Dalam note pertama, saya sudah mengulas tentang sejarah singkat dan presuposisi Seminar Yesus (SY). Dalam note lanjutan ini, saya akan mengulas mengenai metode dan kriteria-kriteria yang diterapkan SY dalam membedah isi Injil-injil Kanonik mengenai Yesus.

METODE “PEMILU”
Mengenai metode yang digunakan SY, saya terpikir akan analagi berikut.

Di Indonesia kita tentu familiar dengan istilah “PEMILU” (Pemilihan Umum). Pada momen menjelang Pemilu, di jalan-jalan kota-kota besar hingga pelosok desa kita mendapati spanduk-spanduk dan umbul-umbul berwarna yang mewakili setiap partai yang berkompetisi merebut suara rakyat. Lalu, pada akhirnya dilakukan pemungutan suara sebagai momen penentu “kemenangan”. Tentu ada beberapa fitur yang diskontinu (tidak berkesinambungan) dengan SY. Namun “warna” dan “pemungutan suara” sebagai fitur menonjol dalam Pemilu dapat dianggap berkesinambungan dengan metode SY.

Di dalam menentukan kata-kata Yesus yang asli, SY menggunakan metode pemungutan suara. Sebagai penandanya, mereka menggunakan sejumlah warna yang mewakili pendapat mereka mengenai otentisitas kata-kata Yesus dalam Kitab-kitab Injil. Warna-warna yang digunakan SY adalah:

  1. Warna Merah (red) sebagai penanda Yesus pasti mengatakannya (kata-kata yang autentik).
  2. Warna Merah Muda (pink) sebagai penanda Yesus mungkin mengatakannya.
  3. Warna Abu-abu (grey) sebagai penanda Yesus mungkin tidak mengatakannya.
  4. Warna Hitam (black) sebagai penanda Yesus pasti tidak mengatakannya.

Apakah metode ini benar-benar sah untuk dijadikan sebagai standar kesimpulan keilmuan yang representatif mengenai autentisitas kata-kata Yesus dalam Kitab-kitab Injil?

Pertama, saya sudah menyebutkan pada note pertama bahwa SY tidak mewakili semua kalangan dalam bidang biblika PB. Mereka hanyalah segelintir sarjana yang “sewarna” dalam hal pandangan teologis mereka terhadap PB: liberal theologians. Sejumlah pakar biblika telah menyatakan konsensus menolak SY, misalnya yang tertuang dalam buku yang diedit oleh: Michael J. Wilkins & J.P. Moreland, Jesus Under Fire: Modern Scholarship Reinvents the Historical Jesus (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1995); lihat juga: Ben Witherington III, The Jesus Quest: The Third Search for the Jew of Nazareth (Downer’s Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1995).

Kedua, bahkan mayoritas anggota SY sendiri tidak sependapat dengan hasil pemungutan suara dan penentuan warna terhadap bagian-bagian tertentu dari Kitab-kitab Injil. C. Marvin Pate dan Sheryl L. Pate memberikan sebuah contoh mengenai hal ini:

Pemungutan suara untuk mengambil keputusan mengenai Matius 25:29 (“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”) adalah sebagai berikut: 25 persen anggota The Fellows menganggap bahwa ayat itu seharusnya diberi warna merah karena Yesus memang mengatakannya dan 11 persen anggota lainnya memberikan penilaian dengan warna merah muda yang menegaskan bahwa Yesus mungkin mengatakannya. Dengan demikian, 36 persen anggota The Fellows menyatakan bahwa ucapan Yesus tersebut memiliki keautentikan dalam tingkat tertentu. Anggota-anggota The Fellows lainnya memberikan suara dengan warna abu-abu dan hitam. Ayat ini diberi warna hitam dalam Injil versi Jesus Seminar (Disalibkan oleh Media, hlm. 8).

Mengomentari kasus Matius 25:29 di atas, Ben Witherington menyatakan bahwa ketika orang melihat prosentase suara untuk warna hitam saja, persentase tersebut menunjukkan jumlah minoritas karena persentase tiga warna yang lain melampaui persentase warna hitam. Namun meskipun keempat warna manic-manik mendapatkan jumlah suara yang besar, kategori abu-abu atau hitam-lah yang ditetapkan, bukan kategori merah (autentik) atau merah muda (mungkin autentik) – Witherington, The Jesus Quest, 45-46.

Persoalannya, setelah Injil versi SY tersebut dipublikasikan, para pembaca yang tidak mengetahui seluk-beluk metode “pemilu” ala SY, mendapat kesan bahwa warna-warna penanda tersebut adalah “suara bulat” dari seluruh anggota SY. Padahal tidak demikian, sebagaimana yang disebutkan dalam contoh di atas. Sampai di sini, publikasi Injil versi SY memberi kesan yang tidak sesuai bahkan melampaui kenyataan yang ada.

Lalu, kriteria apa yang mereka pakai untuk penetapan warna-warna di atas?

