Terlalu sering saya mendengar kalimat ini, “Lebih baik banyak kerja daripada banyak ngomong.” Dalam bahasa Inggris, kalimat senadanya adalah: “Actions speaks louder than words” (Tindakan bersuara lebih lantang daripada kata-kata). Biasanya, kalimat-kalimat ini dilontarkan sebagai cibiran bagi mereka yang dianggap hanya pintar ngomong. Secara positif, kalimat-kalimat ini juga ingin mendorong seseorang berjuang merealisasikan kata-katanya. Jangan hanya katanya. Kata mesti berwujud dalam tindakan.

Jujur saja, saya pun tidak satu dua kali pernah membunyikan kalimat itu. Khususnya saat sedang dongkol melihat teman sekantor yang tidak berhenti ngoceh.

Tetapi, sekarang saya berusaha meminimalisasi pemakaiannya. Mengapa? Kalimat-kalimat di atas sebenarnya dibunyikan minimal atas dua asumsi. Pertama, kerja keras atau banyak kerja adalah oposisi (lawan) dari banyak ngomong. Kedua, kerja keras bernilai plus dibanding banyak ngomong. Dan kedua asumsi ini sebagaimana akan diuji di bawah ini, sangat tidak memadai untuk menopang “sisi baik” yang sudah saya sebutkan di paragraf awal di atas.

Apakah kerja keras atau banyak bekerja merupakan oposisi dari banyak ngomong? Jawabannya adalah tidak! Mungkin kita perlu diingatkan bahwa antonim (lawan kata) kerja keras adalah malas. Demikian pula, banyak ngomong seharusnya dikontraskan dengan diam atau paling tidak, sedikit ngomong.

Dalam 1 Korintus 15:10, Paulus menulis bahwa ia bekerja keras lebih dari para rasul yang lain. Kata-kata Paulus ini biasanya langsung disambar dengan komentar: “Nah, lihat, Paulus banyak kerja. Bukan banyak ngomong.” Komentar ini kelihatannya benar tetapi sesungguhnya salah. Perhatikan, Paulus tidak berkata apa-apa tentang banyak ngomong. Kalau Paulus berkata bahwa dia lebih banyak bekerja dibanding rekan-rekannya yang lain, tidak berarti bahwa ia tidak lebih banyak ngomong dari mereka.

Apakah kerja keras memiliki nilai lebih dibanding banyak ngomong? Mereka yang rajin mengungkapkan kalimat di atas, berharap orang lain melihat nilai plus di balik kerja keras. Tetapi mari kita menguji kebenaran asumsi ini.

Kerja keras dan banyak ngomong, pada hakikatnya berada pada posisi yang setara. Kerja keras dan banyak ngomong tidak pada dirinya sendiri (inherently) mengandung nilai benar atau salah. Orang yang bekerja keras, pada akhirnya baru dinilai positif jika apa yang dikerjakannya adalah sesuatu yang benar; dilakukan dengan cara yang benar (modus operandi), dilakukan dalam konteks yang tepat; dilakukan untuk tujuan yang benar; dan dengan motivasi yang benar. Kategori yang sama juga berlaku dalam menilai banyak ngomong. Banyak ngomong baru menjadi sia-sia, bila yang diomongin adalah omongan-omongan yang tidak benar (misalnya, gosip); ngomong dalam konteks yang tidak tepat; dan ngomong untuk maksud yang jahat (misalnya, menjelek-jelekkan seseorang).

Kerja keras dan banyak ngomong bisa sama-sama bernilai, juga bisa sama-sama tidak bernilai. Seorang yang bekerja keras mengumpulkan hasil jarahan untuk memperkaya diri, tentu tidak layak dipuji. Seorang pendeta yang terus diminta berkhotbah (banyak ngomong), tentu tidak serta merta perlu dicela. Ada kategori-kategori tertentu yang perlu diterapkan untuk sampai pada penilaian itu.

Pembaca yang budiman, kerja keras dan banyak ngomong jangan diposisikan seperti dua tetangga yang suka berselisih. Adalah lebih bijaksana untuk menempatkan keduanya semata-mata sebagai tetangga. Tetangga yang sungguh dekat. Saya ingat kata-kata dari almarhum Pdt. Amin Tjung, “Seorang pendeta harus bekerja lebih banyak kerja daripada jemaatnya. Kerja seorang pendeta adalah ‘ngomong’ [khotbah]. Jadi, seorang pendeta harus lebih banyak ngomong.”