Pendahuluan
Kejadian 12:10-20 mengisahkan tentang Abram bersama Sarai pergi ke Mesir karena bencana kelaparan. Ketika tiba di Mesir, Abram pura-pura mengaku bahwa Sarai adalah adiknya. Kepura-puraan ini mengakibatkan Sarai dibawa ke istana Firaun untuk dijadikan salah satu selir Firaun. Rupanya Tuhan bertindak meluputkan Sarai dari Firaun. Kemudian, dikatakan bahwa Abram dibawa ke istana untuk bertemu dengan Firaun.Tuduhan Jones atas dasar narasi ini adalah bahwa penyebutan kata “Firaun” sebagai gelar raja Mesir belum berlaku pada masa Abram. Abram hidup sekitar tahun 2000 SM atau 1900an SM (abad ke-20 SM), di mana memang kata “Firaun” sudah digunakan hanya dalam arti “rumah besar” (great house). Penggunaan kata “Firaun” dalam arti ini merujuk kepada istana raja Mesir dan seluruh isinya. Dengan kata lain, ketika penulis Kitab Kejadian menyebutkan bahwa Abram bertemu Firaun, sebenarnya sebutan itu adalah sebuah anakronisme. Karena penggunaan kata “Firaun” sebagai gelar bagi raja Mesir baru berlaku pada abad ke-15 SM.Tuduhan di atas, bila ditinjau dari segi ketepatan kronologi historisnya, memang cukup beralasan. Sumber-sumber Kristen pun tidak sedikit yang mengakui fakta sejarah di atas.Untuk itu, saya akan memulai ulasan ini dengan sebuah telusuran diakronis terhadap penggunaan kata “Firaun” dan setelah itu saya akan mengajukan beberapa pertimbangan eksegetis dari teks dan konteks Kejadian 12:10-20 bahwa penyebutan Abram berjumpa Firaun bukan merupakan sebuah anakronisme.Kata “Firaun”: Telusuran Diakronis
Saya setuju bahwa penyebutan Firaun dalam arti “gelar” bagi para raja Mesir baru dilakukan pada abad ke-15 SM (lih. Wenham, Genesis 1-15 dalam seri Word Biblical Commentary). Meski begitu, saya tidak setuju bahwa penyebutan gelar Firaun dalam narasi tersebut merupakan sebuah anakronisme.

Membaca narasi Kejadian 12:10-20, concern sejarah (historis) tidak mungkin tidak terlihat. Penyebutan tentang Abraham (tokoh historis); “tipuan” Abraham yang mengaku Sarai sebagai saudarinya bukan istrinya (juga merupakan ‘kebiasaan’ yang sesuai dengan jamannya); bahkan penyebutan FIRAUN tanpa menyebutkan nama raja yang digelari demikian, juga menunjukkan konsistensi sejarah [dalam waktunya sang narator tentunya, lihat penjelasan saya di bawah; karena baru pada Abad ke 15 [Amenhotep II] atau 12 SM [Ramses II] gelar FIRAUN digunakan bagi para raja Mesir]. Ini adalah periode di mana Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Penyebutan Firaun + nama raja Mesir baru dilakukan sejak abad 10 SM ke bawah [lih. Tremper Longman, Ian Provan, & V. Philips Long: A Biblical History of Israel, pp. 124-125].

Narasi PL sebagai Literary Device
Kisah yang disinyalir mengandung unsur anakronisme di dalamnya (Kej. 12:10-20) dari segi sastra, disebut narasi. Ada banyak unsur penting dalam narasi yang perlu diperhatikan dalam penafsiran, tetapi dalam hubungan dengan isu ini, saya hanya akan menyebutkan dua unsur saja, yaitu:

Pertama, narator dan point of view. Narasi ini dikisahkan oleh sang narator dari sudut pandang orang ketiga. Dalam pengisahan dari sudut pandang orang ketiga, sang narator bertindak sebagai pengisah yang “omniscience” (mahatahu) dan “omnipresent” (mahahadir).  Dalam peran ini, sang narator dapat mengomentari peristiwa yang dikisahkannya dari sudut pandangnya. Dan perhatikan bahwa penyebutan Abram bertemu dengan Firaun (ay. 18) bukan dikisahkan sebagai KATA-KATA ABRAM SENDIRI (kata ganti orang pertama tunggal), melainkan KOMENTAR DARI SANG NARATOR (kata ganti orang ketiga tunggal). Ingat, sang narator tidak hidup sejaman dengan ABRAM, melainkan hidup pada masa di mana gelar Firaun SUDAH digunakan sebagai gelar bagi para raja Mesir [lihat uraian di atas]. Jadi dari SUDUT PANDANG SANG NARATOR, penyebutan FIRAUN di situ BUKANLAH sebuah anakronisme. Hal ini baru dapat disebut ANAKRONISME bila yang mengatakan itu adalah ABRAM sebagai PELAKU SEJARAH itu sendiri [mengenai hal ini, lihat: Tremper Longman III & Raymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament, p. 32].

