Anda pernah mendengar slogan ini: “Diberkati untuk Menjadi Berkat?” Saya bukan hanya pernah mendengarnya. Saya juga (dulu) sering mengucapkannya: bagi diri saya dan juga bagi orang lain!

Sebenarnya, apa maksud slogan ini? Analisis terhadap makna slogan ini menuntun kita kepada arti ini: “Kita diberkati dengan tujuan supaya hidup kita menjadi berkat.” Kata yang sangat menentukan arti slogan ini adalah kata menjadi. Apa artinya menjadi? Perhatikan contoh ini: Yesus menjadi  manusia, maka artinya: Sebelumnya Yesus bukan manusia, namun sekarang DIA adalah manusia. Jadi menjadi dapat juga disamakan dengan adalah. Dengan kata lain, slogan ini dapat diparafrasekan: “Dulu bukan berkat, sekarang adalah berkat karena sudah diberkati. Perihal kita diberkati membuat kita sekarang adalah berkat”.

Atas dasar apakah slogan ini ditelorkan? Slogan ini digagas berdasarkan banyak bagian Alkitab. Namun bagian yang paling sering dirujuk adalah Kejadian 22:18, “Oleh keturunanmu, semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat….” Perhatikan frasa: oleh keturunanmu (through your offspring). Tidak dikatakan bahwa keturunanmu yang akan menjadi berkat bagi segala bangsa. Yang dikatakan adalah melalui keturunanmu segala bangsa akan diberkati. Artinya ayat ini menempatkan keturunanmu sebagai alat atau sarana atau saluran berkat itu sampai kepada bangsa-bangsa lain. Keturunanmu tidak dikatakan menjadi berkat, tetapi alat atau sarana berkat.

Dalam Matius 28:19-20, gagasan di atas diungkapkan dengan kata-kata yang lain. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Berkat apa yang dibawa oleh para murid? Injil Yesus Kristus! Melalui para murid, Injil Yesus Kristus (berkat keselamatan) itu sampai kepada segala bangsa dan menjadikan mereka murid Kristus. Para murid tidak diperintahkan menjadi Injil Yesus Kristus. Mereka adalah pemberita Injil Yesus Kristus. Para murid adalah alat atau sarana yang melaluinya Injil sampai kepada bangsa-bangsa.

Analogi yang sangat jelas mengungkapkan ide tentang alat atau sarana terdapat dalam 2 Korintus 4:7, “Tetapi harta ini, kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami.”

Ada beberapa hal yang dapat dipelajari sebagai evaluasi atas slogan ini berdasarkan ayat di atas. Pertama, Paulus memetaforakan dirinya bersama para rasul sebagai bejana. Dan Injil Yesus Kristus itu diibaratkan seperti harta. Harta itu tersimpan di dalam bejana. Bejana adalah alat penyimpanan harta itu. Paulus tidak mengatakan bahwa bejana itu menjadi “harta ini”. Kedua, Paulus menggunakan metafora bejana tanah liat untuk menekankan bahwa bejana itu sangat rentan dan rapuh. Bejana itu adalah alat penyimpanan harta yang mulia. Namun bejana itu sendiri tidak diberi hak untuk membanggakan diri. Bejana itu harus ingat, ia adalah bejana tanah liat. Bejana tanah liat jangan sampai berpikir untuk menjadi harta yang mulia itu. Ia harus selalu mengingat siapa dan apa  dirinya.

Atas dasar eksplorasi terhadap ayat-ayat di atas, saya percaya bahwa “saya” atau “kita” (orang percaya) bukanlah “berkat” itu. Semua orang percaya sebenarnya hanya dan hanya saluran atau agen atau alat yang melaluinya Tuhan menyalurkan berkat-Nya. Dan tidak pernah di dalam Alkitab dinyatakan secara tersirat atau tersurat bahwa orang percaya yang adalah agen atau sarana atau alat itu pada waktu yang bersamaan juga adalah berkat itu sendiri.

Jika demikian, adakah sesuatu yang negatif yang dapat tersembul dari slogan “? Ada dan sangat negatif. Mari kita terapkan slogan di atas dalam dua contoh konkret.

Contoh pertama, Kita percaya bahwa berkat terbesar yang kita terima adalah anugerah keselamatan dari dan di dalam Kristus. Kita bukan hanya menerima anugerah itu, melainkan juga diperintahkan untuk membagikan anugerah itu melalui pemberitaan dan kesaksian hidup kita. Gagasan ini kalau diparalelkan dengan slogan di atas, maka akan berbentuk sebagai berikut:

Berkat = Anugerah keselamatan di dalam Kristus
Orang percaya = penerima dan pemberita anugerah keselamatan itu.

Jadi penerapan di atas akan menghasilkan kalimat berikut: “Diselamatkan [beroleh anugerah] untuk menjadi keselamatan [anugerah]”. Arbitrer!

Contoh kedua, kita akan menggunakan metafora Paulus di atas.

Para rasul = bejana tanah liat
Injil Yesus Kristus = harta yang mulia

Penerapan metafora ini pada slogan di atas akan menghasilkan kalimat berikut: “Dijadikan bejana tanah liat untuk menjadi harta harta yang mulia”.

Sekarang Anda bisa melihat, kalau konkretisasi dari slogan ini adalah seperti dalam kedua contoh di atas, maka slogan ini adalah suatu slogan yang bukan hanya tidak biblikal, melainkan juga angkuh dan tidak tahu diri!