Pendahuluan
Di CLDC, Rony Sahaduta memosting sebuah thread yang berbunyi demikian:

Secara logis, ketika suatu subjek bersumpah, maka subjek itu akan bersumpah demi otoritas tertinggi yang dapat menghukumnya atau mengutuknya bila subjek tersebut melanggar sumpahnya. Subjek yang diyakini sebagai otoritas tertinggi dalam tiap2 agama adalah Tuhan. Jadi, jikalau Tuhan (yang dalam agama2 itu) bersumpah, pasti bersumpah demi Diri-Nya sendiri, karena otoritas tertinggi adalah Diri-Nya sendiri. Kalau ada Tuhan yang bersumpah demi otoritas yang lebih rendah dari Diri-Nya pasti Ia bukan Tuhan yang sejati atau dengan kata lain dia lebih rendah dari otoritas yang dirujuk dalam sumpahnya. Tuhan dalam Alquran bersumpah demi tempat beredarnya bintang-bintang (QS 56 : 75-79). Tuhan dalam Alquran bersumpah demi bintang2 yang beredar dan terbenam, demi malam, demi subuh (QS 81: 18-25). Tuhan dalam Alquran bersumpah demi kota dan Muhamad (QS 90:1-4). Kesimpulannya : Tuhan dalam Alquran bukanlah Tuhan yang sejati. Adakah rekan-rekan muslim yang membantah hal ini ? jika ada, mohon penjelasannya. Saat ini saya lagi senang belajar tentang Islam dan Alquran. Terimakasih.

Menanggapi isi thread ini, Meneke Tehe menggunakan Amos 8:7 untuk menunjukkan bahwa TUHAN di dalam Alkitab pun bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya, yaitu “kebanggaan Yakub”. Dengan menampilkan ayat ini di sini, Meneke Tehe berasumsi bahwa Amos 8:7 mendukung maksudnya, yaitu bahwa ternyata TUHAN dalam Alkitab pun melakukan apa yang dituduhkan Saudara Rony Sahaduta di atas. Apakah asumsi ini benar? Apakah Amos 8:7 menyatakan bahwa TUHAN bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya akan mengemukakan beberapa dasar pertimbangan eksegetis sebelum menentukan makna kata saba‘ (bersumpah) dalam konteks Amos 8:7.

Latar Historis
Meski berasal dari Kerajaan Selatan (Yehuda), namun Amos menjalankan pelayanannya di Kerajaan Utara (Israel). Ia bernubuat pada masa pemerintahan raja Yerobeam II di Kerajaan Utara dan raja Uzia atau yang disebut juga Azarya di Kerajaan Selatan (lih. 2Raj. 14:17-15:7; 2Taw. 26). Dari segi politik dan ekonomi, kedua raja ini mendatangkan kestabilan dan kemakmuran pada kerajaan mereka masing-masing. Batas-batas wilayah kekuasaan berhasil diperluas. Kedua kerajaan ini bahkan hidup berdampingan secara damai. Israel dan Yehuda sedang menikmati masa keemasan dalam bidang ekonomi dan politik.

Akan tetapi, masa keemasan ini rupanya juga sekaligus merupakan masa kebusukan. Pada masa pemerintahan kedua raja ini, baik di Israel maupun di Yehuda, terdapat kemerosotan moral dan sosial yang sangat mencolok. Nabi Amos (dan juga Yesaya) diutus Tuhan untuk menuding bahwa mereka telah “sarat dengan kesalahan” (Yes. 1:4) dan “ranum” untuk menerima hukuman (Am. 8:1-2; bnd. 3:9-15; Yes. 3:13-15; 5:8-30).

Gambaran Isi
Isi Kitab Amos dapat dikatakan sarat dengan berita penghakiman. Tuhan murka atas Israel, karena kesusksesan mereka dalam bidang politik dan ekonomi, membuat mereka melalaikan Tuhan. Mereka hidup dalam penyimpangan-penyimpangan yang tidak dikenan Tuhan. Berikut adalah gambaran ringkas isi Kitab Amos:

  1. Pasal 1:1-2 >> Pendahuluan
  2. Pasal 1:1-2:16 >> Ucapan ilahi (orakel) melawan bangsa-bangsa: Damsyik, Gaza, Tirus, Edom, Amon, Moab, Yehuda, dan Israel
  3. Berkenaan dengan fokus pelayanan Amos, dapat dikaitkan lagi ke atas bahwa pasal 2:6-9:15 berhubungan dengan Israel. Berikut saya akan membuat ulasan ringkas mengenai isi bagian ini.
  • Pesan pertama, (2:6-16): Amos mencela Israel dan menubuatkan mengenai malapetaka nasional denga maksud mengingatkan mereka mengenai akibat-akibat dari ketidaktaatan mereka terhadap perjanjian (covenant);
  • Pesan kedua (3:1-6:14), Amos menyalahkan mereka atas perbuatan ketidakadilan sosial dan kemunafikan rohani;
  • Pesan ketiga (7:1-9:10), Amos menceritakan tentang lima penglihatan yang dialaminya. Semua penglihatan ini berhubungan dengan hukuman dan murka Allah atas Israel. Penglihatan-penglihatan ini menekankan mengenai kepastian kehancuran dan pembuangan Israel;
  • Pesan keempat (9:11-15), Amos mengakhiri pelayanannya di Israel dengan janji mengenai pemulihan dan berkat, yang dilakukan oleh Sang Mesias.