(2) Plot dan Karakter. Komposisi naratif dari Kejadian 12:10-20 ditulis dalam bentuk drama berpola Khiastis-Simetris. Pola dari drama khiastis-simetris ini adalah:

Dengan menggunakan komposisi ini, TIDAK SULIT untuk melihat bahwa sang Narator ingin membuat paralel antara pengalaman Abram dengan pengalaman Israel. Perhatikan paralel antara kedatangan Abram ke Mesir karena bahaya kelaparan, demikian juga Israel. Kebohongan adalah ciri khas Abram di sini, demikian juga sauara-saudara Yusuf yang menjualnya ke Mesir; Abram ke Mesir dengan harapan mendapat kemakmuran namun memudar dengan Sarai sebagai harganya, demikian juga Israel ke Mesir atas alasan yang sama namun berakhir dengan perbudakan. Allah menulahi Firaun dan seisi istananya karena mengambil Sarai, demikian juga yang terjadi ketika Israel akan dibebaskan dari Mesir. Allah memberkati Abram dan mengutuk Firaun, demikian juga yang dialami Israel ketika mereka keluar dengan membawa kekayaan orang-orang Mesir sementara Firaun dan tentaranya mati. Dari perspektif ini, sang Narator memilih menggunakan term FIRAUN [mengenai frasa “memilih menggunakan term” akan saya jelaskan di bawah] untuk menyebut raja Mesir pada masa Abram adalah karena sang Narator ingin menunjukkan paralel ini bagi Israel yang saat itu sedang berada di Padang Gurun pasca keluar dari Mesir (Israel in wilderness) – Ada banyak ahli PL yang percaya bahwa kitab ini awalnya ditulis pada masa Israel keluar dari Mesir dan baru diselesaikan bentuk finalnya pada masa pembuangan.

Dengan menunjukkan paralel di atas, sang narator ingin meyakinkan Israel bahwa penguasa besar yang mendeklarasikan diri sebagai allah di Mesir (raja-raja Mesir mendeklarasikan diri sebagai keturunan ilahi yang immortal) tidak dapat berbuat banyak di hadapan YHWH. YHWH-lah penguasa yang mengendalikan sejarah dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Israel “berada di tangan yang tepat”. Dan adalah bodoh bagi Israel untuk melakukan penyembahan berhala sementara mereka berada langsung di bawah perlindungan dan kontrol YHWH [lih. Richard L. Pratt, Jr., He Gave Us Story, pp. 112-115].

Genre: Narasi-narasi PL sebagai Theological History
Ingat, tidak ada penulisan sejarah (historiography) yang benar-benar objektif. Historiography selalu ditulis dalam perspektif sang sejarawan dengan melakukan seleksi (lihat frasa “memilih….dst” di atas] terhadap materinya, menyusun dan mengcomposenya sesuai dengan “pesan” yang hendak ia sampaikan. Dari aspek ini, pesan telogis dari narasi-historis tentang Abram pergi ke Mesir mesti dipahami dalam konteks Covenant.  Narasi ini mesti dibaca sebagai bagian yang utuh mulai dari Kejadian 12 sampai pasal 22 [latar belakangnya ada pada Kejadian 3:15, yaitu janji tentang “the seed of the woman”], bahkan sampai dengan PB. Ingat, janji yang diberikan Tuhan kepada Abram adalah: a) negeri perjanjian; b) keturunan; c) blessing for the nations. Narasi ini merupakan tahap awal “perjalanan” menggapai ketiga janji ini.

Kejadian 12:10-20 merupakan halangan atau rintangan pertama yang dialami Abram, yaitu Sara terancam menjadi gundik raja Mesir. Jika ini terjadi, bagaimana mungkin Abram mendapat keturunan dari Sarai? Seterusnya, halangan demi halangan menuntun pembacaan kita sampai pada pasal 20 di mana kejadian serupa terjadi lagi yaitu Sarai hampir saja menjadi gundik Abimelekh. Ini adalah klimaks penantian Abram, kemudian diakhiri dengan Ishak, anak perjanjian itu lahir. Jadi ada kesejajaran antara Firaun sebagai halangan pertama dan Abimelekh sebagai halangan terakhir.

Sampai di sini, kelihatannya, janji tentang “keturunan” dalam Kejadian 3:15 mencapai penggenapannya di sini. Tapi ternyata tidak. Kepada Abraham, Allah menyuruh agar Ishak disembelih sebagai korban bakaran (Kej. 22). Dan Abraham taat. Namun, Tuhan tidak membiarkan itu terjadi. Justru pada kisah inilah, Tuhan memberikan unsur janji yang baru yang terlihat dari pemberian nama “Tuhan menyediakan”. Tuhanlah yang akan menyediakan korban bakaran bagi DIRI-NYA. Ini adalah Tipologi tentang Yesus Kristus yang akan menjadi “Anak DOmba Allah yang menghapus dosa dunia”. Dan perhatikan bahwa di dalam Yesus-lah, klimaks dari ketiga janji di atas tergenapi: Yesus adalah keturunan perempuan – lahir dari seorang perawan (the seed of the woman); Yesus mendeklarasikan agar para murid-Nya “menjadikan segala bangsa” menjadi pengikut-Nya [blessing for the nations]; dan Yesus menjanjikan kediaman kekal [negeri perjanjian], yaitu surga bagi para pengikut-Nya. Janji kepada Abraham mencapai penggenapannya HANYA di dalam YESUS KRISTUS.

So, telusuran sejarah-teologis ini menunjukkan kesatuan alur kisah PL dan PB yang klimaks atau puncaknya tergenapi di dalam Yesus. Ini adalah salah satu unsur yang terkandung di dalam redemptive history [sejarah penebusan].

Dan karenanya, saya tidak ragu-ragu untuk mengulangi lagi tantangan saya kepada anda, Jones. Percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda, dan anda akan diselamatkan dari kebinasaan kekal. Di luar Yesus tidak ada keselamatan. Maukah anda?