Berikut ini adalah ringkasan argument Paul Barnett mengenai alasan mengapa Paulus menjadi seorang penganiaya, sebagaimana yang kita baca di dalam Kisah Para Rasul. Argumen ini disadur dari buku yang ditulis oleh Paul Barnett berjudul: Paul, Missionary of Jesus (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2008), 47-53.

Pertanyaan utama yang dianalisis oleh Barnett dalam kaitan dengan topik di atas adalah: Mengapa Paulus menjadi seorang yang sangat frontal sekali (penganiaya; lih. 1Kor. 15:9; Gal. 1:13; Flp. 3:6; 1Tim. 1:13; Kis. 8:1; 9:4-5; 22:4, 7-8; 26:9-15) padahal ia belajar di bawah bimbingan seorang rabbi Yahudi yang sangat moderat (Gamaliel; bnd. Kis. 5:33-39). Bahkan sebenarnya, menurut Barnett, sikap yang moderat tersebut merupakan “weighty advice from the most prominent scholar of the law of his generation.” Pertanyaan mengenai mengapa Paulus bersikap tidak sebagaimana yang diajarkan gurunya, menurut Barnett, juga berhubungan dengan pertanyaan: mengapa para pemimpin Yahudi yang moderat berubah menjadi pembunuh Stefanus? (Barnett berasumsi bahwa mereka yang membunuh Stefanus adalah orang-orang Yahudi, yang di dalamnya termasuk orang-orang Yahudi yang moderat).

Apakah Paulus Berbalik dari Ajaran Gamaliel?
Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, Gamaliel adalah seorang rabbi yang moderat yang ajaran-ajarannya sewarna dengan ajaran Hillel (mungkin ayah atau kakeknya Gamaliel). Dan ini membedakan karakteristik pengajarannya dari seorang rabbi Yahudi yang lain, yang sangat konservatif: Shammai. Hal itu berarti kita diarahkan kepada dua pilihan ketika memikirkan mengenai alasan penganiayaan yang dilakukan oleh Paulus. Pertama, Paulus, walaupun belajar di bawah asuhan Gamaliel yang moderat itu, namun lebih bersimpati bahkan menganut ajaran Shammai yang konservatif (K. Haacker; S. Y. Kim; Jacob Neusner; N. T. Wright). Atau, kedua, sesuatu telah terjadi di dalam pikiran Paulus yang kemudian membuatnya berubah dari seorang yang moderat menjadi seorang yang frontal. Barnett menganut pilihan yang kedua. Barnett menulis, “Most likely, Paul changed his mind.” Lalu, apakah yang mengubah pikiran Paulus?

Apakah yang mengubah Paulus menjadi Penganiaya?
Menurut Barnett perubahan yang terjadi di dalam diri Paulus, sebenarnya berkenaan dengan pengamatan Paulus terhadap bahaya terkikisnya otoritas penganut agama Yahudi, khususnya dari kalangan para petinggi Yahudi di Yerusalem. Barnett melihat catatan Lukas dalam Kisah 6:7 sebagai indikator untuk rekonstruksinya terhadap apa yang menyebabkan perubahan dalam diri Paulus. Dalam Kisah 6:7 dikatakan: “…juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya” (polys te okhlos ton hiereon hupekouon te pistei). Dengan kata lain, perihal beralihnya sejumlah besar imam Yahudi menjadi pengikut Kristus, merupakan hal yang menggelisahkan Paulus (dan juga orang-orang Yahudi moderat lainnya) yang mendorongnya menjadi seorang penganiaya.

Untuk mendukung rekonstruksi di atas, Barnett memperlihatkan beberapa clue dari Kisah Para Rasul. Barnett menunjukkan bahwa penggunaan “dan” dalam Kisah 6:5, 7, 8 menandai sebuah “onrushing sequence” dalam narasi Lukas. Menurut Barnett, sekuensi yang ditandai dengan “dan” tersebut mengarahkan kita untuk melihat koneksi antara pertobatan sejumlah besar imam itu dengan penganiayaan Stefanus. Dan penganiayaan terhadap Stefanus dan para murid tersebut (Kis. 8:1, 3) secara formal membawa Paulus ke dalam narasinya (perhatikan kata “dan” dalam Kis. 6:5 dan 8:5, menunjukkan bahwa ini adalah upaya merangkaikan event-event tersebut). 

Memang Paulus tampaknya hanya disebutkan secara sekilas ketika Stefanus dianiaya (Kis. 7:58). Namun penyebutan mengenai “orang-orang Yahudi dari Kilikia” (bnd. dengan pengakuan Paulus mengenai asal usulnya sebagai seorang Tarsus dari Tanah Kilikia; 21:39; 22:3; 9:11), tampaknya dimaksudkan Lukas sebagai clue bagi kita untuk berkesimpulan bahwa Paulus hadir ketika Stefanus berkhotbah di sinagoge-sinagoge yang menyebabkan pertobatan sejumlah besar imam tersebut. Dan inilah yang menyebabkan Paulus merasa tidak bisa tidak segera mengadakan tindakan frontal terhadap gerakan Kristen mula-mula karena mengancam kelangsungan otoritas Bait Allah dan Yudaisme.

Kesimpulan
Jadi menurut Barnett, perihal Paulus menjadi seorang penganiaya jemaat Kristus lebih disebabkan oleh alasan eksternal yang baru muncul kemudian, bukan karena memang sejak awalnya telah terdapat benih-benih fundamentalisme di dalam diri Paulus. Paulus adalah seorang penganut ajaran Hillel yang ia dapatkan dari gurunya, Gamaliel. Namun karena gerakan Kristen mula-mula mulai mengancam otoritas Bait Allah, yang ditandai dengan pertobatan sejumlah besar imam Yahudi, Paulus akhirnya segera meminta surat kuasa untuk membinasakan para murid.