Hal penting yang dapat disimpulkan dari ulasan ringkas di atas adalah bahwa Amos 8:7 berada dalam konteks penglihatan-penglihatan (akan diulas lebih rinci di bawah) mengenai hukuman atas Israel.

Amos 8:1-14
Seperti yang telah disinggung di atas, Amos 7:1-9:4 berisi catatan mengenai lima penglihatan tentang hukuman atas Israel. Kelima penglihatan tersebut, adalah:

  1. Penglihatan pertama: hama belalang (7:1-3).
  2. Penglihatan kedua: api yang tidak terpadamkan (7:4-6)
  3. Penglihatan ketiga: Tali sipat (7:7-9).
  4. Penglihatan keempat: keranjang buah-buahan musim kemarau (8:1-14).
  5. Penglihatan kelima: kehancuran bait Allah (9:1-10)

Jadi Amos 8:1-14 adalah penglihatan keempat dari lima penglihatan Amos. Penglihatan keempat ini berisi kecaman Tuhan terhadap ketidakadilan yang dilakukan Israel terhadap orang-orang miskin (8:4-6). Dan nubuat yang berisi kepastian hukuman yang akan menimpa Israel (8:2-3, 7-14).

Amos 8:7
Amos 8:7, dalam terjemahan LAI-ITB, berbunyi demikian: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: “Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!”. Terjemahan ini memang menimbulkan kesan bahwa TUHAN bersumpah demi atau atas nama “kebanggaan Yakub”.

Tetapi, dari ulasan konteks di atas, sebenarnya terjemahan LAI-ITB memberi kesan yang tidak tepat. Kata Ibrani: saba‘  secara literal bukan hanya berarti “bersumpah”, melainkan juga “menyerapahi” atau “mengutuki” atau “mengumpati”. Untuk menentukan arti mana yang akan digunakan, kita harus ingat akan prinsip studi leksikal dalam eksegesis Alkitab, yaitu bahwa arti kata selalu harus ditempatkan atau disesuaikan dengan konteksnya. Dan dalam konteks seperti yang sudah diulas di atas, kata saba‘  lebih cocok dimengerti dalam arti “menyerapahi” atau “mengutuk”. Dan terjemahan berbahasa Inggris yang tepat menangkap maksud ini adalah: “The Lord hath sworn against the pride of Jacob: surely I will never forget all their works” (DRA; perhatikan penekanan pada kata against dalam terjemahan ini). Maksud ini juga terdapat dalam terjemahan LXX yang berbunyi: ὀμνύει κύριος καθ᾽ ὑπερηφανίας Ιακωβ εἰ ἐπιλησθήσεται εἰς νεῖκος πάντα τὰ ἔργα ὑμῶν. Perhatikan bahwa dalam tata bahasa Yunani, preposisi kata + kata benda genetif, maka preposisi kata itu harus diterjemahkan “against”.

Dengan kata lain, kata saba‘ dalam Amos 8:7 bisa saja diterjemahkan “bersumpah”, namun kata depan (preposisi) bedalam rangkaian bige’on, mestinya diterjemahkan “against the pride”, bukan “demi kebanggaan”.

Kesimpulan
Berdasarkan ulasan di atas, Amos 8:7 tidak berarti bahwa TUHAN bersumpah demi atau atas nama sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya (kebanggaan Israel). Maksud dari ayat ini adalah Tuhan bersumpah melawan kebanggaan Israel. Tuhan menyerapahi kebanggaan Israel. Tuhan mengutuk kebanggaan Israel, yakni kemapanan ekonomi dan politisnya yang membuat mereka lupa diri.

Jadi, Amos 8:7 tidak dapat dipakai untuk menuduh TUHAN dalam Alkitab bersumpah demi sesuatu yang lebih rendah dari Diri-Nya.

Referensi:

  1. Page H. Kelley, Biblical Hebrew: An Introductory Grammar (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1992).
  2. Deky H. Y. Nggadas, Bahasa Yunani: Ikhtisar Historis, Elemen-elemen Dasar, dan Fungsi Gramatikalnya (Jakarta: SETIA, 2008).
  3. Tremper Longman III & Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2006).
  4. W.S. Lasor, dkk, Pengatar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat, terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi & Lily W. Tjiputra (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000)
  5. Leon J. Wood, Nabi-nabi Israel, terj. Fransiska Lestari Ilham (Malang: Gandum Mas, 2005).
  6. Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1996).
  7. Ian Provan, V. Philips Long, & Tremper Longman III, A Biblical History of Israel (Louisville/London: Westminster/John Knox Press, 2003).