TEKS

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya  dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku.  Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya.”  (Mat. 21:1-3) 

Pendahuluan
Beberapa waktu lalu, seorang anggota CLDC memosting tuduhan bahwa Yesus mencuri keledai. Menurutnya, Matius 21:1-3 menunjukkan bahwa keledai tersebut diambil oleh para murid atas perintah Yesus tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemiliknya. Dengan kata lain, Yesus adalah dalang pencurian keledai.

Guna meresponsi tuduhan di atas, saya akan mengulas dua hal yang berhubungan dengan Matius 21:1-11 (bnd. Mrk. 11:1-10; Luk. 19:28-38; Yoh. 12:12-15). Pertama, tentang referen kata avpostelei/ dalam Matius 31:3; dan kedua, analisis terhadap perintah pengambilan keledai tersebut dari segi kemungkinan-kemungkinannya.

Referen Kata Apostelei dalam Matius 21:3
Matius 21:1-11 mengisahkan tentang pengelukan terhadap Yesus ketika memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai muda. Kisah ini diawali dari perintah Yesus terhadap dua orang murid-Nya untuk mengambil keledai bagi-Nya ketika mereka tiba di Betfage. Dalam ayat 3, tampaknya Yesus mengantisipasi keraguan kedua murid-Nya bahwa mereka akan dianggap mencuri bila mereka mengambil keledai betina dan anaknya (sesuai dengan perintah Yesus dalam ayat 2)[1] tanpa pemberitahuan kepada pemiliknya. Yesus berkata, “kai ean tis humin epe ti, ereite hoti ho kyrios auton khreian ekhei euthus de apostelei autousÅ”

ITB menerjemahkan Matius 21:3 demikian: “Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya.” Versi BIS (dan mayoritas terjemahan Alkitab berbahasa Inggris) menerjemahkannya, “Kalau ada orang menanyakan sesuatu, katakan kepada orangnya, ‘Tuhan memerlukannya’, maka orang itu dengan segera akan membiarkan keledai itu dibawa.”

Seperti yang tampak dalam dua versi terjemahan di atas, ITB menghubungkan referen dari kata apostelei (literal: “dia akan mengirim”) dengan ho kyrios (Literal: “tuan” atau “Tuhan”, yaitu Yesus), sedangkan versi BIS menghubungkannya dengan tis (literal: “seseorang”, yaitu orang yang menanyakan tentang pengambilan keledai-keledai itu). Lalu, terjemahan yang manakah yang tepat dalam konteks Matius?

Jawaban yang paling pasti untuk pertanyaan di atas adalah bahwa kita tidak dapat memastikan terjemahan mana yang lebih tepat. Anak kalimat: euthus de apostelei autous mengandung kedua kemungkinan itu. Dan ambiguitas ini tidak dapat dipecahkan karena jarak sejarah (historical gap) yang kita hadapi. Konkretnya, kita tidak memiliki akses lagi untuk menanyakan kepada Matius mengenai maksudnya yang sesungguhnya.

Akan tetapi, saya dapat mempertimbangkan beberapa hal untuk menentukan terjemahan yang mana yang lebih memungkinkan untuk dianut.

Saya akan mempertimbangkan mengapa ITB memilih terjemahan di atas. ITB tampaknya mengikuti Markus 11:3 yang secara jelas menyatakan bahwa keledai tersebut akan dikembalikan pasca digunakan (kai ean tis humi eipe, Ti poieite touto; eipate, ho kyrios autou khreian ekei, kai euthus auton apostellei palin hode; terjemahan literal dari saya: “Dan jika seeseorang berkata kepada kalian: ‘Mengapa kalian melakukan ini?’ Jawablah: ‘Tu[h]an[2] membutuhkannya dan Ia segera mengirimkannya kembali’). Saya menggunakan kata “mengikuti” di awal pertimbangan ini karena [kemungkinan] para penerjemah yang menganut terjemahan ini, mendasarkan terjemahannya pada teori Markan Priority (hipotesis dokumenter bahwa Markus adalah Injil tertua yang dijadikan [salah satu] sumber penulisan Injil Matius dan Lukas).[3]

Akan tetapi, saya mempertimbangkan dua keberatan terhadap terjemahan yang dianut ITB [dan juga versi-versi yang senada]. Pertama, jika Matius mengikut Markus 11:3, mengapa Matius tidak menggunakan konstruksi yang sama jelasnya dengan Markus 11:3? Kedua, teori Markan Priority yang menjadi dasar anggapan bahwa Matius “mengikuti” Markus pun sebenarnya masih merupakan sebuah hipotesis.

