Pendahuluan
Saya pernah menulis sebuah note berjudul: Mengapa Perlu Melakukan Eksegesis?Jawaban terhadap pertanyaan pada judul note tersebut lebih diarahkan pada sejumlah gap hermeneutis yang di satu sisi menimbulkan kesulitan untuk memahami secara spontan dan akurat isi Alkitab, namun di sisi lain menjadi semacam tuntutan yang tidak terhindarkan untuk melakukan eksegesis.Isi note singkat ini pun sebenarnya merupakan jawaban dari sisi lain untuk pertanyaan: Mengapa perlu melakukan eksegesis? Kali ini, saya akan menjawab pertanyaan ini dengan merujuk kepada locus (tempat) signifikan dari eksegesis dalam pembentukan wawasan dunia atau pandangan semesta (world view) yang alkitabiah. Dalam note ini saya akan menggunakan istilah wawasan dunia, pandangan dunia, dan pandangan semestasecara bergantian.

Pandangan Dunia Kristen
Ada banyak ahli yang telah merumuskan definisi wawasan dunia. Dan saya akan mencantumkan definisi dari Ronald Nash yang menurut saya cukup representatif. Nash mendefinisikan pandangan dunia sebagai berikut:

Sebuah wawasan dunia adalah sebuah pola konseptual yang olehnya kita secara sadar atau tidak sadar menempatkan atau mencocokkan segala sesuatu yang kita yakini dan yang olehnya pula kita menginterpretasikan dan menilai suatu kenyataan.[1]

Tentu tidak semua orang dapat membuat sebuah definisi tentang pandangan dunianya. Meski begitu, setiap orang memiliki keyakinan. Setiap orang juga membuat penilaian, terlepas dari benar atau salahnya penilaian tersebut. Dan berdasarkan definisi di atas, kita dapat berkata bahwa setiap orang memiliki sebuah wawasan dunia.

Dalam konteks kekristenan, pandangan dunia orang Kristen dibentuk dan berfondasi – terutama – atas Alkitab. Pokok-pokok mayor dalam kerangka pemahaman orang Kristen, misalnya: teologi, metafisika, epistemologi, antropologi, dan etika, dirumuskan atas dasar Alkitab. Alkitab menjadi norma normans atau norma pengukurnya. Itulah sebabnya, klaim-klaim penilaian semisal: “teologimu kacau”, atau “konsep etikamu solid”, dsb., dilontarkan karena Alkitab menjadi sumber utama sekaligus standar penilaiannya yang tidak bisa diganggu-gugat.

Ulasan di atas mengantar kita kepada poin inti dari note ini, yaitu signifikansi eksegesis dalam pembentukan wawasan dunia Kristen.

Eksegesis dan Wawasan Dunia Kristen

Sebagaimana ulasan di atas, Alkitab adalah sumber sekaligus fondasi wawasan dunia Kristen. Dan itu berarti, pemahaman yang benar dan tepat akan Alkitab menjadi tuntutan mutlak di sini. Sayangnya, tuntutan mutlak ini menjadi begitu sulit karena kita terhalang oleh sejumlah gap hermeneutis (gap bahasa, gap budaya, gap sejarah, dan gap filosofi). Kita hidup terpisah jauh dari konteks penulisan Alkitab. Dan sekali lagi, gap-gap hermeneutis ini menghalangi kita untuk memahami Alkitab secara spontan dan akurat.[2]

Jadi ada tuntutan mutlak untuk memahami Alkitab secara benar dan tepat demi membangun sebuah wawasan dunia Kristen yang juga benar dan tepat, di satu sisi. Di sisi lain, tuntutan mutlak ini sepertinya hanya merupakan sebuah angan-angan yang sulit tercapai karena jarak-jarak hermeneutis yang melintang tepat di hadapan kita.[3]

Jika demikian, apa signifikansi eksegesis dalam pembentukkan wawasan semesta Kristen? Tidak sulit untuk melihat signifikansi eksegesis dalam pembentukan wawasan dunia Kristen. Eksegesis penting dalam pembentukan wawasan dunia Kristen, karena eksegesis dilakukan untuk mengatasi rintangan-rintangan hermeneutis yang menghalangi kita memahami Alkitab secara benar dan tepat.

Thomas R. Schreiner bahkan menyatakan bahwa sasaran ultimat (ultimate goal) dari eksegesis adalah “to gain a worldview based upon and informed by the biblical text”.[4] Eksegesis memungkinkan kita memiliki wawasan dunia Kristen yang alkitabiah.

Eksegesis bukanlah sebuah pilihan. Eksegesis adalah sebuah keharusan. Keharusan karena setiap orang memiliki wawasan dunia. Wawasan dunia itu harus alkitabiah. Dan eksegesis menolong kita memahami Alkitab secara bertanggung jawab demi pembentukkan wawasan dunia kita.

Sayangnya, tidak banyak orang Kristen yang menganggap eksegesis itu penting. Mereka cenderung menganggap bahwa eksegesis itu hanya milik para spesialis – para sarjana. Mereka hanya senang pada hal-hal yang aplikatif, gampang, dan praktis. Mengenai mentalitas ini, saya teringat akan kalimat dari Erasmus:

People say to me, How can scholarly knowledge facilitate the understanding of Holy Scripture? My answer is, How does ignorance contribute to it?[5]

Setiap orang Kristen seharusnya sadar bahwa wawasan dunia yang mereka miliki menentukan segala tindak tanduk mereka. Itulah sebabnya, setiap orang Kristen perlu memahami dan melakukan eksegesis terhadap Alkitab. Schreiner menulis,

Exegesis will not be the passion of students unless they see that it plays a vital role in the formation of one’s worldview. An intellectual inclination for exegesis, although crucial, is not sufficient. Exegesis will never be one’s passion unless one’s heart is gripped by biblical truth; only the will it lead to a deeper and richer joy in God (John 15:11). If one’s heart never sings when doing exegesis, then the process has not reached its culmination. And if one has never trembled when doing exegesis (Isa. 66:2), then one is not listening for the voice of God.[6]

Penutup
Untuk merinkas ulasan di atas, saya perlu menandaskan sekali lagi bahwa eksegesis adalah bagian terpenting dari proses pembentukkan sebuah wawasan dunia Kristen. Oleh karena itu, eksegesis bukan hanya sebuah pilihan yang dapat kita tempatkan sebagai salah satu pilihan di antara pilihan-pilihan lainnya. Eksegesis adalah suatu keharusan, bukan hanya bagi para sarjana melainkan bagi semua orang Kristen!


[1] Ronald Nash, Iman dan Akal Budi, terj. Yvonne Potalangi (Surabaya: Momentum, 2001), 34.

[2] Lih. Henry A. Virkler, Hermeneutics: Principles and Process of Biblical Interpretation (Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 1981), 19-20.

[3] Mengenai pengertian dan pentingnya eksegesis, lihat dua note saya: Konsep Dasar Penafsiran Alkitab – Part One dan Mengapa Perlu Melakukan Eksegesis?

[4] Thomas R. Schreiner, Interpreting the Pauline Epistles (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 2000), 17.

[5] Dikutip dalam: D. B. Lockerbie, “A Call for Christian Humanism,” in Bibliotheca Sacra 143 (1986): 20.

[6] Schreiner, Interpreting the Pauline Epistles, 18.