Pendapat George Eldon Ladd
Mengikuti Adolf van Harnack, N. Taylor, dan H.J. Cadbury, Ladd berpendapat bahwa penggabungan “Yesus” dan “Kristus” dalam Kisah Para Rasul semata-mata merupakan sebutan formal, bukan sebagai nama. Berikut ini adalah kutipan pendapat Ladd mengenai hal ini:

Sifat awal dari Kristologi Kisah Para Rasul ini dijelaskan oleh kenyataan bahwa “Christos” belum menjadi nama. Di empat belas tempat, “Kristus” hanyalah sebutan (2:31, 36; 3:18, 20, dll.). Kerygma kuno memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias (5:43; 8:5; 9:22). Di sebelas tempat, istilah “Kristus” digabungkan dengan “Yesus”, namun bukan sebagai nama, melainkan sebagai sebutan formal. Petrus menyuruh orang untuk dibaptis dalam nama Yesus Kristus (2:38; lihat juga 3:6; 4:10; 8:12).[1]

 Evaluasi
Mengawali evaluasi ini, saya ingin mengoreksi Ladd bahwa penggabungan “Yesus” dan “Kristus” dalam KPR, bukan hanya pada sebelas bagian melainkan enam belas bagian (2:38; 3:6; 4;10; 8:12, 37; 9:34; 10:36, 48; 11:17; 15:11, 26; 16:18, 31; 20:21; 24:24; 28:31).

Tampaknya Ladd ingin memberi penekanan pada gagasan bahwa Kristologi KPR masih “bersifat awal”. Gagasan ini sebenarnya berasal dari konsensus di antara para ahli bahwa pengakuan Kristologis pada awalnya bersifat evolusi (berkembang dari tahap yang sederhana hingga yang kompleks). Di satu sisi, penekanan Ladd ini bersifat positif. Ladd menerima kedinian tulisan Lukas dalam KPR. Namun sayangnya, sisi positif ini sekaligus menjadi sisi negatifnya. Ladd disetir oleh penekanan ini sehingga ia “menutup mata” terhadap beberapa fakta di bawah ini.

Pertama, mayoritas bagian yang menggabungkan “Yesus” dan “Kristus” menggunakan kata “nama” sebelum penggabungan “Yesus Kristus” (2:38; 3:6; 4:10; 8:12; 10:48; 16:18). Pengertian sederhananya, kata “nama” ini berhubungan langsung dengan “Yesus Krsitus”. Ladd mengabaikan unsur ini karena berpikir bahwa penggabungan “Yesus Kristus” dilakukan dalam konteks kerygma (tindakan formalnya). Tetapi, atas dasar apa Ladd harus membuat pemisahan bahwa kata “nama” hanya dihubungkan dengan “Yesus” sedangkan tindakan formal itu menjadi penanda bahwa “Kristus” bukan digunakan sebagai nama? Bagi saya, maksud Lukas jelas dan sederhana: kata “nama” dihubungkan dengan penggabungan “Yesus Kristus”. Artinya, kata “Kristus” pada bagian-bagian ini digunakan sebagai bagian dari nama Yesus: Yesus Kristus!

Kedua, berkenaan dengan konsensus di atas, saya perlu menyatakan bahwa konsensus itu adalah sebuah generalisasi yang menekankan tentang ciri umum dari Kitab-kitab Injil dan KPR. Generalisasi ini juga digunakan dalam konteks pengakuan akan ketuhanan Yesus. Para ahli biasanya membuat generalisasi bahwa dalam Injil Yohanes mengandung Kristologi Tinggi (pengkuan yang sangat kental mengenai ketuhanan Yesus). Tetapi, itu tidak berarti bahwa dalam Injil Yohanes tidak terdapat bagian-bagian yang berbicara mengenai kemanusiaan Yesus. Ini adalah contoh yang setara dengan generalisasi terhadap kecenderungan ide-ide Kristologis di dalam KPR. Di satu sisi, terdapat banyak bagian yang hanya menggunakan kata “khristos” sebagai gelar – dan ini menyiratkan kedinian KPR. Namun bagian-bagian di atas jelas mendeklarasikan bahwa “Yesus Kristus” digunakan sebagai “nama”: “nama Yesus Kristus”! Dengan kata lain, pendapat Ladd dalam hal ini adalah sebuah generalisasi yang bersifat reduktif.

Ketiga, di dalam surat-surat Paulus yang terawal penggabungan ini tidak pernah dipersoalkan soal penggunaannya sebagai nama atau gelar. Umumnya, diasumsikan bahwa Paulus menggunakan kata “Kristus” sebagai nama, bukan sekadar gelar. Untuk menunjang argumen ini, saya akan mencantumkan beberapa bagian saja dari dua surat Paulus, yaitu Surat Galatia dan Surat 1 Tesalonika. Saya memilih kedua surat ini karena ada perbedaan pendapat tentang surat mana yang merupakan surat terawal dari Paulus. Ada yang menyatakan Galatia sebagai surat terawal; ada yang percaya Surat 1 Tesalonika sebagai surat terawal. Saya ingin menunjukkan bahwa pada kedua surat yang ditulis hampir sezaman dengan KPR pun, kata “Kristus” sudah digunakan sebagai nama. Dalam Surat Galatia, penggabungan ini dapat terlihat dalam: 2:16; 3:1, 14, 22, 26, 28; 4:14; 5:16, 24; 6:14, 18. Bagian-bagian dalam Surat 1 Tesalonika yang menggunakan penggabungan ini: 1:1, 3; 2:14; 5:9, 18, 23:28. Setelah mengulas semua bagian di dalam surat Paulus mengenai penggunaan “khristos”, James D.G. Dunn menyatakan, “Menggambarkan ‘Kristus’ sebagai sebuah ‘nama’ berarti mengakui fakta yang hampir secara universal diakui bahwa ‘Kristus’ telah menjadi kurang lebih sama dengan nama diri dalam surat-surat Paulus.”[2] Meski begitu, Thomas R. Schriener menganggap klaim ini sebagai generalisasi yang perlu mendapat penekanan yang berbeda. Schreiner menerima kesimpulan N.T. Wright dan Larry Hurtado bahwa sesungguhnya “istilah ‘Kristus’ tidak kehilangan kesan gelarnya”[3] dalam surat-surat Paulus.

Kesimpulan saya, kata “khristos” di dalam KPR, sebagaimana dalam surat-surat Paulus, digunakan sebagai gelar dan juga sebagai nama. Dan ini tidak sedikit pun mengimplikasikan bahwa kita harus mengorbankan kedinian Kristologi KPR. Buktinya, surat-surat Paulus pun ditulis pada masa yang dini, namun kata “Kristus” sudah digunakan dalam dua kategori tersebut.


[1] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, Jilid 2, terj. Urbanus Selan (Malang: Gandum Mas, 1999), 39-40.

[2] Jame D.G. Dunn, The Theology of Paul the Apostle (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006), 197.

[3] Thomas R. Schriener, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008), 319 catatan kaki no. 39; bnd. N.T. Wright, The Climax of the Covenant: Christ and the Law in Pauline Theology (Mineapolis: Fortress, 1992),41-55; dan Larry Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003),98-101.