Kedua pertimbangan di atas sekaligus menjadi keberatan saya. Saya cenderung untuk menerima terjemahan BIS [dan mayoritas terjemahan bahasa Inggris). Karena dari aspek genrenya (jenis sastra), kitab-kitab Injil boleh disebut: Theological Biography (biografi teologis).[4] Para penulis Kitab Injil bukan sekadar menulis biografi Yesus, melainkan mereka menyeleksi materi-materi tentang Yesus untuk digunakan sesuai dengan perspektif yang ingin mereka tekankan mengenai Yesus. Para penulis Kitab Injil menulis tentang Yesus menurut perspektif dan penekanannya masing-masing. Setiap penulis memberikan penekanan yang berbeda walau mereka sedang mengisahkan kisah yang sama [itulah sebabnya, cara menafsir harmonisasi yang ada dalam Diatessaron-nya Tatianus dan juga Calvin’s Commentary tidak begitu diminati lagi]. Beranjak dari sini, sangat mungkin bahwa Matius menggunakan kontruksi ini untuk menekankan bahwa si pemilik keledai-keledai itu pun tidak keberatan membiarkan kedua keledai tersebut dibawa untuk digunakan Yesus. Hal ini dilakukan Matius karena Matius tidak menyertakan reaksi orang-orang terhadap para murid, sebagaimana tercantum dalam Markus 11:5-6, ketika keledai-keledai tersebut diambil.

Perintah Pengambilan Keledai dalam Matius 21:1-11 dan Markus 11:1-11
Selanjutnya, saya akan menganalisis perintah ini dari segi kemungkinan-kemungkinannya.

Yesus Mendalangi Pencurian Keledai
Atas dasar analisis di atas, kemungkinan ini harus ditolak karena antisipasi Yesus dalam Matius 21:3 dan Markus 11:3 secara implisit menunjukkan bahwa perintah Yesus kepada dua orang murid-Nya untuk mengambil keledai-keledai itu tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah upaya pengaturan strategi pencurian keledai. Yesus jelas mengantisipasi pertanyaan dari orang tersebut (pemiliknya?) dan Matius [mungkin] memaksudkan bahwa orang tersebut pun tidak keberatan agar keledai-keledainya digunakan oleh Yesus. Markus pun menunjukkan hal ini secara jelas:

“Dan beberapa orang yang ada di situ berkata kepada mereka: ‘Apa maksudnya kamu melepaskan keledai itu?’  Lalu mereka menjawab seperti yang sudah dikatakan Yesus. Maka orang-orang itu membiarkan mereka” (Mrk. 11:5-6; huruf miring dari saya).

Sekali lagi, kemungkinan ini harus ditolak. Matius dan Markus jelas tidak memaksudkannya. Oleh karena itu, kita memikirkan kemungkinan berikutnya.[5]

Yesus Telah Mengaturnya Terlebih Dahulu dengan Pemiliknya
Sejumlah penafsir mengusulkan bahwa Yesus telah mengatur pemakaian keledai-keledai tersebut terlebih dahulu dengan pemiliknya.[6] Usulan ini mungkin dapat diterapkan juga dalam perisitiwa yang mirip seperti ini, yaitu peristiwa Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes menyiapkan tempat Perjamuan Malam (Luk. 22:7-13; bnd. Mat. 26:17-19; Mrk. 14:12-16).

Pertanyaannya, jika hal itu telah diatur terlebih dahulu, mengapa Yesus harus mengantisipasi pertanyaan dari pemilik keledai tersebut dalam Matius 21:3 (dan Mrk. 11:3)? Para penafsir yang menganut kemungkinan ini, menjawab bahwa pertanyaan pemilik keledai yang dijelaskan secara antisipatif ini merupakan semacam “password” yang telah disepakati oleh Yesus bersama orang itu untuk menandakan bahwa kedua orang yang mengambil keledai-keledai tersebut adalah murid-murid Yesus. Mereka bukan pencuri. Mereka adalah orang-orang suruhan Yesus.

