, atau mungkin juga tidak lama sesudahnya (bnd. Yoh. 4:52).

Sekalipun Hari Raya Paskah jatuh agak awal, matahari sudah mulai terbit sebelum jam enam. Jadi, Sanhedrin sempat mengakhiri sidang kilat, yang bersifat resmi (pada siang hari dan diadakan di kompleks Bait Allah), sebelum atau pada pukul enam. Jarak antara ruang sidang dan benteng Antonia (yang juga termasuk kompleks Bait Allah) sangat dekat. Juga jarak ke tempat Antipas melakukan pemeriksaan singkat terhadap Yesus, yaitu istana Herodes, tidak terlalu banyak menyita waktu. Oleh karena itu, mungkin saja Yesus dihadapkan kepada Pilatus dalam waktu tidak lama sesudah pukul 06.00 sampai kira-kira pukul 07.30. Penyaliban terjadi antara pukul 08.00 dan pukul 10.00. Perhitungan ini berlaku bila kita menganggap bahwa Hari Raya Paskah jatuh agak lebih awal. Tetapi bila Paskah jatuh agak lambat, tentunya Sanhedrin sudah dapat menyelesaikan sidangnya  sekitar pukul 05.00 atau pukul 05.30. dalam hal ini Yesus telah menghadap Pilatus antara kira-kira pukul 05.30 dan kira-kira pukul 07.30. Jadwal ini sangat cocok dengan kebiasaan orang Romawi untuk menyelesaikan tugas-tugas pemerintahan pagi-pagi.

Dengan demikian, Yohanes tampaknya menggabungkan dua ciri khas. Di satu pihak Yohanes ternyata mengenal kehidupan orang Yahudi dan riwayat hidup Yesus sedetail-detailnya (ia adalah saksi mata, ia datang dari lingkungan masyarakat Palestina, dan ia dapat bergaul dengan orang-orang dari lingkungan Imam Besar). Pada pihak lain, cara Yohanes menyajikan kisahnya menimbulkan kesan bahwa ia berada di luar lingkungan masyarakat Yahudi (Injil Yohanes ditulis agak kemudian hari dan ditujukan kepada orang-orang Kristen di luar Palestina). Demikianlah ia memberikan banyak informasi tentang proses terhadap Yesus, namun menggunakan sistem penghitungan jam yang bukan sistem Palestina (bnd. 1:39; 4:52).