Pertama-tama, saya merasa perlu membuat review ringkas mengenai isi note terdahulu. Hal ini dimaksudkan sebagai reafirmasi (penegasan kembali) posisi saya yang telah disalahpahami oleh Hai hai Bengcu Sibugil [dan mungkin juga pembaca yang lain]. Dalam review singkat ini, saya tidak akan mengulang semua poin penting dalam note terdahulu, melainkan hanya poin tentang penggunaan kata Firaun sebagai gelar raja Mesir dan implikasinya. Setelah itu saya akan mengajukan pembelaan saya terhadap implikasi dari posisi saya.

Review Singkat
Pertama, Dalam note berjudul: ABRAM BERTEMU FIRAUN: SEBUAH ANAKRONISME? (KEJ. 12:10-20), saya berpendapat bahwa kata Firaun memang sudah digunakan pada jaman Abram (kr. 2000/1900an SM), yakni dalam arti great house (rumah besar); arti yang merujuk kepada istana raja Mesir kuno dan pelayan-pelayannya. Namun kata ini (Firaun) baru digunakan sebagai gelar bagi para raja Mesir, kira-kira pada abad ke-15 SM – Amenhotep II – atau abad ke-12 SM – Ramses II -; mengenai hal ini, lihat: Hill & Walton, Survei PL, 48-49. Hoffmeier menulis demikian: “Thus, the usage of ‘Pharaoh’ in Genesis and Exodus does accord well with the Egyptian practice from the fifteenth through the tenth centuries” [terj. Jadi, penggunaan ‘Firaun’ dalam Kejadian dan Keluaran sangat cocok dengan praktik di Mesir mulai dari abad kelima belas hingga abad kesepuluh] (Lih. Israel in Egypt, 87-88; lihat juga: K. Kitchen, “Egyptian and Hebrews from Ra’amses to Jericho,” dalam Origin of Early Israel, 105-106; juga: Tremper Longman, Ian Provan, & V. Philips Long: A Biblical History of Israel, 124-125).

Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A – L juga tertulis demikian:

Firaun adalah gelar umum dalam Kitab Suci untuk raja-raja Mesir, berasal dari kata Mesir pr-‘’, artinya ‘rumah besar’. Istilah ini mulanya hanyalah nama untuk istana kerajaan dan pelayan-pelayan raja Mesir, dan demikianlah pemakaiannya dalam Kerajaan Kuno dan Kerajaan Zaman Pertengahan (*MESIR, Sejarah) pada millennium 3 dan pada pertengahan millennium 2 sM. Tapi pada pertengahan pemerintahan Wangsa 18 (kr 1450 sM) istilah itu dikenakan kepada diri raja sendiri sebagai padanan dari “Sri Baginda” (hlm. 314).

Jadi sekali lagi, kata Firaun memang sudah digunakan di Mesir pada masa Abram (kr 2000/1900an SM) dalam arti great house, namun baru digunakan dalam arti  gelar bagi raja Mesir pada pertengahan milenium kedua SM, yitu kira-kira Abad ke-15 atau abad ke 12 SM.

Implikasi
Perlu saya ingatkan bahwa J.P. Jones yang menuduh penulis Kitab Kejadian (12:10-20) melakukan anakronisme sejarah, dilakukan atas basis penerimaan pandangan di atas.

Karena saya pun menerima penetapan tahun penggunaan kata Firaun sebagai gelar bagi para raja Mesir seperti di atas, beberapa teman menunjukkan kepada saya bahwa implikasi dari penerimaan saya ini akan memicu tuduhan anakronisme seperti yang dituduhkan oleh Jones di atas.