Walaupun kemungkinan ini tidak bertentangan dengan teks maupun konteks Matius 21:1-11 dan Markus 11:1-11, namun masih ada satu kemungkinan lagi berdasarkan teks dan juga konteksnya.

Yesus Berotoritas Memakai Keledai tersebut
Sejumlah penafsir lain memilih kemungkinan ini, yaitu bahwa Yesus bukannya telah mengatur pemakaian keledai tersebut terlebih dahulu dengan pemiliknya, melainkan Yesus sedang menunjukkan otoritas-Nya sebagai Pemilik yang sesungguhnya atas segala sesuatu (bnd. Yoh. 1:3, 10-11). Artinya, penjelasan antisipatif Yesus dalam Matius 21:3 (Mrk. 11:3) merupakan rujukan mengenai demonstrasi pengetahuan supranatural Yesus dalam mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Bukan hanya itu, Yesus berkuasa menggerakkan hati si pemilik keledai-keledai itu untuk membiarkan keledai-keledai itu dibawa. Kemungkinan ini diperkuat dimana Yesus menggunakan kata ~O ku,rioj bagi diri-Nya. Salah satu arti kata ku,rioj adalah “pemilik” (owner) yang berkuasa. Dan ini berhubungan dengan bagian lain di dalam Alkitab bahwa Yesus adalah pencipta dan pemilik dari segala sesuatu (lih. Yoh. 1:3).

Jakob Van Bruggen yang menerima tafsiran ini menulis demikian:

Seluruh kejadian ini bernapaskan penampilan Yesus sebagai penguasa, dan sikap hormat para murid dan penduduk desa. Markus tidak memberi keterangan mengenai hubungan Yesus dengan pemilik keledai. Karena itu, agaknya tidak tepat kalau kita menduga bahwa semuanya telah diatur sebelumnya…. Bagaikan seorang raja, Dia menuntut dan memerintahkan orang supaya minggir. Sama artinya kalau hewan tunggangan itu muda. Seorang raja tidak memakai barang yang juga dipakai orang lain, tetapi berhak menjadi pemakai pertama.[7]

Mayoritas para penafsir yang menganut tafsiran ini menganggap bahwa kata kyrios dalam Matius 21:3 dan Markus 11:3 digunakan dalam arti “Tuhan”, bukan sekadar “tuan”.[8]

Kesimpulan
Meskipun ada perbedaan-perbedaan penekanan terhadap unsur-unsur tertentu dalam narasi ini, namun berhubungan dengan tuduhan di atas, kemungkinan kedua dan ketiga lebih masuk akal untuk dipertimbangkan, ketimbang kemungkinan pertama. Lagi pula, saya dapat menambahkan beberapa argumen pendukung yang menolak kemungkinan pertama:

Pertama, Yesus pernah menantang orang-orang Yahudi untuk membukitkan bahwa Ia telah berdosa. Dan tidak satu pun yang dapat menunjukkan keberdosaan-Nya (Yoh. 8:46).

Kedua, peristiwa pengambalian keledai ini terjadi beberapa saat sebelum Yesus ditangkap. Kisah ini merupakan rangkaian passion narratives. Dan sebagai peristiwa yang dekat dengan penangkapan dan penahanan serta pengadilan terhadap Yesus, tentu – bila perintah ini dikategorikan sebagai pencurian – akan menjadi bukti otentik dan terbaru untuk dituduhkan terhadap Yesus saat Ia diadili. Akan tetapi, pengadilan terhadap Yesus tidak pernah menyinggung soal tuduhan bahwa Yesus adalah seorang pencuri keledai.

Ketiga, para teolog Kristen liberal (yang menolak ketuhanan Yesus dan menolak Alkitab adalah firman Allah) pun mengakui bahwa Yesus adalah Guru Moral yang Agung. Dan tidak satu pun para ahli liberal ini yang mempertanyakan moralitas dan etika Yesus gara-gara Yesus pernah menjadi dalang pencurian keledai.

