Pendahuluan
Dalam artikel tentang “Hukum Taurat sebagai Syarat Covenan Lama bagi Israel” saya menekankan beberapa poin:

  • Hukum Taurat adalah pedoman tata laku umat Allah. Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk diperlakukan sebagai syarat menjadi umat Allah. Israel sudah menjadi umat Allah dan kepada mereka diberikan Taurat sebagai dasar ketaatan mereka terhadap covenan.
  • Dalam konteks ini, ketaatan atau ketidaktaatan Israel akan menentukan berkat atau kutuk perjanjian yang akan mereka terima (retribusi covenantal).

Uraian berikut akan menolong kita untuk memahami bagaimana sikap orang Yahudi terhadap Taurat saat mereka mengalami pembuangan, sampai pada masa Paulus. Saya akan menggunakan pendekatan diakronis untuk menjelaskan hal ini.

Telusuran Diakronis mengenai Taurat dalam Konteks Periode Intertestamental
Setelah Babel menghancurkan Yerusalem, membakar Bait Allah dan menawan banyak orang Israel pada 586 SM, sebagian besar Israel yang hidup di pengasingan tampaknya telah mengadopsi perspektif Yeremia dan Yehezkiel dan dan menganggap bahwa pembuangan merupakan hukuman bagi mereka karena telah melanggar perjanjian Allah dengan mereka di Sinai . Bagi mereka, kutukan Pentateukh mengenai ketidakpatuhan terhadap perjanjian menjadi kenyataan dalam invasi Babilonia dan pengasingan berikutnya (lih. Im 26:14-46; Ul 28:43-52, 64-67; 29:22 -28; 31:14-29). Jadi ketika Persia menyerbu Babel dan kemudian membiarkan Israel kembali ke tanah air mereka, para pemimpin mereka saat itu memutuskan untuk kembali berpegang teguh pada Taurat guna menghindari hukuman di masa depan karena ketidaktaatan. Mereka telah belajar bahwa penyembahan berhala termasuk praktik-praktik hidup yang tidak sinkron dengan Taurat telah membawa mereka mengalami malapetaka. Kini, mereka berkeyakinan bahwa perjanjian dengan Allah harus dipulihkan dalam sebuah tekad yang baru untuk “memagari diri” dari pengaruh bangsa asing serta dengan ketat mematuhi seluruh hukum Taurat.

Kita bisa melihat tekad di atas dengan jelas dalam Kitab Ezra-Nehemia, dimana Ezra dan Nehemia mengungkapkan keprihatinan mereka atas perkawinan campur (intermarriage) Yahudi dengan penduduk non Yahudi sebagai praktik hidup yang bisa membawa Israel kepada kemurtadan nasional dan menuai hukuman Tuhan (Ezra 9:10-15; lih. Neh 10:30). Tekad ini bahkan masih terus terlihat dua setengah abad kemudian , sebagaimana yang terungkap dalam Kitab Tobit. Kitab Tobit menyatakan bahwa kekalahan dan pembuangan yang menimpa Israel terjadi sebagai hukuman karena Israel telah melanggar perjanjian Musa (Tob 3:2-6). Itulah sebabnya, Tobit juga memberikan peringatan terhadap orang-orang Yahudi agar menghindari kawin campur dan dengan ketat memelihara hukum mengenai makanan yang halal dan tidak halal (Tob 1:9-12; lih 4:12-13). Pada periode inilah, Israel mulai meyakini dengan sangat intensif bahwa Taurat tanda yang membedakan Israel sebagai umat pilihan Allah.

Di sisi lain, Israel mulai menghadapi tantangan dari kebudayaan Helenisme bahkan mengalami aniaya yang hebat, terutama pada masa pemerintahan Antiokhus Ephipanes IV. Kitab Makabe menunjukkan bahwa Antiokhus berusaha untuk memaksa Israel mengadopsi kebudayaan Helenisme bahkan melarang orang Yahudi mempraktikkan pola hidup yang seturut dengan Taurat. Dia melarang sunat (1 Makabe 1:48), memaksa mereka memakan makanan yang najis (2 Makabe 6:18-31), dan yang paling mengerikan dari semua, ia memaksa orang-orang Yahudi untuk menyembah dewa-dewa kafir (1 Makabe 2: 15-28).