Reafirmasi dan Pembelaan
Pertanyaan #1 [dalam komentar balasan Jones dan juga beberapa teman]: Jika kata Firaun belum digunakan dalam arti gelar bagi para raja Mesir, maka pada masa Abram, para raja Mesir disebut dengan gelar apa? Tanggapan saya: Saya tidak melihat bahwa pertanyaan ini membahayakan posisi saya. Karena penggunaan kata Firaun sebagai gelar bagi para raja Mesir pada abad ke-15 SM atau 12 SM tidak mengharuskan bahwa sebelumnya para raja tersebut mesti disebut dengan sebuah gelar.

Pertanyaan #2: Apakah penerimaan akan penetapan data di atas mengharuskan implikasi yang ditunjukkan kepada saya di atas? Tanggapan Saya: TIDAK HARUS! [dengan huruf kapital]. Mengapa TIDAK HARUS demikian? Alasan-alasan saya sebenarnya saya sudah cantumkan pada note terdahulu. Namun ada baiknya saya ulang kembali secara ringkas [pembaca yang ingin menyimak argumen saya secara lengkap, silakan liat note terdahulu saya].

Pertama, tuduhan anakronisme adalah tuduhan yang berbasis perspektif penulisan sejarah modern yang didominasi oleh prinsip ketepatan kronologi sejarah. Perspektif penulisan sejarah modern ini kemudian dipakai untuk menilai narasi Kejadian 12:10-20.  Terhadap hal ini, saya katakan dengan TEGAS bahwa tuduhan ini STRAW MAN. Mengapa? Karena narasi-narasi PL tidak ditulis dalam kategori genre sejarah modern. Narasi-narasi PL adalah Theological History (Sejarah yang bersifat Teologis; atau Sejarah yang ditulis dari perspektif teologis). Jadi narasi-narasi ini bukan semata-mata ditulis untuk memaparkan kejadian-kejadian masa lampau, melainkan kejadian-kejadian masa lampau tersebut dikisahkan kembali untuk memperlihatkan signifikansi teologisnya bagi pembacanya. Hal yang patut digarisbawahi dari genre Theological History adalah bahwa unsur ketepatan kronologi sejarah, bukanlah pertimbangan utama. Artinya, membaca narasi-narasi PL lalu menuntut harus adanya ketepatan kejadian atau peristiwa atau apa saja menurut kronologi waktu terjadinya perstiwa tersebut, merupakan tuntutan yang ASING bagi para penulis [sekali lagi: STRAW MAN].

Implikasi dari fitur genre di atas adalah setiap upaya untuk menjawab tantangan atau tuduhan anakronisme dengan semangat HARUS TEPAT SECARA KRONOLOGI SEJARAH, juga merupakan upaya yang tidak tepat. Mengapa? Karena dengan demikian, kita sedang menuruti standar atau aturan penulisan sejarah modern, lalu kita mengupayakan pembelaan terhadap Alkitab berdasarkan standar ini. Jelas salah kaprah! Dan inilah yang dilakukan Hai2Referensi mengenai poin ini sudah saya cantumkan dalam note terdahulu. Selain itu, dua artikel saya berikut ini dapat ikut menegaskan poin ini: 1) Pentingnya Memahami Genre Alkitab dalam Eksegesis; dan 2) Inerransi-Eksegetis-Teologis.

Kedua, argumen lanjutan dari segi bentuk sastranya. Teks Kejadian 12:10-20 disebut sebagai narasi. Artinya pada teks ini, kita harus memperhatikan unsur-unsur naratif dari teks tersebut. Ada banyak unsur, namun unsur yang relevan untuk saya sebutkan di sini ada dua, yaitu: a) Point of View sang narator; dan b) Karakter dan Plot dari narasi tersebut.

Karena saya sudah menjelaskannya panjang lebar di note terdahulu, saya hanya meringkasnya saja di sini. a) Dari segi Point of View sang narator, narasi Kejadian 12:10-20 dikisahkan dari perspektif orang ketiga (yaitu perspektif sang narator). Dari perspektif ini, sebagai narator, ia dapat memberikan komentar dari sudut pandangnya. Dan perhatikan bahwa dalam narasi tersebut, penyebutan bahwa Abram berjumpa dengan Firaun bukan dikisahkan dalam kata-kata dari Abram sebagai pelaku sejarah, melainkan merupakan komentar dari sang narator [yaitu Musa].

