Pendahuluan
Sangat tidak mungkin untuk mengulas segala sesuatu tentang kelompok Seminar Yesus (Jesus Seminar) – selanjutnya akan disingkat SY – dalam notesingkat ini. Untuk itu, ulasan mengenai SY akan saya fokuskan pada: Sejarah; Presuposisi; Metode; dan Kriteria mereka dalam membedah isi Injil-injil Kanonik (Matius – Yohanes). Pada setiap pokok bahasan ini, saya akan langsung memberikan tanggapan evaluatif.Perlu dikemukakan juga bahwa note mengenai SY ini akan ditulis secara berseri supaya tidak terlalu panjang. Dalam seri pertama ini, saya akan mengulas mengenai sejarah ringkas dan presuposisi-presuposisi dasar SY, disertai tanggapan evaluatifnya.Sejarah Singkat
Nama yang digunakan SY sendiri bagi kelompok mereka adalah The Fellows. Ini adalah sebutan bagi sekitar delapan puluh sarjana Alkitab asal Amerika Utara yang mengadakan pertemuan rutin sebanyak dua kali dalam satu tahun sejak 1985 – 1996. Dalam buku: The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? The Search for the Authentic Words of Jesus (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1997), nama-nama dari delapan puluh ahli tersebut disebutkan pada halaman 533-537. Anehnya, pada bagian pengantar buku ini (hlm. 37), para penulisnya mengklaim bahwa terdapat sekitar dua ratus pakar Alkitab yang bergabung dalam SY. Dari sekian banyak pakar ini, Robert Funk-lah yang dianggap sebagai pendirinya.C. Marvin Pate & Sheryl L. Pate menulis:

Kelompok ini tidak disponsori oleh atau berafiliasi dengan universitas mana pun, dan kelompok ini juga tidak terdiri dari para ahli teologi yang mewakili berbagai latar belakang atau keyakinan (Disalibkan oleh Media, terj. Yeri Ekomunajat [Yogyakarta: Andi, 2007], hlm. 2-3).

Jadi para sarjana yang tergabung dalam SY TIDAK mewakili seluruh denominasi atau seluruh kelompok pakar Alkitab. Mereka hanyalah segelintir sarjana asal Amerika Utara yang “berhaluan kiri” (lihat ulasan di bawah).

SY mengadakan pertemuan untuk memberikan suatu penafsiran baru dan memberikan kumpulan komentar mengenai Injil-injil Kanonik, termasuk Injil Tomas dan Injil Petrus. Tujuan ini dilandasi oleh pandangan mereka yang sangat kritis terhadap otoritas PB secara umum dan Injil-injil Kanonik secara khusus.

Setelah mengadakan penelitian (lebih tepatnya: pertemuan) selama sepuluh tahun, SY menghasilkan dua buku kontroversial, yaitu: The Five Gospels (yang sudah disebutkan di atas). Mengenai judul “The Five Gospels” merujuk kepada keempat Injil Kanonik + Injil Thomas. Buku yang kedua berjudul: The Acts of Jesus: What Did Jesus Really Do? The Search for the Authentic Deeds of Jesus. Buku yang pertama berisi hasil kesimpulan mereka mengenai kata-kata yang sesungguhnya pernah diucapkan Yesus. Buku yang kedua berisi kesimpulan mereka mengenai tindakan-tindakan yang sesungguhnya pernah dilakukan Yesus. Dari judul kedua buku ini, kita sudah bisa menangkap kesan skeptisisme yang sangat kuat, mewakili “iman kritis” mereka yang sudah saya sebutkan di atas.

Sekadar Lelucon: Ada orang yang menanggapi “pencarian” akan Yesus di atas dengan nada berseloroh: “Mengapa mencari Yesus, padahal Ia tidak pernah hilang?

Kesan skeptis tersebut makin dikuatkan ketika kita memperhatikan penyebutan tiga tokoh pada halaman persembahan The Five Gospels, yang kepada mereka buku ini dipersembahkan. Ketiga tokoh tersebut bersama ciri khas pandangan mereka mengenai Alkitab adalah sebagai berikut:

  1. Galileo Galilei. Galilei adalah ilmuwan ternama yang di satu sisi diakui sebagai ilmuwan yang saleh oleh sejumlah pakar, namun pendekatannya terhadap Alkitab menjadi pelopor bagi siapa saja yang ingin menukar Alkitab dengan ilmu pengetahuan.
  2. Thomas Jefferson. Jefferson adalah mantan presiden USA yang “membuang” bagian-bagian Alkitab yang berbau supranatural.
  3. David Friedrich Strauss. Strauss adalah seorang ahli teologi asal Jerman yang popular pada Abad XVIII dengan pandangannya yang menolak kehandalan historis (sejarah) Injil-injil Kanonik mengenai Yesus.

