Inilah malam pertama saya mulai menulis mengenai rasa minder saya. Tanggal 30 Maret 2011, tepatnya. Mengapa? Saya ingat, terlampau seringnya saya dibuat kagum Pak Andar Ismail. Seri Selamat. Itulah rangkaian buah pena beliau yang sudah sekian lama memikat hati saya. Daya pikat beliau belum memudar sedikit pun sampai sekarang. Malah semakin bertambah.

Sekali lagi, saya minder. Seperti seekor tikus yang tak putus asa melobangi karung beras, demikianlah perasaan minder itu. Saya membayangkan, sama seperti saya, tidak sedikit orang Kristen di Indonesia yang sudah sangat jatuh cinta kepada beliau. Siapa saya? Wah, saya tidak mungkin berhasil. Saya yakin, bukan sekadar merasa, bahwa tak sedikit pun saya bisa membayangi beliau.

Anda yang sedang membaca tulisan ini tentu bertanya: “Lalu, mengapa tulisan ini dipublikasikan di sini?” Anda ingin tahu rahasianya. Adakah sesuatu yang menakjubkan yang membuat saya mengalahkan rasa minder itu? Bagaimana saya menanganinya?

Begini ceritanya. Sebenarnya, saya masih minder. Tidak berkurang. Bahkan lebih minder lagi dari perasaan minder saya yang awal. Tetapi rasa minder itulah yang membuat saya mulai menulis. Mengapa begitu? Karena saya tidak memandang rasa minder itu seperti awal saya memandangnya. Rasa minder itu kini bukan lagi seekor tikus pengerat yang merugikan dan menjijikan. Rasa minder itu sekarang adalah Si Friday yang lucu (nama seekor anjing lucu dalam film: Hotel for Dogs). Dia menemani saya. Saat saya mulai membayangkan kesuksesan saya karena berhasil menulis sebuah buku, Si Friday mungil ini menggoyang ekor tanda peringatan: Jangan sombong! Saat saya mulai kehabisan kata-kata karena memang saya tidak pandai berkata-kata, dia meliuk-liuk di pelupuk mata saya: Ayo, banyak yang bisa kamu ketik di situ. Saat saya kehilangan semangat, dia tak henti-hentinya menyemangati saya: Teruslah mengetik. Jangan berhenti. Rasa minder saya kini menjadi sahabat bahkan kerabat saya.

Intinya apa? Saya mengubah seekor tikus menjadi seekor anjing yang lucu. Saya berhasil mengelola rasa minder saya secara luar biasa bukan? Bukan!

Masih kurang luar biasa? Jangan khawatir, saya masih punya cerita lanjutannya. Malam ini, saat saya mulai dikuasai rasa minder, sesuatu yang ajaib terjadi. Angin malam mulai berhembus dengan kencang. Bunyi gesekan daun pohon mangga di depan rumah saya terdengar riuh. Suasana mulai terasa mencekam, karena listrik di rumah saya, entah kenapa, padam. Sekonyong-konyong, sepasang tangan misterius menyentuh kepala saya. Layaknya sedang ditumpang tangan, sepasang tangan misterius itu menekan ubun-ubun saya. Lalu, terdengarlah sebuah bisikan lirih: “Jangan takut, Aku menyertai Engkau.” Itulah awal mengalirnya keberanian untuk menulis. Dan luar biasa, seperti aliran sungai Kapuas, demikianlah kata-kata pun mengalir membanjiri halaman demi halaman buku ini.

“Ah, lebay.” Itulah komentar istri saya ketika membaca cerita terakhir di atas. Anda juga setuju dengan komentar istri saya? Nah, berarti Anda sudah siap mendengar apa yang sebenarnya terjadi.

Pembaca yang budiman, maaf saya baru saja menghayal. Lho, cerita di atas hanyalah sebuah khayalan? Ya, itu bukanlah cerita yang sebenarnya. Itu khayalan saya belaka. Tidak pernah terjadi sama sekali. Sungguh, itu tidak pernah terjadi! Lalu, mengapa saya menghayal seheboh itu?

Saya sering bertemu banyak orang dan mereka selalu ingin mendengar saya mengatakan apa yang mereka ingin dengar. Saat saya diundang berkhotbah, jemaat ingin mendengar saya mengkhotbahkan yang enak-enak, gampang, praktis, tidak terlalu rumit, dan penuh janji berkat. Pokoknya yang tidak berbau penderitaan, salib, teguran dan sejenisnya. Dan saya sering dicela karena jarang saya mengatakan apa yang mereka ingin dengar. Saat saya berada di ruang konsistori bersama para majelis, mereka mengingatkan saya: “Pak, jemaat di sini sombong-sombong. Tolong disinggung ya.” Mereka ingin saya mengatakan apa yang mereka ingn jemaat dengar dari khotbah saya. Saat saya mengajar, para mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang denominasi itu berharap agar saya tidak menyinggung apalagi mengritik doktrin-doktrin teologi mereka yang saya tidak setujui. Dari mana saya tahu mereka berharap demikian? Dari sungut-sungut mereka di belakang yang bocor ke telinga saya. Saya mengecewakan mereka, karena saya mengatakan apa yang mereka harap saya tidak katakan. Dalam  relasi antar teman pelayan pun demikian. Kami bisa bersama-sama mengritik slogan atau gerakan atau apa pun, sejauh itu bukan menyangkut salah satu di antara kami. Saat salah satu di antara kami mulai mempersoalkan apa yang “kurang beres” dalam lingkungan kami, terjadilah sikut-menyikut, perang kata-kata, hingga sikap menjauh disertai “bisik-bisik” di belakang.

Mayoritas kita tidak siap mendengar kebalikan dari yang kita harap orang lain katakan. Kita tidak siap, bukan karena kurang siap. Kita tidak siap karena kita tidak pernah ingin siap.

Sekarang Anda mengerti? Saya menghayal tentang tikus pengerat dan Friday, tentang tangan misterius dan suara aneh itu, untuk memenuhi apa yang Anda harapkan saya ceritakan. Dan sebagai pemula, saya tidak ingin Anda segera melempar buku saya ke tong sampah karena Anda tidak mendapatkan cerita luar biasa dari rasa minder saya. Saya memberitahukan apa yang ingin Anda dengar. Anda ingin mendengar sebuah rahasia yang luar biasa. Dan Anda mungkin sedikit terhibur dengan cerita khayalan saya itu.

Maaf ya, tapi sekarang saya harus mengatakan yang sebenarnya. Tentang rasa minder saya itu, saya memang masih minder. Saya tidak ingin memeliharanya, juga tidak ingin memusnahkannya cepat-cepat. Saya tidak ingin memeliharanya karena saya tidak usah menipu diri bahwa perasaan minder itu dapat menjadi selucu Friday. Tidak ada yang patut dibanggakan dari rasa minder apalagi dijadikan peliharaan yang lucu. Saya juga tidak kuasa membuangnya secepat khayalan saya tentang tangan misterius dan suara ajaib itu. Di sisi lain, saya memang tidak ingin membuangnya cepat-cepat. Karena dengan demikian saya mendapatkan topik pertama untuk buku ini.

Tidak layak mencampur air dengan anggur. Rasa minder tidak boleh dicampur dengan keberanian. Daripada mencampur air dengan anggur, lebih baik mengubah air menjadi anggur. Daripada mencampur rasa minder dengan keberanian, lebih baik mengubah rasa minder menjadi keberanian. Itulah parafrase saya atas kata-kata Thomas Aquinas.  Saya minder menulis, maka saya menulis tentang rasa minder saya.