Ketiga argumen tambahan di atas sekali lagi menguatkan satu hal: YESUS TIDAK MUNGKIN MENDALANGI PENCURIAN KELEDAI!


[1] Hanya Matius yang mencatat mengenai dua ekor keledai, yaitu “keledai betina dan anaknya”. Dan hanya Matius pula yang mencantunkan perintah Yesus untuk membawa kedua ekor keledai tersebut kepada-Nya (Mat. 21:2). Tampaknya catatan Matius melengkapi keterangan dalam Markus 11:2 bahwa keledai muda tersebut belum pernah ditunggangi. Menurut para ahli, seekor keledai muda yang belum pernah ditunggangi hanya dapat bersikap tenang di tengah keramaian bila didampingi oleh induknya (lih. R.T. France, Matthew, reprinted edition [TNTC; Surabaya: Momentum, 2007], 298; bnd. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab: Injil Matius Pasal 1-22 [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003], 407).

[2] Mengenai apakah kata ho kyrios dapat diterjemahkan dengan “Tuhan” atau “tuan”, lihat ulasan pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat direkonstruksi dari narasi ini.

[3] Markan Priority adalah teori sumber yang dianut oleh mayoritas ahli Kitab-kitab Injil. Mengenai alasan-alasan mengapa teori ini dianggap cukup representatif untuk dianut, lihat: D.A. Carson, Douglas J. Moo, and Leon Morris, An Introduction to the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1992), 32-36. Selain itu, karena teori Markan Priority merupakan bagian dari Kritik Sumber, selain tulisan Moo dan Morris, ada baiknya anda membaca juga artikel singkat namun representatif mengenai Kritik Sumber PB yang ditulis oleh Scot McKnight, “Source Criticism,” dalam Interpreting the New Testament: Essays on Methods and Issues, eds. David Alan Black & David S. Dockery (Nashville, Tennessee: Broadman & Holman Publishers, 2001), 74-97.

[4] Craig L. Blomberg, Jesus and the Gospels (Leicester: Apolos, 2002), 107.

[5] Dua kemungkinan yang akan dibahas berikut merupakan kemungkinan-kemungkinan yang dianggap sama-sama memiliki peluang untuk dianut. Beberapa penafsir bahkan tidak berani mengambil keputusan untuk menentukan kemungkinan mana yang lebih memungkinkan untuk dianut (lih. France, Matthew, 297; R. Alan Cole, Mark, reprinted edition [TNTC; Surabaya: Momentum, 2007], 247-247); The IVP NTC versi online, http://www.biblegateway.com/resources/commentaries/IVP-NT/Matt/Jerusalems-King-Enters-Gates, diakses tanggal 23 November 2011.

[6] Jakob Van Bruggen menyajikan pendapat dari Wohlenberg bahwa keledai-keledai tersebut adalah milik Lazarus. Wohlenberg menduga bahwa keledai-keledai tersebut, pasca digunakan Yesus, dikembalikan kepada Lazarus melalui rute yang biasa dilalui oleh Yesus. Itulah sebabnya, Wohlenberg menerjemahkan Markus 11:3b dengan “dan segera ia [pemilik keledai itu] akan mengembalikannya kemari.” Van Bruggen menolak dugaan Wohlenberg karena menurutnya, kata “di sini” dalam Markus 11:3b berarti: “ke tempat hewan itu berada saat itu” (Markus Injil Menurut Petrus [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006], 384).

[7] Van Bruggen, Markus: Injil Menurut Petrus, 384. Lihat juga: Donald A. Hagner, Matthew 14-28 (Software Version of WBC vol. 33b; Dallas, Texas: Word Books Publisher, 1998).

[8] Tidak semua penafsir yang terbuka terhadap kemungkinan pengetahuan supranatural Yesus dan penekanan bahwa Yesus adalah Penguasa Ilahi yang berhak memakai keledai-keledai itu menerima terjemahan “Tuhan” dari kata ho kyrios. de Heer menolak kata ho kyrios diterjemahkan dengan “Tuhan”. Ia menyatakan bahwa kata ho kyrios di sini “bukan berarti bahwa Ia [Yesus] adalah Allah, melainkan berarti bahwa Ia bertindak sebagai kepala” (Tafsiran Alkitab: Injil Matius Pasal 1-22, 407).