Kriteria-kriteria
Dua kriteria yang digunakan SY untuk penetapan warna di atas, adalah:

  1. Kriteria perbedaan (dissimilarity). Kriteria perbedaan berarti ucapan dan tindakan Yesus yang berbeda secara mencolok dengan tradisi Yahudi maupun tradisi gereja (iman gereja – the Christ of faith). Maksudnya, setiap kata-kata atau tindakan Yesus yang berbeda dengan dua tradisi ini pastilah autentik.
  2. Kriteria pembuktian kolektif. Kriteria pembuktian kolektif mengasumsikan adanya empat sumber terpisah di balik penyusunan Kitab-kitab Injil: Markus, Q, M, dan L (lihat note pertama). Jika sebuah perkataan dan tindakan yang dilakukan oleh Yesus terdapat paling sedikit dalam dua sumber, maka perkataan atau tindakan tersebut harus dianggap autentik. Bila hanya terdapat dalam satu sumber, maka tidak dianggap autentik.

Hasil apakah yang dicapai oleh SY dalam penggunaan kriteria dan metode “pemilu” di atas? Hasilnya sungguh mencengangkan: hanya 18 persen isi Kitab-kitab Injil yang dianggap autentik.

Evaluasi
Berikut ini adalah tanggapan evaluatif terhadap dua kriteria SY di atas.

Pertama, kriteria perbedaan  menjadikan Yesus sebagai pria tanpa konteks. Yesus menjadi aneh jika Ia harus sepenuhnya berbeda baru dianggap autentik, dalam konteks Palestinian Judaism. Darrel L. Bock menyatakan:

Jika kedua sisi perbedaan tersebut ditegaskan, sehingga Yesus berbeda baik dari Yudaisme maupun gereja mula-mula, Yesus menjadi seorang tokoh yang sepenuhnya aneh, terpisah secara total dari tradisi budayanya dan secara ideologis terisolasi dari gerakan yang menjadi tanggung jawab-Nya karena DIalah yang mendirikannya (“The Words of Jesus in the Gospels: Live, Jive or Memorex?”, dalam Jesus Under Fire, hlm. 91).

Dan seperti yang sudah ditegaskan dalam evaluasi saya dalam note pertama, mengapa “pria aneh” seperti ini sangat menjengkelkan orang-orang Yahudi dan Romawi hingga mereka menyalibkan-Nya?

Selain itu, SY tidak konsisten dalam menerapkan kriteria perbedaan. Misalnya, SY percaya bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pasti autentik. Karena Yohanes Pembaptis sendiri yang membaptiskan Yesus, tidak seperti Komunitas Qumran yang menyuruh orang yang akan dibaptis untuk membaptis diri mereka sendiri. Dan peristiwa ini dianggap “memalukan” oleh gereja mula-mula karena itu membuat Yesus dianggap kurang penting ketimbang Yohanes Pembaptis. Namun, pada bagian lain, SY menolak Lukas 5:33-35 yang menyatakan bahwa Yesus tidak berpuasa. Padahal ini tentu berbeda dengan Yudaisme maupun gereja mula-mula yang sama-sama menerapkan puasa. Lukas 5:33-35 dianggap tidak autentik oleh SY.

Kedua, ketidakkonsistenan SY juga terlihat dalam penerapan kriteria pembuktian kolektif.  Misalnya, pujian Yesus terhadap Yohanes Pembaptis dalam Matius 11:7-8 dianggap mungkin autentik  karena hal tersebut terdapat dalam “Q” dan dalam Injil Thomas. Namun, pada sisi lain, Markus 10:45 yang terdapat juga dalam Lukas 22:19-20 (dan 1Kor. 11:24-25) dinyatakan oleh SY sebagai tidak mungkin autentik.

Selain ketidakkonsistenan di atas, kriteria pembuktian kolektif sangat tidak meyakinkan dalam penerapannya. Hanya karena sebuah perkataan atau tindakan hanya disebutkan dalam satu kitab Injil, mengapa itu membuatnya tidak autentik? Mengapa perkataan atau tindakan tersebut harus ada duplikasinya baru dianggap autentik?!

Kesimpulan
Sejauh yang sudah diulas di atas, kesimpulan SY mengenai autentisitas kata-kata dan perbuatan Yesus dalam Kitab-kitab Injil, sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Metode “pemungutan suara” yang menonjol dengan subjektivisme juga diteruskan dalam sikap “selektif” ketika menggunakan kriteria perbedaan dan pembuktian kolektif. Sikap selektif di sini berarti SY hanya menerapkan kriteria-kriteria ini secara konsisten, sejauh “menguntungkan” presuposisi liberal mereka. Dan ini tentu merupakan sikap yang tidak patut diusung sejumlah orang yang menamakan diri “pakar” dalam kelompok SY.

Demikian ulasan ringkas saya mengenai SY dalam dua note berseri.