Pada masa itu, sejumlah orang Yahudi memilih berkompromi bahkan membuat kesepakatan dengan Antiokus demi keselamatan mereka (mis. Bangsa Samaria yang adalah keturunan campuran Yahudi). Tetapi tidak sedikit orang Yahudi yang dengan tegas menolak untuk mengabaikan Hukum Tuhan sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Mereka percaya bahwa jika Israel setia kepada perjanjian Musa, yakni taat kepada Taurat, maka Allah akan melindungi mereka tidak peduli seberapa besar musuh yang mereka hadapi (lih. JDT 5:17-21; 8:18-23; Pr Azar 6-14). Jadi, seperti Daniel (Dan 1:1-21; 3:1-30) mereka memutuskan untuk tidak melanggar Taurat, terutama memperhatikan sunat (Jub. 15:11-34), menghindari makanan yang najis (JDT 10:5; lih. 12:2) dan menjaga Sabat (Jub. 2:17-33). Tiga aspek dari Taurat inilah yang pada waktu itu dianggap sangat penting untuk dipertahankan karena aspek-aspek inilah yang menurut mereka sangat jelas memisahkan mereka dari bangsa-bangsa sekitarnya.

Sejumlah orang Yahudi (mis, kaum Hasmonean dan Zelot) memilih memperjuangkan kemurnian Taurat dengan jalan kekerasan, yakni pemberontakan. Sebagian lagi (mis., Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat) lebih berfokus pada kemurnian interal, yaitu mengembangkan sejumlah tafsiran lisan mengenai Taurat (oral law) untuk dijadikan pedoman menjaga kemurnian dalam kalangan orang-orang Yahudi. Entah dengan jalan kekerasa, atau dengan jalan “aman”, mereka berkeyakinan bahwa satu saat Allah akan mendirikan perjanjian baru dengan umat-Nya (Yeremia 31:31-34; Yehezkiel 36:24-37:28), yakni suatu perjanjian di mana Allah sendiri akan memberi mereka “hati yang baru” dan “semangat baru,” menghapus “hati yang keras” dan memberi mereka “hati yang taat” (Yeh 36:26).  Beberapa kalangan bahkan menganggap bahwa janji ini sedang terealisasi dalam komunitas mereka (Jub. 1:22-25; 1QS 4, 5; 1QH 4, 5, 18; 4QShirShabb 2).

Terhadap orang-orang Yahudi yang telah berkompromi, orang-orang Yahudi yang masih ketat terhadap Taurat tidak segan-segan berlaku keras. Dalam tulisan Yosefus (The Antiquity of the Jews), dikisahkan bahwa Yohanes Hirkanus I dipaksa untuk tunduk pada sunat dan persyaratan hukum lainnya (Yosefus Ant § 13.9.1. § 257-58), dan penggantinya Hirkanus ‘, Aristobulus I, memaksa Itureans untuk melakukan hal yang sama (Ant Yosefus. 13.11 .3 § 318). Langkah-langkah ini diambil karena mereka menganggap semua orang Israel adalah milik Allah dan tindakan pemakasaan ini merupakan bagian dari upaya membersihkan Israel, baik dengan memaksa mereka keluar atau dengan memaksa mereka untuk menjadi orang-orang Yahudi [dengan jalan disunat, memelihara sabat, dan pantang terhadap makanan najis). Mereka bahkan memaksa agar semua orang yang hidup di Yerusalem harus hidup sesuai dengan Taurat (lihat, misalnya, Josephus JW 2.17.10 § 454).

Meski begitu, tidak semua orang Yahudi selama lima abad dari Ezra ke zaman Paulus, menggunakan pendekatan ini radikal. Ada banyak usaha untuk menggunakan pendekatan kompromi dengan dunia non-Yahudi di sekitar mereka. Dalam tulisan-tulisan seperti Kitab Kebijaksanaan Salomo, Barukh Ben Sira dan, misalnya, Taurat itu diidentifikasi dengan “hikmat”. Dalam kitab Kebijaksanaan Salomo, Taurat dikatakan diberikan juga kepada kaum non Yahudi melalui Israel (18:4). Dalam kitab Sirakh dan Barukh, ditekankan bahwa Israel perlu mengajarkan Taurat itu berulang-ulang [termasuk juga kepada bangsa non Yahudi] agar mereka menaati perintah-perintahnya (Sir 1:26; 6 : 37; 9:15; 15:01, 16:04, 19:20; 21:11, 23:27-24:1, 24:23-29, 33:2-3, 34:8; 39:1 -5; Bar 3:12; 3:36-4:01, 12). Jadi ada upaya untuk “memasukkan” orang-orang non Yahudi dalam ketaatan terhadap Taurat. Meski begitu, jika pilihan harus dibuat, maka orang-orang Yahudi harus memprioritaskan konsep Taurat sebagai milik eksklusif Yahudi daripada konsep Taurat sebagai “hikmat” yang di dalamnya melibatkan orang-orang non Yahudi (lih. Sir 19:20 dengan 19:24). Kitab Sirakh juga membeberkan tentang rasa duka yang mendalam karena Israel telah melanggar hukum Taurat (Sir 49:4-7; Bar 2:27-3:13; 4:12-13) .

