Perumpamaan “Anak yang Hilang” merupakan salah satu perumpamaan favorit kita, tentunya. Memang, perumpamaan yang sangat menggugah ini layak menempati “nominasi” teratas.

Perumpamaan yang amat menarik ini akan lebih kelihatan penekanannya bila kita memahami aspek kulutural yang melatarbelakanginya. Dalam note singkat ini, saya akan memusatkan perhatian pada aspek cultural di balik permintaan si bungsu kepada ayahnya untuk mendapatkan bagian dari warisan sang ayah.

Pokok perhatian di atas sangat penting, karena kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa si bungsu dianggap sebagai “pendosa” hanya karena berfoya-foya dan menghamburkan warisan dari ayahnya. Atau mungkin kita bisa menambahkan ide “tidak tahu terima kasih” kepada si bungsu karena tega meninggalkan keluarganya demi mengejar kesenangannya sendiri. Tentu ide-ide ini tidak salah. Kita sudah sering melihat dan mendengar mengenai sikap-sikap seperti itu. Dan tidak ada yang patut dipuji dari sikap-sikap tersebut.

Kita harus ingat, bahwa masyarakat Yahudi abad pertama mewarisi secara ketat hukum Musa dan juga tradisi-tradisi Yudaisme. Mereka sebenarnya hidup dalam suatu kebiasaan dimana pembagian warisan itu baru dilakukan pada saat sang ayah meninggal. Dalam kitab Sirakh 33:19-23 diungkapkan mengenai himbauan agar warisan (harta benda atau otoritas) baru boleh dialihkan kepada si ahli waris setelah sang ayah tiada (mangkat). Itulah sebabnya, Craig S. Keener menyatakan bahwa dalam latar belakang tradisi seperti ini, permintaan si bungsu dapat diparafrasekan: “Ayah, aku berharap engkau segera mati sehingga aku dapat memiliki bagian dari warisan tersebut” (The IVP NT Background Commentary). Dan memang permintaan tersebut, bagi orang-orang Yahudi, sebenarnya dapat dikategorikan sebagai suatu pemberontakan atau sikap membangkang yang harganya adalah lontaran batu sampai mati di hadapan orang banyak (bnd. Ul. 21:18-21).

Pertanyaan selanjutnya yang penting untuk ditanyakan adalah mengapa sang ayah meluluskan permintaan tersebut? Mengapa sang ayah “membiarkan” pemberontakan si bungsu itu terjadi atas perkenanannya di hadapan matanya sendiri?

Terhadap pertanyaan ini, singkat saja, Darrell Bock memberi jawaban dari aspek arti teologisnya. Bock menyatakan, “This detail pictures a father who is letting a sinner go his own way” (“Luke”- NIVAC). Meski begitu, pembiaran sang ayah sebenarnya tidak berhenti pada sekadar membiarkan si pendosa (baca: anak bungsu) itu memilih jalannya sendiri. Jelas bahwa pembiaran itu sebenarnya merupakan awal perjalanan yang akan menuntun si bungsu (si pendosa) itu kembali kepada sang ayah. Ya, ia dibiarkan untuk pergi agar tiba waktunya dimana ia akan kembali dengan hati yang baru. Ia pergi dengan pemberontakan namun kembali dengan penyesalan. Ia pergi mengejar kesenangannya namun penderitaan akan menyeretnya dengan tangan hampa ke dalam pelukan sang ayah. Ia pergi dengan warisan berlimpah namun kembali dengan tidak membawa apa-apa, selain tatapan memelas mengharapkan belas kasihan sang ayah.

Satu dari sekian pelajarannya, bagi mereka yang telah ada dalam rancangan kasih karunia-Nya, dosa tidak akan pernah membawa mereka terlalu jauh sehingga Tuhan tidak sanggup membawa mereka kembali. Terpujilah Tuhan yang berdaulat, yang berkuasa untuk menarik anak-anak-Nya kembali kepada-Nya.

Laus Deo!