Kita tentu tidak asing dengan istilah sponsor. Istilah lainnya adalah donatur. Istilah ini merembes masuk dan digunakan dalam berbagai area kehidupan. Dalam bidang olah raga, kita mengenal misalnya, Liga Djarum Super. Maksudnya liga sepak bola itu disponsori oleh Djarum Super. Dalam dunia politik, tidak jarang kita mendengar, “Si A mensponsori kampanye di wilayah B.” Di Gereja, istilah ini dikenakan bagi mereka yang mendanai sebuah kegiatan pelayanan, atau membiayai biaya hidup hamba Tuhan tertentu.

Konteks penggunaannya beda memang. Konteks: politik, dagang, pelayanan gerejawi, hiburan, dan sebagainya. Tapi pengertiannya sama dan sangat sederhana. Barangsiapa memiliki uang dan memberikannya sebagai dukungan untuk sebuah kegiatan atau orang-orang tertentu, dia akan disebut sponsor. Keterlibatannya sebagai seorang sponsor dalam sebuah acara atau bagi orang tertentu, semata-mata adalah uangnya. Dari padanya tidak dimintai hal lain. Hanya uang. Dan saat uang itu dikucurkan, saat itu dia sudah boleh disebut sponsor. Satu kata dengan arti yang sama dan sederhana, dalam banyak konteks dan banyak kesempatan.

Mari kita menilik apa kata Alkitab tentang hal ini.

Berbicara tentang dukungan keuangan, dalam pelayanan-Nya, Yesus pernah didukung demikian. Kita memiliki sebuah contoh konkret. Dalam Lukas 8:1-3, dikisahkan mengenai beberapa perempuan yang mendukung pelayanan Yesus dengan “kekayaan mereka.” Lukas menyebut dukungan itu dengan istilah: diakoneo (melayani). Bagi Lukas, tindakan mereka bukan sekadar dukungan, melainkan juga sebuah pelayanan.

Rasul Paulus pun menerima topangan keuangan dari Jemaat Filipi (Flp. 4:10-18). Mengenai topangan ini, Paulus menggunakan beragam istilah yang berbeda dalam perikop ini untuk menyebutnya.

Paulus menggunakan kata phroneo dalam ayat 10, yang berarti “memikirkan” atau “memberi perhatian”. Dalam ayat 14, Paulus menggunakan kata Synkoinoneo, yang berarti “bersekutu bersama” atau “mengambil bagian”. Dalam ayat 16, Paulus menggunakan kata khreia, yang berarti “kebutuhan” (LAI menerjemahkannya: “bantuan”). Dalam konteks ini, topangan keuangan Jemaat Filipi berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan pelayanan Paulus. Kata doma digunakan dalam ayat 17, yang berarti “hadiah” atau “pemberian”. Dalam ayat 18, Paulus memaknai kiriman uang tersebut sebagai “persembahan yang harum” (osmen euodias) dan “korban yang layak diterima” (thusian dekten; acceptable sacrifice).

Dalam kesempatan lain, Paulus bahkan pernah menggalang dana bagi jemaat di Yerusalem (1Kor. 16:1-4; 2Kor. 8-9; dan Rm. 15:22-23). Hasil pengumpulan itu kemudian dibawa oleh Paulus dan Barnabas ke Yerusalem (Kis. 11:29-30). Dalam bagian-bagian ini dan juga bagian-bagian lain, beberapa istilah selain yang sudah disebutkan di atas juga dipakai Paulus. Istilah koinonia digunakan dalam Roma15:26, yang berarti “persekutuan”. Istilah diakonia digunakan dalam Roma 15:25, 31; 2 Korintus 8:20; 9:1, 12, 13, yang berarti “pelayanan”. Istilah kharis digunakan dalam 1 Korintus 16:3; 2 Korintus 8:6, 7, 19, yang berarti “pemberian”. Dan kata eulogia yang berarti “kemurahan hati”, digunakan dalam 2 Korintus 9:5.

Kekayaan konsep Alkitab mengenai dukungan keuangan, membawa kita untuk tidak segera berpuas diri bila disebut sponsor. Juga jangan menepuk dada karena kata donatur dilekatkan kepada Anda. Lihatlah betapa kayanya dimensi pengertian dari tindakan memberikan dukungan keuangan bagi pelayanan. Ada dimensi kasih, perhatian, persekutuan, pelayanan, persembahan, kemurahhatian, kesatuan, dan sebagainya.

Ibarat sebuah spektrum. Banyak warna terpantul indah. Tak ada kesan tunggal. Satu keindahan yang terbentuk dari banyak pantulan warna. Tak ada kata tunggal yang mampu memuat kandungan artinya. Banyak kata. Banyak arti. Tapi satu tindakan. Satu tindakan, multi makna.