Dari ulasan historis di atas, kita mendapati bahwa SY merupakan kelompok sarjana biblika yang bersikap “mengambil jarak” terhadap PB, khsususnya Kitab-kitab Injil Kanonik. Atau dalam label teologisnya, kita bisa menyebut mereka sebagai para penganut Teologi Liberal. Hal ini dapat diperkuat dengan penelusuran terhadap beberapa presuposisi mereka di bawah ini.

Tujuh Pilar Kebijaksanaan Intelektual
Radikalisme SY mengenai Injil-injil Kanonik sebenarnya ditelorkan atas dasar beberapa presuposisi, yang dikenal dengan istilah: “Tujuh Pilar Kebijaksanaan Intelektual”. Tujuh Pilar Kebijaksanaan Intelektual ini adalah (saya akan langsung memberikan catatan dalam kurung bila saya anggap perlu):

  1. Yesus sejarah (The Historical Jesus – Yesus yang sesungguhnya) bukanlah Kristus Iman (The Christ of Faith – Kristus dalam iman Gereja dan mayoritas isi Injil-injil Kanonik).
  2. Yesus dalam pengisahan Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) berbeda dengan Yesus menurut Injil Yohanes. Mereka menolak historisitas Injil Yohanes (Catatan: poin 1 dan 2 ini membuat mereka totally menolak gambaran mengenai Yesus dalam Injil Yohanes. Menurut mereka Injil Yohanes memuat gambaran tentang The Christ of Faith bukan The Historical Jesus).
  3. Injil Markus adalah Injil tertua yang ditulis sekitar tahun 64-68 M; Injil Lukas (ditulis tahun 80 M) dan Injil Matius (ditulis tahun 90 M) bersumber pada Injil Markus.
  4. Tradisi Q (Jerman: Quelle, berarti “sumber”) merujuk kepada 235 pernyataan yang dianggap diucapkan oleh Yesus; Tradisi Q menjadi sumber tersendiri bagi Lukas dan Matius, selain Injil Markus.
  5. Yesus bukanlah seorang pengkhotbah yang memberitakan mengenai kerajaan Allah. Yesus adalah seorang filsuf Yahudi bergaya Yunani yang berkeliaran untuk memberitakan detail-detail amsal mengenai perlunya memperlakukan orang lain dengan adil (Catatan: pada poin ini mereka mengikuti Albert Schweitzer yang menggagas ide bahwa Yesus adalah seorang tokoh Sosialis).
  6. Injil-injil Kanonik ditulis berdasarkan kumpulan-kumpulan tradisi yang awalnya beredar secara terpisah-pisah (independen), namun oleh para penulis Kitab-kitab Injil, tradisi-tradisi yang independen ini disatukan dan diberi konteks supaya terkesan nyambung. (Catatan: Poin ini adalah asumsi dasar Kritik Bentuk atau Form Criticism).
  7. Tanggung jawab untuk membuktikan bahwa Yesus Sejarah sama dengan Yesus Iman ada pada pundak orang-orang Kristen konservatif. Orang-orang Kristen Konservatif lah yang harus menanggungbeban pembuktian ini.

Evaluasi
Sangat banyak pokok yang dapat dikemukakan untuk membantah tujuh asumsi dasar di atas. Beberapa di antaranya dapat disebutkan di bawah ini:

  1. Presuposisi Kritik Bentuk yang diusung SY mengabaikan peran dan signifikansi para saksi mata. Pada masa penulisan Injil-injil Kanonik, para saksi mata kehidupan dan pelayanan Yesus masih hidup (bnd. Luk. 1:1-4). Sangat aneh, bila para saksi mata yang mengetahui segala sesuatu mengenai the historical Jesus, namun membiarkan orang banyak “menciptakan” Kristus Iman yang berbeda dengan Yesus Sejarah. Di samping itu, para saksi mata ini (para rasul) mayoritas mati martir. Mengapa mereka harus menyerahkan diri mereka mengalami aniaya bahkan maut untuk sebuah rekayasa?
  2. Lanjutan argumen untuk poin 1. SY mengasumsikan – mengikuti presuposisi Kritik Bentuk – bahwa tutur kata dan perbuatan Yesus diturunalihkan seperti permainan telpon. Penerima pertama berbisik kepada penerima berikutnya dan seterusnya. Hingga akhirnya berita yang diterima penerima terakhir sudah sangat berbeda dengan berita yang awalnya diterima penerima pertama. Ini adalah sebuah asumsi yang anakronis. Peralihan tradisi, apalagi tradisi yang sangat dihormati, dilakukan dengan ketelitian yang tidak terbayangkan pada masa kini. Kebudayaan Yahudi terkenal dengan penurunalihan tradisi yang sangat lihai dan akurat (lih. Robert Stein, The Synoptic Problem: An Introduction [Grand Rapids, Michigan: Baker, 1988], hlm. 197-203)
  3. Penolakan terhadap Injil Yohanes adalah sebuah ketidakadilan terhadap data sejarah yang melimpah ruah di dalamnya. Banyak pakar telah menunjukkan bahwa isi Injil Yohanes tidak bisa tidak harus dianggap ditulis oleh seorang saksi mata (bnd. Yoh. 19:35; bnd. 1:14; 20:8; 21:24). Ia sangat mengenal detail-detail lokasi, Yudaisme abad pertama, dan kejadian yang hanya mungkin diketahui oleh seorang Yahudi asal Palestina dan yang mengikuti kegiatan Yesus dari dekat. Memang terdapa sejumlah perbedaan pengisahan antara Injil Yohanes dan Injil Sinoptik, namun perbedaan-perbedaan ini tidak harus disikapi dengan pilihan: Injil Yohanes atau Injil Sinoptik. Perbedaan ini dapat diangap sebagai sebuah suplemen yang sangat penting terhadap isi Injil-injil Sinoptik. Untuk detail dari poin ini, lihat: Deky Hidnas Yan Nggadas, Pengantar Praktis Studi Kitab-kitab Injil (Yogyakarta: Andi, 2011), hlm. 164-174.
  4. Argumen selanjutnya untuk menolak penganaktirian terhadap Injil Yohanes dapat ditelusuri pada poin ini. Dari segi alur kisahnya, keempat Injil Kanonik memiliki alur kisah yang sama: Yesus dibaptis, Yesus menyatakan Diri sebagai Mesias, Yesus menentang orang-orang Yahudi dan Romawi, diadili dan disalibkan, tetapi bangkit dari kematian pada hari ketiga, dan setelah itu Dia menampakkan Diri kepada murid-murid-Nya. Alur yang senada ini memang diwarnai oleh perbedaan-perbedaan detail. Tetapi sekali lagi, perbedaan-perbedaan inilah yang mengharuskan adanya EMPAT INJIL. Jika harus sama, mengapa ada EMPAT Kitab Injil? Artinya catatan-catatan yang tidak ada pada kitab yang satu dilengkapi oleh catatan pada kitab yang lain. Selain itu, perspektif penulis juga ikut memainkan peranan penting di sini. Ingat, genre Kitab-kitab Injil adalah Theological Biography – Biografi Teologis. Biografi yang ditulis dari perspektif teologis masing-masing penulis! (lih. Nggadas, Pengantar Praktis Studi Kitab-kitab Injil, 227-248).
  5. Perihal Yesus adalah seorang sosialis abad pertama, sebenarnya ditelorkan atas dasar pergumuluan para teolog SY yang hidup dalam gejolak ketidakadilan sosial yang menonjol. Mereka ingin “menemukan” Yesus yang cocok dengan situasi mereka sendiri. Dalam Kitab-kitab Injil memang Yesus dikisahkan berpihak kepada kaum tertindas. Namun berita utama Kitab-kitab Injil bukanlah pembebasan sosio-ekonomi, melainkan pembebasan rohani, yakni berita mengenai Injil Kerajaan Allah (Mrk. 1:15; Mat. 4:23; Luk. 4:43; 8:1; dsb).
  6. Perihal Yesus adalah seorang filsuf Yahudi bergaya Yunani pun sangat mudah dibantah. Mengapa seorang filsuf dengan ciri dan berita sosial seperti ini dianggap menjengkelkan oleh orang-orang Yahudi dan Romawi? Mungkin saja ciri dan berita ini sedikit menjengkelkan, tetapi ciri dan berita seperti ini tidak akan membuat Yesus menjadi seorang yang sangat dibenci bahkan sampai dihukum mati dengan cara disalibkan layaknya seorang kriminal kelas kakap!

Bersambung!