Singkatnya, pada periode pembuangan Intertestamental, sebagian besar orang Yahudi menyadari bahwa perihal mereka ditaklukkan oleh kekuatan asing merupakan akibat langsung dari pelanggaran mereka terhadap hukum Taurat yang diberikan di Sinai. Banyak orang Yahudi percaya, bahwa jalan keluar satu-satunya adalah dengan memperbarui komitmen untuk memisahkan diri dari bangsa-bangsa di sekitar mereka dengan menaati Taurat seketat mungkin, terutama pada aspek-aspek Taurat yang menandai Israel sebagai bangsa yang terpisah bangsa lain, yaitu: Sunat, Sabat, dan pantang terhadap makanan-makanan najis.

Lebih lanjut, ada sejumlah orang Yahudi yang bukan hanya mengharuskan Taurat (dalam hal ini: sunat, sabath, dan pantang terhadap makan-makan najis) untuk ditaati orang-orang non Yahudi (proselit), melainkan juga mulai memberikan penekanan yang lebih “tajam” terhadap fungsi Taurat. Dalam PL, Taurat dianggap sebagai syarat covenan. Namun bagi mereka kini, Taurat adalah syarat keselamatan. Konsep Taurat sebagai syarat keselamatan inilah yang dikenal dengan legalisme, yaitu: konsep bahwa penerimaan Allah atas seseorang, ditentukan oleh ketaatannya terhadap Taurat. Jadi orang yang legalistik berarti orang yang menaati Taurat dengan tujuan agar diselamatkan.

Dalam salah satu dokumen yang ditulis oleh komunitas Qumran, seseorang dibenarkan Allah atas upayanya menghidupi Taurat Tuhan dengan benar (4QMMT). Paulus sendiri pernah menyinggung mengenai sikap legalistik ini dalam surat-suratnya. Paulus menentang orang-orang Yahudi yang menganggap bahwa keselamatan: berasal dari Taurat (Rm. 10:5; Gal. 3;21; Flp. 3:9); terdapat dalam Taurat (en nomo; Flp. 3:6); dan melalui Taurat (dia nomou; Gal. 3:21). Selain itu, perhatikan juga lontaran-lontaran Paulus mengenai legalisme tersebut dalam: Rm. 3:20, 28; 4:2, 6; 9:12, 32; 11:6; Gal. 2:16; dll).

Konsep mengenai Taurat sebagai sarana keselamatan, berhubungan dengan konsep antropologi orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang Yahudi, sejak diciptakan, manusia memiliki dua tendensi (Ibr. Yeser) di dalam dirinya, yaitu: Yeser untuk berbuat baik dan yeser untuk berbuat jahat. Dalam Kitab Petunjuk Disiplin dari Komuntias Qumran, doktrin ini muncul dalam konsep dua roh, yaitu roh terang dan roh kegelapan, yang keduanya diciptakan oleh Allah. Manusia ditempatkan di antara keduannya dan diharuskan untuk memilih. Dikatakan juga bahwa akar segala kejahatan harus diatasi dengan Taurat (1QS III, 13dst; bnd. Kitab IV Ezra). Dalam konteks ini, bagi orang-orang Yahudi, seseorang dapat diselamatkan kalau ia dapat mengalahkan yeser untuk berbuat jahat; dan untuk mengalahkannya, satu-satunya cara adalah melalui Taurat. Taurat adalah jalan keluar satu-satunya dari kejahatan dosa. Keselamatan adalah pahala dari ketaatan terhadap Taurat.

Kesimpulan
Jadi sampai pada masa Paulus, secara umum kita dapat melihat bahwa sikap orang-orang Yahudi terhadap Taurat dapat dikategorikan dalam beberapa poin di bawah ini:

  • Oral law yang merupakan tafsiran dari ahli-ahli Taurat dan para rabi, juga dikenakan sebagai “keharusan” untuk ditaati, karena diyakini juga sebagai bagian dari Taurat.
  • Bagi mereka Taurat itu adalah milik eksklusif yang bersifat nasionalistik (Identity Marker) yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa non Yahudi.
  • Bangsa-bangsa non Yahudi dapat diterima sebagai umat Allah sejauh mereka “ditandai” dengan: Sunat, memelihara Sabath, dan pantang terhadap makanan-makanan tertentu.
  • Sebagian orang Yahudi menjadi legalistik, yakni menganggap bahwa Taurat merupakan sarana keselamatan.

Beberapa poin di atas menuntun kita untuk memahami bahwa istilah Taurat pada masa Paulus, tidak lagi semata-mata berarti Taurat dalam PL, tetapi juga sudah terkontaminasi dengan “oral law” dan anggapan bahwa Taurat adalah identity marker (sunat; sabath; dan pantang terhadap makanan tertentu); serta anggapan bahwa Taurat adalah satu-satunya sarana keselamatan.