Memang orang dapat mengajukan keberatan bahwa walaupun dikomentari dari perspektif Musa, tetap penyebutan tersebut anakronis. Saya katakan: TIDAK! Mengapa TIDAK? Karena pada masa Musa (kr. Abad ke-15 M), kata Firaun dalam arti gelar bagi para raja Mesir sudah digunakan. Jadi penyebutan kata Firaun sebagai gelar bagi raja Mesir dalam narasi Kejadian 12:10-20 TIDAK MERUPAKAN SEBUAH ANAKRONISME dari PERSPEKTIF MUSA SEBAGAI PENULIS/NARATOR.

b) Karakter dan Plot. Dari segi ini saya sudah menjelaskan bahwa narasi Kejadian 12:10-20 ditulis dalam bentuk drama khiastik-simetrik. Dan maksud penggunaan bentuk ini adalah menunjukkan paling tidak dua hal, yaitu: 1) menunjukkan paralel antara pengalaman Abram dalam narasi tersebut dengan pengalaman Israel di Mesir – lihat detailnya dalam note terdahulu; dan 2) menunjukkan adanya paralel antara Kejadian pasal 12 – 20. Pasal 12 dimulai dengan tantangan bagi Abram dari seorang raja besar [Firaun] dalam perjalanan menggapai berkat-berkat covenan, sementara pasal 20 juga bicara tentang puncak dari tantangan bagi Abram dalam menggapai janji-janji covenan itu dari seorang raja besar yang lain bernama Abimelek.

Jadi kedua unsur narasi di atas sekali lagi menegaskan dua hal: a) Musa sebagai sang narator tidak melakukan anakronisme karena memang pada jamannya kata Firaun sudah digunakan dalam arti gelar bagi raja Mesir; dan b) Musa sebagai sang narator sengaja menggunakan kata Firaun untuk menunjukkan paralel antara pengalaman Abram dan Israel di Mesir dan untuk membuat unsur inclusio dengan pasal 20. – Sumber-sumber mengenai poin-poin ini juga sudah saya cantumkan dalam note terdahulu.

Pertanyaan 3#: Hai2 dalam menanggapi note saya tentang isu ini menggugat penjelasan saya tentang narasi Kejadian 12:10-20 dari perspektif point of view sang narator dan paralelisme yang saya tarik dari narasi ini kepada pengalaman Israel dan juga pengalaman Abram sendiri yang tercatat dalam Kej. 20. Hai2 bertanya: Apakah Musa membertahukan hal ini kepada saya? Tanggapan saya: Ini adalah pertanyaan yang bodoh dan menunjukkan ketololan Hai2. Hai2 harus mengerti bahwa dalam penafsiran narasi, ada konsep yang disebut dengan Korespondensi sejarah. Dan konsep ini sering digunakan oleh para penulis Alkitab dalam menunjukkan korespondensi antara even yang satu dengan even yang lain. Lagi pula, Hai2 menggugat ide paralelisme di atas, tetapi tidak menggugat kesimpulan saya dalam note mengenai narasi ini bahwa klimaks dari ide yang diusung dalam narasi ini mencapai penggenapannya dalam Kristus yang sebenarnya dilatarbelakangi sejak dari peristiwa kejatuhan, yaitu janji tentang the seed of the woman. Mengapa Hai2 tidak menanyakan pertanyaan yang sama kepada saya? Ini menunjukkan cara membaca dan tingkat pemahaman Hai2 yang parsial. Menarik! (Catatan: Pertanyaan ini dilontarkan Hai2 ketika mampir di note yang saya publish di notes FB saya).

Demikianlah penegasan kembali posisi saya dan implikasnya serta pembelaan saya terhadap implikasi yang dapat muncul dari posisi saya.